Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah drama ‘nunggu di gerbang kampus bagai istri nelayan yang suaminya lupa jalan pulang,’ Kanza Arumi akhirnya berhasil disuap dengan janji manis yang dingin: es krim.
Mereka mampir ke minimarket dekat kampus. Kanza langsung nyelonong masuk tanpa menunggu Hanan Arkan, langkahnya yang tadi kaku mendadak jadi lincah kalau urusan makanan gratis.
“Mas! Kanza mau yang rasa mangga, stroberi, sama cokelat, campur! Pokoknya yang paling gede, ukuran jumbo! Sekalian buat obat luka batin karena di-ghosting suami sendiri di pinggir jalan!” serunya lantang sambil menenteng keranjang belanja dengan semangat juang tinggi.
Hanan hanya geleng-geleng kepala sambil mengekor di belakang.
“Iya, sayang. Terserah kamu. Mas beliin seisi toko ini juga boleh, asal kamu berhenti mengomel,” sahutnya lembut dengan nada pasrah yang penuh kasih.
Kanza akhirnya berdiri lama di depan freezer es krim, meributkan merek, warna, hingga vibes es krimnya.
“Yang ini kayaknya manisnya toxic. Yang ini terlalu dingin buat Kanza yang lagi panas hati. Eh—ini dia! Rasa cinta terpendam: Mangga!”
Dengan penuh kemenangan, Kanza keluar dari minimarket sambil memegang satu cup besar es krim mangga, lengkap dengan sendok kecil warna pink yang menurutnya sangat estetis. Hanan dengan sigap membuka pintu mobil untuknya.
“Ciee... suami idaman,” goda Kanza sambil masuk ke jok penumpang.
Tapi baru saja ia duduk, bahkan belum sempat menyendokkan keindahan mangga itu ke mulutnya…
PLUK!
Es krim itu meluncur bebas. Jatuh. Telungkup di lantai mobil.
Hening seketika.
Kanza bengong menatap lantai mobil. Hanan yang baru saja masuk ke jok kemudi juga ikut membeku.
“Mas… ini… ES KRIM CINTA TERPENDAMNYA JATUH!!!” Kanza langsung meledak dramatis. Wajahnya berubah seolah baru saja kehilangan warisan kerajaan.
Hanan menoleh perlahan, ekspresinya antara ingin tertawa lepas tapi juga takut dituduh sebagai tersangka pembunuhan es krim.
“Kanza… pelan-pelan makannya, sayang. Nanti Mas beliin lagi, ya?”
Kanza memelotot, matanya mulai berkaca-kaca (buatan).
“INI BUKAN MASALAH DIBELIIN LAGI ATAU NGGAK, MAS! Ini soal HARGA DIRI Kanza sebagai pencinta es krim sejati! Semesta nggak merestui hubungan kami!”
Dia turun dari mobil dengan gaya paling merana, lalu berdiri di samping pintu sambil menatap langit senja yang mulai menggelap.
“Ya Allah, ini ujian batin yang ke berapa hari ini?! Semalam digeprek, tadi disindir maba, sekarang es krim jatuh!”
Hanan pun turun, mendekati istrinya. “Udah, udah… sini. Kita balik lagi ke dalam, beli yang baru. Dua porsi. Yang satu buat dimakan, yang satu buat cadangan kalau kamu mau akting nangis lagi.”
Kanza masih melanjutkan dramanya. “Kanza nggak mau makan lagi. Kanza sedih. Nanti juga es krimnya jatuh lagi. Dia memang nggak jodoh sama Kanza...”
Hanan tertawa pelan, lalu merangkul bahu istrinya masuk kembali ke minimarket.
Dalam hati, ia membatin: Istri Mas ini... benar-benar bisa mengubah hari yang rumit jadi penuh tawa. Hanya karena es krim yang jatuh saja bisa jadi drama kolosal.
Malam itu, setelah semua keributan berakhir, Kanza merebahkan diri di kasur.
Hanan Arkan sudah duduk rapi di meja kerjanya, menyelesaikan file laporan dosen yang katanya “urgent banget.” Tapi Kanza tidak peduli. Jiwa kontennya sedang meronta.
Dengan wajah penuh "luka batin" imajiner, Kanza membuka kamera depan ponselnya.
Tidak peduli mukanya belum cuci muka sepenuhnya, jilbab sudah miring ke kanan, dan Hanan di belakang sudah melirik-lirik ngeri.
Dia buka Instagram. Klik... Add to story.
\[Video: Kanza dengan ekspresi melas level pemeran utama telenovela\]
“Hari ini… aku kehilangan… dia.” Zoom-in pelan ke arah mata yang dibuat-buat berkaca-kaca.
“Es krim mangga ukuran jumbo. Rasa yang susah dicari. Sudah kupegang erat... tapi semesta berkata lain. Dia... jatuh. Luruh. Bersama harapan-harapanku.”
“Kepada siapapun yang pernah kehilangan cinta… Kita satu frekuensi malam ini.”
Caption: Yang tahu rasa sakit kehilangan es krim… silakan duduk sebangku di barisan depan.
Belum lima menit, penontonnya sudah puluhan. DM pertama langsung masuk dari Tasya.
Tasya: “LO NGGAK WARAS! GUE UDAH NGAKAK GULING-GULING DARI TADI WOOYYY! ”
Tasya: “TRAGEDI ES KRIM KATANYA!!! ELAH KANZA... GUE PIKIR APAAN!”
Kanza langsung membalas dengan mengetik secepat kilat:
Kanza: “LO NGGAK TAHU SAKITNYA, TAS. SAKIT! Udah disuapin suami pun rasanya tetap kayak luka kebanggaan yang dikoyak-koyak.”
Hanan melirik dari meja kerjanya, bertanya dengan nada sabar yang luar biasa.
“Kanza... update story apa lagi itu? Mas denger suara sedu-sedan buatan kamu.”
Kanza menoleh sekejap, “Mas… biarkan dunia tahu kalau Kanza sedang terluka. Ini adalah bagian dari proses healing emosional.”
Hanan mengangguk-angguk paham (atau pura-pura paham).
“Ya sudah, yang penting healing-nya jangan sampai mengacak-acak kulkas Mas lagi kayak kemarin malam ya.”
Malam itu, Kanza tertidur sambil senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya, sementara Hanan hanya bisa mengelus dada, menahan tawa melihat story sang istri yang mulai viral di lingkar pertemanan mereka.
Bagi Hanan, hidup dengan Kanza memang melelahkan secara mental, tapi ia tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini.
Pagi itu, Kanza Arumi melangkah ke gerbang kampus dengan penuh gaya. Langkahnya tegap, hidung sedikit mendongak, dan tas selempangnya seperti biasa penuh dengan stiker warna-warni.
Tapi ada satu perbedaan mencolok hari ini: sepatunya berwarna-warni mencolok seperti es krim pelangi. Mungkin itu bentuk penghormatan terakhir untuk kawan lamanya yang gugur di lantai mobil kemarin.
Tasya sudah menunggu di dekat gerbang. Begitu melihat sahabatnya, ia langsung berdiri sambil bertepuk tangan pelan dengan wajah mengejek.
“WOOOOYYY SI KORBAN LANTAI!” teriaknya setengah tertahan.
Kanza menyipitkan mata, memberikan tatapan maut.
“LO JANGAN BAWA-BAWA LUKA LAMA DEH, TAS. Masih basah ini hatinya!”
Tasya cengar-cengir tanpa dosa. “Gue udah screenshot story lo semalem. Gue kirim ke grup kelas. Dosen Fisika juga liat tuh, kayaknya dia prihatin sama nasib es krim lo.”
Kanza menoleh cepat, jantungnya hampir copot.
“HA?! LO SERIUS?!”
“Enggaklah, panik amat. Tapi kalau gue post ke story sendiri dengan caption 'Tragedi Nasional', boleh kan?” Tasya sengaja nyolot.
Kanza langsung menarik tangan Tasya, menyeretnya masuk.
“Lo tuh ya… bener-bener nungguin momen gue terhina demi konten.”
“KAGAK. GUE CUMA PENGEN SEMUA ORANG TAHU, ES KRIM ITU GAK SEPELE ITU!” Tasya mulai ikut-ikutan drama.
Mereka berdua tertawa keras sambil masuk ke kantin, padahal jam kuliah belum dimulai. Begitu masuk, beberapa mahasiswa langsung melirik dan berbisik.
“Eh itu tuh Kanza yang story-nya semalem…” bisik seorang cewek di meja panjang.
“Yang dramatis banget soal es krim mangga itu?” temannya ikut menimpali.
Kanza bukannya malu, malah langsung pasang tampang serius. Ia berdiri di depan mereka dan berkata lantang.
“BETUL! SAYA KORBAN ES KRIM. APAKAH ADA MASALAH DENGAN RASA KEHILANGAN SAYA?!”
Satu meja langsung kaget, lalu ledakan tawa pecah seketika. Tasya hanya bisa menepuk jidatnya.
“Ya ampun, lo malu-maluin banget, Kanza.”
“GUE BANGGA, TAS! GUE PERJUANGKAN KEADILAN BAGI SELURUH ES KRIM YANG JATUH SEBELUM TERMAKAN!”
Tiba-tiba, Hanan Arkan muncul di pintu kantin. Ia berjalan santai menuju meja mereka dengan ekspresi tenang yang kontras dengan kegaduhan di sana.
Kanza langsung duduk tegak, mendadak jadi istri salihah dalam satu detik, meski tetap menjaga jarak aman.
Tasya menatap Hanan dengan mata berbinar penasaran.
“Ehh, itu suami lo ya, Kanza?”
Kanza nyerocos sambil menyembunyikan wajah di balik buku.
"Iya. Lo nggak usah nanya-nanya lagi, nanti naksir repot."
Tasya melirik Kanza dengan tatapan tajam.
“Gue udah tahu, Kanza. Enggak usah kayak di drama series gitu. Cuma ya... aneh aja ngeliat lo yang paling absurd di angkatan kita, malah nikah sama dosen yang wibawanya setinggi gunung Everest.”
Kanza mendelik sebal, “Lo juga aneh! Lo pernah nggak sih lihat drama kehidupan gue yang penuh plot twist ini?”
Hanan duduk di sebelah Kanza tanpa berkata banyak, hanya tersenyum kecil melihat interaksi ajaib dua sahabat itu.
Kanza yang tadinya garang, mendadak sedikit kalem. Tasya terus merengek ingin tahu lebih banyak soal "kehidupan di balik layar" mereka, tapi Kanza sudah siap membentengi suaminya.
“Tasya, lo ngeliat ini kan? Gue lagi menikmati hidup dengan tenang. Jadi jangan ganggu ketenteraman rumah tangga gue dengan pertanyaan investigasi lo!”
Tasya menatap Hanan dan Kanza bergantian.
“Oke, deh. Gue yang salah, nyuruh lo ngungkapin cerita behind the scenes yang pasti lebih barbar dari ini.”
Kanza hanya tersenyum tipis penuh kemenangan, sementara Hanan tetap diam menikmati kopi yang ia pesan.
Meski tak banyak bicara, kehadiran Hanan memberikan ketenangan di tengah obrolan absurd itu—seperti pawang yang sedang mengawasi peliharaannya bermain.
Pagi berikutnya terasa biasa saja. Kanza baru selesai sarapan sereal sambil duduk menyamping di kursi, kakinya menggoyang-goyang santai, dan rambutnya dikuncir asal-asalan. Ponselnya berdering. Notifikasi pesan dari Tasya masuk.
Tasya: “Lo hari ini gabut ga? Gue nemu sesuatu buat hiburan kita berdua wkwkwk.”
Kanza mengangkat alis. “Hiburan apaan lagi si Tasya, jangan-jangan ngajak tawuran ibu-ibu kantin,” gumamnya sambil terkekeh pelan.
Tidak lama, Hanan muncul dari dalam kamar dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, terlihat sangat rapi. Kanza menoleh dan berseru seenaknya.
“Mas, aku boleh nggak izin ketawa seharian hari ini? Kayaknya bakal dapet hiburan gratis dari Tasya.”
Hanan hanya mengangguk sambil merapikan jam tangannya dengan teliti.
“Asal jangan kelewatan, Kanza. Ingat batasannya.”
Kanza melongo. “Kok Mas ngomongnya kayak aku suka kelewatan banget sih? Emang iya sih... Tapi kan jangan diumumin ke publik!”
Sesampainya di kampus, Kanza langsung disambut Tasya dengan senyum licik yang khas. Mereka menyelinap ke pojok kantin yang sepi.
“Lo... gue punya surprise!” ujar Tasya sambil menyodorkan sesuatu dari dalam kantong plastik kecil.
Kanza mendelik curiga. “Jangan bilang itu alat tes kehamilan alias testpack.”
“Yoi. Tepat sekali.”
“Terus jangan bilang hasilnya... garis dua?!”
Tasya cengar-cengir seperti anak maling ayam yang berhasil kabur.
“Lo pura-pura panik, terus kasih ini ke suami lo. Bikin dramanya yang meyakinkan. Gue pengin lihat ekspresi dosen paling kalem itu kalau dapet kabar dadakan!”
“WOI NGAPA GUE JADI TIKTOK CHALLENGE BEGINI SIH?!” Kanza nyaris teriak, tapi kemudian dia tertawa sendiri.
“Ya udah ya udah... demi hiburan, Kanza bersedia berkorban.”
Sore harinya, begitu masuk ke dalam mobil, Kanza mulai beraksi. Ia berpura-pura gelisah.
Napasnya dibuat ngos-ngosan, wajahnya dibuat sepucat mungkin. Ia menggeser tasnya, menarik testpack bohongan itu dari saku, dan menyodorkannya ke Hanan dengan gerak-gerik dramatis.
“Mas... Kanza... Kanza garis duaa...” ucapnya dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
Hanan melirik benda itu sekilas, matanya membelalak kaget. Ia langsung menginjak rem dan memberhentikan mobil di pinggir jalan dengan gerakan mendadak.
“Kanza, kamu serius? Kamu nggak bercanda kan?” suara Hanan terdengar sangat dalam dan serius.
Kanza menunduk, menggigit bibir menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan, lalu akhirnya... meledak juga tawanya.
“HAHAA! MAS! Kanza boongggggg~ Ini cuma properti dari Tasya!”
Hanan terdiam membatu. Matanya menyipit menatap istrinya yang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut. Tangannya terulur mencubit hidung Kanza dengan gemas sekaligus sebal.
“Kanza!”
“HAHAHA Kanza menang! Kanza berhasil prank Mas Hanan! Mana ekspresinya? Lemes, pucet, terus stop di pinggir jalan lagi... Astaga Mas panikan bener yaa kalau urusan ginian~”
Hanan mengusap wajahnya, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tadi sempat meloncat.
“Ya Allah... Kanza, Mas pikir beneran. Mas tadi sudah mikir mau beli perlengkapan bayi apa dulu...”
Sayangnya, prank ini tak berhenti di situ. Entah bagaimana caranya, foto testpack itu nyasar ke grup keluarga besar. Entah siapa yang iseng, dugaan kuat jatuh pada Tasya yang terlalu bersemangat.
Tak butuh lima menit, Umah sudah menelepon. Suaranya penuh isak tangis bahagia yang terdengar nyaring dari speaker ponsel.
“Nak Kanza... Alhamdulillah, Umah seneng banget dengar kabarnya! Umah langsung sujud syukur tadi!”
Kanza membeku di tempat. Tawanya lenyap seketika.
“EH—UMAH! APAAN NIH?! KANZA BELUM—ITU—ITU CUMA—MASSSSSS! UMAH NANGIS NIH GARA-GARA KAMU NGGAK JELASIN!”
Hanan yang duduk di sebelah hanya tersenyum geli, tampak sangat menikmati karma yang datang begitu cepat pada istrinya.
“Rasain. Senjata makan tuan, kan?”
Malam harinya, Kanza meringkuk lesu di ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
“Kanza kenapa iseng banget sih, Mas... Sampai Umah udah siap-siap mau bikin bubur merah putih buat syukuran...”
Hanan mendekat, mengusap kepala istrinya dengan lembut dan penuh sayang.
“Makanya, jangan mainan garis dua kalau belum siap mental menghadapi garis kehidupan yang sebenarnya.”
“Kanza siapnya garis lurus aja dulu Mas, rute dari rumah ke kampus sama dari dapur ke kasur. Udah, itu cukup buat kapasitas otak Kanza saat ini.”
Hanan terkekeh rendah, lalu menarik Kanza ke dalam pelukannya. Rasa hangat menjalar, membuat rasa bersalah Kanza sedikit berkurang.
Dan di pelukan itu, Kanza bergumam pelan dengan dendam yang lucu.
“Next time Tasya gue prank balik. Gue kirim dia surat tilang palsu atau surat panggilan sidang. Lihat aja nanti!”
~~~NEXT~~~