NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 34 Aku Membencimu Wakadanna!|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Bara Soryu-pewaris Soryu Group, pria yang sanggup membuat direktur bank papan atas berkeringat dingin hanya dengan satu tatapan tajam, kini harus berhadapan dengan musuh paling mematikan dalam hidupnya.

Bukan Shu Hades. Bukan pula ayah tirinya, Raiden Soryu. Melainkan kandung kemihnya sendiri yang sudah berada di ambang batas.

"Cepat, Davian!" Bara setengah berteriak. Suaranya serak dan setiap hembusan napasnya memicu rasa nyeri hebat dari dua tulang rusuknya yang kemungkinan besar patah.

Davian yang duduk di kursi besi dengan kedua tangan terikat ke belakang langsung panik. Wajahnya pucat pasi, bukan karena takut pada tempat penyekapan ini, melainkan karena kengerian atas tuntutan bosnya.

"W-Wakadanna... saya benar-benar tidak bisa!"

"Kau pasti bisa, Davian!"

"Tapi tangan saya masih terikat kuat!"

"Gunakan mulutmu kalau memang terpaksa!"

Davian membelalakkan mata, hampir saja pingsan mendengar perintah ekstrem itu.

"Wakadanna! Saya tidak akan pernah melakukan tindakan sekotor itu!"

"Aku sudah menahan ini sejak sebelum dihajar Shu, Davian. Itu hampir tiga jam yang lalu. Tiga jam!" Bara menggeram, mencoba menahan gejolak di perut bawahnya.

"Ditambah lagi perutku habis dihajar puluhan kali. Tekanannya sudah benar-benar tidak bisa kutoleransi!"

"Tapi, Wakadanna—"

"Buka celanaku, Davian. Sekarang juga!"

Davian langsung menutup matanya rapat-rapat. Wajahnya seketika memerah padam karena rasa malu yang luar biasa, sampai-sampai ia ingin rasanya tenggelam ke dalam lantai semen gudang ini.

"Ini pasti mimpi buruk," gumam Davian, merutuki nasibnya. "Saya pasti sedang bermimpi. Nanti saya akan bangun di kamar saya yang nyaman."

"Ini kenyataan, Davian! Bukan mimpi!" sentak Bara, menyadarkan Davian dari haluan-nya.

"Tapi saya maunya ini cuma mimpi, Wakadanna!"

"Buka!"

Davian akhirnya membuka mata dan menatap pasrah ke arah Bara.

Sang pewaris Soryu itu duduk di tepi kasur darurat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan; wajahnya bengkak, pelipisnya diperban, dan pakaiannya bernoda darah. Namun, sorot matanya menunjukkan urgensi yang sangat-sangat urgent.

"Baik, baik," ujar Davian dengan nada pasrah. "Tapi saya akan menutup mata selama proses ini."

"Terserah kau saja."

"Dan saya bersumpah tidak mau melihat apa pun."

"Cepat lakukan, Davian!" teriak Bara.

Davian menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan posisi kedua tangan yang masih terikat, ia berjalan mendekati posisi duduk Bara.

"Wakadanna, di mana posisi tepatnya? Saya tidak bisa melihat," tanya Davian canggung.

"Tentu saja di celana bagian depan, Davian! Di mana lagi?! Makanya tidak usah tutup mata!"

"Jangan membentak saya, Wakadanna! Saya sangat gugup sekarang!"

"Aku yang kencingnya mau pecah di sini, kenapa malah kau yang gugup?!"

Davian tidak membalas lagi. Tangannya yang terikat mulai meraba-raba area depan celana milik Bara. Tanpa visual, tugas ini terasa seperti menjinakkan bom di medan perang.

"Agak ke kanan sedikit, Wakadanna?"

"Kanan dari sudut pandangmu atau sudut pandangku?"

"Saya tidak tahu! Saya kan sedang menutup mata!"

"Sudahlah, raba saja sampai ketemu!"

Setelah beberapa detik yang menegangkan, jari-jari Davian akhirnya menemukan tuas ritsleting celana Bara. Dengan gerakan gemetar, ia menariknya perlahan ke bawah.

Krek...

Bara mengembuskan napas pendek, sedikit merasa lega karena jalur pembuangannya mulai terbuka.

"Sekarang... buka kancing utamanya."

Davian hampir menitikkan air mata. "Wakadanna, membuka kancing dengan tangan terikat dan mata tertutup itu sangat sulit!"

"Berusahalah!"

Davian kembali meraba-raba. Jari-jarinya sempat tidak sengaja menyentuh kulit perut Bara yang terasa hangat namun penuh dengan lebam akibat pukulan Shu.

"Perut Wakadanna terasa hangat," celetuk Davian spontan.

"Itu karena darah dan memar, Davian!"

"Bukan begitu maksud saya—" Davian memotong kalimatnya sendiri begitu jemarinya berhasil menemukan kancing celana Bara dan meloloskannya dari lubang kain.

"Nah, selesai!"

Davian mengira penderitaannya berakhir di sana. Namun, kalimat Bara berikutnya membuat jantung Davian seolah berhenti berdetak.

"Pegangin."

"Pegang apa, Wakadanna?!" Davian tersentak.

"Pegang milikku... supaya aku bisa mengarahkan jalannya kencing dengan benar."

Davian membeku seketika. Wajahnya yang memerah kini berubah menjadi pucat, lalu hijau, lalu memerah lagi. "Wakadanna, kalau yang itu saya benar-benar tidak—"

"Pegang, Davian! Atau aku terpaksa kencing di lantai ini dan kau yang harus membersihkannya nanti!"

"Di gudang ini tidak ada alat pel, Wakadanna!"

"Maka dari itu, bantu aku!"

Davian bergidik ngeri. Di tengah kegelapan matanya yang terpejam, ia perlahan mengarahkan kedua tangannya yang terikat ke arah celana dalam Bara yang sudah melonggar.

Ketika jemari Davian akhirnya bersentuhan langsung dan menggenggam milik atasannya, pikiran Davian mendadak mengalami korsleting. Untuk mengalihkan rasa malunya, Davian mulai memandangi isi kepalanya sendiri. Ia mencoba membayangkan pemandangan pantai di Bali, deburan ombak yang tenang, hingga makanan-makanan seperti bebek goreng dan es kelapa muda.

Namun, imajinasi itu buyar seketika karena suara Bara yang membuyarkan-nya.

"Sudah, tahan posisinya di sana. Jangan dilepas dulu," perintah Bara dengan suara yang agak tertahan.

Bara kemudian memejamkan mata, mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada tujuan awal untuk merilekskan otot-kandung kemihnya yang sempat terganggu akibat ketegangan barusan.

Sepuluh detik berlalu dalam keheningan yang amat canggung.

"Wakadanna," bisik Davian memecah kesunyian, "kenapa belum keluar juga?"

"Biasanya hanya butuh waktu lima detik. Mungkin karena perutku baru saja dihajar habis-habisan oleh Shu, jadi ototnya agak kaku," gumam Bara, mencoba mencari alasan logis.

"Mungkin milik Anda terlalu—" sahut Davian polos.

"Kau sama sekali tidak membantu, Davian." potong Bara.

"Maaf, Wakadanna."

Dua puluh detik kemudian, usaha Bara akhirnya membuahkan hasil. Ia mengembuskan napas panjang yang sangat lega begitu cairan urinnya mengalir deras ke arah sudut dinding semen di depan mereka.

Di sisi lain, Davian justru mulai menangis pelan dengan mata yang masih tertutup rapat. Bukan karena sedih, melainkan karena trauma mental yang luar biasa akibat situasi yang absurd ini.

"Wakadanna... sudah selesai?" tanya Davian dengan suara bergetar.

"Belum."

"Lama sekali, Wakadanna."

"Volume penampunganku memang banyak. Diamlah, Davian."

Davian akhirnya memilih bungkam, membiarkan pikirannya melayang ke alam lain sampai ritual memalukan ini benar-benar berakhir. Setelah apa yang terasa seperti satu abad bagi Davian, aliran itu akhirnya berhenti.

"Sudah selesai," ujar Bara.

Davian langsung melepaskan genggaman tangannya secepat kilat. Ia buru-buru menggesek-gesekkan telapak tangannya ke permukaan lantai semen gudang yang berdebu untuk membuang kesan "sensasi hangat" yang masih tertinggal di jarinya.

"Wakadanna, apakah ada air di sini? Saya ingin cuci tangan," keluh Davian, melihat sekeliling dengan mata yang kini sudah terbuka.

"Kau lihat sendiri ruangan ini kosong. Tidak ada keran air."

"Kalau begitu saya terpaksa memakai air liur saya sendiri saja!"

"Jorok, Davian!"

"SAYA TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN, WAKADANNA!"

Dua menit kemudian, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat hening dan canggung.

Davian kembali duduk tegak di kursinya dengan ekspresi kosong, menatap lurus ke depan seperti tentara yang mengalami trauma pasca-perang.

Sementara itu, Bara duduk di tepi kasur setelah berhasil merapikan kembali pakaiannya dengan bantuan Davian, karena tubuhnya masih terlalu lemas untuk bergerak banyak.

"Wakadanna," panggil Davian memecah keheningan setelah beberapa saat.

"Apa?"

"Saya baru saja menyadari satu hal yang sangat krusial."

"Apa itu?" tanya Bara penasaran.

Davian menatap Bara dengan mata yang melotot tajam. "Sedari tadi, yang tangannya diikat itu adalah SAYA. Bukan tangan Wakadanna!"

Bara terdiam. Ia menurunkan pandangannya, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang bebas, lalu menggerakkan jemarinya perlahan.

"Wakadanna... artinya, Anda sebenarnya bisa membuka celana dan mengaturnya sendiri sejak awal, kan?" desak Davian, suaranya mulai meninggi karena rasa kesal yang memuncak.

"Bisa," jawab Bara dengan nada datar tanpa dosa.

Davian membuka dan menutup mulutnya berulang kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Jadi... Anda sama sekali tidak butuh bantuan saya untuk membukakan celana?"

"Tidak butuh."

"Dan Anda juga tidak butuh saya untuk memegangnya?"

"Tidak perlu sama sekali."

Davian memejamkan mata rapat-rapat, dadanya naik-turun menahan emosi. "Wakadanna, saya sudah memegang... benda keramat itu... selama hampir satu menit penuh sampai tegang, padahal Anda bisa melakukannya sendiri tanpa melibatkan saya!"

"Iya."

Davian kembali membuka mata, dan air mata kekesalan mulai mengalir di pipinya. "Kenapa Anda tidak bilang dari awal kalau tangan Anda bebas?!"

"Kau tidak bertanya."

"WAKADANNA KAN BISA BERINISIATIF UNTUK BILANG!"

"Begitu sadar, kau langsung menawarkan diri untuk membantu dengan heboh. Jadi, untuk apa aku menolak bantuan dari asisten pribadiku sendiri?" balas Bara lempeng.

Davian mengepalkan tangannya yang terikat. "Wakadanna... Anda sengaja menjebak saya, kan?"

Bara menatap Davian dengan satu matanya yang sehat. Wajahnya yang babak belur tetap mempertahankan ekspresi sedingin es. "Tidak."

"WAKADANNA BISA BERHENTI BERBOHONG?!"

"Aku tidak berbohong. Aku hanya lupa memberitahumu kalau ikatanku sudah dilepas oleh anak buah Shu sebelum aku pingsan."

"Lupa?! Alasan konyol macam apa itu?!"

"Kepalaku baru saja dihajar berulang kali oleh Shu Hades, Davian. Sangat logis jika aku mengalami sedikit gegar otak dan kehilangan memori jangka pendek," tutur Bara dengan argumen yang terdengar sangat meyakinkan.

Davian ingin sekali membalas ucapan itu, namun ketika ia menatap wajah Bara lebih dekat, ia menyadari sesuatu. Di sudut bibir Bara yang pecah dan berdarah, terdapat sebuah lengkungan tipis yang sangat jarang terlihat.

Sebuah senyuman. Bara Soryu sedang tersenyum penuh kemenangan.

Davian seketika sadar bahwa bosnya baru saja mengerjainya habis-habisan demi hiburan pribadinya di tengah-tengah situasi menegangkan ini.

"Wakadanna benar-benar jahat," bisik Davian ketus.

Bara tidak menyahut, namun lengkungan di bibirnya semakin melebar. Untuk pertama kalinya setelah malam yang penuh dengan siksaan fisik dan emosional, Bara mengeluarkan suara tawa kecil dari hidungnya, sementara bahunya sedikit bergetar.

Melihat tawa tipis itu, Davian yang tadinya emosi mendadak menghela napas pasrah. Setidaknya, jika bosnya masih memiliki energi untuk menjahilinya seperti ini, itu tandanya Bara Soryu tidak akan mati dalam waktu dekat.

"Saya benar-benar membenci Anda, Wakadanna," gumam Davian, memalingkan wajahnya.

"Aku tahu."

"Kali ini saya serius."

"Aku tahu, Davian."

KRIET...

Suara pintu besi yang berderit panjang memutus interaksi mereka. Dua orang anak buah Shu melangkah masuk ke dalam ruangan. Langkah kaki mereka sempat terhenti begitu melihat Bara sudah dalam posisi duduk tegak, bukan lagi terbaring koma seperti beberapa jam yang lalu.

"Kau sudah sadar rupanya," ujar salah satu pengawal dengan nada waspada.

Bara langsung mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap.

"Panggil bosmu kemari," perintah Bara dingin. "Aku ingin bicara dengannya."

"Tuan muda Shu sedang tidak ingin diganggu—"

"Katakan padanya aku ingin bicara, bukan untuk membalas pukulan atau meminta maaf. Aku hanya ingin berbicara empat mata dengannya," potong Bara dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Kedua pengawal itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengangguk dan keluar dari ruangan untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Shu.

Davian menoleh ke arah Bara dengan tatapan khawatir. "Wakadanna, apa Anda yakin? Kondisi fisik Anda masih sangat lemah."

"Aku sangat yakin, Davian."

"Apa yang sebenarnya ingin Anda bicarakan dengan Tuan muda Shu?"

Bara menatap lurus ke arah pintu besi yang terbuka sedikit, sorot matanya tampak begitu dalam menembus kegelapan malam.

"Tentang masa lalu, tentang kebenaran di balik kematian ayahku, dan hubungannya dengan keluarga Adama."

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!