NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

badai di ufuk desa

Hari-hari berikutnya berjalan terasa tenang di permukaan, namun di baliknya, angin perubahan mulai berhembus semakin kencang. Laras dan ayahnya akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah sewaan mereka di pinggiran desa, tempat yang sederhana namun cukup untuk menunjang pemulihan Pak Harjo. Semua terasa aman dan nyaman, jauh lebih baik dibandingkan hari-hari penuh kekhawatiran yang mereka lalui sebelumnya.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pada hari ketujuh sejak mereka pulang, suasana desa mulai berubah. Kendaraan-kendaraan besar berwarna kuning dan hitam terlihat lewat di jalan utama, diikuti oleh sekelompok pria berpakaian seragam yang membawa papan tanda dan peta wilayah. Warga mulai berkumpul dengan wajah cemas, saling berbisik satu sama lain, menyampaikan kabar yang membuat hati setiap orang terasa sesak.

Laras yang sedang menyiram tanaman di halaman segera mendekati sekelompok ibu-ibu yang sedang mengobrol dengan nada gelisah.

“Ada apa, Bu? Kenapa semua orang terlihat begitu khawatir?” tanyanya sopan.

Salah satu ibu tua menoleh, menghela napas panjang dengan pandangan penuh kekhawatiran. “Kabar buruk, Laras. Kata mereka, tanah dan hutan yang menjadi sumber air serta tempat kita bertani itu sudah dibeli oleh sebuah perusahaan besar dari luar kota. Mereka bilang dalam waktu dua minggu ke depan, kita semua harus meninggalkan tempat ini dan menyerahkan lahan yang kita garap selama puluhan tahun.”

Kalimat itu membuat jantung Laras berdegup kencang. Ia merasa seolah ada batu besar yang tiba-tiba menimpa dadanya. “Tapi… bagaimana bisa? Bukankah tanah ini adalah warisan leluhur kita dan sudah diatur dalam peraturan desa? Mereka tidak bisa mengusir kita sembarangan begitu saja.”

“Begitu juga yang kita pikirkan,” jawab ibu itu dengan nada getir. “Tapi mereka membawa surat-surat yang terlihat resmi, bahkan dikatakan sudah mendapat persetujuan dari pejabat di kecamatan. Mereka menawarkan uang ganti rugi yang terlihat banyak, tapi tidak sebanding dengan apa yang kita miliki. Bagi kita, ini bukan sekadar tanah—ini adalah tempat hidup, sumber makan, dan warisan untuk anak cucu.”

Laras kembali ke rumah dengan langkah tergesa, wajahnya sudah terlihat pucat. Ia segera menceritakan semuanya pada ayahnya yang sedang duduk beristirahat di teras. Mendengar kabar itu, raut wajah Pak Harjo juga berubah serius. Ia mengusap dadanya perlahan, merasakan kekhawatiran yang mulai menyerang kembali.

“Jadi itulah alasannya,” gumamnya pelan. “Sudah lama saya dengar ada pihak luar yang mengincar wilayah ini. Konon di dalam tanah dan hutan itu terdapat cadangan air bersih yang sangat melimpah dan berkualitas tinggi, serta potensi yang bisa dimanfaatkan untuk keuntungan besar. Selama ini mereka tidak berani bertindak terang-terangan karena belum memiliki dokumen yang cukup, tapi sepertinya sekarang mereka sudah menemukan cara untuk memaksakan kehendaknya.”

Laras duduk di samping ayahnya, memegang tangan lelaki itu erat-erat. “Lalu apa yang bisa kita lakukan, Yah? Jika kita harus pergi, ke mana kita akan tinggal? Dan bagaimana dengan rencana kita ke depan?”

“Kita tidak akan menyerah begitu saja,” jawab Pak Harjo dengan tegas meski suaranya masih lirih. “Selama masih ada kebenaran dan aturan yang berlaku, kita akan melawannya. Tapi jujur saja, Nak… melawan pihak yang punya uang dan kekuasaan tidaklah mudah. Kita butuh bantuan yang kuat dan jujur untuk membela hak kita.”

Malam itu, Laras sulit memejamkan mata. Pikirannya berputar-putar, mencari jalan keluar yang tidak ia miliki. Ia sudah tidak memiliki beban utang, tapi kini menghadapi masalah yang jauh lebih besar dan mengancam keberlangsungan hidupnya serta seluruh warga desa. Tanpa sadar, sosok Raka Dirgantara kembali terlintas di benaknya.

Dia punya kekuasaan, dia punya sumber daya, dia mengerti seluk-beluk dunia bisnis dan hukum… pikirnya. Tapi kita sudah sepakat tidak akan saling mengganggu lagi. Apakah pantas saya meminta bantuannya lagi? Apakah saya hanya akan terlihat terus bergantung padanya?

Namun di sisi lain, ia sadar bahwa jika tidak ada bantuan, perjuangan warga desa akan terasa sia-sia.

Sementara itu, di kota besar yang berjarak ratusan kilometer dari desa itu, Raka menerima laporan terbaru dari Bimo dengan pandangan yang semakin tajam. Di atas meja kerjanya terbentang peta wilayah desa itu, lengkap dengan data kepemilikan, potensi sumber daya alam, serta bukti-bukti kecurangan yang mulai berhasil dikumpulkan timnya.

“Perusahaan yang mengatasnamakan diri mereka sendiri itu hanyalah kedok semata, Tuan,” jelas Bimo sambil menunjuk nama perusahaan di dokumen itu. “Di baliknya ada sekelompok pengusaha yang selama ini bersaing ketat dengan kita. Mereka tahu kita sangat menjaga kelestarian lingkungan dan sering kali menghalangi proyek mereka yang merusak alam. Menguasai wilayah ini bukan hanya soal keuntungan, tapi juga cara mereka memancing kita keluar dan mencari kelemahan kita.”

Raka menekan jari-jarinya di atas meja, matanya menyala dengan tekad yang kuat. “Mereka pikir bisa memanfaatkan warga desa dan menggunakan masalah ini untuk menyerang kita? Mereka salah besar. Jika sampai mereka menyakiti orang-orang tak bersalah hanya demi ambisi mereka sendiri, maka mereka telah melampaui batas.”

“Jadi apa langkah kita selanjutnya?” tanya Bimo.

“Kita akan bertindak dengan dua cara,” jawab Raka mantap. “Pertama, siapkan tim hukum terbaik untuk meninjau kembali dokumen kepemilikan tanah itu. Kita punya catatan sejarah yang membuktikan bahwa wilayah itu adalah kawasan lindung dan tidak boleh diperjualbelikan sembarangan. Kedua, saya akan turun ke desa itu sendiri. Kita harus bertemu langsung dengan warga, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menunjukkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.”

Mendengar itu, Bimo mengangguk mengerti, namun menambahkan satu hal. “Tuan, jika Anda datang ke sana, maka Nona Laras akan tahu bahwa Andalah yang mengatur semua ini. Kesepakatan yang Anda buat…”

Raka mengangkat tangannya, memotong pembicaraan itu dengan nada lembut namun tegas. “Saya tahu apa yang saya lakukan, Bimo. Kesepakatan itu dibuat agar dia hidup tenang. Tapi jika ketenangannya sendiri terancam, maka tugasku untuk melindunginya tetap berlaku—tidak tertulis, tapi sudah menjadi keputusan hatiku. Saya tidak bisa hanya menonton dari jauh saat dia dan orang-orang di sekitarnya dalam bahaya.”

Keesokan harinya, kendaraan-kendaraan dari kelompok Raka bergerak menuju desa itu. Raka sendiri ikut dalam perjalanan, mengenakan pakaian yang lebih sederhana agar tidak terlalu mencolok, namun tetap membawa wibawa yang sulit disembunyikan. Di dalam perjalanan, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: bagaimana reaksi Laras nanti saat melihatnya kembali? Apakah dia akan marah karena ia melanggar janji, atau justru merasa lega karena bantuan datang di saat yang tepat?

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, rombongan itu tiba di pinggiran desa. Berita tentang kedatangan orang-orang dari luar segera menyebar dengan cepat, membuat warga berkumpul dengan perasaan waspada—mengira itu adalah kelompok perusahaan yang akan menekan mereka lebih lanjut lagi.

Namun saat Raka turun dari kendaraan dan melangkah mendekati kerumunan itu, satu suara memecah keheningan.

“Tuan Raka?”

Laras berdiri di antara warga, matanya terbelalak lebar, tidak percaya melihat sosok yang selama ini ia coba lupakan namun tetap dirindukan berdiri tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, campuran rasa kaget, bingung, haru, dan juga sedikit marah bercampur menjadi satu di dadanya.

Raka menatapnya dengan pandangan lembut namun tegas, seolah ingin mengatakan bahwa dia datang bukan untuk mengganggu, tapi untuk melindungi. Ia melangkah lebih dekat, lalu membungkuk sedikit memberi hormat pada seluruh warga yang sedang menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Assalamualaikum, Bapak, Ibu, dan saudara-saudara sekalian,” sapanya dengan suara yang tenang namun jelas terdengar oleh semua orang. “Nama saya Raka Dirgantara. Saya datang ke sini bukan untuk mengambil apa pun, melainkan untuk membantu membela hak kalian yang sedang terancam.”

Kerumunan itu mulai berbisik-bisik, penasaran dengan identitas dan niat orang asing itu. Sementara Laras hanya bisa berdiri mematung, menatap Raka yang kini kembali masuk ke dalam hidupnya—menghapus batas yang pernah mereka buat, dan membawa mereka kembali bertemu di tengah badai yang baru saja mulai melanda.

Di dalam hati masing-masing, mereka tahu bahwa pertemuan ini mengubah segalanya. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi jarak. Kini mereka harus berjuang berdampingan, menghadapi musuh yang kuat, dan menemukan kembali arti dari kesepakatan yang pernah dibuat—bahwa satu malam itu hanyalah awal dari sebuah ikatan yang jauh lebih besar dan abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!