Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keisya benar-benar nyaris tersedak.
Kalau saja suapan mi itu belum sempat ditelan, mungkin sekarang ia sudah batuk-batuk tidak karuan. Yang membuatnya terkejut bukan sekadar pujian itu, melainkan cara Keyla mengatakannya dengan wajah datar seolah sedang menyampaikan sebuah fakta.
Imut.
Bukankah itu artinya, secara tidak langsung Keyla memang menganggapnya imut?
Dengan susah payah Keisya menelan suapan terakhirnya. Ia berdeham beberapa kali untuk menutupi rasa salah tingkah yang tiba-tiba menyerangnya. Setelah memastikan mangkuknya benar-benar kosong, ia melipat kedua tangan di atas meja makan dan mengembuskan napas panjang.
'Oke. Fokus.'
'Aku turun ke sini bukan buat salting gara-gara dipuji.'
'Waktunya menebus dosa.'
"Abaikan soal gue yang imut," ucapnya setenang mungkin. Lalu, nyaris tak terdengar, ia menambahkan gumaman pelan.
"...walaupun emang itu fakta."
Keisya kemudian menatap Keyla dengan sorot mata yang jauh lebih serius. Candanya menghilang begitu saja, digantikan ekspresi yang membuat suasana mendadak berubah.
"Lo harus hati-hati sama seseorang."
Alis Keyla sedikit terangkat.
"Siapa?"
"Livia Agustina Jordan."
Nama itu terdengar asing di telinga Keyla.
Melihat lawan bicaranya benar-benar penasaran, Keisya tanpa sadar ikut memajukan tubuhnya ke depan hingga kedua siku hampir menyentuh meja. Untung saja mereka duduk saling berhadapan sehingga suara pelannya tetap bisa terdengar jelas.
"Dia sepupu kita."
Keisya berhenti sesaat, lalu menggaruk pipinya dengan canggung.
"Dan... dia juga sama kayak gue."
"Sama?"
"Sama-sama anak pungut."
Begitu kalimat itu keluar, Keisya langsung menangkap perubahan kecil di wajah Keyla. Gadis itu tampak hendak mengatakan sesuatu, mungkin merasa tidak enak karena topik pembicaraan mengarah pada dirinya.
Keisya buru-buru mengangkat tangan menghentikannya.
"Udah, nggak usah pasang muka begitu. Gue tahu kok. Bang Gio atau yang lain pasti udah cerita soal gue."
Ia tersenyum tipis, berusaha membuat suasana tetap ringan. Meski begitu, dalam hati Keisya justru mengoreksi ucapannya sendiri.
'Harusnya anak angkat.'
'Bukan anak pungut.'
Entah kenapa, menyebut dirinya seperti itu masih terasa lebih mudah daripada memakai istilah yang terdengar lebih baik.
"Kalau gue masuk keluarga Jordan waktu umur sekitar tujuh tahun, Livia datang lebih dulu. Umur tiga tahun dia udah diangkat sama keluarga Papa... adiknya Ayah lo."
Keisya sengaja memberi jeda. Ia ingin memastikan Keyla memahami hubungan keluarga yang sedang dijelaskannya.
Baginya, ada satu hal yang tidak boleh berubah bahwa Alex adalah ayah Keyla.
Hanya Keyla.
Tidak peduli siapa pun yang datang belakangan, termasuk dirinya ataupun Lenka, mereka tidak berhak mengambil tempat yang memang sejak awal menjadi milik Keyla.
Setelah melihat Keyla mengangguk pelan, Keisya kembali melanjutkan.
"Livia nggak suka kalau ada orang yang lebih diperhatiin daripada dia." Nada suaranya berubah semakin serius.
"Dan lo..."
Ia menunjuk Keyla menggunakan dagunya.
"...punya potensi buat narik perhatian seluruh keluarga Jordan."
Keyla tampak hendak menyela, mungkin ia ingin mengatakan bahwa hal itu mustahil. Bahwa dirinya bukan orang yang istimewa.
Namun Keisya sudah lebih dulu memotong.
"Udah. Percaya aja sama gue."
Tatapannya begitu yakin.
"Mereka bakal nyambut lo dengan hangat."
Ia mengatakannya tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Keyla untuk membantah.
Sementara itu, Keyla hanya terdiam. Di dalam kepalanya justru muncul pertanyaan lain.
'Kenapa Keisya ngasih tahu semua ini?'
Sejak tadi, gadis itu seolah sedang berusaha melindunginya. Padahal hubungan mereka bahkan belum bisa disebut dekat.
"Jadi, Keyla..."
Panggilan itu membuat Keyla kembali mengangkat kepala.
"Lo dengerin apa yang gue bilang tadi, kan?"
"Hah? Iya..."
Keisya langsung memejamkan mata sambil menghela napas panjang.
"Dodol..."
Ia mendecakkan lidah pelan. Rupanya sejak tadi Keyla malah melamun. Percuma saja ia menjelaskan panjang lebar kalau ternyata hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
"Udahlah."
Keisya melambaikan tangan pasrah.
"Intinya gini."
Raut wajahnya kembali berubah serius.
"Jauh-jauh dari Lenka."
Ia menatap Keyla tanpa berkedip.
"Anak itu... beneran rada gila."
Tidak ada nada bercanda dalam suaranya kali ini.
"Pokoknya kalau suatu saat lo ketemu dia, lo harus hati-hati."
Keisya berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang lebih pelan.
"Kalau perlu kamu lebih baik lari.."
Keyla memandangnya cukup lama. Tatapan itu membuat Keisya mulai merasa tidak nyaman.
"Kenapa lo ngasih tahu gue semua ini?"
Pertanyaan itu membuat Keisya berkedip beberapa kali.
"Hah? Kepo juga lo... yang jelas ada alasannya.."
Ia terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana, namun tetap saja Keyla merasa aneh dengan tingkah Keisya.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu