NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Isi Flashdisk Kebenaran

Suara alarm masih menggema di seluruh gedung.

Lampu darurat berwarna merah berkedip-kedip di setiap sudut ruangan.

Nara berdiri membeku di dekat meja.

Jantungnya berdebar keras.

Sementara Damar langsung bergerak menuju jendela.

Tatapannya tertuju pada area parkir yang kini dipenuhi kepulan asap.

Mobil yang menabrak panel listrik sudah berhenti.

Namun pengemudinya menghilang.

---

"Itu disengaja."

ucap Damar dingin.

---

Adrian mengangguk.

---

"Mereka tahu kita menemukan sesuatu."

---

Nara menoleh ke arah laptop yang mati.

---

"Bagaimana dengan data di flashdisk?"

---

"Itu yang paling penting sekarang."

jawab Adrian.

---

Untungnya, beberapa menit kemudian listrik cadangan gedung mulai menyala.

Meski belum sepenuhnya normal, setidaknya mereka bisa kembali menyalakan laptop.

---

Damar segera duduk di depan perangkat tersebut.

Tangannya bergerak cepat.

---

Beberapa detik kemudian layar kembali menyala.

---

Napas semua orang tertahan.

---

Folder bernama Kebenaran masih ada.

---

Belum hilang.

---

Belum rusak.

---

"Mereka gagal."

gumam Adrian.

---

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajah pria tersebut.

---

Namun ketegangan belum berakhir.

---

Perlahan Damar membuka file pertama.

---

Sebuah laporan keuangan muncul.

---

Nara tidak terlalu mengerti angka-angka rumit di dalamnya.

Namun Adrian langsung memucat.

---

"Ya Tuhan..."

---

"Apa?"

tanya Nara.

---

Adrian menunjuk layar.

---

"Ini bukti penggelapan dana."

---

Damar membaca lebih teliti.

---

Dan semakin lama wajahnya semakin serius.

---

Karena jumlah uang yang dicuri sangat besar.

Jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan.

---

"Ini bisa menghancurkan perusahaan."

gumamnya.

---

Nara mengepalkan tangan.

---

Jadi ayahnya benar.

---

Selama ini ayahnya memang mencoba mengungkap kejahatan tersebut.

---

File kedua dibuka.

---

Kali ini berisi salinan email.

---

Puluhan email.

---

Semuanya berkaitan dengan transaksi ilegal.

---

Beberapa nama muncul berulang kali.

---

Surya Mahendra.

---

Dan beberapa orang lain yang belum pernah mereka dengar.

---

Namun ada satu hal yang membuat suasana mendadak berubah.

---

Nama Nugroho Wijaya hampir tidak muncul.

---

Damar langsung mengangkat kepala.

---

"Ayahku tidak ada."

---

Adrian terlihat sama terkejutnya.

---

"Ini tidak sesuai dugaan."

---

Nara ikut memeriksa layar.

---

Benar.

---

Selama ini mereka mengira ayah Damar mungkin terlibat.

Namun bukti yang ada justru menunjukkan hal berbeda.

---

Seolah Nugroho berada di luar lingkaran utama.

---

Atau...

---

Sengaja dijauhkan.

---

"Teruskan."

ucap Adrian.

---

File ketiga dibuka.

---

Kali ini berupa rekaman suara.

---

Semua orang langsung terdiam.

---

Damar menekan tombol putar.

---

Suara berisik terdengar selama beberapa detik.

---

Lalu muncul suara seorang pria.

---

"Aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut."

---

Nara langsung mengenali suara itu.

---

Ayahnya.

---

Tubuhnya membeku.

---

Meski sudah bertahun-tahun berlalu.

Ia masih mengenali suara tersebut.

---

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

---

Di rekaman itu, suara Arman terdengar marah.

---

"Aku sudah cukup melihat semuanya."

---

"Kita harus melaporkan ini."

---

Lalu suara lain terdengar.

---

Suara yang lebih berat.

---

"Kalau kau melakukan itu, semuanya akan hancur."

---

Ruangan langsung sunyi.

---

Siapa pria kedua itu?

---

Nara menahan napas.

---

Namun sebelum identitasnya terungkap, rekaman mendadak terputus.

---

"Sial."

gumam Damar.

---

Mereka membuka file berikutnya.

---

Dan berikutnya.

---

Namun sebagian rekaman memang rusak.

---

Entah karena usia.

Atau karena sengaja dirusak.

---

Hingga akhirnya mereka menemukan file terakhir.

---

File audio berdurasi hampir lima menit.

---

Damar menekan tombol putar.

---

Kali ini suara terdengar lebih jelas.

---

"Aku sudah mengumpulkan semua bukti."

Suara Arman kembali terdengar.

---

"Kalau sesuatu terjadi padaku, berarti mereka bergerak lebih dulu."

---

Nara menggigit bibir bawahnya.

---

Dadanya terasa sesak.

---

Lalu suara lain muncul.

---

"Kau terlalu keras kepala."

---

Arman tertawa pendek.

---

"Mungkin."

---

"Tapi setidaknya aku bisa tidur nyenyak."

---

Keheningan singkat terdengar.

---

Dan kemudian...

---

Sebuah nama disebut.

---

Nama yang membuat seluruh ruangan membeku.

---

"Leonard tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."

---

Napas Adrian langsung tertahan.

---

Damar memutar rekaman itu sekali lagi.

---

Leonard.

---

Nama yang ditemukan Raka.

---

Nama yang hampir tidak memiliki jejak.

---

Nama yang seolah dihapus dari sejarah.

---

"Jadi dia memang ada."

gumam Adrian.

---

"Tapi siapa dia sebenarnya?"

tanya Nara.

---

Tak seorang pun langsung menjawab.

---

Karena mereka juga belum tahu.

---

Yang mereka tahu hanya satu.

---

Leonard memiliki hubungan langsung dengan kasus ayah Nara.

---

Dan kemungkinan besar menjadi sosok yang selama ini bersembunyi di balik bayangan.

---

Malam semakin larut.

---

Namun tidak ada yang ingin pulang.

---

Mereka terus memeriksa setiap file.

Setiap dokumen.

Setiap petunjuk.

---

Sampai akhirnya Adrian menemukan sesuatu.

---

Sebuah foto.

---

Foto yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

---

Di dalamnya terdapat lima pria.

---

Arman.

Nugroho.

Surya.

Adrian.

Dan seorang pria asing.

---

Pria yang berdiri tepat di tengah.

---

"Wajahnya..."

gumam Nara.

---

Entah kenapa terasa familiar.

---

Sangat familiar.

---

Namun ia tidak bisa mengingat dari mana.

---

Adrian memperbesar gambar tersebut.

---

Lalu membeku.

---

"Tidak mungkin."

---

Damar langsung menoleh.

---

"Apa?"

---

Pria itu menunjuk wajah dalam foto.

---

"Aku pernah melihatnya."

---

"Di mana?"

---

Adrian tidak langsung menjawab.

---

Wajahnya terlihat semakin pucat.

---

Seolah baru menyadari sesuatu yang mengerikan.

---

"Aku tahu sekarang kenapa namanya sulit ditemukan."

---

Ruangan mendadak sunyi.

---

Karena nada suaranya terdengar sangat serius.

---

"Kenapa?"

tanya Nara.

---

Adrian menatap mereka satu per satu.

---

Lalu berkata pelan.

---

"Karena Leonard Hartono bukan nama aslinya."

---

Jantung Nara langsung berdetak lebih cepat.

---

"Maksud Bapak?"

---

Adrian menarik napas panjang.

---

"Dia mengganti identitasnya bertahun-tahun lalu."

---

Damar mengerutkan kening.

---

"Kenapa seseorang melakukan itu?"

---

"Karena dia sedang bersembunyi."

jawab Adrian.

---

"Atau karena dia sedang membangun kehidupan baru."

---

Nara menatap foto tersebut.

---

Semakin lama.

Semakin kuat perasaan aneh yang muncul.

---

Seolah wajah pria itu benar-benar pernah ia lihat.

---

Namun sebelum ia sempat mengingat lebih jauh, ponselnya bergetar.

---

Nomor tidak dikenal.

---

Lagi.

---

Semua orang langsung memperhatikan.

---

"Jangan diangkat."

ucap Damar.

---

Namun entah kenapa.

Nara merasa harus menjawab.

---

Dengan perlahan ia menerima panggilan itu.

---

"Halo?"

---

Beberapa detik tidak ada suara.

---

Lalu seseorang berbicara.

---

"Nara."

---

Suara pria.

---

Tenang.

---

Terlalu tenang.

---

"Akhirnya kau menemukan flashdisk itu."

---

Tubuh Nara langsung membeku.

---

Tatapan Damar berubah tajam.

---

Adrian langsung berdiri.

---

"Siapa ini?"

tanya Nara.

---

Pria itu tertawa kecil.

---

"Tidak penting."

---

"Kita akan segera bertemu."

---

Darah Nara terasa dingin.

---

"Siapa Anda?"

---

Kali ini pria itu tidak tertawa.

---

Suaranya berubah serius.

---

"Sampaikan salamku kepada Adrian."

---

Keheningan memenuhi ruangan.

---

Karena pria itu jelas mengetahui mereka sedang bersama.

---

Artinya...

---

Seseorang sedang mengawasi mereka.

---

Saat itu juga panggilan terputus.

---

Tidak ada nada sambung.

Tidak ada kesempatan untuk melacak.

---

Hanya keheningan yang tersisa.

---

Nara perlahan menurunkan ponselnya.

---

Dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai...

Ia sadar bahwa mereka bukan lagi pihak yang sedang mencari pelaku.

---

Kini pelaku juga sedang mencari mereka.

---

Dan jarak di antara keduanya semakin dekat.

Bersambung ke Bab 31

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!