NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28. MARKAS DAN TAMU

Wilayah timur menyambut mereka bukan dengan kehangatan, melainkan dengan bau tanah basah, udara lembap yang berat, dan kesunyian yang terasa mencurigakan.

Markas persembunyian itu tersembunyi di balik tebing berbatu, setengah terbenam dalam bayangan pepohonan tua. Bangunan batu berlumut itu pernah menjadi pos pertahanan lama pada masa perang puluhan tahun silam, kini dihidupkan kembali oleh Duke Alaric Ravens dan rombongannya sebagai titik pijak untuk membersihkan wilayah timur.

Di dalam ruangan utama yang remang, cahaya obor menari-nari di dinding batu. Meja kayu panjang dipenuhi peta, dokumen, dan laporan tertulis tangan. Alaric berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu di atas peta wilayah timur yang terbentang luas.

Di hadapannya, seorang pria kurus dengan jubah lusuh menunduk dalam-dalam. Wajahnya tertutup tudung, namun matanya tajam dan gelisah.

"Laporkan," perintah Alaric singkat.

Informan itu menarik napas dalam. "Wilayah timur saat ini berada dalam kendali tidak resmi para bangsawan kecil dan pedagang gelap. Pasar gelap beroperasi hampir setiap malam, berpindah-pindah lokasi. Senjata ilegal, budak, racun, bahkan artefak terlarang, semuanya diperdagangkan tanpa rasa takut."

Gideon, yang berdiri di sisi Alaric, menyilangkan tangan. "Arena ilegal?"

Informan mengangguk. "Ada tiga arena besar. Pertarungan sampai mati. Taruhan melibatkan bangsawan dari wilayah lain. Dan tengah malam nanti akan ada lelang besar."

Alaric mengangkat alisnya sedikit. "Lelang?"

"Manusia, senjata ilegal, dan makhluk monster dari wilayah terlarang. Undangan terbatas. Keamanan diperketat," jawab informan dengan suara diturunkan.

Ruangan seketika dipenuhi keheningan berat.

Alaric menghela napas pelan. "Orang-orang benar-benar membuat tanah yang suci jadi penuh dosa."

Alaric menoleh ke arah para kesatria yang telah lebih dulu menyusup ke wilayah timur sejak kemarin. "Siapkan penyergapan malam ini. Kita bergerak bersamaan dengan lelang."

Beberapa kesatria mengangguk tegas, wajah mereka serius.

"Tidak ada kebocoran informasi. Kita bergerak tanpa diketahui bangsawan lain. Ini bukan operasi resmi kekaisaran. Ini pembersihan," lanjut Alaric.

Gideon menggelar peta wilayah timur lebih lebar. Jarinya menunjuk jalur-jalur sempit, gang bawah tanah, dan jalur sungai.

"Jalur pelarian utama ada di sini. Dan di sini. Kita tutup semuanya," tunjuk Gideon pada peta.

Alaric memerhatikan dengan seksama. "Bagi pasukan menjadi tiga. Satu tim menutup jalur utara, satu di selatan, satu lagi masuk dari pusat. Tidak ada yang lolos."

Diskusi berlangsung serius. Strategi demi strategi dirancang dengan presisi dingin. Setiap kemungkinan diperhitungkan, pengkhianatan, penyergapan balik, bahkan korban di pihak sendiri.

Udara di ruangan itu terasa semakin berat.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan hentakan keras.

Seorang kesatria masuk dengan napas tersengal, wajahnya pucat.

"Yang Mulia! Ada penyusup! Markas kita diserang!" seru kesatria tersebut.

Dalam sekejap, ketenangan runtuh.

Alaric mengangkat kepalanya, matanya menyala tajam. "Jumlah?"

"Tidak pasti! Tapi mereka bergerak cepat dan mematikan!"

"Semua ke luar!" perintah Alaric.

Deru langkah kaki menggema ketika mereka berlari keluar bangunan. Di halaman belakang markas, obor-obor terjungkal, beberapa kesatria sudah menghunus pedang mereka.

Dan di tengah kekacauan itu, tiga sosok berjubah hitam berdiri dengan tenang.

Pedang mereka terhunus, memantulkan cahaya obor dengan kilau dingin.

Tanpa aba-aba, bentrokan terjadi.

Besi beradu dengan besi. Percikan api menyambar udara malam. Jeritan tertahan dan dengusan napas berat bercampur menjadi satu simfoni kematian.

Gideon telah mengeluarkan dua belatinya, tubuhnya rendah dan siap menerkam. Matanya bergerak cepat, membaca setiap gerakan lawan.

Satu kesatria tumbang.

Lalu yang lain.

Gerakan tiga orang berjubah itu terlalu rapi, terlatih, mematikan, dan jelas bukan penjahat biasa.

"Mundur!" teriak salah satu kesatria.

Namun sudah terlambat.

Dua dari mereka melesat ke arah Alaric.

Gideon bergerak secepat kilat, berdiri tepat di depan Duke, belatinya menangkis serangan bertubi-tubi. Logam beradu keras, getarannya menjalar ke lengan.

Yang ketiga, menyelinap dari sisi kanan.

Pedangnya terhunus, mengarah langsung ke Alaric.

Alaric melangkah maju, menangkap serangan itu dengan mudah. Pedang mereka terkunci.

Duke itu tersenyum santai.

Alaric melangkah maju satu tapak, cukup untuk mengubah sudut serangan. Pedangnya terangkat dengan gerakan yang tampak sederhana, tapi presisi. Logam beradu, dentingannya nyaring memecah udara malam.

Serangan pertama terpental.

Serangan kedua ditangkis, lalu dibelokkan dengan sentakan pergelangan tangan.

Yang ketiga terpaksa mundur ketika ujung pedang Alaric nyaris menyentuh lehernya.

Gerakan mereka cepat. Terlatih. Mematikan.

Namun Alaric tetap tenang.

Wajahnya datar, nyaris bosan, seolah ini bukan penyergapan, melainkan latihan pagi.

Beberapa detik berikutnya diisi rentetan benturan. Tanah berdebu terinjak keras. Obor-obor bergetar, bayangan mereka menari liar di dinding batu.

Lalu Alaric berhenti.

Pedangnya masih terangkat, namun tubuhnya santai.

Alaric melirik sekeliling.

Para kesatria Ravens tergeletak di tanah, beberapa terkapar, beberapa bersandar pada siku. Tidak ada darah. Tidak ada luka terbuka. Hanya napas berat dan wajah terkejut.

Alaric menghela napas tipis.

"Sudah pertunjukannya?" ujar Alaric.

Kalimat itu meluncur ringan, nyaris malas.

Gerakan langsung terhenti.

Tiga orang berjubah itu membeku.

Bahkan sosok yang sedang bertarung sengit dengan Gideon, yang mana dua belati beradu dengan pedang panjang, ikut menghentikan serangannya. Gideon melangkah mundur setengah langkah, waspada, namun matanya menyipit penuh curiga.

Keheningan jatuh, berat dan aneh.

Salah satu orang berjubah, yang sejak awal beberapa kali beradu langsung dengan Alaric, perlahan mengangkat tangannya ke tudung kepalanya.

Dengan satu gerakan tenang, tudung itu dilepas.

Cahaya obor menyingkap wajah seorang pria gagah dengan rahang tegas, hidung lurus, dan mata biru terang yang tajam seperti es. Rambut pirangnya bersinar dalam cahaya obor, beberapa helai jatuh ke dahi.

Aura bangsawan terpancar jelas, bukan sekadar prajurit bayaran.

Alaric menyunggingkan senyum kecil.

"Haruskah datang dengan keributan. Duke Arram Oberyn?" kata Alaric datar lalu melanjutkan.

Udara seolah membeku.

Gideon terbelalak.

Colton, sang pemimpin kesatria menarik napas tajam.

Nama itu bukan nama sembarangan.

Duke dari kerajaan selatan.

Seseorang yang sama terkenalnya seperti Alaric di wilayah Oberyn.

Keluarga yang dikenal sebagai para jenius pedang.

Tanpa dikomando, Gideon, Colton, dan para kesatria yang masih berdiri spontan menunduk memberi hormat.

Arram tertawa pelan.

"Tenang saja. Hanya bermain sedikit. Rupanya kesatriamu sangat waspada dan terorganisir," kata Arram ringan.

Alaric menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan halus. "Tapi tetap saja mudah kalian lumpuhkan," jawabnya.

Arram mengangkat alisnya, lalu tersenyum miring. "Sentuhan kecil dari orang selatan."

Gideon melangkah mendekat, setelah menyarungkan kembali dua belatinya. Alisnya berkerut dalam-dalam.

"Yang Mulia, kenapa Duke dari kerajaan selatan ada di sini?" ucap Gideon dengan nada rendah pada Alaric,

Alaric menoleh sekilas. "Aku mendapat surat darinya sebelum kita berangkat ke wilayah timur. Dia mendengar tentang rencana penyergapan ini dan berniat ikut."

Gideon mengernyit. "Dan alasannya?"

Alaric menjawab tanpa ragu, "Karena wilayah timur rupanya melakukan transaksi jual beli manusia hingga ke kerajaan selatan. Dan juga ada indikasi dengan wilayah para monster juga."

Arram menyeringai tipis. "Dan selain itu, aku mencari seseorang di lelang budak nanti."

Tatapan pria pirang itu tajam, menyimpan sesuatu yang tak terucap.

"Jika ditanya siapa, itu urusan Oberyn," lanjut Arram santai.

Gideon mengangguk pelan. "Jika Duke Arram ikut serta, ini akan jauh lebih mudah."

Alaric meliriknya. "Kenapa kau berpikir begitu?"

Gideon menoleh ke arah para kesatria yang kini sudah berdiri kembali, masih tampak terkejut, namun utuh. "Anda bisa lihat sendiri. Duke Arram dan orangnya menjatuhkan kesatria kita dengan mudah. Aku yakin kemampuan pedang dan bela dirinya tidak bisa diremehkan."

Arram tertawa terbuka. "Aku akan menganggap itu pujian."

Alaric menyilangkan tangan. "Kerajaan Oberyn memang dikenal sebagai para jenius pengguna pedang. Dan wilayah selatan berbatasan langsung dengan daerah monster. Tidak aneh jika orang-orangnya terbiasa bertarung untuk bertahan hidup."

Gideon mengangguk paham.

Arram lalu mendekat satu langkah, matanya menyipit penuh selidik.

"Kita sudah kenal lama, Alaric. Tapi aku kecewa. Kau tidak mengundangku ke pernikahanmu," kata Arram dengan nada setengah bercanda, setengah menegur.

Senyum Arram melebar penuh arti dan melanjutkan, "Kurasa aku penasaran perempuan seperti apa yang berhasil mencuri hatimu. Aku jadi ingin bertemu dengannya."

Seketika udara berubah.

Senyum Alaric memudar. Rahangnya mengeras, matanya menjadi dingin, bukan marah, tapi peringatan.

"Tidak kuizinkan kau bertemu istriku." kata Alaric tegas.

Arram terdiam sesaat, kemudian tertawa keras.

Arram menatap Alaric dengan senyum penuh minat dan berkata, "Oho, reaksi seperti ini. Aku jadi semakin penasaran dengan istrimu."

Dan di balik obor-obor yang bergetar, bayangan wilayah timur seolah berbisik, bahwa perburuan ini bukan hanya tentang monster, pasar gelap, atau pengkhianatan.

Tetapi juga tentang istrinya yang dilindungi mati-matian oleh Duke Alaric Ravens.

1
Maya_she
👍😍
Ririn Nursisminingsih
thor kerenn kok a bayangin osman dan bala hatun waktu tanding pedang🤭🤭👍
Archiemorarty: Ehhhh..
total 1 replies
Bude Ning
bagus .
sy paling suka cerita ttg kerajaan,
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Ririn Nursisminingsih
knapa gak tidur satu kmar kan suami istr
Musa Johnathan
ceritanya bagus gaya penceritaan juga bagus
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
rose🦋
mampuss knnn, akhirnya Org yg slma ini klean perlakukan dngn tidak baik skrg mnjadi Dukes yg sangat cantik dan anggun dan pemberani 😍😍.
Mamah Enung
aganya dinkasihbobqt supaya gemuk sama orang jauat
Yunita Sophi
trio cadel bikin gemes klo bisa denger suara nya... suka banget klo anak kecil cadel 😂😂😂
Yunita Sophi
wah Alon calon jodoh nya Lala nih...🤭😂
Febrian Irna
mati saja kalian !
Yunita Sophi
paling juga menghilang lagi ngisengin para pengawal atau bikin iseng 😂😂😂
Yunita Sophi
si kembar lucu lagi bandel bandel nya, tp bikin repot dan ngegemesin..🤭😂😂😂😂
Musliha yunos
🥰
rose🦋
so sweet sekali uhhh😍😍
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
Archiemorarty: Happy reading kakak 🥰
total 1 replies
Black Moon
🤣🤣🤣🤣
Astaga, udah sibuk bikin banyak rencana. Udah coba realisasikan juga, masih Gatot 🤭
Yunita Sophi
wah udah yah besar yah... udah 3 thn
Yunita Sophi
Lala Epan dan Lowan nama yg kelen 👍
Yunita Sophi
ikutan nangis thor...
welcome to the word twins...
selamat untuk duke dan duches nya semoga semakin bahagia dan penuh cinta 😊 😍😍😍
Yunita Sophi
wanita itu luar biasa hebat... mereka tau melahirkan itu sakit... tp tetap mereka mau nambah satu,dua dan seterusnya entah sampai berapa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!