NovelToon NovelToon
Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."

​Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.

Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.

​Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.

Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.

​Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam Yang Terlampau Keji

​Tiga bulan telah berlalu sejak kecelakaan maut yang gagal itu. Jarum jam dinding digital di dasbor menunjukkan pukul lima sore saat Anita berjalan letih memasuki area parkir basemen kantornya yang remang-remang.

Pikiran yang dipenuhi tumpukan berkas perusahaan membuat kewaspadaannya sedikit menurun.

​Anita menekan tombol remote, membuka pintu mobil putihnya, lalu masuk ke dalam kabin kemudi. Namun, tepat saat dia hendak memasukkan kunci kontak, bayangan hitam bergerak cepat dari arah jok belakang melalui kaca spion tengah.

​Anita tersentak kaget.

"Siapa—"

​Belum sempat Anita menoleh, dua tangan dengan kuku-kuku yang tajam melesat maju. Itu Valeria. Wajahnya yang kuyu dan matanya yang melotot penuh kegilaan tampak mengerikan di balik keremangan basemen.

Dengan raungan histeris, Valeria mencengkeram erat rambut bagian belakang Anita, lalu menariknya ke belakang dengan kekuatan penuh yang didorong oleh rasa dendam.

​"Mati lo Anita! Ini semua gara-gara lo!" jerit Valeria kesurupan.

​"Arghhh!" Anita menjerit kesakitan yang teramat sangat. Tarikan beringas itu begitu kuat hingga kulit kepalanya terasa seolah terkelupas. Beberapa ikat rambut Anita tercabut paksa dari akarnya, menyisakan tetesan darah segar yang mulai membasahi kerah kemeja kerjanya.

​Rasa sakit yang mendera tidak membuat otak cerdas Anita lumpuh. Di tengah jepitan maut itu, Anita memaksakan tubuhnya berputar sedikit ke kanan. Menggunakan seluruh sisa tenaga dan momentum, dia melayangkan sikunya ke belakang, menghantam telak hidung Valeria.

​Brak!

​"Aakh!" Valeria mengaduh kesakitan. Pukulan keras Anita berhasil mematahkan tulang hidungnya, membuat darah kental seketika mengucur deras dari sana.

​Cengkeraman pada rambut Anita terlepas. Anita segera meraih tuas pintu untuk keluar dan berteriak meminta pertolongan. Namun, Valeria yang sudah menjelma menjadi monster tanpa rasa sakit kembali menerjang. Kali ini, dia mengeluarkan sebuah kantong plastik kresek hitam besar dari balik jaketnya.

​Sebelum Anita sempat membuka pintu, Valeria membekap wajah Anita dari belakang menggunakan kresek hitam tersebut, menariknya kencang-kencang hingga menempel ketat menutupi hidung dan mulut Anita, memutus suplai oksigennya seketika.

​"Lepas... emmphh..." Anita meronta beringas. Kakinya menendang-nendang dasbor dan tangannya berusaha mencakar lengan Valeria.

Namun, cengkeraman kresek itu terlalu erat. Pandangan Anita perlahan mengabur, dadanya terasa terbakar, hingga akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya dan tubuhnya terkulai lemas di atas jok.

​Saat terbangun, aroma lembab, debu, dan bau busuk yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Anita. Dia mencoba menggerakkan tangannya, namun kedua pergelangan tangan dan kakinya telah terikat kuat dengan tali tambang plastik pada sebuah kursi besi di tengah bangunan kosong yang setengah hancur.

​"Oh, lo udah bangun, Nyonya Besar?" sebuah suara dingin terdengar dari kegelapan sudut ruangan.

​Valeria melangkah maju. Wajahnya berlumuran darah kering dari hidungnya yang patah, senyumannya menyeringai mengerikan. Tanpa aba-aba, Valeria mengambil ancang-ancang dan melayangkan sebuah tendangan serta pukulan keras tepat ke arah perut Anita yang terikat.

​Bugh! Bugh!

​"Ughh!" Anita terbatuk, tubuhnya menekuk menahan rasa sakit yang luar biasa di ulu hatinya. Napasnya langsung tercekat.

​"Ini buat semua uang gue yang hilang! Ini buat Randy yang ninggalin gue!" teriak Valeria, lalu melayangkan sebuah tonjokan mentah yang mendarat telak di pipi kiri Anita hingga wajah Anita menoleh ke samping dan sudut bibirnya pecah.

​Anita meringis, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dia menatap Valeria dengan sisa kekuatannya.

"Lo... udah gila, Valeria. Polisi... polisi udah tahu semua kelakuan lo."

​"Gue nggak peduli sama polisi! Gue udah nggak punya apa-apa lagi!" teriak Valeria histeris. Dia kemudian berjalan ke sebuah sudut, mengambil sebuah perangkap kawat kecil.

Di dalamnya, seekor tikus got besar berwarna hitam bergerak-gerak liar.

​Valeria memakai sarung tangan tebal, meraih tikus got yang kelaparan itu, lalu mendekatkannya ke wajah Anita yang terikat.

"Lihat mainan baru gue. Dia lapar, Anita. Dan pipi mulus lo kelihatan enak banget."

​"Jangan, Valeria! Stop!" untuk pertama kalinya, nada ketakutan terdengar dari suara Anita.

​Sambil tertawa cekikikan seperti psikopat, Valeria menempelkan tikus itu ke wajah Anita. Binatang pengerat itu seketika menggigit dan mencakar pipi kanan Anita dengan beringas demi melepaskan diri.

​"Aaakhhh!" Anita menjerit histeris saat rasa sakit yang luar biasa dari gigitan tajam tikus itu merobek kulit pipinya, meninggalkan luka compang-camping yang mengucurkan darah. Valeria tertawa puas melihat penderitaan korbannya, lalu melemparkan tikus itu ke lantai.

​Namun, siksaan itu belum mencapai puncaknya. Valeria berbalik arah menuju sebuah kompor gas portabel kecil yang entah sejak kapan sudah dia siapkan di atas lantai. Di atasnya, sebuah panci logam berisi air sudah mendidih, mengeluarkan uap panas yang mengepul tebal.

​Valeria mematikan kompor, lalu mengangkat panci berisi air mendidih itu dengan kedua tangannya. Dia berjalan perlahan mendekati Anita, menatap wajah saingannya itu dengan tatapan penuh kebencian yang murni.

​"Semua ini salah lo, Anita. Kalau lo mati dan wajah lo hancur, Randy pasti bakal balik jadi milik gue selamanya," bisik Valeria dengan nada dingin yang teramat mengerikan.

​"Valeria, jangan—"

​Sebelum Anita sempat menyelesaikan kalimatnya, Valeria mengangkat panci itu tinggi-tinggi dan menyiramkan air mendidih yang bergolak panas itu tepat ke arah wajah Anita.

​Cshhh!

​"AAAAAAKKKKKKHHHHHH!!!!"

​Jeritan melengking yang menyayat hati memecah kesunyian bangunan kosong itu. Kulit wajah Anita seketika melepuh merah dan meletup akibat sengatan suhu ekstrem.

Rasa sakit yang teramat sangat, yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya, membuat seluruh tubuh Anita menegang hebat sebelum akhirnya dia kembali jatuh pingsan karena syok yang luar biasa.

​Sambil menatap puas ke arah wajah Anita yang sudah hancur melepuh dan tak sadarkan diri, Valeria bergerak cepat. Dia melilitkan lakban hitam tebal berkali-kali ke mulut Anita untuk memastikan tidak akan ada suara jeritan yang lolos jika wanita itu terbangun nanti.

Dengan napas memburu, Valeria menyeret tubuh lemas Anita yang tangan dan kakinya masih terikat erat dengan tali tambang, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil butut sewaan yang sengaja dia siapkan untuk pelarian.

​Valeria mengemudikan mobilnya membelah malam menuju kawasan hutan terpencil di pinggiran kota yang dikenal memiliki jurang yang dalam dan sepi. Setibanya di sana, di bawah kegelapan malam yang pekat dan dingin, Valeria membuka bagasi.

Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, dia menyeret tubuh Anita ke bibir tebing.

​"Selamat tinggal, Nyonya Besar yang terhormat. Nikmati malam terakhir lo di sini," desis Valeria kejam.

​Dengan satu dorongan kasar dari kakinya, tubuh Anita menggelinding jatuh ke dalam kegelapan jurang yang curam, terhempas di antara semak berduri dan bebatuan tajam dalam kondisi tak berdaya.

Valeria tersenyum puas dari atas tebing. Dengan mulut yang dilakban serta tangan dan kaki yang terikat mati, mustahil bagi Anita untuk mendaki naik.

Valeria membiarkannya membusuk di sana, membiarkan Anita mati perlahan karena hipotermia yang menggigit tulang, atau menjadi santapan empuk bagi binatang buas yang kelaparan di tengah hutan.

Bersambung

1
Eridha Dewi
aneh
Ariany Sudjana
semoga Anita bisa diselamatkan, dan pelacur murahan itu, juga Randy, harus dihukum mati
Eneng Farida
autor ini mh salah judul kali ya bkn hrusnya judulnya akhir hidup isri sah bkn sebaliknya
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang bodoh kamu itu Valeria, kamu akan menyeret Anita dan Randy, yang ada juga kamu dan Randy yang akan jatuh, Anita sih cerdas, sudah mengamankan aset, dasar pelacur murahan yang bodoh 😂😂🤣🤣 hanya bisa ngangkang demi jadi istri konglomerat, tapi otaknya tolol 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha dasar pelacur murahan kamu itu Valeria, gimana rasanya aset yang kamu andalkan itu rusak parah disengat tawon?
Ariany Sudjana
hahahaha pelacur murahan ga mempan sama sengatan tawon ternyata 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
padahal Anita langsung saja masuk ke kantor Randy, jangan bicara dulu, kan lebih seru jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!