NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: tamat
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 33.

Malam telah larut ketika sebuah mobil sedan hitam memasuki kawasan industri di pinggiran kota yang menjadi salah satu markas utama keluarga Romanov. Hujan turun tanpa henti sejak sore, membuat udara terasa dingin dan jalanan memantulkan cahaya lampu-lampu penjaga yang berjajar di sepanjang pagar baja setinggi lima meter.

Belum sempat kendaraan itu berhenti sempurna, lebih dari dua puluh pria bersenjata lengkap langsung mengepung dari segala arah. Lampu sorot diarahkan ke kaca depan. Di atas menara pengawas, beberapa penembak jitu telah mengunci sasaran menggunakan teropong senapan.

Pintu mobil perlahan terbuka, seorang pria turun dengan kedua tangan terangkat.

Ramon.

Tatapannya menyapu sekeliling tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Ia tahu, selama berada di wilayah Romanov, nyawanya bisa melayang kapan saja.

Seorang komandan pengawal maju beberapa langkah. "Berhenti di tempat!"

Ramon mematuhi, pria itu mengangkat kedua tangannya lebih tinggi.

"Aku datang sendiri."

Komandan itu tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. “Dekati dia perlahan."

Dua orang pengawal segera memeriksa seluruh tubuh Ramon dengan teliti, pistol di pinggangnya disita. Pisau kecil di balik sepatu ikut diamankan, bahkan jam tangan dan telepon genggamnya dilepas.

"Sudah bersih."

"Pindai lagi!" Komandan masih belum puas.

Beberapa detik kemudian alat pendeteksi logam kembali melewati tubuh Ramon. "Tidak ada senjata lain."

"Bawa dia." Barulah komandan memberi isyarat.

Di ruang rapat utama Mansion Romanov. Ruangan luas itu dipenuhi suasana sunyi. Meja panjang dari kayu hitam membentang di tengah ruangan.

Leon Romanov duduk di kursi utama, Antonio berada di sisi kirinya. Velicia duduk tenang di sebelah ayahnya dengan setumpuk laporan intelijen di depan.

Sementara Lorenzo duduk tidak jauh dari sana. Luka tembak di dada kirinya masih membuat gerakannya sedikit terbatas, tetapi sorot matanya tetap setajam biasanya.

Pintu ruangan terbuka, Ramon masuk dengan dua pengawal mengapit dari kanan dan kiri.

Begitu melihat pria itu, Antonio langsung berdiri. "Aku benar-benar tidak menyangka kau cukup berani datang ke sini."

Ramon berhenti sekitar lima meter dari meja.

"Aku tidak datang untuk mencari masalah."

Antonio tersenyum tipis. "Semua orang yang berniat mengkhianati kami selalu membuka percakapan dengan kalimat seperti itu."

"Terserah kau mau percaya atau tidak."

Antonio melirik para pengawal. "Tinggalkan dia berdiri."

Tak ada satu kursi pun yang disediakan, sebuah bentuk penghinaan yang sangat jelas. Namun Ramon tidak mempermasalahkannya.

"Katakan tujuanmu."

Ramon menatap langsung ke arah Velicia. "Aku ingin bekerja sama dengan Romanov."

Antonio tertawa pelan. "Bekerja sama?"

"Kau pikir organisasi Romanov menerima siapa saja yang datang mengetuk pintu?"

"Aku tahu tidak semudah itu."

"Lalu kenapa kau masih datang?"

Ramon mengembuskan napas panjang. "Karena aku sudah tidak punya tempat lain."

"Aku penasaran." Antonio mendekat beberapa langkah. "Dulu kau menjadi salah satu orang kepercayaan Black Throne. Sekarang tiba-tiba ingin bergabung dengan kami, apa kami terlihat sebodoh itu?"

Ramon menatap Antonio tanpa menghindari tatapannya. "Aku tidak meminta kalian mempercayaiku, aku hanya menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga."

"Apa?" Antonio menyilangkan kedua tangan.

"Black Throne."

Kalimat itu membuat Lorenzo perlahan mengangkat kepala, tatapannya kini benar-benar tertuju pada Ramon.

Antonio menyipitkan mata. "Lalu apa yang bisa kau tawarkan sampai kami harus membiarkanmu keluar hidup-hidup dari ruangan ini?"

Ramon mengeluarkan sebuah map tebal dari dalam tas yang sejak tadi dibawa pengawal Romanov.

"Semua operasi Black Throne selama enam bulan terakhir."

Antonio membuka map itu. Di dalamnya terdapat peta wilayah, foto gudang senjata, daftar transaksi, hingga nama-nama komandan yang memimpin setiap wilayah.

Lorenzo ikut melihat isi dokumen tersebut. Untuk pertama kalinya sejak Ramon datang, sorot matanya berubah sedikit serius.

"Darimana kau mendapat semua ini?"

"Aku pernah menjadi salah satu komandan mereka."

"Lalu kenapa membawanya ke sini?"

Ramon mengembuskan napas panjang. "Karena mereka membunuh anakku sebelum sempat melihat dunia. Aku bahkan belum sempat memanggil diriku sebagai seorang ayah, aku bahkan... belum pernah mendengar detak jantung anakku. Tapi mereka, menganggap nyawa anakku hanya sebagai hambatan."

Semua orang terdiam.

"Aku memang tidak pernah menjadi pria baik. Tanganku juga dipenuhi darah. Tapi bahkan aku tidak pernah menganggap nyawa seorang anak sebagai alat." Suara Ramon mulai bergetar.

Tatapan Ramon berubah dingin. "Black Throne berbeda, mereka mengorbankan siapa pun demi tujuan mereka."

Velicia memperhatikan Ramon beberapa saat. "Apa tujuan mereka sebenarnya?"

"Menguasai seluruh jalur perdagangan ilegal di benua ini. Romanov, Sullivan, Kensington, Moretti. Semuanya hanya target. Jadi sejak awal... perang ini memang sudah direncanakan."

"Joseph Bonanno?" Lorenzo menyilangkan kedua tangannya.

"Hanya salah satu eksekutor."

"Siapa pemimpinnya?"

Ramon menarik napas panjang. "Aku tidak pernah melihat wajahnya.“

"Kalau begitu bagaimana kau tahu dia benar-benar ada?"

Ramon menatap Leon. "Karena Joseph sendiri selalu menyebut satu nama, 'The King'."

Velicia sejak tadi hanya memperhatikan wajah Ramon, Ia bisa membedakan kebohongan dan penyesalan. Dan apa yang ia lihat sekarang bukan sandiwara, melainkan penyesalan yang nyata.

Ramon mengusap wajahnya perlahan. "Selama bertahun-tahun aku mengira Black Throne adalah keluarga, tapi aku salah. Mereka hanya memanfaatkan orang, siapapun yang sudah tidak berguna akan dibuang."

Tatapan pria itu perlahan beralih kepada Velicia. "Nona Romanov, wku tahu aku tidak pantas meminta bantuan. Aku juga tahu aku pernah menjadi bagian dari musuh kalian. Tapi mulai malam ini... aku ingin menghancurkan mereka."

Velicia akhirnya berdiri, wanita itu berjalan perlahan hingga berhenti tepat di depan Ramon.

"Kau ingin balas dendam?"

"Bukan, aku ingin mengakhiri mereka."

"Lalu setelah Black Throne hancur?"

Ramon tersenyum pahit. "Mungkin aku akan menyerahkan diriku, atau mati. Aku sudah tidak peduli."

Velicia mengalihkan pandangannya kepada Lorenzo. "Kau percaya padanya?"

Lorenzo terdiam cukup lama sebelum berkata pelan. "Aku percaya pada rasa kehilangan, bukan pada orangnya. Orang yang kehilangan sesuatu yang paling berharga... biasanya tidak lagi memiliki alasan untuk berbohong."

"Kalau ini jebakan?" Antonio masih tampak ragu.

"Kalau ini jebakan, kita akan menghancurkannya. Tapi kalau benar, kita mendapatkan jalan masuk menuju jantung Black Throne."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

“Baik, ku menerima kerja sama ini.“ Velicia akhirnya menyetujui.

Ramon perlahan mengangkat wajahnya, belum sempat dia berbicara, Velicia kembali melanjutkan dengan nada yang tetap dingin. "Jangan salah paham, kau bukan teman. Bukan sekutu, dan tentu saja... bukan bagian dari Romanov."

Ramon mengangguk. "Aku mengerti."

"Kau hanyalah sumber informasi, kalau sekali saja kau berbohong..." Velicia menatap lurus ke matanya. "...aku sendiri yang akan menarik pelatuk ke kepalamu."

Ramon tidak mundur sedikit pun. "Itu hukuman yang pantas."

Namun saat suasana mulai mereda, Lorenzo tiba-tiba bertanya, "Ramon, ada satu hal yang belum kau jelaskan."

"Apa?"

"Siapa sebenarnya pemimpin Black Throne?"

Wajah Ramon berubah serius, Ia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab dengan suara rendah. "Joseph Bonanno, memang bukan pemimpin tertinggi. Dia hanya tangan kanan, kami hanya mengenalnya dengan satu sebutan... The King."

*

*

*

Maaf ya kalau cerita ini sering slow update. Kadang ide datangnya susah banget. 🤧

Mohon doanya semoga aku bisa menyelesaikan cerita ini sampai tamat tanpa gantung. Terima kasih sudah tetap setia membaca. 🙌🏻🫶🏻

1
Heni Setiyaningsih
kayaknya cewek nya badasss soal nya cerita mafia, aku suka
Lydia
terima kasih atas ceritanya 🙏🏻
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
trimakasih banyak untuk cerita yang menegangkan kan ini ka... warbiasa
ρυтяσ kang'typo✨
warbiasa kereeeeen
ρυтяσ kang'typo✨
Bianca tetap di pihak Lorenzo 👀... Alhamdulillah
ρυтяσ kang'typo✨
weh perang mulai 👏👏👏👏
Rere🌠: banyak alur gak nyambung, aku tamatin dengan lier 🤧 idenya mandet yang ini, ampun dah.
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
u ngebut thor??? ini Ramon beneran masuk sana sendiri ato hanya pion juga ya🤔🤔lanjut baca ach
Diana Dwiari
ada yg janggal disini....bukanya tadi latar perang di markas Sullivan ya,kenapa tiba2 ada di depan pintu masuk markas black throne,terus mereka keluar dr bawah tanah menuju ke tempat yg luas,anggota BT bahkan ratusan keluar dr bawah tanah tiba2 kalah dg anggota gabungan Romanov,la trs kemanakah the king dan lucian,apa.mereka membiarkan markasnya dimasuki musuh....trs tiba2 anggota romanov mau menang gitu,padahal lawannya kan pasukan bayangan yg mengerikan.....
Diana Dwiari
bukannya velicia di menara pengawas.....gimana menatapnya
Rere🌠: Gk ditulis Velica turunnya, aku jg bnyk skip nulisnya kak tkt kepanjangan. Maaf ya 🤭
total 1 replies
Diana Dwiari
apakah nantinya hianca akan mati atau hidup dan bersama antonio
tuti raniati
ini keren
Lydia
Lanjut Author
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!