Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 16
Damian terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara yang pecah, jauh dari kesan pria dingin yang selama ini ia tampilkan.
"Aku tidak tahu lagi, Arga. Saat aku menatap Alysia, saat dia menangis tadi... aku tidak melihat sosok yang dulu lagi. Aku hanya melihat wanita yang selama enam tahun ini menderita karena keegoisanku. Aku ingin mengejarnya, aku ingin bicara, tapi... aku takut. Aku takut jika aku membuka hatiku, aku akan menghancurkan hidupnya lebih jauh. Dia berhak mendapatkan pria yang bisa mencintainya sepenuhnya, bukan pria yang jiwanya tertinggal di masa lalu."
"Kau pecundang, Dam," sahut Arga dingin namun penuh empati.
"Kau membangun benteng tinggi agar tidak terluka, tapi pada akhirnya, kau hanya terjebak di dalamnya sendirian. Alysia itu nyata. Dia berdiri di depanmu setiap hari, mencintai anakmu sepenuh hati dengan tulus, dan mencoba memahamimu. Jangan sampai kau baru sadar saat dia benar-benar melangkah pergi dari hidupmu."
",Bahkan Arkha, dia mengira jika Alysia adalah ibu kandungnya sendiri! Apa yang akan terjadi kepada anakmu saat dia tahu kalau Alysia pergi? Sedangkan jika dia di minta memilih, Arkha pasti akan memilih Alysia di banding kamu yang bahkan tak dekat dengannya karena selalu memilih meneng-gelam-kan diri dalam pekerjaan!"
"Aku tidak tahu caranya memulai," suara Damian terdengar putus asa.
"Setiap kali aku ingin memeluknya, wajahnya berubah menjadi bayangan masa lalu. Tapi melihatnya menangis tadi... itu jauh lebih menyakitkan daripada bayangan itu sendiri."
Di balik pintu, air mata Alysia jatuh tanpa suara. Rahasia itu, sumber dari tembok es Damian akhirnya terkuak. Itu bukan sekadar cinta pada wanita lain, melainkan sebuah trauma dan rasa bersalah yang kelam.
"Tapi kau bahkan juga berbohong padanya dan sering bertemu dengan si Berlian itu! Apa kau sadar? Jangan sampai Alysia melihatmu dengan wanita ular itu dan para akhirnya dia salah paham!"
"Kamu rela bohong kepada anak dan istrimu bertemu dengan dia di sebuah restoran mewah private hanya untuk menyenangkan hatinya dan bapaknya. Tapi kau berbohong kepada istri yang setia di rumah menunggumu yang mengatakan dinas luar negri!"
Damian kembali terdiam. Dia benar-benar tidak bisa menolak pertemuan dengan Berlian karena ancaman dari ayahnya yang akan membuat perusahaannya hancur. Dia terlalu takut akan banyak hal. Tapi dia tak takut dan tak ingat kalau sampai Alysia atau Arkhasa melihatnya. Betapa han-curnya hati mereka.
Tanpa Damian sadari jika Alysia dan Arkhasa Bahakan sudah melihatnya saat bersama dengan Berlian. tersenyum tertawa dan menggenggam tangan wanita itu. Bahkan semua itu tak pernah di lakukan kepada Alysia. Dia selalu menjaga jarak dengan istrinya.
"Jangan bicarakan wanita itu! Kau tahu aku melakukannya karena ayahnya mengancamku! Jika saja dia tak menanamkan modalnya di perusahaan aku tak akan pernah mau menemui anaknya!"
"Kau tahu dengan jelas kan, Arga? Awalnya aku hanya butuh seseorang yang bisa menjinakkan Arkha," suara Damian kala itu terdengar dingin, penuh dengan kalkulasi logika seorang pengusaha.
"Anak itu histeris setiap hari, bahkan Mama juga sudah tak sanggup menenangkannya. Belasan baby sitter silih berganti tak ada yang sanggup membuat bayi Arka tenang. Dia bahkan lebih sering berada di rumah sakit karena selalu menangis sampai suaranya hilang. Ayah mana yang tega melihat anaknya seperti itu, Arga!"
"Dia tidak bisa ditenangkan oleh siapa pun, bahkan oleh ibu kandungku sendiri. Namun, saat Alysia datang sebagai gadis muda yang sedang magang di perusahaan di minta mengambil berkas ke rumah dan mendengar Arkhasa menangis. Dia punya sentuhan magis bagi Arkha. Dia satu-satunya yang bisa membuat anak itu berhenti menangis dalam sekejap."
Damian menjeda ucapannya, tertawa sinis.
"Dan kau tahu, Aku menikahi Alysia bukan karena cinta, Arga. Aku menikahinya karena itu adalah solusi paling efisien untuk memastikan ahli warisku tumbuh dengan stabil. Aku butuh 'ibu' di rumah itu untuk Arkha, dan Alysia adalah kandidat terbaik yang bisa kubeli dengan fasilitas dan status istri sah. Dia aman, dia penurut, dan dia bisa melakukan pekerjaannya dengan sempurna. Aku tidak pernah berharap dia punya perasaan lebih, karena aku sendiri tidak punya apa pun untuk diberikan selain 'posisi' itu."
Itulah kalimat yang didengar Alysia. Kalimat yang menegaskan bahwa selama enam tahun, ia hanyalah sebuah "alat" yang dibeli Damian demi kenyamanan putranya.
Tiba-tiba, Damian berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terdengar mendekat ke arah pintu. Alysia tersentak, panik, dan segera berbalik untuk melarikan diri kembali ke kamar tamu sebelum Damian menyadari keberadaannya.
Namun, saat Alysia berbalik, ujung gaun tidurnya tersangkut pada engsel pintu yang sedikit menonjol, menimbulkan suara decitan pelan.
Langkah kaki Damian terhenti tepat di balik pintu yang kini perlahan terbuka. Pria itu berdiri di sana, dengan wajah yang masih menyisakan guratan kelelahan dan keterkejutan, menatap Alysia yang berdiri mematung di lorong gelap dengan mata yang sembab.
"Alysia?" suara Damian tercekat. Ia sadar, istrinya baru saja mendengar segalanya.
Damian masih terduduk di lantai ruang kerjanya, ponsel masih tergeletak di sampingnya dengan sambungan yang belum terputus. Arga, sahabatnya, masih mendengarkan di seberang sana, namun Damian tidak peduli lagi. Pikirannya kosong, hanya menyisakan bayangan wajah Alysia yang hancur saat berbalik meninggalkannya tadi.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,