Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA TIGA HATI
Sinar Matahari pagi menembus dinding kaca kantor stasiun radio tempat dira bekerja,Namanya kini semakin dikenal,pembawaannya yang ramah, dan kepiawaiannya membawakan acara membuat banyak orang menyukainya,jadwalnya Padat memenuhi kalender.
Meski hidupnya mulai dipenuhi dunia gemerlap,Nadira tetap gadis sederhana yang selalu mengingat masa-masa sulit ketika ia harus bekerja sambil kuliah demi bertahan hidup.
Pagi itu,seluruh karyawan dikejutkan dengan kedatangan seorang pria tampan mengenakan setelan jas abu-abu,dengan jam tangan mewah yang menghiasi pergelangan tangannya.
Frans!
Seorang pengusaha sukses yang memiliki jaringan bisnis properti, hotel, dan perkebunan di berbagai kota besar di Indonesia,Begitu memasuki lobi kantor,resepsionis langsung menyambutnya dengan sopan.
Frans tersenyum tipis,Tak lama kemudian,Dira keluar dari ruang siaran.
"Hai Mas ...
" saya ingin melihat kabarmu."🙂, tadi juga saya lagi dengerin kamu siaran di mobil.
sebuah tas mewah keluaran terbaru lengkap dengan sertifikat keaslian dikemas rapi,Frans menatap dira beberapa detik,sambil memberikan kotak itu pada dira,sikap sederhana dira yang membuat Frans semakin jatuh cinta,dira berkali-kali sering menolak,tapi kali ini Frans berharap dira menerima pemberian nya.
"aku harus bilang gimana lagi ya mas, oke saya Terima🙂lain kali,jangan gini lagi yah,aku bingung cara balasnya." dira tersenyum.
"Kamu bisa membalas semua ini dengan waktu kapan kita bisa dinner berdua"ujar Frans penuh harap.
" baiklah, nanti di agendakan,🙂
"oke, sampai ketemu lagi ya, bye!
Melihat kedatangan Frans ke kantor, Dira sedikit merasa cemas,Bukan karena kehadiran pria itu, melainkan karena ia khawatir Wanda kembali menebarkan gosip yang tidak benar.
Dira tahu betul, setiap kali ada pria yang datang menemuinya, Wanda selalu mencari celah untuk membicarakannya di belakang dan memutarbalikkan fakta,Karena itu, Dira berharap Frans tidak terlalu sering datang ke kantor agar tidak memicu kesalahpahaman dan menjadi bahan perbincangan yang dapat merusak suasana kerja maupun nama baiknya.
Malam harinya, Frans kembali mengundang Dira makan malam di restoran bintang lima,Selama makan malam berlangsung, Frans lebih banyak mendengarkan cerita Dira,Tentang perjuangannya menyelesaikan kuliah,Tentang ibunya,Tentang impian menjadi penyiar terkenal,lama berbincang, Frans semakin kagum.
terkadang,Setiap kali tampil, Frans selalu diam-diam mengirim beberapa petugas keamanan profesional,Mereka berdiri di sekitar panggung tanpa mengganggu jalannya acara.
"Mas... kenapa si setiap aku show harus kirim pengawal segala?"
Frans tertawa kecil.
"Karena kamu artis."
"iya tapi Aku bukan artis besar aku risih aja,
Frans tersenyum.
"Baiklah. Mulai besok jumlahnya dikurangi."
"Bukan dikurangi..."jawab dira
"Lalu?"
"Ditiadakan."
Frans kembali tertawa.
"Tapi kalau ada event besar, izinkan aku tetap menjaga keamananmu."!
Dira mengangguk pasrah.
Beberapa minggu kemudian..lagi lagi mobil mewah berhenti di depan kantor,Seorang pria turun mengenakan polo shirt putih dan celana panjang,Wajahnya teduh.
Namanya Mas Ari,kontraktor sukses yang menangani berbagai proyek gedung pemerintahan dan kawasan elite,dikenal sebagai sosok yang sangat sabar, rendah hati,dan sopan,Ia juga merupakan putra seorang pejabat ternama di Jakarta.
melihat Dira keluar kantor, Mas Ari membukakan pintu mobil,mereka langsung pergi ke sebuah lapangan golf,Mas Ari ingin mengajak Dira menikmati udara segar sambil belajar memukul bola golf,yang berkali-kali gagal.
Mas Ari tetap sabar membimbing,Sesekali mereka duduk di gazebo sambil menikmati kopi hangat.
Obrolan mereka mengalir ringan,Tidak ada rayuan,Mas Ari lebih banyak menjadi pendengar,Sikap itulah yang membuat Dira merasa nyaman,tiba tiba, ari memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
"Selamat ulang tahun🙂"sebuah liontin berlian berbentuk hati.
"Mas...emang mas ari tau hari ulang tahun aku,? " tanyaku terkejut.
"sudah lewat ataupun belum,Semoga ini bisa menjadi pengingat bahwa kamu adalah perempuan yang berharga."🙂
Dira terdiam.
"Hadiahnya terlalu mahal, tapi terimakasih ya mas.
Malam berikut nya,saat di studio,seorang pria lain diam-diam menyimpan rasa,Dokter Hendy,spesialis jantung yang sangat disegani,kami bertemu saat beliau merupakan narasumber di acara talkshow radio yang dira bawakan.
Gelar lengkapnya panjang sekali.
Dr. dr. Hendy Prasetyo, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC
dokter yang cuek,dingin seperti kulkas dua pintu.
Sejak mengenal dira,sang dokter mulai ada kemajuan,komunikasi nya bertambah😄,maklum,biasanya beliau irit bicara,dan komunikasi mereka mulai terjalin akrab,kadang Sesekali dira mengirim pesan.
"Jangan lupa makan Dok🙂"
sederhana,tapi bikin Pak Dokter happy dan berhasil membuatnya tersenyum.
Suatu sore...
"Dir,
"Iya?"
"loe sadar gak si?loe lagi dideketin tiga pria hebat."ujar cindy tekan kuliah.
Dira tertawa kecil.
"mereka teman."
Cindy menggeleng,
Sesungguhnya dira memang belum ingin memikirkan soal cinta,Lukanya di masa lalu belum sepenuhnya sembuh,dira tidak ingin kembali salah memilih.
Baginya,cinta bukan sekadar kemewahan,Bukan tentang jabatan,tapi rasa aman, dan itu tulus,hidup ini telah membawanya begitu jauh,Dari seorang gadis yang pernah berjuang sendirian,kini banyak orang hadir menawarkan perhatian,Namun ia tahu,perhatian saja tidak cukup,Kelak, siapa pun yang akan berjalan bersamanya harus mampu menerima dirinya apa adanya.
Di balik langit malam yang bertabur bintang,Dira menutup matanya sambil berdoa.
"Ya Tuhan... jika suatu hari Kau pertemukan aku dengan jodohku,semoga dia bukan hanya mencintaiku saat semuanya indah, tetapi juga tetap menggenggam tanganku ketika dunia sedang tidak berpihak."
Tanpa ia sadari, perjalanan cintanya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
________________________________________________
Setelah melewati berbagai badai dalam hidupnya, Nadira perlahan berubah menjadi perempuan yang lebih dewasa. Ia tak lagi menjadikan cinta sebagai pusat dunianya. Kini, impiannya jauh lebih besar. Ia ingin lulus kuliah dengan hasil terbaik, berkembang di dunia penyiaran, dan membuktikan bahwa perempuan sederhana pun bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Hari yang dipenuhi rutinitas. Pagi kuliah, siang bekerja, sore rapat produksi, malam bergantian siaran radio. Waktu yang dulu sering ia habiskan untuk menunggu kabar seseorang, kini berganti dengan tumpukan naskah, tugas kuliah, dan jadwal siaran.
Di tengah kesibukan itu, tiga pria masih berada di sekitar kehidupannya.
Frans, pengusaha mapan yang selalu hadir dengan perhatian besar. Hampir setiap minggu ia datang ke kantor membawa bunga atau hadiah. Jika Dira bertugas di luar kota, Frans diam-diam meminta asistennya memastikan keamanan Dira,Perhatian Frans begitu nyata, bahkan terkadang membuat rekan-rekan kantor merasa iri,di susul Ari, Pria yang humble dan sangat seru diajak Main golf berdua.
tapi ada satu nama yang justru perlahan memenuhi ruang hati Dira.
Hendy.
dia yang paling sedikit menunjukkan perhatian,tidak pernah mengirim bunga,jarang mengirim pesan,padahal awal kenal dia manis sekali,tapi kok efforts nya berkurang.
Kalau Dira tidak menghubungi,dua atau tiga hari berlalu tanpa percakapan,ketika menelepon, pembicaraan mereka sering kali tidak sampai lima menit.
"Hari ini sibuk?"tanya hendy
"Iya."
"Sudah makan?"
"Sudah."jawabku singkat
"Baik.!
Selesai,Tidak ada rayuan,Tidak ada gombalan,Semua datar,Awalnya Dira kesal
Dokter ini sebenarnya sedang pendekatan atau sedang wawancara pasien?" gumamnya.
tapi semakin lama, justru rasa penasaran itu tumbuh.
Suatu sore mereka bertemu setelah Hendy selesai praktik,Mereka berjalan menuju sebuah kedai kopi kecil,Dira sengaja memperhatikan langkah Hendy.
Lelaki itu berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Dira memperlambat langkah, Hendy ikut melambat,Dira berhenti,Hendy baru mendekat,Jarak mereka selalu terjaga.
"Dok."
"Iya?"
"Kenapa jalannya jauh banget? Kayak aku bawa penyakit menular."
Hendy ikut tersenyum.
"Biar nyaman."
"Nyaman siapa?"tanyaku heran.
Hendy memasukkan kedua tangannya ke saku jas.
"Aku enggak mau bikin perempuan merasa risih,Kalau belum ada ikatan, aku lebih baik jaga jarak."
Jawaban itu sederhana.
entah mengapa membuat Dira kehilangan kata-kata.
Ia baru sadar,Selama ini Hendy memang tidak pernah mencoba menyentuh tangannya,Tidak pernah mencari alasan agar bisa duduk terlalu dekat,Cara Hendy menghormati perempuan ternyata berbeda.
Sejak saat itu Dira mulai memperhatikan hal-hal kecil,
Kalau hujan turun, Hendy tidak akan berkata, "Aku jemput ya."
Tahu-tahu mobilnya sudah berhenti di depan kantor.
Kalau Dira mengeluh kelelahan, Hendy tidak memberi ceramah panjang.
Beberapa jam kemudian makanan bergizi sudah sampai ke meja resepsionis atas namanya.
Kalau Dira sakit, Hendy tidak panik.
Ia hanya mengirim resep sederhana,mengingatkan minum obat, lalu berkata, "Kalau besok belum membaik, kabari aku."
Cara mencintainya sunyi,Ia tidak pandai mengungkapkan rasa,ia selalu hadir dalam bentuk tindakan,Sayang,dira belum memahami bahasa cinta seperti itu,hendy justru percaya bahwa mencintai berarti memberi ruang.
Suatu malam, Dira duduk sendirian di balkon kos,Ia menghela napas, tiga hari lalu.
"Apa benar dia serius?"
Atau...
"Aku hanya pilihan kalau dia sedang senggang?"
Pertanyaan itu terus mengganggunya,Akhirnya Dira mengambil keputusan,Ia ingin melihat, apakah kehadirannya benar-benar berarti bagi Hendy,Dira menghilang,Tidak menghubungi,Tidak membalas pesan,Tidak mengangkat telepon.
Hari ketiga, muncul satu pesan.
"Lagi sibuk?"
Dira sengaja tidak membalas.
"Ternyata memang biasa saja."
Malam itu,ku tulis sebuah pesan panjang.
"Dok, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Tapi aku rasa kita cukup sampai di sini. Aku tidak ingin menjalani hubungan yang menggantung. Kalau memang dokter tidak memiliki niat yang jelas, aku tidak ingin membuang waktu lebih lama. Aku menghargai diriku sendiri, dan aku juga menghargai waktu dokter. Semoga kita sama-sama menemukan kebahagiaan."
Belum sampai lima detik...Ponselnya langsung berdering.
Dr. Hendy.
Dira hanya memandang layar,Ia membiarkannya tlp itu mati,beberapa detik kemudian,Berdering lagi,Tidak diangkat,Lagi Dan lagi.
Di rumah sakit, Hendy duduk membeku,Pesan itu terus terbayang di kepalanya.
"Hubungan ini cukup sampai di sini."
Tanpa pikir panjang, Hendy mengambil kunci mobil,Ia langsung menuju kos Dira.
"Maaf Dok, Mbak Dira belum pulang," kata ibu penjaga kos.
"Kira-kira ke mana?"
"Kurang tahu."
Hendy segera menuju kampus,Ia bertanya kepada satpam.
"Mbak Dira?"
"Tadi siang ada. Sekarang enggak kelihatan."
Hendy kembali menelepon.
Tetap tidak diangkat,Tangannya mulai dingin.
Untuk pertama kalinya dokter yang selalu tenang itu kehilangan kendali,Di tengah perjalanan, ia teringat sesuatu.
"Malam ini dia siaran."
Mobilnya langsung berbelok menuju kantor radio,Saat tiba di lobi, napasnya masih memburu.
Resepsionis tersenyum.
"Mau ketemu Mbak Dira ya?"
"Iya."jawab Hendy.
"Masih siaran. Sepuluh menit lagi selesai."
Sepuluh menit terasa seperti satu jam,Begitu lampu studio padam,Dira keluar membawa headphone di tangannya.
Langkahnya terhenti,Hendy berdiri di depan pintu.
Rambutnya sedikit berantakan,Jas putihnya bahkan belum sempat diganti,Tatapan mereka bertemu.
"Dok?"
"Ayo ikut aku."
Dira menggeleng pelan.
"Aku capek."
"Tolong."Pinta sang Dokter memohon.
Akhirnya Dira ikut masuk ke mobil.
Angin malam bertiup pelan,Mereka turun,Hendy membuka suara.
"Aku minta maaf,Aku pikir... dengan memberimu ruang, kamu akan merasa nyaman,Aku enggak tahu kalau diamku justru melukai kamu."
Dira membelakangi Hendy.
"Aku cuma ingin tahu... aku ini penting atau enggak."
Hendy menghela napas panjang.
"Lima hari terakhir aku enggak bisa tidur."
Dira menoleh,Hendy menatap mata Dira dalam-dalam.
"...aku enggak siap kehilangan kamu."
Suara Hendy mulai bergetar.
"Aku memang enggak pandai bilang sayang,Tapi setiap pulang dari rumah sakit,orang pertama yang ingin aku kabari adalah kamu,Kalau makan enak, aku kepikiran kamu sudah makan atau belum."
"Kalau kamu sakit, pikiranku enggak tenang,Aku cuma enggak tahu cara mengatakannya."
Selama ini Dira mengira Hendy tidak peduli,Padahal lelaki itu hanya mencintai dengan cara yang tenang,Hendy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
Bukan cincin,Melainkan sebuah gantungan kunci berbentuk mikrofon.
"Aku beli waktu seminar di Jakarta,Aku lihat ini... langsung ingat kamu,Aku mau kasih dari dulu.
Dira tersenyum
"Dok..."
Hendy menarik napas panjang.
"Kalau kamu bersedia...Aku ingin mengenalmu lebih serius,Bukan hubungan yang menggantung,Beri aku kesempatan membuktikan kalau aku datang bukan untuk singgah."
Hendy tidak lagi menyembunyikan perasaannya,dira sadar bahwa lelaki yang paling tenang sering kali adalah lelaki yang paling tulus saat mencintai.
Pagi itu,Dira masih meringkuk di balik selimut,ada dering panggilan masuk memecah keheningan.
"Selamat pagi," suara Hendy terdengar tenang, khas seperti biasanya.
Sudah bangun?"
"Baru mau bangun,Lima menit lagi."
"Lima menit itu berubah jadi tiga puluh menit,ayo mandi, lalu sarapan."desak hendy dibalik tlp.
"Iya, Dok."
Hari-hari berikutnya,Setiap pukul enam pagi, telepon dari Hendy selalu datang,perhatian Hendy semakin terasa.
malam tiba,saat itu balkon.
Mereka bercerita tentang pekerjaan, pasien-pasien lucu di rumah sakit, pengalaman Dira di kantor, hingga mimpi-mimpi masa depan.
Kadang mereka tertawa bersama.
saling diam, menikmati kehadiran satu sama lain meski hanya melalui sambungan telepon.
pria yang dulu terasa dingin dan menjaga jarak itu kini telah menjadi tempat pulang paling nyaman bagi Dira,ia tidak pernah mengucapkan "aku mencintaimu".
Ada cinta yg tidak perlu diteriakkan,Cukup dibuktikan dengan hadir, setiap hari, tanpa pernah lelah menjaga, seperti itulah yg di harapkan.