"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan saat pemagaran
"Sudah, kata Abah yai hanya orang yang punya perjanjian dengan Iblis itu yang bisa membuat Iblis itu lemah" jawab Dirga
"Om Adrian benar, hanya orang yang bersekutu dengannya yang bisa membuatnya lemah, dulu Lucas membuat perjanjian darah dengan Iblis itu supaya Iblis itu bisa mendiami tubuhnya bahkan bisa menyerupai wajah banyak manusia dengan tujuan untuk menghidupkan adiknya kembali, tapi iblis itu ingkar, dia punya tujuan sendiri untuk membangkitkan kekasihnya jadi secara otomatis perjanjian itu batal" jawab Sagara
"Radini, entah apa yang di janjikan Iblis untuknya sampai dia bersekutu dengan Iblis itu" ungkap Dirga
"Pasti lebih dari sekedar perjanjian, itu mungkin ritual turun temurun makanya Iblis itu semakin kuat dan tidak takut apapun" jawab Sagara
"Ritual turun temurun?"
"Pemuja Iblis, sekte itu sudah banyak tapi sepertinya iblis ini di sembah bukan sekelompok orang, tapi hanya beberapa keturunan tertentu" ucap Sagara
"Radiah, ibunya Radiah, neneknya bahkan buyutnya, keturunan Sukarna rata rata hanya perempuan yang berkuasa sementara para laki laki hanya jadi perwakilan ayah mereka yang akan meninggal setelah anak perempuan di keluarga itu lahir" ungkap Bintang
"Papa tahu dari mana?" tanya Dirga
"Nenek Rukmini, dia tahu semua seluk beluk keluarga itu, hanya saja dulu kami sama sekali tidak curiga karena memang mereka tidak pernah terlihat melakukan ritual apapun atau memberikan sesajen dalam setiap melakukan sesuatu seperti warga di sini" jawab Bintang
••••••••••••••
Malam hari pukul sembilan, semua laki laki sudah berkumpul di luar sementara para perempuan di minta untuk tetap di rumah dan tidak boleh keluar meskipun ada yang memanggil mereka dengan suara para suami ataupun orang yang mereka kenal.
Kalian sudah siap?" tanya Badaruddin yang langsung muncul dengan wujud aslinya, seekor harimau putih yang berdiri di hadapan empat raja jin yang sudah di pilih Hala.
"Ya, kami sudah siap" jawab semuanya
"Kita mulai dari mana?" tanyanya
"Kita mulai dari setiap sudut tanah Bagaskara, sementara paduka Sagara akan tetap berada di titik tengah untuk menyempurnakan pagar gaib ini" jawab Hala
"Begitu, berikan pedang itu dan juga batu milikmu Gandra, aku akan memasang pagar gaib yang cukup kuat di tanah ini, minta semua orang untuk masuk ke dalam rumahnya agar aku bisa leluasa terbang di area lahan ini" ucap Kalandra
"Ini batunya, dan ini pedangnya" ucap Gandra memberikan batu milik Sigit dan pedang miliknya yang sebenarnya tidak bisa di pegang sembarang sosok, tapi Sagara bisa memegangnya.
"Pedang itu di pegang paduka Sagara dengan mudah, padahal kita saja tidak bisa mengangkatnya karena begitu berat" bisik Hala
"Itulah keistimewaan paduka Sagara, dia bahkan punya pasukan gaib sendiri" jawab Rukmini
Wuss. Wuss.
Kembali angin bertiup kencang, Rukmini dan Hala berkeliling lahan untuk meminta para warga yang masih di sekitar sana masuk ke rumah masing masing, awalnya mereka kebingungan tapi setelah Rumi mengatakan kalau leluhur kampung akan lewat ke sana, barulah mereka mau masuk dan mengunci pintu rumah mereka.
"Jalaga, energi kamu dan saya bisa membuat makhluk itu kepanasan tidak ya?" bisik Sagara
"Kalau energi Hamka dan Gafi iya, tapi energi paduka juga sama, mungkin bisa juga" jawab Jalaga
"Masukkan ke dalam pusaran angin itu" ucap Sagara yang tidak sadar kalau Dirga mendengarkan pembicaraan mereka, dia akhirnya tahu kalau putra sahabat Adrian itu bukanlah orang biasa.
Trak. Trak. Trak.
Suara retakan kaca terdengar di setiap penjuru tempat itu, bahkan angin itu terus semakin membesar, membuat pagar yang sudah hampir terbentuk itu semakin terlihat mengelilingi area tanah Bagaskara dari mulai tengah sampai ke setiap sisi. Pusaran itu akan terus berputar hingga berjam jam di tanah Bagaskara sampai bisa membuat pagar yang kokoh.
######
Di dalam rumah.
"Di luar sepertinya sedang terjadi sesuatu, kita harus tetap di sini" ucap Silvia
"Iya ma, apa mas Dimas akan baik baik saja?" tanya Kania khawatir.
"Mereka pasti akan saling melindungi, tugas mereka di luar itu sangat berat, bahkan tak hanya membuat pagar, mereka juga pasti harus menghalau setiap gangguan mistis yang datang mengganggu" jawab Silvia juga khawatir.
"Kenanga! Aku datang menjemput kamu, ayo kita pulang" ucap suara Sigit di luar rumah Bintang
Tok. Tok. Tok.
"Itu mas Sigit, Tante, Kenanga pulang dulu ya" ucap Kenanga saat mendengar ketukan pintu di waktu yang sudah memasuki waktu tengah malam.
"Tapi Kenanga, tadi Sigit sempat bilang tidak boleh membuka pintu kalau tidak mengucapkan salam" ucap Silvia
"Kenanga, ayo ini sudah larut malam, aku belum buat nasi goreng untuk kamu"
"Itu mas Sigit, dia janji mau buat nasi goreng untuk Kenanga" yakin Kenanga berlari mendekati pintu.
"Jangan Kenanga, jangan di buka" ucap Kania menarik Kenanga.
"Kenanga, ayo cepat, aku mau mandi, aku sudah gerah!"
"Itu bukan Sigit, itu Mungkin makhluk yang bersembunyi di sekitar rumah untuk menjebak kita" ucap Kania memegangi Kenanga.
"Tapi mas Sigit juga janji mau buat nasi goreng untuk Kenanga, mungkin mas Sigit lupa ucap salam"
"Jangan keluar, dengarkan Tante, duduk di sini, mereka sedang memagari kampung ini, makhluk itu harusnya sudah pergi" ucap Silvia
"Mungkin ada yang bersembunyi halaman samping rumah non, Sumi takut" ucap Sumi
"Sumi, Non Kania, buka pintunya, saya bawa bayi, dia terus menangis" sekarang yang terdengar adalah suara Herman memanggil nama istrinya. Bahkan ada tangisan seorang bayi juga terdengar di sana.
"Itu mas Herman, ayo buka, ada suara bayi nangis" ucap Sumi
"Bagaimana ma? Kang Herman memang belum ke sini sejak tadi pagi ke kampung sebelah untuk mengantarkan sayuran" ucap Kania
"Coba kita intip pelan pelan, kita lihat dari dalam, siapa yang ada di luar" jawab Silvia
"Jangan lihat mata mereka, mata mereka punya hipnotis yang bisa membuat semua orang membuka pintu" bisik Sahara yang masih di luar untuk membantu para raja jin dan juga para laki laki.
"Kania, tidak perlu di buka, itu bukan Sigit dan kang Herman, kata Sahara itu makhuk jahat" ucap Silvia
Brak. Brak.
Gebrakan di pintu dan jendela mulai membuat mereka ketakutan, apalagi gebrakan itu semakin banyak terdengar di seluruh sisi rumah itu. Tapi pagar gaib yang sudah mulai terbentuk masih belum sampai ke rumah Bintang yang berada di ujung tanah Bagaskara.
Kenanga bisa melihat beberapa wajah makhluk makhluk itu dari balik kaca jendela yang gordennya terus bergerak, wajah mereka sebagian ada yang pucat, tapi juga ada yang hitam legam, mata mereka putih semua dan juga banyak luka di tubuh mereka, rambut mereka juga botak dan memiliki leher yang di pasangi benang berwarna merah.
Mereka juga terus memanggil nama orang orang yang ada di dalam rumah itu, tapi ada satu nama yang di panggil paling sering, Kenanga, dia terus di panggil bahkan di paksa untuk keluar.
Sreett.
Suara goresan kuku panjang makhluk itu mulai terdengar di pintu depan rumah Bintang
Brak.
"Keluar kamu Kenanga!" teriak makhluk itu dengan suara menggelegar.