NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Jam dinding di kamar Alena sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah itu sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik dari halaman luar dan angin malam yang berhembus pelan menerpa daun-daun pohon. Semua orang di rumah sudah terlelap dalam tidur, termasuk Kakek Wijaya yang biasanya tidur paling awal.

Alena terguling-guling di atas tempat tidurnya, matanya terpejam rapat tapi pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Entah kenapa, sejak tadi perutnya terasa kosong dan ada rasa ingin makan sesuatu yang manis dan dingin. Rasa itu makin lama makin menggebu, seolah tidak akan hilang sampai keinginannya terpenuhi.

“Ah, kenapa tadi malam tidak menyimpan stok di kulkas ya?” gumamnya pelan sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur.

Ia melirik ke arah jendela, melihat cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menerangi lingkungan perumahan. Jarak ke minimarket terdekat tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima menit perjalanan dengan sepeda listriknya. Jalanan pun masih aman dan sepi, tidak terlalu ramai kendaraan malam.

Dengan hati-hati, Alena melangkah turun dari tempat tidur, mengenakan baju tidur yang agak panjang dan menutupi tubuhnya, lalu melapisi dengan jaket tebal berwarna biru muda. Ia berjalan berjinjit menuruni tangga, membuka pintu depan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi berisik yang bisa membangunkan penghuni rumah lain. Tidak lupa ia membawa dompet dan kunci sepeda listriknya, lalu segera meluncur keluar menuju minimarket yang sudah buka 24 jam itu.

Udara malam terasa sejuk menyentuh kulitnya, membuat Alena sedikit merinding tapi juga merasa segar. Dalam hati ia sudah membayangkan rasa es krim cokelat dan vanila yang lembut, dingin, dan pasti akan memuaskan keinginannya yang tiba-tiba itu. Begitu sampai di depan minimarket, ia memarkirkan sepedanya dengan rapi, lalu masuk ke dalam dengan langkah ringan.

Suara bel di atas pintu berbunyi pelan menandakan kedatangannya. Di dalam toko itu hanya ada satu kasir yang sedang mengantuk dan tidak ada pengunjung lain, setidaknya itulah yang terlihat oleh Alena. Ia langsung melangkah menuju bagian lemari pendingin yang berisi berbagai jenis es krim, lalu membuka kacanya dengan hati-hati.

Saat tangannya baru saja meraih satu bungkus es krim rasa cokelat, tiba-tiba sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya terdengar tepat di samping telinganya, membuat Alena hampir melompat kaget.

“Wah, siapa sangka ada gadis yang berani keluar rumah sendirian di jam segini. Jangan-jangan sedang kabur dari rumah, ya?”

Alena menoleh dengan wajah memerah kaget, lalu mendapati Elio sedang berdiri di sampingnya dengan senyum jahil yang mengembang lebar di bibirnya. Laki-laki itu mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek, rambutnya sedikit acak-acakan seolah baru saja bangun dari tidur atau juga baru keluar rumah secara mendadak. Di tangannya sudah tergenggam dua bungkus es krim rasa vanila dan cokelat.

“Elio?! Kamu bikin kaget saja! Kenapa ada di sini? Jangan-jangan kamu mengikutiku diam-diam?” seru Alena sambil menaruh tangan di dada, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat melonjak kencang.

Elio tertawa kecil mendengar reaksi gadis itu, lalu menyandarkan bahunya di sisi lemari pendingin sambil menatap Alena dengan tatapan mengejek. “Mengikutimu? Jangan terlalu percaya diri, Alena. Aku keluar rumah karena juga ingin makan es krim, bukan karena memikirkanmu. Lagipula, siapa yang mau susah-susah mengikuti gadis cerewet seperti kamu?”

“Kalau begitu kebetulan yang sangat tidak menyenangkan,” jawab Alena dengan nada ketus, lalu memalingkan wajah dan kembali memilih es krimnya seolah kehadiran Elio tidak ada artinya.

Namun, Elio tidak berniat membiarkannya tenang. Ia mendekat lagi, lalu berbisik dengan suara rendah namun cukup jelas terdengar oleh Alena, “Tapi kalau dipikir-pikir, gadis yang keluar sendirian di malam hari begini… bukankah itu berisiko? Atau jangan-jangan kamu sudah terbiasa diam-diam keluar seperti ini?”

Alena langsung menoleh tajam, matanya melotot menatap Elio. “Jangan bicara sembarangan! Aku hanya ingin makan es krim saja, tidak ada hal lain. Lagipula ini bukan urusanmu, kan? Kamu beli saja barangmu dan pergi, jangan menghalangi jalanku!”

“Wah, marah lagi. Padahal aku hanya bertanya dengan sopan,” goda Elio sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, tapi senyum jahilnya tidak pernah hilang. Ia sengaja berdiri sedikit menghalangi jalan Alena agar gadis itu harus bergerak ke kiri dan kanan, membuatnya semakin kesal. “Ngomong-ngomong, apa Kakekmu tahu kamu keluar malam begini? Kalau sampai tahu, bisa-bisa kamu dilarang keluar rumah lagi. Atau… apakah kamu sudah berani melanggar peraturan sendiri?”

Ucapan Elio itu tepat sasaran. Alena terdiam sejenak, menyadari bahwa apa yang dilakukannya malam ini memang agak berisiko dan mungkin akan dimarahi jika ketahuan. Namun, ia tidak mau terlihat lemah di depan Elio.

“Tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lebih baik kamu urus saja dirimu sendiri, jangan sibuk mengurusi urusan orang lain,” balasnya cepat, lalu berjalan menuju meja kasir untuk membayar barangnya.

Elio mengikuti dari belakang sambil terus melontarkan ejekan ringan, membuat perjalanan singkat itu terasa seperti perjalanan panjang yang melelahkan bagi Alena. Begitu keduanya sudah membayar dan keluar dari minimarket, Alena langsung berjalan cepat menuju sepeda listriknya, berniat segera pergi meninggalkan Elio yang menjengkelkan itu.

Namun, baru saja ia menyalakan kunci sepedanya, terdengar suara mendengus keras dari arah samping. Ia menoleh dan melihat Elio sedang berdiri di samping sepeda motornya, wajahnya terlihat bingung dan sedikit kesal.

“Ada apa dengan motormu?” tanya Alena tanpa sadar, meskipun dalam hatinya ia berharap ada saja masalah agar Elio tidak sempat mengganggunya lagi.

Elio mencoba menyalakan mesin motornya berkali-kali, tapi hanya terdengar suara mendengus tanpa mau menyala. Ia menginjak pedal penghidupnya beberapa kali dengan tenaga penuh, tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya ia menghela napas panjang dan menepuk-nepuk bodi motornya dengan kesal.

“Sial! Mogok lagi. Padahal tadi pagi masih berjalan lancar,” geramnya.

Alena yang melihat pemandangan itu justru tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya. Ia berusaha menyembunyikannya dengan menutup mulut dengan tangan, tapi tetap saja terlihat oleh Elio.

“Kenapa kamu tersenyum? Senang melihat orang lain kesusahan?” tanya Elio dengan tatapan curiga.

“Bukan tersenyum, cuma merasa kasihan saja. Ternyata kendaraan kesombonganmu ini juga bisa rusak ya,” jawab Alena dengan nada yang terdengar sedikit menyindir, membuat Elio semakin mengerutkan dahi.

Malam semakin larut, jalanan semakin sepi, dan tidak ada bengkel yang buka pada jam segini. Elio mencoba menghubungi seseorang lewat telepon, tapi tidak ada yang bisa datang menjemputnya pada jam yang sudah sangat larut itu. Ia menatap ke arah jalan yang gelap, lalu beralih menatap Alena yang sudah siap-siap pergi.

“Hei, tunggu sebentar,” panggil Elio.

Alena menghentikan sepedanya, menoleh dengan wajah was-was. “Ada apa lagi? Aku mau pulang, jangan menghalangiku.”

“Kamu lihat sendiri kan, motorku mogok dan tidak bisa dipakai. Tidak ada orang yang bisa menjemputku malam ini. Rumahku juga cukup jauh jika harus berjalan kaki,” kata Elio, suaranya terdengar agak enggan melanjutkan kalimatnya. “Jadi… bisakah aku menumpang pulang denganmu?”

Mendengar permintaan itu, Alena tertegun seolah tidak percaya telinganya. Ia menatap Elio dari atas ke bawah, lalu tertawa kecil. “Kamu minta tumpangan padaku? Laki-laki sombong yang selalu merasa bisa melakukan segalanya itu sekarang minta tolong padaku? Tidak mau, terima kasih saja. Aku tidak mau membawa penumpang yang suka menjahili dan membuat kesal sepanjang jalan.”

“Aku tahu aku sering mengganggumu, tapi ini keadaan darurat. Kalau aku berjalan kaki, bisa sampai dua jam lebih baru sampai rumah. Lagipula, kita kan sudah terikat kesepakatan satu tahun ini. Bukankah bagian dari kesepakatan itu adalah saling membantu?” bantah Elio dengan alasan yang terdengar cukup masuk akal.

Alena terdiam, memutar pikirannya dengan cepat. Di satu sisi ia sangat ingin meninggalkan Elio saja dan membiarkannya berjalan pulang sendiri sebagai hukuman karena sikapnya yang menyebalkan. Namun di sisi lain, hatinya tidak tega membayangkan laki-laki itu berjalan sendirian di tengah malam yang sejuk dan jalanan yang sepi. Terlebih lagi, jika sampai terjadi apa-apa pada Elio, bisa-bisa Kakek Baskara akan menuduhnya bersalah karena tidak menolong.

Setelah berpikir cukup lama, Alena akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk pasrah. “Baiklah, aku izinkan kamu menumpang. Tapi ingat, ada syaratnya!”

“Apa syaratnya? Sebutkan saja,” jawab Elio cepat, terlihat lega sekaligus penasaran.

“Pertama, selama di perjalanan kamu duduk diam dan tidak boleh berbicara banyak apalagi menjahiliku. Kedua, kamu harus memegang pinggiran tempat duduk saja, jangan menyentuh bagian tubuhku sama sekali. Ketiga, sesampainya di depan rumahmu kamu langsung turun dan pergi tanpa banyak bicara lagi. Setuju?” ujar Alena tegas sambil menyebutkan syarat satu per satu.

Elio mengangguk setuju tanpa ragu. “Setuju. Aku akan mematuhi semua syarat itu.”

Maka, Elio berjalan mendekat dan duduk di bagian belakang sepeda listrik Alena dengan posisi yang agak kaku, menjaga jarak sejauh mungkin dari tubuh gadis itu. Ia hanya memegang erat pegangan yang tersedia di sisi tempat duduk, berusaha tidak menyentuh apa pun lagi.

“Pegang yang kuat, ya. Jangan sampai jatuh,” pesan Alena sambil memutar kunci dan mulai melajukan sepedanya perlahan keluar dari area parkir minimarket.

Perjalanan pun dimulai. Sepeda listrik itu melaju pelan menyusuri jalanan yang lengang, hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang terpasang agak berjauhan. Suara angin malam berhembus melewati telinga mereka, dan sesekali terdengar suara daun yang bergesekan satu sama lain. Suasana yang tadinya hanya diisi ejekan dan pertengkaran kini berubah menjadi hening yang terasa canggung namun juga sedikit menenangkan.

Alena berusaha berkonsentrasi mengemudi, tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa sadar bahwa ada seseorang yang duduk persis di belakangnya. Ia bisa merasakan kehadiran Elio, bahkan sesekali merasakan hembusan napas laki-laki itu yang terasa hangat menerpa rambutnya yang tergerai bebas. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, membuatnya merasa sedikit gugup tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, Elio juga merasakan hal yang sama. Ia duduk dengan posisi yang tidak nyaman karena harus menjaga jarak, tapi justru posisi itu membuatnya semakin sadar akan keberadaan Alena. Ia bisa mencium aroma sabun dan bunga yang lembut dari rambut gadis itu, aroma yang menenangkan dan membuatnya merasa sedikit tenang meskipun situasinya terasa canggung. Dalam hatinya ia mengakui, meskipun Alena sering membuatnya kesal, gadis itu memiliki sisi baik yang tidak terlihat oleh orang lain—seperti rasa kasihan dan keinginan untuk menolong meskipun dengan sikap yang tetap keras.

Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Elio yang sudah terbiasa mengganggu akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Melihat Alena yang duduk dengan posisi tegang dan seolah sedang menahan sesuatu, ia mulai melanggar syarat pertama dengan nada pelan namun jelas.

“Kamu tahu tidak, sepedamu ini terasa sangat kecil. Rasanya seperti akan terbalik kapan saja,” ujar Elio sambil sedikit menggerakkan badannya.

Alena langsung mengerem pelan, membuat sepedanya berhenti sejenak di pinggir jalan. Ia menoleh ke belakang dengan wajah kesal. “Kamu sudah melanggar syarat pertama! Duduk diam dan jangan bicara! Kalau merasa tidak nyaman, silakan turun dan berjalan kaki saja!”

“Baiklah, baiklah, aku diam saja. Maaf, aku hanya mengomentari saja,” jawab Elio sambil tersenyum minta maaf, meskipun senyumnya masih terasa sedikit jahil.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi, tapi kali ini Alena berkendara sedikit lebih cepat. Namun, takdir seolah ingin membuat situasi semakin rumit. Saat melewati jalan yang sedikit bergelombang dan berlubang, sepeda itu terguncang cukup keras. Tanpa sadar, tubuh Elio terlempar sedikit ke depan dan tangannya langsung memegang erat pinggang Alena agar tidak jatuh.

Gerakan itu terjadi begitu cepat dan tanpa rencana, membuat keduanya sama-sama terkejut. Alena langsung menahan napas, seluruh tubuhnya terasa kaku dan jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Rasanya ada aliran listrik halus yang merambat ke seluruh tubuhnya di mana tangan Elio menyentuhnya.

Elio pun segera menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Ia segera menarik tangannya dengan cepat seolah tersengat listrik, wajahnya memerah padam karena malu dan canggung. “Maaf! Aku tidak sengaja! Jalanan bergelombang, aku hanya takut jatuh dan menyeretmu juga!” serunya tergagap-gagap menjelaskan.

Alena tidak segera menjawab, ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya terasa panas dan jantungnya masih berdegup tidak beraturan. Ia mencoba mengembalikan ketenangannya, tapi rasanya sulit sekali. “Tidak apa… tidak apa. Hati-hati saja, pegang dengan benar,” jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha terdengar biasa saja meskipun perasaannya sedang kacau balau.

Sejak kejadian itu, tidak ada lagi percakapan yang keluar dari mulut mereka. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencoba mencerna perasaan aneh yang baru saja muncul. Elio tetap memegang erat pegangan sepeda, tapi kali ini posisinya lebih dekat sedikit agar tidak terlempar lagi, meskipun ia tetap berusaha menjaga jarak agar tidak menyentuh tubuh Alena lagi.

Perjalanan itu terasa lebih lama dari biasanya, penuh dengan keheningan yang dipenuhi perasaan canggung namun juga sedikit menghangatkan hati. Sesampainya di depan gerbang rumah Elio, sepeda itu akhirnya berhenti perlahan.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ujar Elio sambil turun dengan hati-hati, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Alena hanya mengangguk singkat sambil menunduk, tidak berani menatap mata Elio. “Sama-sama. Ingat, ini hanya pertolongan satu kali saja. Lain kali kalau ada masalah, jangan harap aku mau menolongmu lagi.”

Elio tersenyum tipis, senyum yang kali ini terlihat tulus dan bukan senyum ejekan seperti biasanya. “Siapa tahu lain kali aku butuh lagi. Tapi terima kasih banyak, Alena. Hati-hati pulang.”

Melihat Elio melangkah masuk ke halaman rumahnya, Alena pun segera memutar sepedanya dan melaju pulang menuju rumahnya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan kejadian malam itu—mulai dari bertemu Elio di minimarket, melihat motornya mogok, hingga saat tangan Elio secara tidak sengaja memegang pinggangnya. Rasa kesal dan marah yang biasanya muncul saat mengingat laki-laki itu perlahan berubah menjadi perasaan yang aneh dan sulit dijelaskan.

Sesampainya di rumah, Alena memarkirkan sepedanya, lalu masuk kembali ke kamar dengan langkah pelan. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih belum kembali normal. Di tangannya masih tergenggam es krim yang dibelinya tadi, yang kini sudah sedikit meleleh.

Di sisi lain, Elio juga baru saja masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menghela napas panjang, mengingat kembali perjalanan tadi malam. Ia masih bisa merasakan sensasi lembut saat tangannya menyentuh pinggang Alena, dan ingatan itu membuat wajahnya kembali memerah. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa kesal saat mengingat gadis itu, melainkan ada rasa penasaran dan perasaan hangat yang mulai tumbuh diam-diam di dalam hatinya.

Malam itu, keduanya sulit untuk kembali tidur. Kejadian sederhana dengan es krim dan perjalanan pulang yang tidak terduga itu telah membuka satu hal baru dalam hubungan mereka—bahwa di balik pertengkaran dan kebencian yang mereka bangun selama ini, sebenarnya ada benih-benih perasaan yang perlahan mulai bersemi, meskipun keduanya masih berusaha keras untuk menyangkalnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!