NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Ruang Arsip yang Terkunci

Nara hampir tidak tidur malam itu.

Foto wanita misterius yang ditemukan di dalam agenda ayahnya terus memenuhi pikirannya.

Ia sudah berkali-kali membalik foto tersebut.

Berkali-kali membaca pesan yang ditulis ayahnya.

Namun tetap tidak menemukan jawaban.

Yang membuatnya semakin gelisah adalah satu hal.

Wanita itu terasa sangat familiar.

Seolah ia pernah melihat wajah tersebut.

Namun tidak tahu di mana.

---

Pukul enam pagi Damar sudah menjemputnya.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah.

Saat Nara masuk, ia melihat Raka dan Adrian sudah berada di dalam.

Semua terlihat serius.

Hari ini mereka akan menuju ruang arsip Proyek Garuda.

Tempat yang mungkin menyimpan jawaban selama belasan tahun.

---

Perjalanan berlangsung hampir dua jam.

Semakin jauh mereka meninggalkan kota, jalanan semakin sepi.

Gedung-gedung tinggi berganti dengan lahan kosong dan bangunan tua.

---

"Aku tidak suka tempat seperti ini."

gumam Raka.

---

"Kenapa"

tanya Nara.

---

"Biasanya kalau lokasi penting berada di tengah hutan seperti ini, pasti ada masalah."

---

Nara tertawa kecil.

Meski suasana tegang, Raka tetap saja bisa membuat komentar aneh.

---

Sekitar pukul delapan pagi mereka tiba.

Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Gudang tua dengan dinding beton tinggi.

Sebagian catnya sudah mengelupas.

Rumput liar tumbuh di sekitar pagar.

Dan yang paling aneh.

Gerbang utama masih terkunci rapat.

---

"Tempat ini sudah tutup lima belas tahun"

kata Adrian.

"Tapi terlihat seperti masih dijaga."

---

Damar memperhatikan rantai besar yang melilit gerbang.

---

"Lihat itu."

---

Semua menoleh.

---

Gemboknya terlihat baru.

---

Tidak berkarat seperti bagian lain bangunan.

---

Artinya seseorang masih datang ke tempat ini.

---

Raka langsung menghela napas panjang.

---

"Nah kan. Aku bilang pasti ada masalah."

---

Mereka akhirnya masuk melalui pintu samping yang sebagian rusak.

Begitu melangkah ke dalam, udara lembap langsung menyambut.

Debu memenuhi hampir setiap sudut ruangan.

Rak-rak besi berjajar panjang.

Sebagian roboh.

Sebagian masih berdiri.

---

Tempat itu seperti kuburan bagi masa lalu.

---

Nara berjalan perlahan sambil memperhatikan sekitar.

Perasaannya semakin tidak tenang.

---

"Aneh."

gumamnya.

---

"Apa"

tanya Damar.

---

"Kalau tempat ini benar-benar ditinggalkan, seharusnya lebih rusak."

---

Damar mengangguk.

Ia memikirkan hal yang sama.

---

Mereka mulai memeriksa rak demi rak.

Puluhan kotak arsip tersusun di sana.

Sebagian sudah lapuk.

Sebagian masih cukup baik.

---

Raka membuka salah satu kotak.

Isinya dokumen proyek biasa.

Tidak ada yang penting.

---

Kotak kedua.

Sama.

---

Kotak ketiga.

Masih sama.

---

Hingga hampir satu jam berlalu tanpa hasil.

---

"Kita mungkin mencari di tempat yang salah."

kata Raka.

---

"Tidak."

jawab Adrian.

"Arman tidak mungkin salah menulis."

---

Nara juga percaya itu.

Ayahnya sengaja meninggalkan petunjuk.

Berarti sesuatu memang ada di sini.

---

Saat sedang menyusuri lorong belakang, Nara melihat sesuatu yang aneh.

Salah satu rak terlihat berbeda.

Warnanya lebih bersih dibanding rak lain.

Seolah pernah dipindahkan.

---

"Damar."

---

Pria itu langsung mendekat.

---

"Lihat ini."

---

Mereka memeriksa bagian belakang rak.

Dan benar saja.

Ada bekas gesekan di lantai.

---

Seseorang pernah menggesernya.

---

Raka dan Damar segera mendorong rak tersebut.

Awalnya sulit.

Namun perlahan rak itu bergeser.

---

Dan di baliknya terdapat sebuah pintu besi.

---

Semua langsung membeku.

---

"Jadi ini yang disembunyikan."

gumam Adrian.

---

Pintu itu tampak tua.

Namun masih kokoh.

Di bagian tengah terdapat sistem kunci kombinasi.

---

"Hebat."

kata Raka.

"Arsip biasa tidak memakai pengamanan seperti ini."

---

Nara merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

---

Apa pun yang ada di balik pintu itu pasti sangat penting.

---

Masalahnya mereka tidak tahu kombinasi kuncinya.

---

Mereka mencoba beberapa angka yang berkaitan dengan proyek.

Tanggal berdiri perusahaan.

Tanggal peluncuran proyek.

Tahun kejadian.

Tidak ada yang berhasil.

---

"Kalau begini bisa sampai malam."

keluh Raka.

---

Nara bersandar ke dinding.

Matanya menyapu area sekitar.

Lalu sesuatu menarik perhatiannya.

---

Di dekat pintu terdapat tulisan kecil yang hampir pudar.

---

G-17.

---

"Tunggu."

ucapnya.

---

Semua menoleh.

---

"Apa"

---

Nara menunjuk tulisan itu.

---

Adrian langsung mengernyit.

---

"G-17."

---

Pria itu terlihat berpikir keras.

---

Lalu tiba-tiba matanya membesar.

---

"Garuda."

---

"Maksudnya"

tanya Damar.

---

"Proyek Garuda memiliki tujuh belas investor awal."

---

Keheningan muncul.

---

Raka langsung mencoba angka 17 sebagai bagian kombinasi.

---

Klik.

---

Suara kecil terdengar.

---

Semua langsung menahan napas.

---

"Itu berhasil."

bisik Nara.

---

Setelah beberapa percobaan lagi berdasarkan data investor, akhirnya terdengar suara keras dari dalam mekanisme kunci.

---

Pintu terbuka.

---

Udara dingin mengalir keluar.

---

Ruangan di baliknya tidak terlalu besar.

Namun jauh lebih terawat dibanding area gudang lainnya.

---

Rak arsip berdiri rapi.

Kotak-kotak dokumen tersusun berdasarkan tahun.

Dan di tengah ruangan terdapat sebuah lemari besi besar.

---

"Astaga."

gumam Raka.

---

"Mereka benar-benar menyembunyikan semuanya di sini."

---

Nara melangkah masuk perlahan.

Perasaannya campur aduk.

Takut.

Tegang.

Penasaran.

---

Damar membuka salah satu kotak arsip.

Matanya langsung menyipit.

---

"Ini laporan asli."

---

Adrian segera menghampiri.

---

Dan beberapa detik kemudian wajahnya memucat.

---

"Semua transaksi yang hilang ada di sini."

---

Mereka mulai membuka dokumen satu per satu.

---

Semakin banyak yang dibaca.

Semakin jelas gambaran masa lalu itu.

---

Leonard memang terlibat.

Surya juga.

Bahkan beberapa pejabat ikut menerima aliran dana.

---

Namun satu nama membuat mereka terdiam.

---

Bima Santoso.

---

Direktur senior Grup Wijaya.

---

Namanya muncul berkali-kali.

---

"Bima."

gumam Damar.

---

Nada suaranya terdengar dingin.

---

Selama ini pria itu bekerja di bawah ayahnya.

Lalu tetap bertahan hingga sekarang.

---

Dan ternyata namanya ada di pusat skandal tersebut.

---

Nara menatap Damar.

Ia tahu ini tidak mudah.

Menemukan musuh jauh lebih gampang daripada menemukan pengkhianat yang selama ini berada di dekatmu.

---

Saat mereka sedang memeriksa dokumen lain, Adrian tiba-tiba membuka sebuah map merah.

---

Tangannya langsung membeku.

---

"Apa lagi"

tanya Raka.

---

Adrian tidak menjawab.

---

Ia hanya menyerahkan isi map kepada Nara.

---

Nara menerima berkas itu.

Lalu napasnya langsung tertahan.

---

Karena di dalamnya terdapat foto wanita yang sama.

Wanita yang ada di agenda ayahnya.

---

Tangannya mulai gemetar.

---

"Aku mengenalnya."

kata Adrian pelan.

---

Nara langsung mengangkat kepala.

---

"Siapa dia"

---

Ruangan mendadak sunyi.

---

Adrian menatap foto tersebut cukup lama.

Seolah sedang mengenang sesuatu yang jauh.

---

Lalu ia berkata perlahan.

---

"Namanya Elena."

---

Jantung Nara berdetak semakin keras.

---

"Siapa dia sebenarnya"

---

Adrian menarik napas panjang.

---

"Dia mantan akuntan utama Proyek Garuda."

---

Semua terdiam.

---

"Dan dia satu-satunya orang yang mengetahui seluruh aliran uang proyek."

---

Nara menunduk melihat foto itu.

---

"Kalau begitu dia saksi penting."

---

"Lebih dari itu."

jawab Adrian.

---

"Dia menghilang beberapa minggu sebelum ayahmu dijebak."

---

Ruangan kembali sunyi.

---

Satu per satu kepingan teka-teki mulai tersusun.

---

Namun sebelum mereka sempat membahas lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.

---

Semua langsung membeku.

---

Suara itu semakin dekat.

---

Pelan.

Berat.

Dan jelas bukan suara salah satu dari mereka.

---

Damar langsung berdiri.

---

Raka mematikan senter.

---

Tidak ada yang berbicara.

---

Mereka hanya saling menatap.

---

Karena hanya ada satu kemungkinan.

---

Seseorang baru saja datang ke gudang itu.

---

Dan kemungkinan besar orang itu tidak ingin mereka menemukan apa yang tersimpan di dalam ruang arsip rahasia.

---

Suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu.

---

Kemudian terdengar suara seseorang berbicara.

---

"Sudah lama aku menunggu kalian menemukan tempat ini."

---

Tubuh Nara langsung menegang.

---

Karena suara itu terdengar familiar.

Sangat familiar.

---

Dan saat sosok pria itu muncul di ambang pintu, mata Damar langsung melebar.

---

"Pak Bima..."

---

Direktur senior Grup Wijaya itu tersenyum tipis.

Namun senyum tersebut tidak lagi terlihat ramah.

---

"Akhirnya kita bisa bicara tanpa ada rahasia."

Bersambung ke Bab 36:

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!