NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Tamu Misterius di Dunia Nyata

Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit ketika Sekar akhirnya melangkah keluar dari gerbang kampus. Urusan birokrasi yang rumit, ditambah dengan Sekar membolos karena takut insiden Rian tempo hari, memaksanya bertahan di area kampus hingga larut. Ditambah lagi, Sekar sengaja menunda kepulangannya demi menghindari tatapan menghakimi dari teman-teman angkatannya yang menganggap dirinya membawa semacam kutukan atau penyakit menular yang aneh.

Malam itu, langit kota tersaput kabut tipis pasca-hujan. Sisa-sisa air hujan tergenang di sela-sela aspal jalanan yang berlubang, memantulkan pendar lampu jalan yang temaram dan berkedip-kedip tidak stabil.

Sekar merapatkan jaket denimnya. Suhu udara malam ini terasa berlipat gila lebih dingin dari biasanya. Langkah kakinya terdengar ritmis, mengetuk trotoar jalan yang sepi. Angkutan kota yang biasanya ramai melintas di jalur ini mendadak jarang terlihat, seolah-olah kendaraan-kendaraan itu sengaja menghindari rute yang dilewati Sekar.

Dia berjalan sendirian menyusuri deretan ruko tua berlantai dua yang sebagian besar sudah tutup. Papan-papan reklame yang berkarat berderit pelan setiap kali dihempas angin malam, menciptakan harmoni suara yang ganjil dan memicu paranoia di kepala Sekar.

Sreeet...

Sekar menghentikan langkahnya secara mendadak. Matanya melirik tajam ke arah dinding ruko di sebelah kanannya.

Di bawah siraman lampu merkuri yang remang-remang, dia melihat sebuah keanehan pada bayangannya sendiri. Di atas permukaan semen dinding ruko yang kotor dan terkelupas, bayangan tubuh Sekar tidak bergerak sendirian. Ada sekelebat siluet hitam berukuran sangat besar yang merayap lambat di atas bayangannya.

Siluet itu panjang, meliuk-liuk horizontal di sepanjang beton dinding ruko, menyerupai tubuh reptil raksasa yang sedang beringsut tanpa suara.

Sekar memutar tubuhnya dengan cepat, menatap koridor ruko di belakangnya.

Kosong.

Hanya ada tumpukan tempat sampah plastik dan angin malam yang menerbangkan selembar kertas koran bekas. Tidak ada hewan, tidak ada orang, tidak ada bayangan apa pun di sana selain bayangan dirinya yang memanjang kaku.

"Cuma kecapekan... kamu cuma halusinasi, Sekar," bisiknya pada diri sendiri, suaranya terdengar bergetar di tengah keheningan jalanan. Dia meraba pundak kanannya dari luar jaket. Rasa dingin yang pekat masih menetap di sana, mengonfirmasi bahwa tanda bersisik itu masih ada, mengakar di dalam dagingnya.

Dia mempercepat langkah kaki. Setengah berlari. Namun, seiring dengan kecepatannya yang meningkat, ilusi visual di dinding ruko justru kian menghebat.

Setiap kali Sekar melewati tiang lampu jalan, bayangan hitam besar itu kembali muncul di permukaan dinding beton. Kali ini, ia merayap vertikal, naik ke lantai dua ruko, meliuk di antara celah jendela besi yang berkarat, lalu turun kembali dengan gerakan yang teramat luwes dan cepat. Suara gesekan yang teramat halus—seperti ribuan keping uang logam yang saling bergeser atau sisik kering yang bergesek di atas semen kasar—mulai terdengar lamat-lamat di telinganya.

Sssss... sreeet... sssss...

Bau bunga kenanga yang matang dan busuk mendadak meledak di udara, mengalahkan bau asap kendaraan dan polusi kota. Bau itu muncul begitu pekat, seolah ada seseorang yang baru saja meremas puluhan tangkai bunga kematian tepat di depan hidung Sekar.

Napas Sekar mulai memburu. Batasan antara kewarasan dan kegilaan di kepalanya kian menipis. Dia tahu mahluk dari alam mimpi itu—Kalingga—tidak lagi tinggal di balik kelopak matanya yang terpejam. Sosok itu ada di sini, di dunia nyata, merayap di sela-sela kegelapan kota, mengikutinya layaknya predator yang sedang menggiring mangsa ke sudut yang tak menyisakan ruang pelarian.

Didorong oleh rasa panik yang memuncak, Sekar memutuskan untuk memotong jalur jalan. Dia berbelok ke dalam sebuah gang sempit di antara dua blok ruko tua. Gang itu adalah jalan pintas menuju halte angkutan umum utama, namun kondisinya sangat minim cahaya. Hanya ada satu lampu neon kecil yang berkedip di ujung gang, menciptakan dominasi bayangan hitam yang pekat di sepanjang dinding pembatas.

Langkah kaki Sekar bergema keras di dalam gang sempit itu. Tak! Tak! Tak!

Tepat di tengah-tengah gang, langkahnya kembali dipaksa berhenti.

Dari kegelapan di depan, tiga siluet manusia melangkah keluar dari balik bayang-bayang tumpukan palet kayu. Tiga orang pria dengan pakaian kumal, celana jins robek, dan wajah yang tertutup sebagian oleh topi hitam. Salah satu dari mereka memegang botol kaca kosong, sementara dua lainnya berdiri dengan posisi menantang, menghalangi satu-satunya jalan keluar Sekar.

"Wah, ada anak ayam nyasar jam segini," salah satu dari mereka bersuara, sebuah tawa meremehkan yang serak terdengar memantul di dinding gang.

Sekar melangkah mundur, berniat memutar arah dan kembali ke jalan raya. Namun ketika dia menoleh ke belakang, langkahnya terkunci. Jalur masuk gang yang baru saja dilewatinya kini terasa teramat jauh, dan kegelapan di dalam gang ini mendadak terasa mengental, menjebaknya di dalam ruang isolasi yang sempurna.

"Mau ke mana, Cantik? Buru-buru amat. Temenin kita dulu di sini," pria kedua melangkah maju, memamerkan sebilah pisau lipat kecil yang berkilat tajam di bawah pendar neon yang berkedip.

Sekar mendekap tasnya ke dada, tubuhnya bergetar hebat. Di tengah kepungan manusia-manusia berbahaya ini, dia bisa merasakan dengan sangat jelas: tanda lahir di punggung kanannya mendadak berdenyut hebat. Rasa dingin yang semalaman menetap di sana kini berubah menjadi panas yang menjalar konstan, bersiap untuk memuntahkan energi destruktif seperti yang terjadi pada Rian di kampus.

Namun, sebelum para preman itu sempat melangkah lebih dekat untuk menyentuhnya, suhu di dalam gang sempit itu anjlok drastis ke titik yang ekstrem. Embun napas Sekar mendadak keluar membentuk kabut tipis. Lampu neon di atas kepala mereka berdengung keras, berkedip cepat, lalu... prak!

Lampu itu pecah, melemparkan seluruh gang ke dalam kegelapan yang absolut.

Di dalam kegelapan total itu, bau kenanga busuk lenyap, digantikan oleh aroma magis yang teramat wangi, manis, dan memikat. Aroma yang sangat Sekar kenal dari alam mimpinya.

Dan dari ujung gang yang gelap, terdengar suara langkah sepatu yang melangkah tenang, kontras dengan kepanikan yang sedang terjadi. Tak... tak... tak...

Suara langkah kaki itu terdengar begitu konstan, tenang, dan berwibawa di tengah kegelapan gang yang pekat. Ketiga preman itu mendadak menghentikan tawa mereka. Suasana di dalam gang berubah menjadi ganjil; cengkeraman rasa takut yang awalnya berpusat pada Sekar, kini mendadak bergeser ke arah kegelapan di ujung gang.

"Siapa di sana?!" gertak preman yang memegang pisau lipat, suaranya agak bergetar meski dia mencoba terdengar garang.

Tidak ada jawaban verbal. Sebagai gantinya, seberkas cahaya suram dari lampu jalan raya di seberang gang menerangi sesosok tubuh yang berjalan keluar dari balik bayang-bayang.

Seorang pria.

Dia bertubuh jangkung, atletis, dengan setelan kemeja hitam legam yang melekat sempurna di tubuhnya. Potongan pakaiannya modern, namun entah bagaimana, auranya memancarkan keanggunan kuno yang sangat pekat. Rambut hitamnya yang sebahu bergerak lembut ditiup angin malam. Wajahnya... adalah wajah tampan yang sama persis dengan pria yang duduk di singgasana keraton gaib dalam mimpi Sekar.

Kalingga. Dia benar-benar ada. Dia berdiri di dunia nyata, hanya beberapa meter dari tempat Sekar mematung.

"Lu jangan ikut campur ya! Pergi kalau gak mau mampus!" preman dengan botol kaca maju selangkah, mencoba mengintimidasi.

Kalingga menghentikan langkahnya tepat di bawah sisa pendar cahaya suram. Dia tidak membalas ancaman itu dengan kata-kata kasar. Dia hanya mengangkat wajahnya perlahan, membiarkan bayangan topi atau rambutnya tersibak.

Kalingga menatap ketiga preman itu.

Saat itulah, hal yang tidak masuk akal terjadi. Sekar yang berada di belakang ketiga pria itu bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh ketiga preman tersebut mendadak kaku, membeku seperti patung. Pisau lipat di tangan salah satu preman terlepas, jatuh berdenting di atas konblok jalanan. Botol kaca yang dipegang preman lainnya bergetar hebat sebelum akhirnya luput dari genggaman dan pecah berantakan.

Mereka tidak terluka secara fisik. Kalingga bahkan tidak mengangkat satu jari pun untuk menyentuh mereka. Dia hanya menatap.

Namun, dari sudut pandang Sekar, sepasang mata Kalingga di dunia nyata ini tidak sepenuhnya manusia. Di dalam kegelapan gang, pupil mata pria itu memancarkan pendar kuning keemasan yang redup, dengan manik vertikal yang melebar tajam. Tatapan itu meluncurkan gelombang teror psikologis yang begitu masif, seolah-olah ketiga preman itu sedang ditatap langsung oleh predator puncak dari dasar neraka yang siap menelan jiwa mereka bulat-bulat.

"A... aa... uular..." salah satu preman berbisik lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Wajahnya berubah menjadi seputih kertas. Kedua matanya melotot gila, dipenuhi oleh urat-urat merah ketakutan yang murni.

Mereka tidak lagi melihat seorang pria tampan. Di dalam kepala mereka yang diguyur ilusi gaib, mereka mungkin melihat bayangan ular raksasa yang sedang membuka rahangnya lebar-lebar di atas kepala mereka.

"Lari... LARI!!!"

Lengkingan ketakutan yang teramat histeris pecah. Ketiga preman itu berbalik arah secara serentak. Mereka tersandung kaki mereka sendiri, jatuh bangun, dan merayap panik di atas pecahan botol kaca demi bisa keluar dari gang tersebut. Mereka berlari kencang tanpa memedulikan luka di lutut atau tangan mereka, menjerit-jerit seperti orang gila yang dikejar setan, hingga suara derap langkah mereka hilang di telan bisingnya jalan raya.

Gang sempit itu kembali sunyi. Menyisakan Sekar dan pria misterius itu.

Aroma wangi bunga kenanga yang manis dan memikat kini mengental di udara, mengusir bau busuk sampah gang. Kalingga memutar tubuhnya, menatap Sekar. Manik mata vertikalnya perlahan meredup, berganti menjadi sepasang mata hitam legam yang dalam dan teduh, layaknya manusia biasa.

Dia melangkah mendekat. Setiap tapak kakinya terasa begitu ringan, hampir tidak menyentuh lantai konblok.

"Kau tidak apa-apa, Sekar?" tanya Kalingga. Suaranya terdengar begitu lembut, bariton yang hangat, sangat kontras dengan hawa dingin yang memancar dari tubuhnya.

Sekar mundur dua langkah hingga punggungnya membentur dinding ruko. "Kamu... kamu mahluk yang di mimpi itu... Kamu Kalingga? Bagaimana bisa kamu ada di sini?!" suara Sekar melengking panik, kewarasannya benar-benar berada di ambang batas.

Kalingga tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang teramat memikat, namun entah mengapa mengirimkan sinyal bahaya yang kuat ke otak Sekar. Dia berhenti melangkah, menyisakan jarak aman di antara mereka, seolah tahu bahwa Sekar sedang ketakutan setengah mati.

"Aku selalu ada di sekitarmu, Cah Ayu. Menjagamu dari tangan-tangan kotor manusia duniawi," bisik Kalingga pelan. "Mimpimu adalah caraku menyapamu. Dan dunia nyata ini... adalah tempat di mana aku akan membawamu pulang."

"Pergi... tolong pergi! Jangan ganggu aku!" Sekar menutup matanya erat-erat, menolak melihat paras pria yang terlampau sempurna itu. Tubuhnya gemetar hebat, air mata ketakutan mengalir deras di pipinya. Dia terus merapalkan doa-doa di dalam hatinya, berharap mahluk ini akan lenyap.

Keheningan yang panjang kembali merayap.

Merasakan tidak ada lagi pergerakan atau hawa dingin yang menusuk kulit, Sekar perlahan membuka kelopak matanya setelah beberapa menit berlalu.

Kosong.

Pria bernama Kalingga itu telah hilang tanpa suara. Tidak ada jejak kaki, tidak ada embus angin, seolah-olah dia menguap bersama kabut malam yang mulai menipis. Hanya menyisakan pecahan botol kaca milik preman dan bau wangi kenanga yang masih tertinggal samar di ujung hidung Sekar.

Sekar jatuh terduduk di atas dinginnya konblok gang. Batasan antara dunia mimpi dan dunia nyata di kepalanya kini benar-benar telah hancur total. Kalingga bukan sekadar bunga tidur atau akibat dari kondisi ketindihan tubuhnya.

Mahluk itu nyata. Ia bisa bermanifestasi secara fisik, berjalan di atas aspal kota, dan mengendalikan ketakutan manusia sesuka hatinya. Dan yang paling mengerikan adalah, Sekar menyadari bahwa tanda lahir bersisik di punggung kanannya kini tidak lagi terasa sakit atau gatal—ia terasa... nyaman, seolah-olah kulitnya telah menerima kehadiran Kalingga dengan sukarela.

 

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!