NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cia mengulang kata-kata itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kosong. Kata itu menggantung di udara ruang makan yang perlahan mendingin, terasa seperti sebuah vonis mati bagi kebahagiaan yang baru saja mulai mekar di hatinya.

Sembilan bulan. Dua ratus tujuh puluh hari. Di daerah konflik yang hujan pelurunya bisa turun kapan saja tanpa prediksi cuaca.

Ren menatap wajah istrinya yang seketika pias. Mata bulat yang biasanya memancarkan semangat keras kepala itu, kini meredup, dipenuhi oleh lapisan air mata yang menolak jatuh. Pria itu berdiri, mengitari meja makan, dan tanpa keraguan menarik tubuh Cia yang masih duduk kaku ke dalam dekapannya.

Cia tidak menolak. Gadis itu menyandarkan sisi wajahnya ke perut Ren yang terbalut kaus, meremas kain itu dengan jemari yang bergetar hebat.

"Mas..." panggil Cia parau, suaranya teredam. "Kenapa mendadak? Kenapa harus kamu? Kita... kita baru aja pindah ke sini. Aku bahkan belum tahu cara setrika seragammu yang benar."

Ren mengusap rambut Cia perlahan, membiarkan istrinya menumpahkan rasa takut yang membelenggunya. "Ini panggilan tugas, Cia. Saat negara memanggil, seorang prajurit tidak punya hak untuk bertanya kenapa. Kami hanya punya satu jawaban: siap berangkat."

Ren menunduk, mengecup puncak kepala Cia cukup lama, menyalurkan ketenangan yang selalu ia miliki. "Saya tahu ini tidak adil untukmu. Pernikahan ini sudah merampas banyak kebebasanmu, dan sekarang... saya harus meninggalkanmu sendirian di asrama ini. Maafkan saya."

Mendengar kata maaf dari bibir pria yang selalu terlihat angkuh dan tak tersentuh itu, pertahanan Cia akhirnya runtuh. Tangisnya pecah. Ia memeluk pinggang Ren erat-erat, membasahi kaus pria itu dengan air matanya.

Malam itu, makan malam mereka yang belum tersentuh sepenuhnya menjadi dingin. Sisa waktu yang mereka miliki kini berpacu dengan detak jarum jam yang terasa jauh lebih kejam dari biasanya.

Pukul 01.30 dini hari.

Lampu kamar utama menyala terang. Di atas kasur, sebuah ransel carrier militer berukuran besar terbuka lebar. Seragam PDL, sepatu bot cadangan, kaus kaki tebal, perlengkapan navigasi, hingga first aid kit berserakan di sekitarnya.

Ren sedang melipat seragam lorengnya dengan metode gulung yang sangat efisien, sementara Cia duduk bersila di sisi kasur yang lain, matanya masih sembab. Gadis itu memaksa dirinya untuk membantu. Tangannya yang biasa memegang alat bedah, kini sibuk memasukkan obat-obatan pribadi dan vitamin ke dalam kantong-kantong kecil (pouch) anti air.

"Plester luka, betadine, parasetamol, antibiotik, salep antijamur..." Cia menggumamkan daftar obat itu, memastikan tidak ada yang terlewat. Ia mendongak menatap Ren. "Aku tambahin kasa steril ekstra sama cairan infus mini. Bahumu belum sembuh total, Mas. Gimana kalau lukanya terbuka lagi di hutan pas kamu lagi pakai ransel berat ini?"

Ren menghentikan gerakannya. Ia menatap tumpukan obat yang disiapkan Cia, yang jumlahnya hampir menyamai perlengkapan medis regu. Seulas senyum yang sangat, sangat tipis terukir di wajah lelahnya.

"Saya bawa secukupnya saja, Dokter. Ransel saya sudah mencapai berat maksimal tiga puluh kilogram," tolak Ren halus. Ia mengambil pouch kecil yang sudah diisi Cia, hanya memilah beberapa obat esensial, lalu memasukkannya ke dalam saku samping ransel.

Cia menunduk, bibirnya mengerucut menahan tangis yang kembali mendesak naik. "Kamu nyebelin. Dikasih bekal kesehatan malah ditolak."

Melihat istrinya merengut, Ren beranjak dari posisinya, merangkak mendekati Cia di atas kasur. Ia menangkup kedua pipi Cia dengan telapak tangannya yang besar dan kasar, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.

"Saya akan baik-baik saja," ucap Ren tegas, mata elangnya mengunci pandangan Cia. "Luka di bahu saya ini bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang pernah saya hadapi. Kamu tidak perlu mencemaskan hal yang belum terjadi."

"Gimana bisa aku nggak cemas?" bantah Cia, suaranya kembali bergetar. "Tugasmu bukan duduk di meja kantor. Kamu bakal berhadapan sama peluru tajam. Sembilan bulan, Mas! Kalau kamu rindu, kamu nggak bisa pulang. Kalau aku rindu..."

Cia menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkannya. Tenggorokannya terasa tercekik.

Ren mengusap jejak air mata di pipi Cia dengan ibu jarinya. Tatapan pria itu menggelap, dipenuhi oleh luapan emosi yang selama ini ia kubur dalam-dalam di balik tembok rasionalitas.

Tanpa banyak bicara, Ren mencondongkan tubuhnya, menghapus jarak di antara mereka, dan menyatukan bibirnya dengan bibir Cia.

Itu bukan ciuman yang menuntut atau kasar. Itu adalah sentuhan yang dipenuhi rasa putus asa, kelembutan yang teramat dalam, dan sebuah janji tak terucap. Cia menutup matanya, membalas ciuman itu dengan air mata yang kembali menetes, mengalungkan kedua lengannya di leher sang Kapten seolah pria itu adalah satu-satunya sumber oksigen di ruangan itu.

Di tengah keheningan dini hari, di bawah pendar lampu kamar yang menjadi saksi, dua jiwa yang awalnya disatukan oleh keterpaksaan itu akhirnya menemukan ruang untuk saling merengkuh, mencetak memori yang harus cukup untuk menghangatkan mereka selama dua ratus tujuh puluh malam ke depan.

Pukul 03.30 pagi.

Udara asrama terasa menusuk tulang. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan aspal di depan rumah dinas.

Ren berdiri di ruang tamu, sudah mengenakan seragam tempurnya secara penuh. Rompi taktis, ransel carrier di punggung, helm baja di tangan kiri, dan senapan laras panjang yang tersandang kokoh di bahu kanannya. Aura yang dipancarkan pria itu telah berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi suami Cia yang semalam memeluknya di kasur. Ia adalah Kapten Ren Adhyaksa, sang Komandan Tim Alfa.

Cia berdiri di depannya, mengenakan sweter kebesaran untuk menghalau dingin. Matanya bengkak, namun ia menahan diri sekuat tenaga agar tidak menangis lagi.

"Nayla bilang, istri tentara yang hebat itu nggak boleh nangis pas ngelepas suaminya tugas. Pantang katanya," ucap Cia dengan suara bindeng, memaksakan sebuah senyum yang terlihat lebih mirip ringisan.

Ren menatap istrinya dalam-dalam. "Nayla benar. Tapi kamu bebas menangis setelah mobil saya keluar dari gerbang asrama."

Pria itu meletakkan helmnya di atas meja, merogoh saku seragamnya, dan mengeluarkan sebuah benda logam yang terikat pada rantai peluru. Sebuah kalung dog tag.

Ren mengalungkan benda itu ke leher Cia, membiarkan kepingan besi dingin berukir nama 'REN ADHYAKSA' dan golongan darahnya itu jatuh tepat di dada istrinya.

"Pegang ini saat kamu merasa takut," perintah Ren mutlak. "Selama kalung ini ada padamu, separuh dari diri saya tetap tinggal di rumah ini bersamamu."

Cia menggenggam kepingan dog tag itu erat-erat. Logamnya terasa dingin, namun entah mengapa memberinya sebuah kekuatan baru. Ia mengangguk mantap.

Terdengar suara deru mesin truk militer dari arah jalan utama asrama, disusul suara peluit komando yang memecah keheningan subuh. Waktunya telah tiba.

Ren meraih helmnya, memakainya, dan mengancingkan tali pengamannya di bawah dagu. Ia mengambil posisi sikap sempurna, memandang Cia dengan tatapan seorang komandan yang memberikan instruksi terakhir pada prajurit paling berharganya.

"Jaga dirimu baik-baik, Dokter Almeera. Tetap fokus pada pasienmu, dan jangan biarkan orang-orang asrama mendiktemu jika kamu yakin langkahmu benar," ucap Ren. Ia melirik sekilas, "Dan hindari pria masa lalumu itu."

Di tengah suasana haru, Cia masih bisa tersenyum tipis mendengar nada posesif suaminya. "Siap, Kapten."

Ren memberikan hormat militer yang tegas kepada istrinya. Sebuah penghormatan tertinggi dari seorang prajurit. Cia membalasnya dengan senyum getir.

Pria itu berbalik, membuka pintu depan, dan melangkah keluar menuju jalanan yang masih gelap. Ia bergabung dengan beberapa prajurit lain yang juga keluar dari rumah masing-masing, berjalan tegap menuju truk penjemputan tanpa menoleh ke belakang. Dalam dunia militer, menoleh ke belakang saat berangkat tugas adalah pantangan yang bisa memecah konsentrasi.

Cia berdiri di ambang pintu, meremas dog tag di dadanya. Ia menatap punggung tegap suaminya yang perlahan menghilang ditelan kabut subuh dan bayangan truk militer.

Begitu suara mesin truk menjauh dan asrama kembali hening, pertahanan Cia runtuh sepenuhnya. Gadis itu terduduk di lantai teras yang dingin, memeluk lututnya, dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.

Aku akan menunggumu pulang, Mas.

Satu minggu berlalu sejak kepergian Ren.

Kehidupan asrama kembali pada rutinitasnya. Cia berusaha keras menyesuaikan diri dengan dua dunianya yang menuntut. Pagi hari, ia akan bertugas di rumah sakit, berkutat dengan pasien IGD, memantau kondisi Prada Yuda yang kian membaik, dan berusaha profesional menghindari Davin yang anehnya menjadi sangat pendiam sejak kejadian di lorong tempo hari.

Sore harinya, Cia akan pulang ke asrama, mengikuti kegiatan Persit yang tidak berbenturan dengan jadwal jaganya. Tanpa Ren di sisinya, tatapan sinis dari Ibu Rima dan Lettu Maya terasa jauh lebih tajam.

"Mbak Cia, laporan kas arisan kompi bulan ini belum Anda tanda tangani. Sebagai ibu kompi, Anda tidak boleh menyepelekan hal-hal administratif seperti ini," tegur Ibu Rima di suatu sore saat pertemuan di balai warga.

Cia yang baru saja pulang dari jadwal shift siang dengan kepala berdenyut, menghela napas panjang. Ia menerima map itu sambil tersenyum sabar. "Maaf, Ibu. Saya akan periksa dan tandatangani malam ini."

"Dan tolong perhatikan seragam Anda," sahut Maya yang berdiri di belakang Ibu Rima, matanya memindai PSK Persit Cia yang sedikit kusut karena belum sempat disetrika sempurna. "Suami Anda sedang bertaruh nyawa di pedalaman, jangan sampai Anda di sini justru mencoreng wibawanya dengan penampilan yang tidak disiplin."

Cia menelan harga dirinya bulat-bulat. Ia mengingat ucapan Ren. Jangan menunduk. Jangan biarkan mereka mendiktemu.

"Terima kasih atas masukannya, Lettu Maya," balas Cia tenang, tanpa sedikit pun nada emosi. "Tapi wibawa Kapten Ren tidak dinilai dari seberapa licin rok seragam saya, melainkan dari keberaniannya memimpin operasi di depan sana. Saya permisi."

Meninggalkan tatapan kesal Maya, Cia berjalan pulang ke rumah dinasnya yang kosong.

Begitu ia membuka pintu, bau pembersih lantai pinus yang khas menyeruak, mengingatkannya pada malam pertama ia tiba di rumah ini. Cia meletakkan tasnya, duduk di sofa ruang tamu yang sepi, dan meraba dog tag yang kini selalu tergantung di lehernya, tersembunyi di balik baju.

Ia meraih ponselnya. Menatap ruang obrolannya dengan Ren yang terhenti pada pesan terakhir tepat di hari keberangkatan pria itu.

Cia: Mas, hati-hati.

Ren: (Hanya dibaca, tanda centang biru ganda tanpa balasan).

Cia tahu, alat komunikasi tidak diizinkan selama operasi rahasia. Ponsel Ren disita di pangkalan sebelum keberangkatan. Ia sedang berbicara pada udara kosong, namun jemarinya tetap mengetikkan sebuah pesan baru.

Cia: Hari ini capek banget, Mas. Pasien IGD penuh, Ibu Rima juga makin galak. Tapi tadi aku berhasil jahit luka sobek anak kecil tanpa bikin dia nangis lho. Keren, kan?

Cia menekan tombol kirim. Hanya ada centang satu abu-abu.

Gadis itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata. Jarak sembilan bulan terasa seperti sebuah lubang hitam yang siap menelannya kapan saja. Ia belum pernah merasa sesepi ini seumur hidupnya.

Tiba-tiba, suara ketukan keras dan mendesak terdengar dari arah pintu depan.

Cia membuka matanya. Jam dinding menunjuk pukul tujuh malam. Sangat jarang ada tamu asrama yang berkunjung di jam istirahat seperti ini.

Cia bangkit, merapikan bajunya, dan berjalan menuju pintu. Saat ia memutar kenop dan membuka pintu, jantungnya mendadak berdetak kencang, firasat buruk langsung menyergapnya.

Di depan pintunya, berdiri Bima.

Letnan Satu yang biasanya selalu tersenyum jail dan penuh tawa itu, kini berdiri kaku dengan seragam PDH yang sedikit berantakan. Wajah Bima sepucat kapas. Tidak ada senyum. Matanya memerah, menatap Cia dengan raut keputusasaan yang tidak bisa disembunyikan.

"Letnan Bima? Ada apa malam-malam..."

Suara Cia tercekat saat melihat Bima melepas baret hijaunya, meremasnya erat-erat di depan dada. Pria itu menundukkan kepala dalam-dalam.

"Mbak Cia," panggil Bima parau, suaranya bergetar hebat. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya... Kami baru saja menerima laporan dari pusat komando."

Napas Cia seolah terhenti. Tangannya refleks naik, meremas dog tag Ren di balik bajunya. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar cepat. "Laporan apa, Bim? Ren kenapa?"

Bima mengangkat wajahnya, menatap Cia dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Tim Alfa disergap di titik koordinat merah siang tadi. Terjadi kontak senjata hebat dan ledakan ranjau darat." Bima menelan ludah dengan susah payah, setiap katanya terdengar seperti sayatan belati tajam. "Kapten Ren... dinyatakan hilang dalam tugas."

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!