NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Turnamen pertama Saga Nusantara tidak memakai panggung mewah.

Ia memakai toko di Bogor, dua puluh meja lipat, kamera yang dipinjam dari tim konten, dan garis antrean yang ditempel dengan lakban kuning. Tetapi bagi pemain yang datang sejak pagi, tempat itu terasa seperti arena.

Di pintu masuk, Farhan berdiri dengan daftar aturan.

"Satu pemain satu deck terdaftar. Maksimal tiga kartu rare. Deck dicek acak sebelum ronde. Peserta di bawah umur main di sesi siang dan wajib kontak wali. Hadiah bukan uang tunai."

Seorang remaja mengangkat tangan. "Kalau menang dapat apa?"

"Mat play, pin juara, voucher basic set, dan poin komunitas."

"Tidak ada uang?"

"Tidak ada."

Beberapa orang kecewa. Beberapa orang tua yang berdiri di belakang justru terlihat lega.

Reza mengawasi dari samping. Ia menyusun turnamen itu, tetapi tidak menjadi hakim. Itu syarat Raka. Strategi boleh disusun Reza; putusan sengketa harus lewat juri yang sudah dilatih dan rekaman meja.

Dimas membuka live.

"Hari ini kita lihat apakah Saga cuma soal buka pack atau benar-benar permainan."

Komentar langsung ramai.

Deck mahal pasti menang.

Low rarity mana bisa lawan badai.

Tolong zoom kalau ada kartu baru.

Di meja tiga, keributan pertama muncul pada ronde kedua. Seorang pemain memakai kartu Pelabuhan Emas, kartu mahal yang populer karena bisa menarik komoditas dua kali. Lawannya, siswa kurus bernama Ilham, hanya memakai deck murah berbasis Nelayan Tua, Garam, dan Perahu Retak.

"Itu deck kasihan," komentar seseorang di live.

Ilham kalah cepat pada awal ronde. Pelabuhannya tidak ada. Kartunya tampak kecil. Pemain lawan mengumpulkan komoditas dan membangun jalur dagang besar.

Reza mencondongkan badan. Ia mengenal pola itu. Semua orang mengejar kartu besar karena terlihat kuat.

Pada giliran keempat, Ilham membuang Garam untuk mengaktifkan Nelayan Tua.

"Buang satu, ambil satu dari discard?" tanya juri.

"Iya. Lalu Perahu Retak mengurangi biaya perjalanan kalau saya tidak punya pelabuhan."

Penonton di sekitar meja mulai mendekat.

Pemain Pelabuhan Emas menyerang dengan badai. Ilham kehilangan dua komoditas. Semua mengira ia selesai. Namun di giliran berikutnya, ia memakai kartu Pasar Pagi untuk menukar kartu buangan menjadi rute pendek, lalu mengembalikan Garam.

Siklus kecil itu tidak terlihat keren. Tidak ada kilau rare. Tidak ada efek besar. Tetapi perlahan, setiap serangan mahal lawan berubah menjadi biaya kosong.

Dimas menyadari sesuatu. Ia memberi tanda ke kamera.

"Zoom meja tiga."

Komentar berubah.

Lho kok bisa muter?

Deck murah ini hidup?

Pada giliran ketujuh, pemain Pelabuhan Emas kehabisan kartu tangan. Ilham hanya punya satu poin hidup. Ia meletakkan Nelayan Tua terakhir, mengaktifkan rute pendek, lalu mengambil dua komoditas dari discard.

"Saya tutup dengan Kapal Kecil," katanya.

Skor berbalik satu angka.

Meja tiga meledak.

Pemain lawannya menatap kartu mahal di tangannya, lalu tertawa kecut. Ia tidak membanting meja. Ia malah mengulurkan tangan.

"Deck kamu murah tapi nyebelin."

Ilham menjabat tangan itu dengan wajah masih tidak percaya.

Dimas langsung menangkap momen tersebut. Di layar live, dua tangan itu lebih kuat daripada semua poster promosi. Orang yang membeli rare tidak dipermalukan. Orang yang tidak punya rare tidak disingkirkan. Permainan itu tiba-tiba terasa seperti arena yang bisa dimasuki dari dua pintu.

Orang-orang berdiri. Karena semua yang tadi menertawakan deck murah melihat kartu mereka sendiri tiba-tiba terasa mungkin.

Reza menutup mulut dengan tangan. Ia ingin berkata bahwa ia sudah mendesain itu. Kenyataannya, ia hampir mematikan low rarity loop beberapa minggu lalu.

Raka berdiri di belakang penonton. Ia melihat wajah anak-anak yang memegang basic set. Itu bukan wajah orang ingin berjudi. Itu wajah orang baru sadar ia bisa menang dengan memahami aturan.

Sengketa kedua muncul di babak semifinal.

Seorang pemain mengeluarkan kartu dari pelindung hitam. Gambarnya mirip foto yang bocor dari gudang: Ekspedisi Malam, efek lama yang bisa menggandakan rute jika lawan tidak punya badai.

Juri langsung mengangkat tangan.

"Kartu belum dirilis tidak boleh digunakan."

Pemain itu protes. "Saya lihat di internet. Katanya ekspansi resmi."

Farhan datang membawa formulir. Ia tidak merebut kartu. Ia meminta izin memotret, mencatat sumber pembelian, dan memberikan kartu pengganti legal agar pemain tetap bisa lanjut jika mau.

"Saya tidak curang," kata pemain itu, wajahnya merah.

"Kami tidak bilang kamu curang," jawab Farhan. "Kami bilang kartunya belum legal untuk turnamen."

Dimas menayangkan rekaman sengketa dengan delay dan menutup informasi pribadi. Reza menggenggam ponsel, tetapi tidak memposting sindiran tentang Titan atau vendor mana pun. Raka melihatnya dan mengangguk kecil.

Hari itu, Reza menang bukan karena bicara paling tajam.

Ia menang karena diam pada waktu yang benar.

Final kembali mempertemukan deck mahal dan deck murah. Ilham, yang awalnya nyaris gugur, melawan pemain dewasa dengan tiga rare. Pada game pertama, ia kalah. Pada game kedua, ia menang lewat loop Garam. Pada game ketiga, ia mengganti tempo: tidak memaksa siklus, melainkan menunggu lawan menghabiskan badai, lalu membangun dua rute kecil sekaligus.

Game ketiga berjalan pelan. Lawan Ilham sengaja menahan Pelabuhan Emas, memancingnya membuang Garam terlalu cepat. Ilham hampir terpancing. Tangannya sudah menyentuh kartu itu, lalu ia berhenti.

Farhan yang menonton dari pinggir tidak memberi saran. Aturan melarang. Tetapi matanya mengikuti urutan discard seperti menghitung napas.

Ilham memilih lewat.

Penonton mengeluh karena mengira ia takut. Satu giliran kemudian, keputusan itu terbukti. Lawannya memakai badai lebih dulu, kehilangan tempo, dan membuka celah kecil untuk rute pendek.

"Dia belajar," gumam Reza.

Raka mendengar. "Dari kalah?"

"Dari aturan."

Kartu terakhir yang ia mainkan bukan rare.

Nelayan Tua lagi.

Penonton berdiri sebelum juri selesai menghitung.

"Sah," kata juri.

Toko itu pecah oleh sorak.

Ilham memegang pin juara seperti benda paling mahal di dunia. Di live, komentar yang tadi mengejek berubah menjadi daftar deck murah.

Basic set bisa juara.

Ini bukan gacha doang.

Tolong upload decklist.

Di meja kasir, angka juga bergerak. Sehat: basic set, minuman, makanan kecil, mat play, dan pendaftaran komunitas berikutnya. Bima mengirim ringkasan singkat ke Raka.

Toko hari ini break even.

Saga tidak lagi bergantung pada orang membuka pack dengan napas tertahan. Ia mulai hidup dari orang duduk, bermain, kalah, tertawa, lalu ingin datang lagi.

Malam itu, Reza membuka foto kartu bocor. Efek Ekspedisi Malam yang dibawa pemain sama dengan versi umpan, bukan versi final. Jika ada pihak luar menyalin dari foto itu, mereka akan membangun strategi yang salah.

"Kita punya jalur bocor," kata Reza.

"Kita punya bukti fragmen," jawab Raka. "Belum punya orang."

"Saya tahu."

Dan untuk kali ini, Reza benar-benar tahu.

Saat toko mulai tutup, email masuk ke akun kerja Raka. Pengirimnya Hadi Santoso, pemilik PT Rasa Kita Pangan. Ia menulis sopan, hampir terlalu sopan, meminta kemungkinan kerja sama paket camilan untuk acara komunitas Saga.

Lampiran terakhir membuat Raka berhenti.

Kas operasional pabrik: cukup untuk dua bulan.

Di luar, anak-anak masih membahas deck juara.

Di layar Raka, sebuah pabrik biskuit tua meminta kesempatan terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!