"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jerat Pandangan Pertama
Bab 16: Jerat Pandangan Pertama
Suasana pasar desa yang ramai dan riuh ri rendah memberikan ketenangan tersendiri bagi Hana. Di sela-sela aroma rempah kering, sayuran segar, dan suara tawar-menawar para pedagang, Hana berjalan pelan sembari menggandeng lengan Paman Harjo. Ia sengaja memperlama kegiatannya memilih empon-empon, kunyit, dan jahe emprit, murni untuk menghirup udara kebebasan yang sempat dirampas darinya di kota.
Namun, di saat Hana sedang mencari ketenangan di luar, atmosfer di rumah joglo Paman Harjo justru berubah menjadi panggung interaksi yang semakin berani. Dengan perginya Hana dan Paman Harjo, serta Ibu Broto yang sedang asyik mendengarkan radio di dalam kamar, pekarangan rumah kayu itu serasa menjadi milik Adrian dan Santi seutuhnya.
Adrian duduk di kursi panjang teras depan, mencoba fokus memeriksa laporan surel dari manajer restoran di kota. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali mendengar suara gemercik air dan langkah kaki ringan yang mendekat.
Santi keluar dari dalam rumah membawa sebuah nampan kayu berisi secangkir teh poci hangat dan sepiring pisang kepok rebus yang masih mengepulkan asap. Siang itu, cuaca desa mulai terasa agak gerah. Santi tidak lagi mengenakan tunik longgarnya. Ia telah berganti pakaian menggunakan jarik kain batik usang yang dililit ketat di pinggang, dipadukan dengan kaus oblong berleher rendah sewarna kulit yang mencetak jelas lekuk tubuh mudanya yang kencang.
"Den Adrian... eh, Mas Adrian... ini teh poci harian buatan Santi. Diminum selagi hangat, Mas," bisik Santi dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar begitu intim di bawah teduhnya atap joglo.
Adrian mendongak. Matanya seketika terkunci pada sosok Santi yang sedang membungkuk meletakkan cangkir di atas meja rendah. Jarak yang begitu dekat membuat aroma sabun sirih yang segar bercampur keringat tipis di leher Santi langsung menyergap indra penciuman Adrian. Gairah pelindung dan hasrat liar pria kota yang jenuh dengan kehamilan istrinya seketika bangkit kembali, persis seperti malam pengkhianatan mereka di sofa kota.
"Kamu... tidak capai, Santi? Dari pagi sudah berbenah terus," ujar Adrian, suaranya mendadak berubah parau. Matanya tidak bisa berbohong; ia menatap leher dan garis bahu Santi dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan.
Santi yang menyadari arah pandangan mata Adrian justru sengaja tidak langsung menegakkan punggungnya. Ia mempertahankan posisinya membungkuk selama beberapa detik, memberikan Adrian pandangan yang lebih jelas, sembari menyunggingkan senyuman manis yang tampak polos namun sarat akan godaan.
"Santi tidak capai kok, Mas... kalau yang dilayani itu Mas Adrian," cicit Santi sembari mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Adrian dengan binar penuh kepatuhan. "Santi justru senang kalau bisa membuat Mas Adrian nyaman di sini. Di kota... Santi selalu sedih kalau lihat Mas Adrian pulang kerja dengan wajah pusing karena Mbak Hana selalu ketus."
Kata-kata Santi yang membandingkan dirinya dengan Hana bagai elusan lembut pada ego Adrian yang terluka akibat masalah restoran. Adrian mengulurkan tangannya, berpura-pura hendak mengambil cangkir teh, namun jemari kokohnya sengaja bergeser hingga menyentuh dan mengusap pelan punggung tangan Santi yang halus.
Santi tersentak manja, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan jemari Adrian mengelus kulitnya, sembari melemparkan pandangan curi-curi ke arah pintu kamar Ibu Broto, menikmati sensasi kucing-kucingan yang menegangkan namun mendebarkan ini.
"Kamu... benar-benar gadis yang penurut, Santi," desis Adrian, matanya semakin gelap oleh kabut gairah. "Andai saja Hana bisa memiliki setengah dari sifat penurutmu ini..."
"Santi akan selalu menurut apa kata Mas Adrian... apa pun itu," balas Santi dengan nada berbisik yang sangat dalam, memberikan janji tersirat yang membuat jantung Adrian berdegup kencang.
Satu jam kemudian, deru langkah kaki Paman Harjo dan Hana terdengar memasuki pekarangan. Pertemuan intim terselubung di teras itu seketika bubar. Santi dengan cekatan langsung menarik tangannya dan berpura-pura menyapu lantai teras, sementara Adrian buru-buru menatap kembali layar ponselnya dengan wajah salah tingkah yang kentara.
Hana berjalan masuk ke halaman, membawa sebuah bakul kecil berisi rempah-rempah pasar. Langkah kakinya terhenti sejenak saat matanya menangkap posisi berdiri Santi yang terlalu dekat dengan kursi Adrian, serta sisa-sisa atmosfer canggung yang tertinggal di antara mereka.
Hana tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Adrian dengan sepasang mata yang sedingin es—sebuah tatapan yang membuat Adrian seketika memalingkan wajahnya karena dirayapi rasa bersalah dan cemas. Hana berjalan melewati mereka begitu saja menuju dapur belakang, membiarkan jerat pandangan pertama dan interaksi berani itu semakin menumpuk di rumah pamannya, karena ia tahu... semakin tinggi mereka terbang di atas ilusi cinta terlarang ini, semakin hancur pula mereka saat dihempaskan ke bumi nanti.