Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.
Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.
Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.
Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?
Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - Kesalahan panggilan yang tidak buruk
...•...
...Tidak ada jeda dalam waktu, meski detak waktu pada jam dinding berhenti — detak jam lain masih tetap berputar. Meski waktu di dunia berhenti berputar, waktu tetap akan terus berjalan sebagai mana mestinya....
...Berjalan, menggerus tanpa henti, kekal dan mutlak, tak dapat berubah — akan selalu seperti itu. Berjalan menghampiri, mempersempit ruang, memakan dan menggilas diri kita yang berdiam diri dalam waktu yang berjalan....
...Begitulah waktu menunjukkan kekuasaannya....
...Semua tergantung pada diri sendiri, bagaimana kau memanfaatkan waktu dan melarikan diri — bahkan mengambil peluang yang ada....
...Seperti gigi roda jam dinding yang terus berputar geriginya dapat menggiling diri kita, dimana aku membayangkan geriginya bagaikan pisau yang siap melindasku, jika aku tidak bergerak....
...Bagiku, berhenti sama dengan mati. Seperti waktu, aku harus tetap berjalan....
...•...
Mata birunya menerawang sekitar tanpa menghentikan langkahnya. Hembusan nafas lega keluar kala kakinya telah menginjak Shanghai Pudong Internasional Airport, Tiongkok. Meski dirinya sudah menginjak tanah Tiongkok, lega masih jauh dari kata sepenuhnya —pikirannya masih mengejar waktu. Lega itu masih menggantung, belum sepenuhnya jatuh. Nampak dari langkahnya yang bergerak, menyisir tidak membuang-buang waktu saat sampai.
Masih satu lingkup yang sama, hanya saja berbeda prasarananya. Tepat di sebrang sana, mobil biru mengkilap dengan plang yang menempel di atasnya bertuliskan taxi tengah bertengger menanti mereka. Lumi dan Sean, langkahnya sudah mencapai jalur khusus taxi, dipandu oleh seorang petugas yang berjalan beriringan di depan mereka berdua. Dimana mereka sudah memesan taxi melalui konter resmi bandara.
Sigap dan cepat, petugas yang berada di depan mereka segera membukakan pintu taxi. Lumi segera masuk, disusul Sean setelahnya yang terlebih dahulu memasukkan koper ke dalam bagasi.
Tubuhnya kini sudah bersandar, terduduk santai tapi tangannya, matanya, pikirannya, begitu sibuk berkutat dengan dokumen yang dia genggam. Laju mobil mulai terasa berjalan, membuat tubuh Lumi sedikit menjorok ke belakang. Gerung halus mobil sedikit teredam melindas jalanan aspal jalur khusus. Hingga gerung mesin lain perlahan mulai terdengar. Padat jalanan yang riuh telah terjamah lindasan mobil, menandakan sang supir usai membawa penumpangnya keluar dari jalur bandara.
.
.
.
.
.
Lama mengarungi tol bebas hambatan, lalu lintas kota kini mulai terlihat. Gedung pencakar langit terlihat dimana-mana. Shanghai kota emas Tiongkok, pusat perekonomian Tiongkok. Kota yang memiliki pelabuhan terbesar sekaligus tersibuk di dunia. Sistem transportasi yang begitu luar biasa. Pusat utama pengembangan dan penelitian di dunia. Kota yang terkenal dengan daya tarik kosmopolitan. Kota yang terlampau modern dan juga begitu canggih. Banyak sekali distrik terkenal di kota ini.
.
.
.
.
.
"Kita sudah sampai Tuan." Sean menepuk bahu Lumi pelan, menyadarkan tuannya yang masih serius menelaah pekerjaannya.
Sontak biru bola matanya yang tajam tersentak lembut seraya melirik Sean, setelahnya Lumi mulai melirik ke arah luar jendela. Nampak jelas diluar sana, pintu masuk tempat tujuannya, tempat singgah dan peristirahatannya. Shi-Hai Hotel. Salah satu cabang hotel dari Shimizu Hotel.
"Selamat malam Tuan," sambut manager serta rombongan staff hotel yang telah menunggu kedatangan Lumi.
"Bagaimana perjalanannya Tuan, pasti melelahkan," ujarnya seraya memberikan perintah kepada staffnya dalam bahasa Tiongkok, untuk mengambil barang bawaan Lumi.
"Tentu, tapi itu terbayarkan saat melihat pemandangan kota China yang begitu luar biasa modern saat perjalanan," ungkap Lumi seraya berjalan.
"Syukurlah Tuan."
"Sean, sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu, aku tahu kau akan kembali menyidik masalah ini," taksir Lumi yang tahu akan gelagat asistennya.
"Perjalanan kita cukup jauh tadi, istirahatlah," lanjut Lumi disela langkahnya menyusuri lorong hotel.
"Baik Tuan," patuh Sean tak ada bantahan, dari arah belakang Lumi — mengiringi, membuntuti tuannya berjalan.
"Ini kamar Tuan, silahkan," ucap manager hotel seraya membuka pintu kamar.
Pemandangan mewah serta eksklusif ruang kamar hotel kelas VVIP menyambut kedatangan Lumi. Koper Lumi mulai menyusul masuk, mereka letakan di dekat sofa.
Matanya yang menikmati kemewahan kamar serta acuh tak acuh memperhatikan manager dan staffnya. Dalam benaknya dan juga letihnya, Lumi sudah tidak sabaran untuk menyentuh kasur.
"Sepertinya semuanya sudah masuk," ucap sang manager memperhatikan setiap barang Lumi yang sudah masuk. "Kalau begitu kami permisi dulu."
Lumi mengngangguk memberi izin, begitu juga dengan Sean. Tidak lupa staff hotel memberikan cardlock kepada Lumi sebelum melangkah pergi.
"Tuan, apakah ada hal lain yang bisa saya bantu sebelum saya pergi menuju kamar saya?" tanya Sean kala manager hotel dan staffnya sudah menghilang dari ruangan.
"Tidak Sean, kau boleh pergi beristirahat," jawab Lumi.
"Baik." Sean melangkah mundur dan berbalik meninggalkan Lumi.
Kosong dan senyap mulai menghampiri mengisi ruang, kala suara pintu telah tertutup oleh orang terakhir yang mengisi bising dalam ruangan. Kini dalam ruangan itu hanya menyisakan Lumi seorang.
Terdiam sejenak, matanya mulai melirik ke arah yang dia idam-idamkan. Langkahnya mulai menghampiri, kemudian menjatuhkan dirinya dalam kelembutan kasur. Kenyal serta nyaman telah menelan dirinya yang letih — mengurai semuanya menjadi lebih baik. Langit-langit asing kamar hotel nampak dalam penglihatannya.
Pengap dan gusar, terasa mencekik di bagian lehernya. Tanpa mengalihkan pandangannya, dengan gontai Lumi mulai menyambangi kerah kemejanya. Niat hati ingin membuka kancing kerah tersebut, tiba-tiba saja jemarinya berhenti bergerak. Tarikan untuk merusak yang melilit rapih pada kerahnya dia hentikan. Jemarinya yang kekar hanya menggantung diam pada seutas dasi hitam yang dia kenakan. Bibirnya melengkung naik tipis, tapi hatinya merekah senang. Sekilas ingatan saat di airport lounge sebelum keberangkatannya ke Tiongkok terputar.
Pada akhirnya, Lumi hanya meremas simpul dasi tersebut seraya mengingat kilas balik memori yang masih hangat dalam pikirannya.
.
.
Airport lounge.
Before arrive.
.
.
Respon tubuh yang terkendali begitu juga dengan raut wajahnya yang tetap tenang dan dingin. Tapi, satu hal yang nampak samar, biru matanya yang membesar. Mata Lumi tersentak saat mendapati Lana tengah berdiri dihadapanya dengan koper yang tergenggam di tangannya. Lumi yakin beberapa jam yang lalu dia menelpon Bu Sri. Tanpa pikir panjang, perlahan tanpa tergesa tapi hatinya sedikit gundah. Lumi langsung mengecek riwayat panggilan dalam ponselnya.
Tercengang.
Nama Asisten Lana dengan waktu telepon pada jam yang sama, bahkan namanya tertera pada baris ke lima. Lumi mulai memutar ingatannya saat di kantor. Dia ingat nama kontak Lana berada dibawah kontak Bu Sri dalam panggilan cepat.
'Akh, sial sepertinya aku salah tekan.'
Lumi yang terlihat kebingungan sudah bisa Lana prediksi. Lana sudah duga akan kedatangannya pasti akan menimbulkan keterkejutan pada tuannya. Mengingat saat sambungan suara tersambung, bukan nama dirinya yang dia panggil, melainkan Bu Sri yang dia sebut. Meski sempat kebingungan dan hanya diam mendengarkan tuannya memberikan titah. Lana bia menyimpulkan akan kesalahan tuannya yang salah menekan kontak.
Lana tak ambil pusing, lagipula dirinya merupakan asistennya. Jadi menurut Lana tidak masalah siapa yang akan mengerjakan tugasnya. Meski hatinya masih bergelayut rasa takut dan tak siap untuk menatap Lumi. Kendati sensasi panas yang membara namun begitu lembut menyentuh kulit leher jenjangnya, membuat Lana merasakan trauma yang tak bisa dia luapkan. Setelah kejadian itu Lana begitu enggan melihat Lumi, tidak ada kata maaf yang terucap. Meminta pun apa pentingnya dia bagi Lumi.
"Tuan, harus saya simpan di mana koper Tuan?" Lana bertanya untuk mencoba mengalihkan kebingungan Lumi.
Lumi tersentak untuk kesekian kalinya dan langsung menatap Lana. "Itu simpan saj —" perintah itu terhenti, tiba-tiba saja Lumi memikirkan sesuatu yang gila dan tak biasa menggelitik hatinya. "Tidak, kau tunggu saja disini sampai keberangkatanku," perintah Lumi sambil menunjukkan kursi di sebelahnya."Duduklah...."
Dengan hati yang ragu Lana terpaksa duduk di sebelah Lumi.
Ruangan itu begitu hening dan tenang membuat Lana merasa canggung. Tapi Lana mencoba untuk terbiasa dan mencoba menghilangkan rasa canggung yang menghinggapi dirinya. Mata Lana mulai mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan. Dengan wajah kagum Lana melihat ruang tunggu yang mewah dan juga sangat nyaman. Mata Lana mencoba menjangkau seisi ruangan yang luas tersebut. Terkadang Lana melihat ke arah luar jendela yang luas dan bening. Di sana terlihat pemandangan landasan pacu bandara yang indah, tempat beberapa pesawat diparkir dan siap berangkat.
Cahaya alami membanjiri ruangan menerobos masuk beningnya kaca, menyoroti ruang tunggu yang nyaman dan tanaman pot hijau yang menambah sentuhan alam. Penataan ruangan tidak hanya meningkatkan estetika tetapi juga menyediakan suasana santai bagi para penumpang yang menunggu penerbangan mereka. Lana mulai merasakan nyaman disela pandangan yang terus beredar.
Tapi sangat di sayangkan, terkadang saat Lana ingin melihat keluar jendela, Lana secara tak sengaja menangkap wajah Lumi. Wajah yang begitu serius mencermati dokumen yang ada di tangannya. Kacamata itu terlihat begitu menambah ketampanan Lumi.
Begitu memukau.
Itu membuat Lana langsung memalingkan wajahnya saat itu juga. Rasanya menyebalkan dan tidak benar mengagumi rupa tuannya yang telah menodai dan melukai harga dirinya. Gugup sekaligus sendu, Lana merasa hatinya mudah terperangkap pesona Lumi.
'Sebaiknya aku harus mengurangi kontak mata dengan Lumi,' saran Lana pada dirinya sendiri.
Senyum mengelitik terulas pada wajahnya. Lumi terkekeh melihat tingkah canggung yang mengemaskan Lana dari lirikan matanya disela kerjanya. Mata almond itu terus mengitari ruangan serta jemari dan kakinya tak berhenti bergerak. Hentakan tipis terdengar tidak beraturan pada telinga Lumi. Rasanya begitu menyenangkan melihatnya. Rasa bosan yang melanda Lumi perlahan menghilang. Lumi merasa tepat menahan Lana ada di sampingnya. Rasanya begitu nyaman dan menyenangkan Lana berada disamping Lumi saat ini.
'Kesalahan panggilan ini tidak buruk,' ujar Lumi dalam hatinya, menikmati keputusan dan kesalahan kecilnya tak sangka menyenangkan terasa.
"Tuan pesawat kita akan berangkat," ucap Sean dari ambang pintu yang membuat Lumi dan Lana sontak melirik dan bergegas bangkit.
Lumi menghampiri Sean dengan mata yang masih terfokus pada dokumen yang dia genggam. Lana yang sedang mencoba menyeret koper, tiba-tiba tangan Sean dengan lembut menyerobot koper yang dipegang Lana.
"Biarkan saya yang membawanya Asisten Lana." Koper itu sudah beralih di tangan Sean.
Lana hanya bisa pasrah dan tersenyum hangat padanya. "Terima kasih Tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, panggil saja Pak," titahnya seraya tersenyum.
"Baik Pak." Lana langsung mematuhi Sean.
"Lebih baik kau bantu Tuan untuk merapihkan pakaiannya termasuk dasinya," pinta Sean sambil menunjuk Lumi yang terfokus pada pekerjaannya.
Terlihat pakaian Lumi agak sedikit berantakan terutama simpul dasinya. Lana sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi karena Asisten Sean yang meminta dengan lembut, Lana tak bisa menolak.
Perlahan dan canggung Lana menghampiri Lumi. Jarak yang begitu dekat dan saling berhadapan,tapi tuannya tak bergeming dari ribuan kata yang tertera dalam kumpulan kertas. Lana memejamkan matanya sejenak, dia sedikit kesal akan tuannya yang tidak peka dan tidak merasakan hawa manusia di sekitarnya.
'Akh, aku harus bagaimana?' bingung Lana yang mengganggu — bukan, tapi lebih tepatnya Lana tak ingin bertatapan atau pun berbicara dengan tuannya.
Canggung dan kaku, Lana melirik Sean diam-diam yang tengah bersiap-siap.
'Sial,' keluh Lana yang tak bisa menolak.
Satu tarikan nafas panjang begitu juga hembusannya. Ragu, tapi pasti tergenggam. Jemarinya yang bergerak kaku mulai merasakan tekstur. Lana mulai mencubit kerah lengan baju Lumi, menariknya pelan dan samar, lalu dia sedikit menggerakan kerahnya untuk memberi efek perhatian Lumi teralihkan padanya. Efek ringan itu berhasil membuat Lumi menatap Lana. Setelah mata mereka bertukar tatap Lana langsung meraih dasi Lumi tanpa peringatan sebelumnya.
Tubuh Lumi seketika menegang. Lumi terkejut dengan apa yang Lana lakukan tanpa sepatah kata apapun. Kaki itu berjinjit mencoba menyamakan tingginya dengan dasi yang Lumi kenakan. Tatapan Lumi yang terkejut mulai sirna, kilau pada matanya serta kelopak mata yang sedikit menurun terlihat begitu lembut. Senyum merekah pada wajah Lumi, tanpa Lana ketahui. Dari bawah Lumi bisa melihat puncak rambut Lana yang hitam legam serta berkilau. Terlihat licin serta —
'Harumnya begitu manis dan menyegarkan, ingin sekali aku menyambangi harum yang menilik hidungku. Aku ingin menciumnya dan menghirup puncak rambutmu yang halus. Ingin sekali aku mendekatkan hidungku dan mengelus nya serta menghirupnya sepuas hatiku. Sungguh aku tidak kuat menahan tanganku untuk membelai rambutmu. Kenapa harummu selalu membuatku tergugah memanas?'
Perlahan Lumi mulai sedikit menundukkan tubuhnya.
Gerakan Lumi yang secara tiba-tiba membuat Lana terkejut dan melepas genggaman pada dasinya. Jarak antara dasi sedikit menjauh tapi penglihatannya kini sejajar dengan dasi tersebut. Sekelibat dagu Lumi terlihat di depan kening Lana. Mata Lana mulai mondar-mandir mencoba menenangkan dirinya.
"Mungkin seperti ini akan lebih nyaman," bisik Lumi lembut ditelinga Lana sambil tersenyum.
Sensasi menggelitik pada hati Lana merayap seperti seekor semut yang mengganggu dan ingin dia cari keberadaannya. Dimana semut itu merayap menaiki sekujur tubuh.
Lana menelan ludahnya saat Lumi menarik tangannya untuk lebih dekat dengannya.
"Kerjakanlah," bisik Lumi kembali karena Lana terdiam sejenak.
Lana Panik, dia mencoba memperbaiki dasi itu dengan tenang. Sisi lain dari Lana terus berapi-api untuk menenangkannya.
Simpul dasi sudah selesai dan rapih. Kini Lana mulai merapihkan kerah baju Lumi. Kedua tangan Lana mulai melingkar di leher Lumi. Lana mencoba merapihkan kerah bagian belakang.
Lumi terkejut kembali saat Lana mulai melingkarkan tangannya pada lehernya. Kepala Lana yang mencoba mencapai tengkuk, membuat rambut halus Lana bergesek lembut pada kuping Lumi. Deru nafas lembut itu terasa begitu tipis dan menyiksa Lumi. Rasanya kulit mereka sedang bersentuhan tetapi tidak. Rasa merinding yang menggelitik namun menyenangkan merayap pada hati Lumi. Lumi ingin menyentuh kulit Lana kembali. Tangan yang terkepal, Lumi mencoba menahan godaan hawa nafsu itu.
"Cepatlah," ujar hati Lana.
Lana mulai memberi jarak pada Lumi, dengan cepat Lumi menegakkan badannya. Sentuhan terakhir Lana merapihkan jasnya.
"Sudah selesai Tuan."
"Baguslah, antarkan kami sampai pemeriksaan boarding pass," ucap Lumi begitu cepat dan langsung menyeret Lana.
Asisten Sean yang melihat itu sedikit merasa aneh dan bingung, tidak biasanya Lumi bertingkah seperti itu. Tapi Sean mengalihkan pikiran tersebut. Menurutnya itu bukanlah hal yang penting. Lumi tidak pernah serius untuk seseorang.
"Mungkin dia menemukan mainan yang menyenangkan," gumam Sean yang mengiringi langkah mereka dari belakang.
".... atau mungkin tidak." Sean melihat yang mengejutkan.
Tangan Lana tergenggam begitu erat sepanjang perjalanan. Lana tidak berani menatap Lumi. Lana hanya terus menatap tangan Lumi yang terus meremas tangan mungilnya itu.
Lana malu.
Tangan itu terlepas saat pemeriksaan di boarding pass. Lana mengantarkan sampai punggung itu tak terlihat dari pandangannya.
......................
Langit-langit kamar hotel mulai terlihat kembali, remasan pada dasinya kini mulai teralihkan. Lumi mengangkat lengannya, dia mulai melihat telapak tangan begitu saksama.
"Rasanya masih kurang," gumam Lumi sedikit kecewa.
"Hari ini aku tidak akan mandi, aku akan tidur seperti ini saja." Lumi mulai memejamkan matanya sambil memegang ujung dasi yang masih dia kenakan.