Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 032: Keputusan Tegas dan Kekuatan di Ujung Luka
Malam semakin larut, namun Siska belum juga bisa memejamkan mata di rumah Fearny. Air matanya seakan tak habis-habisnya mengalir, teringat setiap kata manis Randy yang ternyata hanya topeng belaka. Fearny tak banyak bicara, ia hanya duduk setia di samping sahabatnya, sesekali mengusap punggung Siska lembut memberi kekuatan tanpa kata.
“Sudah cukup menangisnya, Siska. Biarpun hati sedang terluka, kamu harus tetap kuat menghadapi kenyataan,” ucap Fearny pelan sambil menyodorkan tisu. “Sekarang kamu sudah tahu siapa dia sebenarnya. Tinggal kamu tentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.”
Siska menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya berusaha tegar. “Aku tahu, Fearny. Aku hanya butuh waktu sedikit saja untuk menerima kenyataan pahit ini. Besok pagi aku akan menemuinya sekali lagi, meminta penjelasan terakhir sekaligus mengakhiri hubungan ini.”
“Itu keputusan yang berani. Ingat, aku akan selalu ada di sampingmu apa pun yang terjadi,” jawab Fearny tulus.
Keesokan paginya, Aldara bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Baru saja selesai bersiap, ia mendengar ketukan di pintu. Ternyata Aries sudah datang lebih awal membawa sarapan sederhana kesukaannya.
“Kok pagi-pagi sekali sudah ke sini?” sapa Aldara tersenyum menyambutnya masuk.
“Aku ingin memastikan kekasihku sudah makan sebelum berangkat kerja. Lagipula hari ini aku harus bertugas keluar kota lagi, jadi aku ingin melihatmu sebentar dan berpesan banyak hal sebelum pergi,” jawab Aries sambil tersenyum lembut.
Mereka duduk berdampingan menikmati hidangan di meja makan, saling berpesan untuk selalu menjaga diri dan kesehatan.
“Pergilah dengan tenang, sayang. Jangan khawatirkan aku. Aku akan menjaga diri dan hatiku tetap menunggumu pulang kembali,” ucap Aldara tulus sambil menggenggam tangan kekasihnya.
“Terima kasih, sayang. Kali ini aku berjanji akan berusaha memberi kabar sesering mungkin, walau hanya sebentar,” janji Aries sebelum akhirnya berpamitan melangkah pergi.
Belum lama Aries berangkat, ponsel Aldara berdering berkali-kali. Ternyata Siska menelepon dengan suara bergetar, memintanya bertemu di tempat biasa mereka berkumpul. Tanpa menunda, Aldara segera berangkat bersama Hafizah dan Dede Ara yang juga sudah diberitahu sebelumnya.
Sesampainya di sana, mereka melihat Siska duduk sendirian di sudut meja. Wajahnya tampak lebih tenang meski matanya masih terlihat sembab bekas tangisan.
“Kamu sudah bertemu dengan Randy?” tanya Aldara langsung duduk di sampingnya.
Siska mengangguk pelan. “Tadi pagi aku menemuinya. Awalnya dia masih berusaha menutupi semuanya dan malah menyalahkanku, tapi akhirnya dia mengaku juga. Dia memang sudah lama menjalin hubungan dengan wanita itu, bahkan sebelum dia dekat denganku.”
Hafizah menghela napas kecewa. “Dia benar-benar tidak tahu diuntung. Padahal kamu sudah memberikan perasaan tulus sepenuhnya. Suatu hari nanti dia pasti akan menyesal telah melepaskan wanita sebaik kamu.”
“Aku justru merasa lega sekarang. Lebih baik tahu kebenarannya sejak dini daripada aku harus terus tertipu dan semakin mencintai orang yang salah,” ucap Siska dengan senyum tipis namun tegar. “Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Biarkan dia pergi bersama pilihannya, aku akan berusaha melangkah maju tanpa dia.”
“Keputusan yang sangat tepat,” puji Dede Ara sambil merangkul bahu sahabatnya. “Kamu pantas mendapatkan orang yang setia dan tulus, bukan yang penuh kebohongan seperti dia.”
“Kami semua akan selalu ada di sisimu, Siska. Kamu tidak akan pernah merasa sendirian,” tambah Aldara menatapnya penuh kasih sayang.
Sore harinya, kabar itu sampai juga kepada Abang Chepot dan teman-teman lainnya. Meski ikut sedih melihat Siska terluka, mereka merasa lega karena gadis itu akhirnya terlepas dari orang yang tidak bisa dipercaya.
“Kamu hebat berani mengambil keputusan itu,” ucap Abang Chepot saat mereka berkumpul kembali. “Kepercayaan yang sudah dikhianati memang sulit untuk dikembalikan seperti semula. Lebih baik berjalan sendiri dengan tenang daripada bersama namun setiap hari dipenuhi kebohongan.”
Siska tersenyum tulus merasakan dukungan yang tulus dari orang-orang di sekitarnya. Perlahan beban di dadanya terasa semakin ringan, ia yakin kebahagiaan sejati masih menantinya di depan sana.