Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Anak di Rekaman
Ayla meminta rekaman itu diputar lima kali.
Tidak ada yang menghentikannya.
Pada putaran pertama, semua orang melihat anak kecil di sudut laboratorium.
Pada putaran kedua, Lestari menemukan pantulan wajah seorang teknisi di kaca tabung.
Pada putaran ketiga, Bima menyadari ada logo lama sebuah institut biomedis swasta di lengan jas pelindung.
Pada putaran keempat, Arga memperhatikan Ayla.
Pada putaran kelima, Maya akhirnya berkata, “Cukup.”
Ayla tidak menoleh. “Belum.”
“Ayla.”
Nada Maya berubah.
Tidak bercanda. Tidak manja. Tidak seperti kakak yang sedang menggoda adik.
Ayla memejamkan mata sebentar, lalu memberi isyarat pada Lestari untuk menghentikan video.
Layar membeku pada wajah anak kecil itu.
Mata besar. Bibir pecah. Rambut dipotong pendek asal-asalan. Di pergelangan tangannya ada gelang identitas putih dengan tulisan yang sudah buram.
Arga berkata, “Kamu mengenalnya?”
Ayla menjawab, “Tidak.”
Bima tampak tidak percaya. “Tapi reaksimu—”
“Aku tidak mengenalnya.”
Maya melihat Arga. “Dia tidak berbohong.”
Arga menatap Maya. “Anda tahu anak itu?”
“Tidak.”
“Tapi Anda tahu sesuatu.”
Maya tersenyum tipis, kali ini tanpa humor. “Pak Arga, semua orang di ruangan ini tahu sesuatu dan menyembunyikan sisanya. Jangan merasa khusus.”
Bima bergumam, “Aku tidak tahu apa-apa.”
Lestari mengangkat tangan kecil. “Aku juga, tapi aku punya data.”
Ayla menunjuk layar. “Gelangnya. Bisa diperjelas?”
Lestari langsung bekerja. Gambar pecah, lalu sedikit membaik. Tulisan masih tidak utuh, tetapi beberapa huruf terbaca.
M... B... 07.
Arga berkata, “MB bisa kode subjek.”
Maya menatap Ayla.
Ayla tidak menatap balik.
Di masa kecilnya, sebelum Guru membawanya ke Pulau Seraya, Ayla pernah mendengar banyak panggilan. Anak jalanan tidak selalu punya nama. Kadang orang memanggil berdasarkan ciri, berdasarkan luka, berdasarkan siapa yang memiliki mereka hari itu.
Mamba adalah nama yang datang kemudian.
Nama yang diberikan setelah dia bisa menggigit balik.
Kalau ada MB lain sebelum dia, berarti Surya tidak hanya mengejar julukannya.
Dia mengejar sesuatu yang lebih tua.
Arga meletakkan kedua tangan di meja. “Saya butuh kronologi. Kapan kamu pertama kali berhubungan dengan Besi Kelabu?”
Ayla menatapnya. “Usia sepuluh.”
“Sebelum itu?”
“Hidup.”
“Di mana?”
“Tempat yang tidak ada di brosur wisata.”
Arga menahan napas. “Ayla, empat orang mati. Surya kabur. Kalau masa lalumu terhubung ke file ini, saya harus tahu.”
Ayla tertawa kecil, tetapi suaranya datar. “Kamu pikir kalau aku tahu, aku akan duduk manis menunggu kamu bertanya?”
Arga diam.
Maya akhirnya berkata, “Dia benar. Kalau Ayla tahu anak itu siapa, Surya sudah kehilangan beberapa anggota tubuh.”
Bima menatap Maya. “Itu... bukan kalimat yang seharusnya diucapkan di kantor satuan khusus.”
Maya tersenyum. “Maaf, kebiasaan lingkungan kerja.”
Lestari menyela sebelum Arga semakin kesal. “Ada file lain. Teksnya rusak, tapi beberapa kata bisa dibaca.”
Dia membuka dokumen.
PROJECT 531.
Sub-line: regenerative response, neural retention, combat viability.
Beberapa nama muncul sebagian: Surya Atmadja, Lukman A., dan satu institusi lama yang sudah ditutup.
Arga membaca nama Lukman A. “Lukman siapa?”
Maya diam.
Ayla juga.
Ruangan terasa dingin.
Arga melihat keduanya. “Baik. Jadi ini salah satu jawaban yang belum boleh keluar?”
Ayla berkata pelan, “Lukman Ardiansyah.”
Maya langsung menatapnya.
Ayla tetap melihat layar.
“Pendiri Besi Kelabu.”
Bima mengumpat pelan.
Arga menegang. “Guru kamu?”
Ayla tidak suka cara kata itu terdengar di mulut Arga. Terlalu dekat. Terlalu benar.
“Ya.”
Lestari, yang biasanya cepat, kali ini mengetik lebih pelan. “Kalau pendiri Besi Kelabu ada di file proyek, berarti organisasi kalian terlibat sejak awal?”
Maya menjawab sebelum Ayla. “Atau seseorang memakai namanya.”
Arga menatapnya. “Anda percaya itu?”
Maya tersenyum tipis. “Aku percaya Pak Lukman tidak pernah membiarkan namanya muncul tanpa alasan.”
Ayla berdiri. “Aku perlu menghubungi seseorang.”
Arga berkata, “Di sini.”
“Tidak.”
“Ayla.”
Dia menoleh. “Pak Arga, kamu ingin jawaban. Aku juga. Tapi kalau kamu mengunci aku di ruangan ini, kita berdua hanya akan marah dan file itu tetap tidak bicara.”
Arga menatapnya lama. “Lima menit. Di ruang kaca. Ponsel tetap terlihat.”
“Kamu tidak percaya padaku.”
“Saya percaya kamu bisa menghilang dalam tiga puluh detik.”
Maya tertawa pendek. “Itu bentuk percaya yang akurat.”
Ayla masuk ke ruang kaca kecil dan menghubungi Bara.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
“Kau akhirnya menelepon,” kata Bara.
Ayla menatap dinding kaca. Di luar, Arga masih mengawasi.
“Kamu tahu file 531-MB?”
Hening di seberang.
Itu jawaban.
Suara Bara turun. “Di mana kau melihat nama itu?”
“Ponsel Surya.”
“Ayla, dengarkan aku. Jangan buka lapisan kedua tanpa Guru.”
“Kenapa?”
“Karena file itu bukan sekadar data. Itu kunci.”
“Kunci apa?”
Bara tidak langsung menjawab.
Ketika akhirnya dia bicara, suaranya terdengar sangat jauh.
“Kunci untuk membuktikan siapa yang mengubah anak-anak hilang menjadi bahan percobaan.”
Ayla menutup mata.
Di luar ruang kaca, Arga melihat perubahan wajahnya.
Bara melanjutkan, “Dan kalau Surya sudah bergerak di Jakarta, berarti dia mencari subjek yang selamat.”
Ayla membuka mata.
“Anak di rekaman?”
“Mungkin.”
“Atau aku?”
Kali ini Bara benar-benar diam.
Ayla tertawa tanpa suara.
“Baik. Aku mengerti.”
Dia memutus panggilan.
Saat keluar dari ruang kaca, Arga langsung berdiri.
“Apa yang kamu dapat?”
Ayla melihat layar yang masih membeku pada wajah anak kecil itu.
“Surya mencari subjek yang selamat.”
Bima bertanya, “Subjek eksperimen?”
Ayla mengangguk.
Arga menatapnya. “Dan kamu mungkin salah satunya?”
Ayla mengambil jaket dari kursi.
“Mungkin.”
“Ke mana?”
“Pulang.”
“Setelah mengatakan itu?”
Ayla menatap Arga. “Kalau Surya mencari subjek selamat, dia akan mendekati tempat yang paling mudah dia gunakan untuk menekan aku.”
Arga langsung mengerti.
“Keluarga Prameswari.”
Ayla tersenyum dingin.
“Akhirnya mereka berguna.”
Maya mengikuti sampai koridor, lalu menarik lengan Ayla sebentar.
“Dengarkan aku.”
Ayla menatap tangannya.
Maya melepaskan. “Maaf. Kebiasaan buruk.”
“Bicara.”
“Kalau Guru menyembunyikan sesuatu, dia punya alasan.”
“Itu seharusnya membuatku tenang?”
“Tidak. Itu membuatmu jangan langsung membakar jembatan sebelum tahu siapa yang berdiri di atasnya.”
Ayla tertawa pendek. “Kau membela dia?”
“Aku membela kemungkinan bahwa orang yang menyelamatkanmu juga pernah melakukan hal yang salah. Dua hal itu bisa hidup di tubuh orang yang sama.”
Kalimat itu membuat Ayla diam.
Dia tidak suka dunia yang serumit itu. Lebih mudah jika orang bisa dibagi: musuh ditembak, kawan dilindungi, pengkhianat dihancurkan. Guru selalu berada di kotak yang tidak boleh disentuh siapa pun.
File 531-MB mulai membuka kotak itu.
Arga berdiri beberapa langkah di depan, memberi mereka ruang tetapi tetap menunggu. Sikap itu membuat Ayla sadar dia mendengar cukup banyak untuk bertanya, tetapi memilih tidak memotong.
“Pak Arga berubah sopan,” kata Maya pelan.
“Dia menyebalkan.”
“Sering kali itu gejala awal.”
Ayla menatapnya.
Maya tersenyum. “Aku diam.”
“Sebaiknya.”
Di lift, Arga akhirnya berkata, “Saya tidak akan menanyakan soal Guru kamu di depan keluarga.”
Ayla meliriknya. “Kenapa?”
“Karena itu bukan cara mendapat jawaban. Itu cara membuatmu pergi.”
Maya tertawa kecil di belakang mereka.
Ayla melihat pintu lift yang menutup.
Pria ini benar-benar mulai berbahaya.
Di parkiran gedung operasional, Bara akhirnya membalas pesan Ayla.
Jangan percaya semua yang Surya tunjukkan. Jangan juga percaya semua yang Guru sembunyikan.
Ayla membaca kalimat itu berulang.
Itu bukan nasihat. Itu peringatan dari orang yang biasanya menertawakan bahaya sambil makan mi instan tengah malam.
Arga membuka pintu mobil. “Ada kabar?”
Ayla memasukkan ponsel ke saku. “Ada orang menyuruhku tidak percaya siapa pun.”
“Nasihat yang melelahkan.”
“Bagiku normal.”
Arga menatapnya sebentar. “Kalau begitu malam ini coba percaya satu hal saja.”
“Apa?”
“Kalau saya bilang jangan masuk sendirian, itu bukan untuk mengendalikanmu.”
Ayla tidak menjawab.
Dia masuk ke mobil.
Untuk ukuran Arga, itu mungkin sudah dianggap persetujuan.
Di luar kaca mobil, Jakarta masih bergerak seperti biasa. Orang membeli kopi, satpam mengatur parkir, pengendara motor mengeluh pada lampu merah.
Ayla melihat semua itu dan merasa aneh.
Dunia tidak berhenti hanya karena masa lalunya mulai retak.
Mungkin memang begitu cara dunia bertahan: tidak peduli, sampai bahaya mengetuk pintu rumah sendiri.