Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi itu, Alya terbangun lebih siang dari biasanya. Sinar matahari yang sudah meninggi menembus celah-celah atap gubuk dan jatuh tepat di wajahnya yang tampak pucat. Dengan tubuh yang masih terasa lemas, ia membuka mata perlahan lalu berusaha duduk.
Namun baru saja kakinya menapak lantai, gelombang mual tiba-tiba menghantam. Perutnya terasa bergejolak, membuatnya buru-buru menutup mulut. Ia memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, berharap rasa tidak nyaman itu segera mereda.
Tubuhnya mendadak goyah. Alya segera membungkukkan badan sambil menahan perutnya yang terasa berputar. Namun, sebelum sempat menguasai diri, isi perutnya naik begitu saja. Ia memuntahkan cairan pahit dengan napas tersengal, seolah tubuhnya tak memberi kesempatan untuk bersiap.
Setelahnya, Alya terdiam beberapa saat. Tangannya bertumpu pada lutut, sementara dadanya naik turun berusaha mengatur napas. Wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya terasa lemah seakan seluruh tenaganya terkuras dalam sekejap.
"Uhuk... uhuk..." Alya terbatuk pelan. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut, berusaha mengatur napas yang mendadak memburu.
Setelah isi perutnya benar-benar keluar, Alya menjatuhkan diri untuk duduk. Tubuhnya terasa lunglai, seolah seluruh tenaga menguap begitu saja. Napasnya masih memburu, dada terasa berat, sementara tenggorokannya perih akibat muntah yang baru saja dialaminya.
Butiran keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya. Rasa pahit yang tertinggal di mulut membuat matanya memanas, nyaris menumpahkan air mata. Namun, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang ingin pecah. Ia tidak ingin menangis. Tidak sekarang. Tidak lagi.
Dalam pikirannya, Alya mencoba mencari penyebab kondisi yang dialaminya. Mungkin karena perutnya sejak kemarin belum terisi dengan baik. Atau bisa jadi tempe sisa makan malam yang rasanya terlalu kuat dan sudah tidak segar. Namun, semua itu hanya dugaan.
Ia benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Kepalanya terasa ringan, perutnya bergejolak, dan tubuhnya tidak sekuat biasanya. Apa pun penyebabnya, satu hal yang pasti ada sesuatu yang terasa berbeda dalam dirinya hari ini.
Alya meraih ember berisi air di sudut gubuk, lalu membasuh wajahnya perlahan. Air yang dingin sedikit membantu menyegarkan pikirannya yang masih terasa berat. Setelah itu, ia melangkah ke depan dan duduk di ambang pintu kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Dari tempatnya duduk, kehidupan desa sudah tampak berjalan seperti biasa. Kicauan burung bersahut-sahutan dari pepohonan di sekitar, menciptakan suasana pagi yang ramai namun menenangkan. Di jalan setapak depan rumah, beberapa anak terlihat bergegas menuju sekolah. Mereka berlari kecil sambil membawa tas dan mengenakan seragam yang rapi, sesekali terdengar tawa serta canda yang memenuhi udara pagi.
Tanpa diduga, ingatan Alya melayang kembali pada malam yang selama ini berusaha ia lupakan. Malam yang dingin dan sunyi, ketika angin berembus pelan di luar, disertai suara hujan yang mengetuk jendela penginapan dengan ritme yang samar.
Bayangan Rayan muncul kembali di benaknya, meski wajah pria itu masih terasa kabur dalam ingatan. Namun ada beberapa hal yang tetap membekas. Kehangatan pelukannya, tatapan yang sulit ia lupakan, serta perasaan campur aduk yang memenuhi hatinya saat itu.
Sejak malam tersebut, Alya berusaha mengubur semua kenangan itu jauh-jauh. Rasa malu, kebingungan, dan kepedihan yang menyertainya ia simpan rapat di sudut hatinya. Ia tidak pernah ingin mengungkitnya lagi. Namun pagi itu, tanpa alasan yang jelas, kenangan tersebut kembali muncul dan membuat dadanya terasa sesak.
Alya segera mengibaskan pikirannya dan menggeleng berulang kali. Ia menolak membiarkan kenangan itu berlama-lama memenuhi kepalanya.
Baginya, semua itu hanyalah satu malam yang penuh kekeliruan sebuah peristiwa yang tak pernah ia rencanakan dan tak ingin ia kenang lagi. Ia telah berusaha keras melanjutkan hidup, meninggalkan segala luka dan penyesalan yang menyertainya.
Kenangan itu terasa seperti mimpi buruk yang terus menghantui dari kejauhan. Karena itulah Alya memilih menguncinya rapat-rapat di dalam hati, berharap waktu akan menghapus jejaknya sedikit demi sedikit hingga akhirnya lenyap selamanya. Ia tidak ingin menoleh ke belakang. Tidak pada malam itu, dan tidak pada semua perasaan yang pernah ditinggalkannya.
Namun, entah mengapa tubuhnya terus menunjukkan perubahan yang sulit ia abaikan. Rasa mual kerap datang tanpa sebab, tenaganya cepat terkuras, dan hatinya menjadi jauh lebih peka dibanding biasanya. Hal-hal kecil yang dulu tak berarti kini mampu mengusik perasaannya.
"Mungkin badanku sedang tidak fit saja." ujarnya lirih. Bibirnya sempat melengkung membentuk tawa kecil, tetapi nada suaranya tetap terdengar hambar dan penuh keraguan.
Meski tubuhnya terasa lemah dan kepalanya masih berdenyut, Alya tahu ia tidak punya pilihan selain kembali bekerja. Rasa lapar dan letih harus disisihkan, karena kenyataan hidup tidak pernah memberi waktu untuk berdiam diri. Dengan gerakan perlahan, ia berdiri, menyampirkan karung kosong ke bahunya, lalu melangkah keluar dari gubuk sederhana itu untuk kembali mencari nafkah.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hari-hari yang akan datang justru membawa lebih banyak tanda tanya dalam hidupnya.
Dan tanpa disadarinya, sebuah kehidupan baru tengah berkembang dalam dirinya, perlahan namun tak terelakkan.
Menjelang senja, cahaya matahari yang mulai meredup mewarnai langit dengan semburat keemasan. Alya melangkah perlahan di sepanjang jalan setapak menuju gubuk tempatnya tinggal. Sebuah karung yang terisi separuh menggantung di bahunya, berisi botol-botol plastik dan beberapa lembar kardus bekas yang berhasil ia kumpulkan sepanjang hari. Hasilnya memang tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk ditukarkan dengan sejumlah uang di lapak pengepul kecil yang berada tak jauh dari pasar desa.
Meski rasa letih masih membebani tubuhnya dan kepalanya sesekali terasa berdenyut, Alya merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya hari ini ia sempat mengisi perutnya. Walau hanya beberapa gorengan dan segelas teh manis hangat, makanan sederhana itu cukup memberinya tenaga untuk menjalani hari.
Ketika langkahnya hampir memasuki gang kecil yang mengarah ke gubuknya, suara seorang wanita setengah baya terdengar memanggil. Wanita itu berdiri di teras rumah sederhana di tepi jalan, melambaikan tangan ke arahnya.
"Alya, mampir sebentar ke sini, Nak." panggil wanita itu dengan senyum hangat.
Alya menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia masih merasa asing mendengar sapaan yang begitu hangat ditujukan kepadanya. Selama ini, namanya lebih sering dipanggil dengan nada ketus, disertai teguran atau suruhan. Namun kali ini berbeda. Tidak ada kemarahan ataupun tuntutan dalam suara itu, hanya keramahan yang membuatnya terdiam sejenak.
Perempuan itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun. Ia mengenakan daster bermotif bunga dengan kerudung tipis yang dikenakan sederhana. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan nasi yang dibalut kertas cokelat, seolah memang telah disiapkan untuk diberikan kepada seseorang.
"Nak, ini untuk kamu. Kebetulan masakan Ibu hari ini berlebih, jadi jangan sungkan membawanya pulang."
Alya terdiam beberapa saat, tidak tahu harus berkata apa menanggapi kebaikan itu.
"Maaf, Bu... saya tidak bermaksud merepotkan. Saya juga tidak meminta apa-apa." ucap Alya pelan dengan raut canggung.
"Ibu paham kok, Nak. Tapi tidak ada salahnya menerima sedikit bantuan," kata wanita itu dengan senyum hangat. "Oh ya, nama Ibu Ami. Rumah Ibu yang di ujung sana, dekat pohon mangga itu. Kalau ada kesulitan atau butuh sesuatu, jangan sungkan datang. Sekarang kita sudah bertetangga."
Alya menerima bungkusan nasi itu dengan tangan sedikit bergetar. "Terima kasih banyak, Bu. Saya benar-benar menghargainya." ucapnya lirih.
"Sejak tadi siang sudah sempat makan, belum, Nak?" tanya Bu Ami dengan nada penuh perhatian.
Tanpa berkata apa-apa, Alya hanya menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Jangan lupa makan yang banyak malam ini, Nak. Tenagamu pasti terkuras kalau terus begini," kata Bu Ami lembut. "Memang tidak mudah hidup sendiri, apalagi untuk gadis seusiamu. Tapi tenang saja, orang-orang di sini tidak suka mencampuri kehidupan orang lain. Yang penting kamu menjaga diri dan berbuat baik pada tetangga."
Alya menganggukkan kepala perlahan. Ada kehangatan yang merambat di dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia sendiri tidak tahu apakah perasaan itu muncul karena bungkusan nasi yang kini berada di tangannya, atau karena ketulusan yang terpancar dari setiap kata Bu Ami.
Sejak menetap di tempat itu, Alya perlahan merasakan hal-hal yang dahulu terasa begitu jauh dari hidupnya. Sapaan ramah, uluran tangan tanpa pamrih, dan kepedulian sederhana dari orang-orang yang bahkan belum lama dikenalnya. Semua itu membuatnya merasa diterima, seolah ia bukan lagi seseorang yang harus terus hidup dalam ketakutan, melainkan manusia biasa yang berhak merasakan kehangatan dan ketenangan.
Dalam beberapa hari terakhir, Alya sering menerima kebaikan-kebaikan kecil dari warga sekitar. Ada yang memberinya makanan yang masih layak disantap, ada pula yang menyerahkan pakaian yang sudah tidak digunakan tetapi masih bagus. Bahkan senyum ramah dan sapaan hangat saat berpapasan di jalan sudah cukup membuat hatinya merasa lebih tenang.
Tempat tinggalnya mungkin masih sederhana dan jauh dari kata nyaman. Hari-harinya juga belum lepas dari kesulitan, sementara bayang-bayang masa lalu masih sering menghantui pikirannya. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, Alya merasakan sesuatu yang berharga ia diperlakukan dengan hormat dan diterima apa adanya.
Dengan bungkusan nasi hangat yang digenggam erat, Alya melangkah menuju gubuknya. Cahaya senja perlahan memudar, menyelimuti jalanan dengan ketenangan yang terasa menenangkan, bukan lagi menyesakkan. Di tengah kesunyian itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, secercah harapan tumbuh di dalam hatinya.
*****
Beberapa hari setelah Alya menghilang, rumah Pak Wira dan Bu Sopia terasa berbeda. Bukan karena mereka merindukannya, melainkan karena pekerjaan-pekerjaan yang selama ini ditangani Alya kini terbengkalai. Selama bertahun-tahun, gadis itu selalu hadir untuk mengurus berbagai keperluan rumah tanpa banyak mengeluh. Ketika ia pergi, barulah terlihat betapa besar peran yang selama ini dipikulnya seorang diri.
Sejak Alya pergi, keadaan rumah itu perlahan berubah kacau. Pekerjaan rumah menumpuk tanpa ada yang mengurus, dapur sering kosong, dan tidak ada lagi seseorang yang bisa mereka suruh melakukan segala hal. Akibatnya, suasana di dalam rumah menjadi tegang. Hampir setiap hari, pertengkaran kecil muncul dan berkembang menjadi percekcokan yang semakin sulit diredam.
"Aris, sebenarnya kamu ke mana saja? Ibu sudah berkali-kali menyuruhmu mencari Alya, tapi hasilnya tidak ada sama sekali!" hardik Bu Sopia dengan nada kesal.
"Besok kamu keluar lagi dan lanjutkan pencarianmu. Jangan pulang sebelum ada kabar yang jelas! Masa mencari satu gadis saja tidak becus?"
"Sudahlah, jangan berharap banyak darinya," ujar Pak Wira dengan nada kesal. "Seharian yang dia pegang cuma ponsel. Uang habis terus, tapi hasilnya tidak pernah kelihatan. Bukannya membantu, malah bikin pusing orang tua."
Aris tetap duduk di kursi teras tanpa banyak bereaksi. Ia membiarkan semua omelan dan keluhan itu berlalu begitu saja di telinganya. Wajahnya tampak muram, sementara tatapannya menerawang jauh ke arah jalan kecil yang membentang menuju kota, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Sejak beberapa malam terakhir, satu pertanyaan terus berputar di benaknya tanpa henti, mengusik ketenangan yang berusaha ia pertahankan.
"Jadi, selama ini seperti inikah yang harus Alya hadapi setiap hari?" pikir Aris dengan hati yang terasa berat.
"Rasanya begitu berat... seolah tidak punya ruang untuk bernapas." batinnya pelan.
Aris mengembuskan napas panjang. Ada perasaan tidak enak yang semakin sering mengusik hatinya. Ia mulai mengingat bagaimana dulu dirinya kerap memperlakukan Alya dengan semena-mena. Ia pernah menyuruhnya melakukan berbagai hal tanpa memedulikan perasaannya, melontarkan tuduhan tanpa alasan yang jelas, bahkan melampiaskan kemarahan dengan kata-kata yang menyakitkan. Saat itu, ia menganggap semua itu biasa saja. Dalam pikirannya, Alya hanyalah anak yang dibesarkan di rumah mereka, bukan bagian dari keluarga yang perlu dihargai seperti yang lain.
Namun kini keadaan telah berbalik. Saat berbagai tanggung jawab rumah tangga mulai dibebankan kepadanya, dan ia harus menghadapi luapan emosi orang tuanya hampir setiap hari, Aris perlahan memahami sesuatu yang dulu tak pernah ia pikirkan. Untuk pertama kalinya, ia mencoba melihat keadaan dari sudut pandang Alya.
Ia mulai menyadari bahwa apa yang dialami Alya selama bertahun-tahun ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.
Yang membuat hati Aris semakin terasa sesak adalah kenyataan bahwa Alya hampir tidak pernah melawan. Gadis itu memilih diam, memendam luka dan menerima semua perlakuan yang datang kepadanya tanpa banyak bicara.
"Aku benar-benar sudah memperlakukannya dengan buruk." gumam Aris pelan, penuh penyesalan.
Bayangan wajah Alya kembali muncul dalam benaknya. Tatapan yang selalu redup, mata yang sering tampak bengkak karena menahan tangis, dan sikapnya yang kerap menunduk kini terasa begitu jelas di ingatannya.
*****
Malam itu, suara perdebatan Pak Wira dan Bu Sopia kembali memenuhi ruang tengah rumah. Setelah membahas berbagai kemungkinan, mereka akhirnya sepakat untuk mengeluarkan uang dan meminta bantuan beberapa orang guna mencari Alya hingga ke desa-desa yang jauh sekalipun.
"Kita harus menemukannya secepat mungkin! Banyak urusan rumah yang jadi berantakan sejak dia pergi. Semua pengeluaran jadi makin sulit diatur!" seru Bu Sopia dengan nada kesal.
"Dia kira bisa pergi begitu saja tanpa memikirkan semuanya? Setelah sekian lama tinggal dan dibesarkan di rumah ini?" ujar Bu Sopia dengan nada penuh amarah.
Mendengar ucapan itu, Aris segera bangkit dari tempat duduknya. Dengan raut wajah tegang dan penuh kesungguhan, ia melangkah menuju ruang tengah tempat kedua orang tuanya berada.
"Sudahlah, hentikan pencarian itu." ujar Aris dengan suara rendah, tetapi penuh ketegasan.
"Apa maksud ucapanmu itu?" seru Bu Sopia sambil menatap Aris dengan mata membelalak tak percaya.
"Dia sudah terlalu banyak menanggung beban selama tinggal di rumah ini," ujar Aris dengan suara berat. "Kita semua punya andil dalam penderitaannya, aku juga tidak terkecuali. Kalau memang masih ada sedikit kepedulian untuknya, biarkan dia menjalani hidupnya sendiri tanpa gangguan."
Pak Wira mendecak kesal. "Memangnya semudah itu? Selama ini kita sudah menghabiskan banyak tenaga dan biaya untuk membesarkannya. Masa sekarang dia pergi begitu saja tanpa memikirkan semuanya?"
Aris menatap ayahnya tanpa mengalihkan pandangan. "Selama ini kita tidak pernah benar-benar memperlakukannya seperti bagian dari keluarga. Tapi sekarang, saat dia pergi, kita menuntut seolah-olah dia berutang sesuatu kepada kita. Itu tidak adil. Dia bukan orang yang harus terus menanggung semua beban rumah ini sendirian."
Bu Sopia sempat membuka mulut, seolah ingin menyanggah ucapan itu. Namun pada akhirnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.
"Kalau Bapak dan Ibu masih bersikeras mengejarnya," ujar Aris dengan nada tenang namun tegas, "aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menceritakan kepada orang lain bagaimana sebenarnya kehidupan Alya selama ini di rumah ini."
Ucapan itu langsung membuat seluruh ruangan terdiam, suasana menjadi kaku tanpa suara.
Aris memutar badan dan berjalan menuju kamarnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Malam itu, untuk pertama kalinya, suasana rumah itu dipenuhi oleh seseorang yang benar-benar merasakan penyesalan yang dalam.