Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Karenina mendorong perlahan pintu kaca sebuah kafe yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Gemerincing lonceng kecil yang menggantung di atas pintu terdengar pelan, seolah menjadi sapaan hangat bagi setiap pengunjung yang datang. "Keren kan?" Ucapnya pada Erik yang langsung dijawab anggukan juga tatapan kagum.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam, hiruk-pikuk mall yang semula memenuhi telinga seketika tergantikan oleh suasana yang jauh lebih tenang. Alunan musik jazz mengalun lembut di setiap sudut ruangan, berpadu dengan aroma kopi yang baru digiling serta wangi manis aneka pastry yang baru keluar dari oven.
"Ini serius kak Tama yang bikin semua ini?" Tanya Erik penasaran, tatapannya menyapu seluruh isi kafe yang begitu estetik. Dominasi warna krem dan cokelat kayu menciptakan kesan hangat, sementara lampu-lampu gantung berwarna keemasan memancarkan cahaya temaram yang membuat ruangan terasa nyaman. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan minimalis dan rak-rak berisi buku serta tanaman hias yang menjuntai cantik, menghadirkan suasana modern dengan sentuhan alami.
Di balik jendela kaca yang lebar, keramaian pengunjung mall terlihat samar, seolah menjadi latar yang kontras dengan ketenangan di dalam kafe.
Laki-laki itu mengembuskan napas pelan sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Ada rasa kagum yang tak sempat disembunyikannya. Tempat itu bukan hanya menyajikan kopi, tetapi juga menghadirkan atmosfer yang mampu membuat siapa pun ingin berlama-lama, melupakan sejenak riuhnya dunia di luar.
"Keren kan?" Bisik Karenina pada sang keponakan, kemudian melangkah menuju pojokan kafe dekat jendela besar. "Ayo Rik! Habis ini kita ke kafe sana, bantu beresin ruangan tante.
Erik melangkah santai megikuti Karenina yang melangkah lebih dulu, menuju meja kosong yang berada di sudut ruangan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara pandangannya sesekali menyapu suasana di sekeliling.
Namun, baru beberapa langkah gerak kakinya mendadak terhenti. Ekor matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Sejenak ia memutar kepala, memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru.
Dan benar saja. "Amara...?" gumamnya pelan seperti bisikan. Raut wajah pemuda itu seketika berubah, keterkejutan yang semula memenuhi sorot matanya perlahan berganti menjadi senyum tipis penuh kegembiraan. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan bertemu gadis itu di tempat dan waktu yang sama.
Tanpa berpikir panjang, Erik mengubah arah langkahnya, ia menghampiri meja tempat Amara duduk bersama seorang pria yang usianya jauh lebih dewasa darinya. Di atas meja, beberapa piring makanan masih tersisa, menandakan keduanya tengah menikmati makan siang.
"Hai, Amara," sapa Erik ramah dengan senyum lebar. "Nggak nyangka ketemu di sini."
Amara yang tengah menyuapkan makanan sontak mengangkat wajah, matanya membulat sesaat karena terkejut melihat Erik berdiri tepat di samping mejanya.
"Erik?" ucapnya spontan.
Barulah Erik mengalihkan pandangan kepada pria yang duduk di hadapan Amara.
"Selamat siang, om" sapanya sopan sambil menganggukkan kepala.
Abimanyu membalas sapaan itu dengan anggukan tipis. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah lebih tajam. Tatapannya bergantian mengamati Erik dan Amara, seolah berusaha membaca hubungan di antara keduanya.
Rahang Abimanyu mengeras nyaris tak kentara. Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi kewaspadaan terpancar jelas dari sorot matanya. Kehadiran pemuda yang datang dengan begitu akrab menyapa istrinya itu menghadirkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Sementara Erik yang sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Abimanyu masih berdiri dengan senyum ramah, suasana di meja itu perlahan berubah canggung. Hanya Amara yang kini tampak salah tingkah, menyadari dua pasang mata dengan perasaan yang sangat berbeda tengah tertuju kepadanya.
"Kamu sudah lama?" Tanya Erik santai tanpa menyadari kecanggungan Amara. Kalau gabung di sini boleh enggak? Aku sama tanteku kok, yang pemilik kafe itu lho Ra! Biar sekalian kamu kenalan."
Kerongkongan Amara mendadak kering, seketika tangannya meraih botol air mineral sedangkan tatapannya tak lepas dari Abimanyu yang terlihat santai mengunyah makanannya. Namun meskipun terlihat santai dan tenang, ia tahu Abimanyu tidak senang dengan kehadiran Erik.
"Boleh ya Ra?"
"Kalau mau makan bareng sebaiknya bikin janji dulu, jangan merusak waktu makan orang." Gumam Abimanyu datar namun mampu membuat tenggorokan Amara tercekat.
"Sorry Rik, kami sudah mau selesai."
"Oh, oke Ra. Sayang sekali ya aku datangnya telat."
"Erik!"
"Tan! Ini kebetulan temanku yang tadi kita bicarakan ada di sini, ayo kenalan dulu." Erik melambaikan tangan pada Karenina. "Bentar Ra, tanteku mau kenalan dulu sama kamu."
Amara tak menyahut, bahkan gadis itu meletakkan sendok dan garpu karena selera makannya mendadak hilang.
"Ra, ini tanteku." Erik menoleh pada Amara kemudian menyentuh lengan Karenina. "Tan, ini Amara yang aku ceritakan itu. Dia teman sekelas ku, orangnya pinter lho!"
Karenina tersenyum pada Amara sembari memangkas jarak. "Hai Amara! kenalin aku Karenina, tantenya Erik." Perempuan itu mengulurkan tangan, sedangkan Amara hanya tersenyum kikuk namun tak urung gadis itu menyambut tangan Karenina. "Amara," jawabnya pendek.
Setelah berbasa basi dengan Amara, Karenina beralih pada Abimanyu. Tatapannya sempat terpaku sejenak, namun dengan cepat ia berdehem kemudian mengulurkan tangan. "Hai... Saya Karenina, tantenya Erik."
Abimanyu hanya berdehem, pria itu membuka segel botol air mineral tanpa mempedulikan tangan Karenina yang menggantung di hadapannya membuat Amara yang melihat sikap suaminya yang cuek jadi tak enak hati. Hingga perlahan, kakinya di bawah meja bergerak menyentuh kaki Abimanyu supaya merespon Karenina.
Astaga, punya suami gini amat... Pura-pura dikit, kanapa sih susah amat, ck.
Amara menarik napas, ia menoleh pada Karenina dan mempersilahkan perempuan itu duduk. "Duduk, tan!" Ucapnya ramah, berharap perempuan yang sedari tadi diam-diam memperhatikan suaminya itu tidak ambil pusing dengan sikap Abimanyu.
"Ya betul, silahkan duduk! Kebetulan kami sudah selesai." Sahut Abimanyu datar, kemudian melambaikan tangan pada seorang waiters untuk meminta bill.
"Ya pak!"
"Ini..." Abimanyu meletakkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah di atas meja. "Sisanya buat bayar makan mereka." Tanpa menoleh pada Karenina dan Erik, Abimanyu beranjak. Pria itu menoleh pada Amara, menatapnya sesaat dengan sorot yang sulit dibaca.
Mendapat tatapan Abimanyu, Amara pun segera bangkit. Ia menatap Erik dan Karena bergantian kemudian pamit. "Maaf ya Rik, tante Nina, kami duluan." Ucapnya tak enak hati.
Melihat kepergian Abimanyu yang diikuti Amara, senyum manis Karenina perlahan memudar. Tangannya terkepal erat. "Sombong sekali! Belum tahu siapa Karenina?" gumamnya hampir tak terdengar, bahkan Erik yang masih berdiri mematung di sampingnya tak merespon.
Suatu saat, akan kubayar kesombonganmu bung.
Karenina tersenyum sinis kemudian menepuk bahu Erik bersamaan dengan waiters yang tadi menerima uang dari Abimanyu menyodorkan buku menu. "Silahkan sambil duduk mbak, mas."
Sedangkan di parkiran, Amara mempercepat langkahnya menyusul langkah Abimanyu. "Om! Kenapa sih malah pergi? Itu namanya enggak sopan tau!" Ucapnya sembari menghentakkan kaki. "Mereka kan enggak minta om yang bayarin, mereka cuma ingin gabung tempat saja." Protes Amara penuh kekesalan, sikap Abimanyu yang terlihat sombong membuatnya malu di depan Erik dan tantenya yang sudah dipastikan pemilik kafe yang tengah membuka loker.
Namun Abimanyu tetap melangkah tanpa merespon protes Amara. Pria itu terlihat tenang membuat Amara semakin kesal, "Kenapa sih, kan jadi orang baiknya belum ada setengah hari malah udah keluar lagi sifat aslinya! Punya fikiran negatif terus sama orang lain, giliran dirinya yang menyebalkan malah terus dipertahankan!" cerocos Amara menghentakkan kaki tanpa melihat ke depan, hingga....
Bruk!
Wajahnya menabrak punggung Abimanyu.
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️