Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Tak Pernah Berubah
Di ruang kecil, di sisi paling pojok dan tersembunyi, ada sekawanan anak yang sedang bersantai di dalamnya. Tumpukan kertas, bolpoin, dan pensil yang berserakan menambah berantakan ruangan. Di sisi kanan dan kiri ruangan ada lemari besi yang tampak penyok dari berbagai sisi menandakan kalau ruang itu awalnya hanya ruang penyimpanan yang disulap menjadi sebuah markas.
"Ren, lu dah belajar bab ini belum?" Tunjuk Bimo, yang mendapat julukan serigala 1 dari Emma. Dia menyodorkan beberapa lembaran seperti hasil fotokopi ke arah Rendi (anak yang ijin ke toilet pada adegan sebelumnya).
"Ck, belum. Nanti lah....baru seru nih! Push rank-push rank!!!"
Plakk!
Tio, salah satu pasukan serigala yang berkulit agak gelap dengan alis tebal dan badan kekar, memukul kepala Rendi dengan tumpukan tipis kertas fotokopi.
"Lu lupa sama apa yang dikatakan orang itu? Kita harus menghafalkan ini!" Ucap Tio dengan wajah cemberutnya.
"Ck, iya-iya...bentaran dikit ah!" Rendi masih saja mengelak dan kembali fokus dengan layar HP.
Lalu, dengan cepat Edi menyaut HP Rendi dan meletakkannya di satu-satunya meja di tengah-tengah mereka.
"Cukup Ren, lu mau dia marah lagi gara-gara nilai kita anjlok? Gue nggak mau kena imbasnya padahal lu sendiri yang malas-malasan," ucap Edi dengan mata sipitnya yang hampir satu garis itu.
"Iya...."
Dengan ogah-ogahan, Rendi mengambil sisa fotokopi di atas meja dan mulai menghafalnya.
"Lalu bagaimana dengan Bahasa Inggris? Kita punya Guru baru kan?" Ucap Bimo. "Apa kita habisi saja? Kkkk," lanjutnya cekikikan dengan gigi taringnya.
"Hmmm...." Edi yang bermata sipit semakin terlihat terpejam ketika memikirkan sesuatu itu termenung di atas lemari yang roboh.
"Jangan grusak grusuk gitu! Lu itu selalu aja seenaknya saja. Lebih baik kita tunggu perintah saja dari orang itu. Jangan bertindak sendiri! Ok bim?"
Bimo memang anak yang paling sengklek dari keempatnya, Lebih tepatnya psiko. Apakah dia dalang dari semuanya? Itu sangat mungkin karena dia yang paling haus darah dari teman-temannya.
...****************...
Sementara di ruang guru, Emma yang tidak punya jadwal mengajar membuka tutup laptopnya seperti orang yang kurang kerjaan.
"Haisshhh.... Bosen banget sumpah!!"
Emma menopang kepalanya dan menggoyangkan kakinya yang sudah gatal, ingin sekali keluar dari ruang yang menjenuhkan itu.
Melihat meja-meja guru yang kosong penghuni, membuat Emma semakin iri. Mungkin hanya ada tiga saja guru yang sedang bekerja di mejanya membuat suasana semakin hening dengan tiupan angin AC yang dingin.
"Ini semua gara-gara, si Aren Gentong. Bisa-bisanya cuma ngasih 2 kelas saja. Jadi nganggur kan, huh!" Emma menggerutu sampai ketiga rekan kerjanya bersama-sama menoleh ke arahnya.
"Tunggu!"
Tiba-tiba Emma berdiri dari pertapaannya kemudian langsung keluar ruangan. Langkahnya ia percepat seperti sedang mengebut.
Dia mengamati setiap gedung di sekitar. Semua ia gambar dan catat di buku note kecil bersampul warna hitam miliknya. Lalu sampailah ia pada ruangan kecil berpintu warna biru yang terpencil paling pojok.
"Mmm.... Ada ruangan kayak gini juga ya."
Rasa penasarannya sangat besar hingga ia hampir saja membuka kenop pintu biru itu. Perlahan, ia meraih kenop pintu. Sangat pelan karena ia tidak ingin mengganggu orang yang di dalam, jika berpenghuni.
Dan ternyata..... Kosong!
Disana hanya ada tumpukan kertas, kursi dan meja yang berserakan, dan lemari yang bentuknya sudah tidak beraturan.
"Apakah cuma gudang?" Pikir Emma.
Namun, rasa penasarannya benar-benar mengalahkannya. Alih-alih berlalu ke ruang lain, Emma malah mendekati tumpukan kertas itu. Dia merasa ada yang mencurigakan. Diantara ruang yang berantakan dan agak berdebu, ada tumpukan kertas tinggi yang terlihat bersih.
Perlahan dia mendekat dan mendekat....
Tapi-
"Miss Emina!?"
Suara dari orang yang sudah dia kenal, tiba-tiba memanggil di tengah sepinya suasana.
"Pak Levi?"
"Sedang apa disini?" Tanya Levi.
"Pak Levi sendiri sedang apa?"
Mungkin ada sepuluh detik Levi menatap Emma, tanpa suara, tanpa gerakan yang berlebihan, dia hanya disana mematung.
"Pak?"
"Eh.. iya," Levi malah salah tingkah, menggaruk belakang kepala.
"Tadi sebenarnya aku ngikutin kamu, dari studio. Kamunya aku panggil-panggil tapi nggak denger," jawabnya dengan senyum kikuk.
"Oh maaf, aku cuma mau keliling sekolah aja. Mau lihat-lihat buat matiin waktu, habisnya bosen banget di ruang guru, ahahaha," lagi-lagi Emma tertawa dengan canggungnya. Mungkin kalau di depannya tidak ada Levi, dia udah jedotin kepalanya di dinding sangking malunya.
"Enaknya kita keluar dari sini deh, disini.... Angker..." Bisik Levi mendekat, membuat leher Emma memanas.
"Oke, kayaknya disini bahaya deh, ayo!"
'Bahaya buat jantung maksudnya.'
Sembari berjalan-jalan ke koridor dekat gedung terpencil tadi, Emma sedikit berbasa-basi karena atmosfer mendadak sunyi. Levi hanya diam melihat sekeliling tanpa berbicara sekalipun, membuat Emma tidak tahu harus berbuat apa.
"Itu tadi gedung apa ya Pak?" Tanya Emma.
"Levi aja, kalau berdua panggil nama aja gimana? Biar nggak terlalu formal."
"Ok, Levi...." Emma benar-benar menurutinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada monster yang biasanya tertidur kini meraung hanya karena menyebut nama Levi di depan orangnya langsung.
Sedangkan entah kenapa suara lembut Emma yang memanggilnya, membuat Levi tersenyum.
"Kayaknya itu gudang deh Mi, aku juga belum pernah kesana sih sebenarnya. Karna ya, terpencil gitu tempatnya jadi hiiii takut," gidik Levi.
Ada yang jauh membuat Emma bergidik. Mi? Dia panggil Mi?
Emma membelai dadanya, 'tenang jantung, tenang... Ini belum saatnya berulah.'
"Eh ngomong-ngomong, kamu ngajar apa sih Vi?" Emma membalas memanggil Vi untuk menutupi betapa dirinya sangat malu dan hampir salah tingkah.
"Hehe," si Levi malah tertawa, mungkin dia juga kegelian mendengar ada teman kerjanya yang memanggil hanya namanya. Karena memang hanya Emma yang dia perbolehkan menyebut namanya dengan akrab di Lingkungan sekolah.
"Aku ngajar musik," lanjut Levi.
"Oh ya?" Emma pura-pura terkejut, walaupun dia sudah bisa menebaknya, mengingat Levi memang seorang anak band yang lumayan bertalenta.
"Eh nggak percaya? Gini-gini aku dulu punya band terkenal loh."
Levi menaikkan pundaknya, merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Mmm.... Gitu ya?"
Dalam hati Emma ingin berteriak kalau dia sudah tahu, lebih sekedar tahu malahan.
"Pasti banyak fans ceweknya ya?" Emma lagi-lagi memancing Levi karena senang melihatnya tersenyum lebar menceritakan masa kejayaannya.
"Bukan cuma fans, aku punya banyak cewek. Setiap kelas aku punya seenggaknya satu cewek," Levi sepertinya menikmati ceritanya.
"Oh ya?" Emma menutupi kekecewaannya dengan senyum palsu. Tapi ekspresi yang keluar dari wajahnya malah terlihat aneh. Matanya sedih, namun senyumnya sangat lebar.
Apakah Levi menyadarinya?
"Tapi itu dulu.... Semakin dewasa aku jadi lebih merasa kalau diriku yang dulu sangat... Kekanakan? Hehehe."
"Syukurlah kalau kamu sudah .... Insyaf? Hahaha," Emma mulai tertawa dan Levi juga ikut terawa bersamanya.
"Yaaaaahhh... Namanya manusia, pasti akan berubah seiring waktu. Ya kan Mi?
"Ya donk, tentu saja," jawab Emma.
'Mungkin hanya aku yang tidak pernah berubah, aku .... masih menyukaimu,' batin Emma seperti tercabik-cabik.
"Tapi-"
Tiba-tiba Levi menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Emma juga berhenti.
"Hm? Ada apa Vi?" Tanya Emma.
"Tapi, apakah dulu kita seangkatan? Wajah kamu nggak asing bagiku."
Jantung Emma langsung merosot, matanya membulat, dan bibir bundarnya terbuka.
'Apakah Levi mengenaliku?'