Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Raden Sanjaya
"Sampai menjelang pagi kalian baru datang! Di mana gadis itu!?" tanya Raden Sanjaya.
Keempat pengawal pribadi Raden Sanjaya itu saling berpandangan, sebelum seorang dari mereka mewakili menjawab pertanyaan itu.
"Maaf, Raden. Kami gagal menemukan gadis itu. Sewaktu kami mencarinya di penginapan Darsih, kamar mereka kosong."
"Kosong bagaimana maksudmu?"
"Kata penjaga penginapan itu, mereka berdua keluar dari penginapan setelah malam tiba, Raden. Kereta kuda yang mereka pakai juga masih ada di depan penginapan itu, jadi kami menduga mereka hanya berjalan-jalan saja di sekitar Kotaraja. Namun setelah kami menyisir Kotaraja, keberadaan mereka tidak kami temukan."
"Goblok!"
Braaak!
Meja kayu di depannya langsung hancur terkena pukulannya.
"Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk mengawasi penginapan itu!?" bentak Raden Sanjaya. Nafsunya yang tadi sudah di ubun-ubun, kini berganti menjadi emosinya yang memuncak.
"Maaf, Raden. Sebenarnya tadi kami sudah mengawasinya. Namun setelah malam tiba, kami kembali ke sini untuk mematangkan rencana."
"Bodoh kalian semua! Seharusnya satu dari kalian tetap berada di sana untuk mengawasi. Apa kalian tidak tahu betapa beratnya mataku tidak tidur sampai detik ini menunggu kalian kembali membawa hasil memuaskan?"
"Maafkan kesalahan kami, Raden. Kami tidak menduga jika mereka akan meninggalkan penginapan itu setelah kami kembali ke sini."
"Aku beri kesempatan sekali lagi kepada kalian. Dalam dua hari, kalian harus menemukan gadis itu. Jika dalam dua hari kalian tidak membuahkan hasil, kalian berempat akan meregang nyawa di tanganku sendiri!"
Keempat pengawal itu menundukkan kepalanya dan menelan ludahnya berkali-kali. Mereka tahu betul kemampuan ilmu kanuragan Raden Sanjaya seperti apa. Andai mereka berempat menyerang bersamaan sekalipun, bisa dipastikan mereka akan kalah.
"Terima kasih atas kemurahan hati Raden. Kami berjanji akan menangkap gadis itu dalam dua hari ke depan."
"Aku pegang janji kalian! Tiga hari lagi turnamen akan dimulai. Aku ingin meregangkan urat syarafku ini dengan menyetubuhi gadis itu. Jika kalian gagal, lebih baik kalian tidak kembali daripada aku membunuh kalian semua!" ancam Raden Sanjaya.
"Baik, Raden. Sekarang apa yang harus kami lakukan?"
"Pergilah! Aku mau tidur seharian. Jangan ada yang berani menggangguku!"
Keempat pengawal itu pergi dengan nafas lega. Setidaknya mereka masih punya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi.
"Andai dalam dua hari kita tidak berhasil menangkap gadis itu, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang dari mereka.
"Terpaksa kita harus meninggalkan Kotaraja untuk selamanya, daripada kita mati sia-sia," sahut temannya.
"Baiklah. Ini kesepakatan kita bersama. Jangan sampai Raden mengetahuinya."
Ketiga orang pengawal yang lain menganggukkan kepalanya bersamaan. Setelah itu mereka menuju kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Keesokan siangnya, keempat orang pengawal itu kembali berkumpul setelah beristirahat. Tak lama kemudian mereka berpencar untuk mencari Wira dan Sinta. Mereka punya keyakinan bahwa kedua orang yang mereka cari masih berada di Kotaraja.
Sementara itu, Wira keluar dari penginapannya, dan menuju rumah bangsawan Lesmana untuk mendaftar ikut dalam turnamen nanti.
Di rumah yang besar itu, lebih dari 10 orang sedang mengantri untuk melakukan pendaftaran. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, Wira menduga mereka adalah para pendekar yang mencoba mencari peruntungan dengan ikut dalam turnamen nanti.
Setelah beberapa orang sudah mendaftarkan diri, tiba giliran Wira untuk maju menemui Lesmana.
Bangsawan yang masih terlihat muda di usianya yang sudah lebih dari setengah abad itu memandang Wira dengan seksama. Dia tidak percaya jika di depannya ada seorang pemuda yang ikut dalam turnamen nanti.
"Apa kau yakin akan ikut dalam turnamen nanti?"
"Hamba yakin, Tuan," jawab Wira tegas.
"Tapi bisa saja kau terluka parah dalam satu pertandingan?"
"Tidak apa-apa, Tuan. Hamba sadar risiko yang akan hamba hadapi."
"Baiklah kalau kau sudah yakin. Aku hanya mengingatkanmu saja. Nanti banyak pendekar yang akan ambil bagian dalam turnamen ini. Belum lagi para pangeran yang tentu ilmu kanuragannya tidak rendah."
"Hamba sepenuhnya sudah siap, Tuan."
"Sebutkan siapa namamu dan dari mana asalmu?" tanya Lesmana. Tangannya sudah memegang pena yang siap untuk digoreskan di atas sebuah kain putih.
"Nama hamba Wira Dewandaru, Tuan. Hamba berasal dari desa Sendang Rejo."
Lesmana mengernyitkan dahinya begitu mendengar nama lengkap Wira. Dia tidak jadi menulis di atas kain putih di depannya.
"Sebutkan lagi siapa namamu?"
"Wira Dewandaru, Tuan."
Lesmana memandang Wira cukup lama dengan tatapan tajam. Bahkan dia sampai tidak berkedip sama sekali untuk memastikan dugaannya salah.
"Tidak mungkin! Bisa saja kebetulan namanya sama!" gumamnya dalam hati.
Lesmana lalu menulis nama dan alamat Wira di atas kain putih. Setelah itu dia melihat catatan nama-nama peserta lain yang juga ada di depannya.
"Wira, kau nanti akan bertanding di panggung empat. Dan lawanmu nanti seorang pendekar dari perguruan Macan Putih."
"Baik, Tuan. Hamba siap menghadapi siapapun dalam turnamen nanti."
Lesmana tersenyum hangat kepada Wira, "Aku suka dengan semangatmu, Wira. Tapi dalam sebuah pertarungan, bukan hanya bermodal semangat saja, tapi kemampuan juga sangat penting."
"Akal pikiran juga tidak kalah penting, Tuan. Jika kita tidak menggunakan akal pikiran dalam sebuah pertarungan, besar kemungkinan kita akan kalah jika lawan lebih pintar dari kita."
"Betul sekali. Sekarang kau boleh pergi!" ucap Lesmana.
Setelah memberi hormat, Wira keluar dari ruangan yang dikhususkan untuk pendaftaran.
Lesmana tidak segera memanggil calon peserta lain. Dia masih terpikir tentang Wira yang mempunyai kemiripan wajah dengan seseorang yang dia kenal. Bahkan yang membuatnya semakin heran, nama belakangnya pun sama.
"Apa mungkin dia anakmu, sahabatku?" gumam Lesmana dalam hati.
Wira berjalan pelan keluar dari rumah Lesmana. Setelah itu, dia tidak langsung beranjak menuju penginapan, melainkan menuju alon-alon dan berhenti di bawah sebuah pohon rindang.
"Ayah, Ibu, apa mungkin beliau mau menerimaku, meski aku benar-benar adalah cucunya?" tanya Wira dalam hati.
Pemuda itu masih ragu jika Raja Dharmawangsa mau mengakuinya sebagai cucunya. Jika dia tidak dibolehkan tinggal di istana, setidaknya dia berharap Raja Dharmawangsa mau mengakuinya sebagai cucu kandungnya.
Wira menatap lekat-lekat kalung milik ibunya yang sedang dipegangnya. Rasa sedih ketika melihat kalung itu, bercampur dengan rasa bahagia karena dia masih memiliki keluarga kandung di dunia ini.
Larutnya pemuda itu dalam lamunan, membuatnya tidak menyadari jika salah seorang pengawal Raden Sanjaya tanpa sengaja melihatnya.
Pengawal itu terus mengawasi Wira dari jauh, dan tidak melepaskan tatapannya sedikitpun. Dia tentu tidak mau kehilangan Wira lagi, karena gadis yang bersama pemuda tampan itu adalah salah satu akses agar dia dan ketiga temannya bisa selamat dan bisa tetap bekerja kepada Raden Sanjaya.