NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Jip militer Om Remon berhenti tepat di depan pagar rumah Joni tepat saat azan magrib berkumandang. Energi *Ki* di dalam tubuh Joni sudah jauh lebih selaras dan padat, siap untuk diistirahatkan total demi mengunci hasil latihan ekstremnya. Namun, begitu Joni melangkah masuk ke dalam ruang tamu, atmosfer hangat rumah yang ia harapkan sama sekali tidak ada.

Di atas kursi rotan, Gondrong duduk dengan kepala tertunduk dalam. Wajahnya yang biasa jenaka kini tampak lesu, pucat, dan dipenuhi gumpalan emosi yang tertahan. Di sudut ruangan, Emak juga berdiri dengan menyilangkan tangan, matanya sembap seperti habis menangis.

Joni terheran-heran, rasa lelahnya mendadak menguap digantikan firasat buruk. "Ada apa gerangan ini? Ndrong? Mak? Kok muka kalian kayak orang abis kena debuff kutukan?"

Gondrong mendongak perlahan. Matanya merah. Ia menatap Joni dengan pandangan yang kosong, lalu menarik napas berat. "Jon... duduk dulu, Jon. Gue mau ngomong sesuatu."

"Ngomong aja, Ndrong. Jangan bikin gue jantungan," sahut Joni, meski dadanya mulai berdegup kencang.

Gondrong pun menjelaskan dengan suara yang sangat pelan, seolah setiap kata yang keluar adalah duri yang menyumbat tenggorokannya. Namun, walau sepelan apa pun Gondrong berucap, setiap kalimat itu jelas saja membuat Joni bagai disambar petir murni di siang bolong.

"Laras, Jon... Laras kemarin resmi bertunangan sama Tian Baskoro. Dan mereka bakal melangsungkan pernikahan secepatnya."

DEGGGG!

Tubuh Joni menegang kaku. Otaknya mendadak blank. "Lu... lu jangan bercanda, Ndrong! Gak lucu bangsat! Laras benci setengah mati sama Tian, gimana bisa?!" Joni langsung maju, mencengkeram kerah jaket Gondrong dengan emosi yang mulai tersulut. "Kalian pasti lagi nge-prank gue, kan?!"

"Joni, lepas! Dengerin Gondrong dulu!" bentak Emak dari sudut ruangan, suaranya parau menahan tangis.

Gondrong tidak membalas cengkeraman Joni, ia hanya membiarkan air matanya menetes. "Gue gak bercanda, Jon. Laras terpaksa. Dia diancam sama Tian."

Joni melepaskan cengkeramannya, tubuhnya bergetar hebat. "Diancam apa?"

"Ibu bekerja di salah satu anak perusahaan Baskoro Mining Corp. Tian mengancam, kalau Laras menolak pertunangan ini, orang-orang Baskoro bisa kapan saja meracun ibu di kantornya, dibuat seolah-olah kecelakaan kerja atau serangan jantung," ucap Gondrong dengan nada bergetar menahan amarah.

Gondrong mengepalkan tinjunya ke lantai. "Dan lo tahu sendiri kan gimana pengaruh keluarga Baskoro? Dengan koneksi duit mereka ke pejabat polisi setempat, Tian bilang bakal dengan sangat mudah menghilangkan semua barang bukti otopsi dan CCTV. Ibu Laras bisa mati tanpa ada keadilan, dan Laras gak mau spekulasi sama nyawa ibunya, Jon!"

Mendengar itu, darah Joni langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Aura petir biru di sekujur tubuhnya yang tadinya sudah tenang, mendadak meledak liar tanpa terkendali, menghancurkan gelas kaca di atas meja tamu hingga hancur berkeping-keping.

ZZZZZZTTTTTT!

"BAJINGAN!!" raung Joni, matanya menyala biru terang akibat luapan Ki yang mengamuk.

Fisiknya baru saja ditempa di neraka untuk menjadi sekeras baja, tapi mendengar fakta ini, hatinya justru hancur berkeping-keping. Tian Baskoro bukan lagi sekadar mahasiswa sombong—dia adalah monster nyata berwujud manusia yang menggunakan kekuasaan untuk menginjak-injak hidup orang lain.

"Gue samperin rumahnya sekarang. Gue hancurin kepala itu anak!" Joni berbalik, hendak melesat keluar pintu.

Namun, sebuah tangan kekar langsung mencengkeram pundak Joni dengan sangat kuat hingga Joni tidak bisa bergerak selangkah pun.

Om Remon.

Paman Joni itu rupanya sudah masuk ke dalam rumah sejak tadi, wajahnya menggelap di balik kacamata hitamnya. "Tenang, Joni! Kalau kamu ke sana sekarang tanpa rencana, kamu cuma bakal masuk ke jebakan hukum mereka dan dicap sebagai kriminal sebelum hari Senin tiba!"

"Tapi Laras diancam, Om! Laras dikorbanin!" teriak Joni frustrasi, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya.

"Aku tahu!" sahut Om Remon, suaranya berat dan dingin. "Tapi justru karena itu, hari Senin nanti di arena kampus... kamu tidak boleh cuma sekadar menang, Joni. Kamu harus menghancurkan Tian Baskoro secara total di depan mata seluruh pejabat akademi dan publik, sampai keluarga Baskoro tidak punya muka lagi untuk menekan siapa pun!"

SWIIIIINGGG... KABOOOMMM!

"Waaaahhhh!"

GABRUKKK!

Asap debu semen seketika mengepul hebat di ruang tamu. Tembok rumah bagian kiri—yang sebenarnya baru beberapa minggu lalu selesai diperbaiki dan dicat ulang—kini kembali jebol menganga membentuk siluet tubuh manusia.

Ternyata, secepat kilat kaki kanan Emaknya Joni sudah melesat menghantam telak kepala Joni hingga anak lak-lakinya itu mental tak bersisa menembus beton. Kecepatan tendangan daster maut itu benar-benar tidak masuk akal, bahkan insting Arcane Movement Burst yang baru Joni pelajari pun tak sempat mendeteksinya.

Gondrong yang baru pertama kali melihat secara langsung betapa ganasnya mode tempur Emak Joni seketika membeku. Wajahnya yang tadinya lesu langsung berubah pucat pasi, matanya melotot, dan ia refleks bergeser tiga langkah ke belakang mendekati Om Remon agar tidak ikut kena sabet.

"Jangan cengeng, Joni! Sudahlah, relakan saja Laras! Banyak wanita di luaran sana!" omel Emak sambil berkacak pinggang, napasnya memburu, mengabaikan debu bangunan yang mengotori dasternya.

UHUK! UHUK!

Joni bangkit berdiri dari reruntuhan puing tembok dengan kepala agak pusing, meski untungnya kulit kelabu metalik hasil berendam di rawa asam berhasil menahan kerusakan fatal. Ia mengibaskan debu di bajunya dengan wajah super dongkol.

"Emak nih gimana sih?!" protes Joni dengan nada frustrasi. "Di awal, Emak gak suka kalau aku pacaran sama Laras. Terus, ketika si Tian menantang aku di kampus, Emak malah berapi-api nyuruh aku rebut Laras kembali. Sekarang... malah disuruh lepasin aja! Gak konsisten banget!"

Emak melotot, maju selangkah sambil menudingkan jarinya tepat ke hidung Joni. "Heh, Joni! Dengerin nih kata mama! Kehormatan seorang Brawler itu lebih penting dari apa pun! Jangan gara-gara urusan asmara si Laras, pikiranmu jadi kacau lalu membuatmu jadi tak fokus saat bertarung! Kau harus menang lawan si Tian kampret itu hari Senin nanti, paham?!"

Joni mendengus sambil memegangi kepalanya yang masih agak keliyengan. "Ya elah, Mak... Joni juga paham kali! Lagian Om Remon juga kan tadi udah ngasih petuahnya panjang lebar. Gak perlu juga kali pake acara hantem Joni sampe tembok hancur lagi! Ini modal benerinnya pake duit beasiswa tau!"

Emak berkedip beberapa kali, melihat ke arah lubang besar di temboknya, lalu beralih menatap Joni yang tampaknya memang baik-baik saja berkat latihan fisiknya.

"Oh... iya juga ya? Maaf, Jon. Emak terlalu emosi tadi kalau denger nama keluarga Baskoro," ucap Emak dengan nada yang mendadak melunak tanpa dosa, sambil membersihkan tangan dari debu seolah tidak terjadi apa-apa.

Melihat situasi domestik yang hampir lepas kendali, Om Remon akhirnya menghela napas panjang dan melangkah ke tengah-tengah untuk menengahi. Beliau membetulkan posisi kacamata hitamnya, memancarkan kembali aura wibawa seorang aparat penyelidik.

"Sudah, sudah. Kakak jangan main hantam fisik dulu, Joni ini butuh istirahat total buat ngunci Ki nya," kata Om Remon menenangkan Emak, lalu beralih menatap Joni dan Gondrong dengan tatapan teramat serius.

"Joni, dengarkan Emakmu. Ada benarnya dari ucapannya yang kasar tadi. Fokusmu hari Senin jangan sampai terdistraksi oleh kemarahan atas nama cinta. Jadikan ancaman Tian ke Laras sebagai bahan bakar, bukan beban pikiran. Dan untuk kamu, Gondrong..."

Om Remon menoleh ke arah Gondrong yang masih gemetaran. "Jangan patah arang dulu. Informasi dari si topeng rubah yang ada di tangan saya ini adalah kunci. Selagi Joni bertarung mematahkan kesombongan Tian di arena hari Senin, saya dan tim faksi penyelidik akan bergerak di bawah tanah untuk mengamankan Ibu Laras dan menyegel jalur rel nomor empat."

Mendengar itu, mata Joni kembali menajam. "Artinya... kita bakal serang mereka dari dua arah, Om?"

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!