Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
Raymond melangkah lebih dulu keluar kelas sambil menyandang tas Angela di bahunya.
Angela menggeleng pasrah, lalu berlari kecil menyusul.
"Ray, tunggu!" Langkah Raymond melambat. Ia menoleh sedikit ke belakang.
"Ada apa?" Angela menunjuk tas yang kini berada di pundak pria itu.
"Itu tas gue."
"Iya."
"Gue masih bisa bawa sendiri." Raymond menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng pelan.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, balikin."
"Nanti." Angela mengembuskan napas panjang.
"Dasar keras kepala." Mendengar gumaman itu, Kevin yang berjalan di belakang mereka nyaris tersedak tawanya.
"Bos, baru kali ini ada yang berani ngomong begitu ke Anda." Raymond hanya melirik Kevin sekilas.
"Lalu?"
"Nggak ada." Kevin langsung mengangkat kedua tangan. "Saya cuma kagum."
Maya yang ikut berjalan di belakang Angela terkikik pelan.
"Ang, kayaknya sekarang cuma lo yang bisa nyuruh Raymond." Angela langsung menoleh.
"Mana bisa?"
"Bisa, cuma dia pura-pura nggak nurut."
Ucapan Maya membuat Kevin mengangguk cepat.
"Betul! Persis begitu."
"Kevin." panggilnya, suara Raymond terdengar datar.
"Iya, Bos?"
"Gak usah banyak bicara." Kevin langsung menutup mulutnya sendiri.
"Siap."
Mereka berjalan menyusuri koridor fakultas.
Mahasiswa yang berpapasan satu per satu berhenti melangkah, menatap Raymond penuh kagum.
"Eh... itu Raymond."
"Lho, dia bawain tas cewek?"
"Serius? Gue nggak salah lihat?"
Bisik-bisik kembali memenuhi koridor.
Angela mulai merasa tidak nyaman. Ia mempercepat langkah hingga bisa berjalan sejajar dengan Raymond.
"Ray?" bisik Angela. Sedangkan Raymond hanya berdehem pelan.
"Hm?"
"Banyak yang ngelihatin."
"Biarkan."
"Nggak bisa gitu."
"Kenapa?" Angela menunjuk sekeliling dengan dagunya.
"Karena mereka salah paham."
Raymond menghentikan langkahnya, Ia menoleh menatap Angela dengan wajah tenang.
"Lalu?" Angela berkedip.
"Lalu... ya jelasin." Raymond mengangkat sebelah alis.
"Jelaskan apa?"
"Kalau kita cuma teman." Raymond terdiam beberapa detik.
"Memang kita bukan teman?" Angela langsung kehabisan kata-kata.
"B-bukan gitu maksud gue."
"Lalu?" Angela mengacak rambut poni yang mulai berantakan.
"Aduh... susah jelasinnya." Melihat ekspresi bingung Angela, Maya langsung menahan tawa.
"Kasihan banget." Kevin ikut mengangguk.
"Bos memang spesialis bikin orang bingung."
Raymond kembali melanjutkan langkahnya.
"Perpustakaan."
"Iya... iya."
Gedung perpustakaan kampus jauh lebih tenang dibanding koridor fakultas.
Begitu pintu otomatis terbuka, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka. Angela mengembuskan napas lega.
"Nah... akhirnya sepi juga."
Raymond meletakkan tas Angela di salah satu meja baca.
"Duduk." Angela mengerutkan dahi.
"Lho?"
"Aku ambilkan bukunya." Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak usah. Gue bisa cari sendiri."
"Buku apa?"
"Mata Kuliah Pengantar Manajemen sama Ekonomi Dasar." Raymond mengangguk pelan, langsung mencari buku yang di sebutkan tadi.
"Tunggu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju rak-rak buku. Angela hanya bisa memandangi punggung pria itu. Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke arah Maya.
"Dia emang selalu begitu?" Maya justru balik menatap Kevin. Kevin menghela napas sambil tersenyum tipis.
"Kalau ke orang lain?"
"Iya."
"Nggak."
"Hah?" Kevin memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Bos itu biasanya kalau ada yang minta tolong, jawabannya cuma dua."
"Apa?"
"'Nanti' atau 'nggak'."
"Lah..."
"Tapi sejak ketemu Angela..." Kevin terkekeh kecil. "Bos malah sibuk nolongin duluan."
Angela menggaruk pipinya yang mendadak terasa hangat.
"Perasaan kalian aja."
"Bukan." Kevin menggeleng mantap.
"Satu kampus juga sadar kok."
Belum sempat Angela membalas, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Raymond kembali membawa tiga buku tebal di tangannya. Ia meletakkan semuanya di depan Angela.
"Ini." Angela membelalakkan mata.
"Cepat banget." Raymond menarik salah satu kursi dan duduk di hadapannya.
"Gue hafal letaknya." Kevin langsung berbisik pelan kepada Maya.
"Bos hafal seluruh rak perpustakaan." Maya membelalak.
"Serius?" Kevin mengangguk.
"Dulu hampir tiap malam beliau belajar di sini." Angela memandang Raymond dengan sedikit kagum.
"Pantes IPK lo tinggi." Raymond hanya menjawab singkat.
"Belajar." Angela tersenyum kecil.
"Kirain ada rahasia khusus."
"Ada."
"Apa?" Raymond menatap lurus ke arah Angela.
"Disiplin."
Jawaban sederhana itu membuat Angela mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Raymond, ia melihat sisi lain pria itu. Di balik sikap dingin dan wajah tanpa ekspresi.
Raymond ternyata bukan hanya cerdas.
Ia juga pekerja keras. Tanpa disadari, senyum tipis mulai menghiasi wajah Angela.
Sementara dari balik rak buku di ujung ruangan, sepasang mata diam-diam memperhatikan mereka.
Clarissa.
Tangannya mengepal kuat saat melihat Raymond duduk berhadapan dengan Angela sambil sesekali menjelaskan isi buku yang baru diambilnya.
"Angela..." Suara Clarissa nyaris tak terdengar.
"Gue nggak akan membiarkan kamu merebut dia begitu saja." Keheningan perpustakaan kembali menyelimuti ruangan.
Hanya terdengar bunyi pelan lembaran buku yang dibalik dan ketukan ujung pensil Raymond di atas meja.
Angela mengernyit sambil menatap grafik di bukunya.
"Ray..."
"Hm?"
"Bagian ini bikin kepala gue muter."
Raymond menggeser kursinya mendekat. Jarak mereka kini hanya dipisahkan oleh tumpukan buku.
"Coba lihat." Angela mendorong bukunya ke depan.
"Nih. Dari tadi gue baca berkali-kali, tetap nggak masuk."
Raymond menundukkan kepala. Aroma samar parfum pria itu membuat Angela tanpa sadar menahan napas sesaat.
Dengan tenang, Raymond mengambil pensil, lalu menggambar bagan sederhana di selembar kertas kosong.
"Lupakan dulu teori yang rumit." Ujung pensilnya bergerak pelan. "Anggap Lo punya warung." Angela langsung terkekeh.
"Kenapa harus warung?"
"Soalnya paling gampang dipahami."
"Oke, lanjut."
Raymond mulai menjelaskan dengan suara rendah dan sabar. Kalimat demi kalimat keluar tanpa tergesa. Sesekali ia berhenti hanya untuk memastikan Angela benar-benar mengerti.
"Kalau modalnya seratus ribu..."
"Lalu untungnya lima puluh ribu," sambung Angela cepat. Raymond menggeleng tipis.
"Belum."
"Hah?"
"Lo terlalu cepat menyimpulkan."
Angela langsung menggaruk pipinya sambil nyengir.
"Ketahuan, ya?" Raymond mengangguk pelan.
"Dengarkan dulu sampai selesai."
"Siap , Pak Dosen." Mendengar celetukan itu, sudut bibir Raymond terangkat nyaris tak terlihat. Ia kembali melanjutkan penjelasannya.
Beberapa menit kemudian, mata Angela tiba-tiba membesar.
"Oalah!" Ia menepuk pelan meja. "Kenapa gue baru ngerti sekarang?" sambungnya.
"Karena sekarang kamu paham konsepnya."
Angela tersenyum lebar.
"Ray..."
"Hm?"
"Lo ternyata jago ngajarin orang." Raymond terdiam beberapa detik.
Tatapannya jatuh pada wajah Angela yang sedang tersenyum puas karena akhirnya memahami materi.
"Aku nggak jago." Angela menggeleng cepat.
"Jago."
"Nggak."
"Iya."
"Nggak." Angela mendengus geli.
"Yaudah. Keras kepala."
Untuk pertama kalinya, tawa kecil keluar dari bibir Raymond.Sangat pelan. Namun cukup membuat suasana di meja itu berubah hangat. Kevin yang melihat dari kejauhan sampai melongo. Ia menyikut pelan lengan Maya.
"Eh..." Maya menoleh.
"Apa?"
"Lo lihat nggak?"
"Apa?"
Kevin menunjuk ke arah Raymond dengan dagunya.
"Bos ketawa." Maya membelalak.
"Astaga..." Ia langsung menutup mulutnya sendiri. "Dua tahun gue kuliah di sini, baru kali ini lihat dia ketawa gara-gara cewek."
Sementara itu, Di balik salah satu rak buku, Clarissa berdiri tanpa bergerak.
Tangannya menggenggam erat buku yang dibawanya. Semakin lama ia memandangi Raymond, semakin sesak dadanya.
Selama ini...
Ia selalu menjadi orang yang berinisiatif mendekati Raymond.
Mengajaknya berbicara.
Mengundangnya rapat.
Mencari alasan agar bisa berjalan berdampingan.
Namun hasilnya selalu sama.
Raymond hanya menjawab seperlunya.
Dingin.
Singkat.
Menjaga jarak.
Bahkan sering kali pergi lebih dulu sebelum percakapan benar-benar dimulai. Tapi hari ini,
Pria yang sama justru duduk hampir satu jam menemani Angela belajar. Menjelaskan materi dengan sabar, bahkan tertawa.
Hal yang tidak pernah berhasil Clarissa lihat selama dua tahun terakhir.
Kenapa...?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Apa yang Angela punya... sampai Raymond berubah seperti ini? batinnya.
Tanpa sadar, kuku Clarissa mulai menekan sampul buku hingga meninggalkan bekas.
Rasa iri yang selama ini hanya berupa percikan kecil kini perlahan berubah menjadi api. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Lalu melangkah mendekati meja mereka.
"Raymond?" panggil Clarissa
Suara itu membuat Angela dan Raymond sama-sama mengangkat kepala.
Clarissa tetap memasang senyum anggun.
Namun hanya dirinya yang tahu betapa sulit mempertahankan senyum itu.
"Kirain kalian sudah pulang." Raymond menggeleng singkat.
"Belum."
"Kalian belajar?"
"Iya."
Angela menjawab lebih dulu sambil mengangkat lembar catatannya.
"Raymond lagi ngajarin gue. Akhirnya gue paham juga." Senyum Clarissa sedikit menegang.
"Begitu. Ya. " Tatapannya beralih kepada Raymond. "Setahuku kamu paling nggak suka ngajarin orang." Raymond menutup bukunya perlahan.
"Itu dulu." Clarissa masih mencoba tersenyum.
"Terus sekarang?" Raymond menoleh ke arah Angela. Sorot matanya tanpa sadar menjadi lebih lembut.
"Kalau Angela, "Ia berhenti sejenak. "Aku nggak keberatan." Kalimat sederhana itu menghantam Clarissa jauh lebih keras daripada penolakan apa pun.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena Raymond memilih Angela.
Melainkan karena untuk pertama kalinya...
Ia sadar. Yang berubah bukan Raymond.
Melainkan hanya cara Raymond memperlakukan Angela. Dan perbedaan itu begitu jelas hingga semua orang di ruangan bisa melihatnya. Ucapan Raymond membuat Angela menghentikan aktivitasnya merapikan catatan. Ia mengangkat kepala, lalu menatap Raymond dengan alis bertaut.
"Hah?" Angela memiringkan kepala. "Beda apanya?" Raymond balas menatapnya tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu.
Angela mulai gelisah.
"Kenapa malah diem?" protesnya sambil mengetuk-ngetukkan ujung pensil ke meja. "Jawab, dong." Raymond akhirnya membuka suara.
"Rajin nanya." Angela langsung mendelik.
"Lah!" Ia menunjuk hidungnya sendiri.
"Itu pujian apa sindiran?"
"Fakta."
"Cih." Angela memutar bola matanya malas.
"Orang lagi serius nanya juga." Raymond mengangkat bahu pelan.
"Aku juga serius." Angela mendengus pelan.
"Nyebelin." Bukannya membalas, Raymond justru mengambil buku Angela yang masih terbuka. Ia membalik satu halaman, lalu mengetuk bagian yang tadi dipelajari.
"Kalau nggak banyak nanya..."
Tatapannya kembali bertemu dengan Angela. "kamu nggak bakal paham secepat ini."
Angela yang semula hendak membalas tiba-tiba terdiam.
"Oh." Pipinya sedikit menghangat. "Kirain mau ngeledek." sambungnya.
"Nggak." Raymond menggeleng pelan.
"Kamu cepat nangkep." Angela spontan nyengir.
"Berarti gue pinter?" Raymond menatapnya beberapa detik.
"Lumayan." Angela langsung mencibir.
"Lumayan doang?"
"Hm."
"Ih, pelit banget muji orang." Sudut bibir Raymond kembali terangkat tipis.
Melihat senyum kecil itu, Angela langsung menunjuk wajah Raymond.
"Nah! Ketawa lagi, kan?"
"Nggak."
"Jelas-jelas senyum."
"Nggak."
Angela menoleh ke arah Maya.
"May, lo lihat, kan?"
Maya yang sejak tadi menahan tawa langsung mengangguk semangat.
"Lihat."
"Tuh!" Kevin ikut nimbrung dari kursi belakang.
"Saya juga saksi." Raymond menghela napas pelan.
"Kalian terlalu berisik." Kevin langsung terkekeh.
"Bos malu."
"Aku nggak malu."
"Terus kenapa senyumnya disembunyiin?"
Raymond melirik Kevin datar.
"Besok tugasmu aku tambah." Kevin langsung menutup mulutnya sendiri.
"Oke... saya diam." Maya sampai tertawa kecil melihat ekspresi Kevin yang langsung ciut.
Angela ikut terkekeh.
"Pantes lo nurut."
"Nggak bisa macam-macam sama dia," bisik Kevin dramatis. "IPK gue masih pengin selamat."
Semua tertawa pelan. Suasana yang tadinya sunyi kini berubah jauh lebih hangat.
Namun tawa itu perlahan mereda ketika Clarissa melangkah mendekat.
"Raymond." Raymond menoleh.
"Hm?" Clarissa berusaha tersenyum seperti biasa.
"Besok presentasi organisasi, jangan lupa."
"Ingat."
"Aku udah siapin semua berkasnya."
"Makasih." Jawaban Raymond tetap singkat. Tak ada senyum, tak ada candaan.
Nada bicaranya kembali datar seperti biasanya, Perubahan itu terasa begitu kontras. Clarissa menggigit pelan bibir bawahnya, Ia lalu memandang Angela.
"Kalian kelihatannya akrab."
Angela menggaruk tengkuknya sambil tertawa canggung.
"Baru kenal, kok."
"Iya?"
Clarissa mengangguk tipis.
"Soalnya..." pandangannya bergeser ke Raymond. "Aku belum pernah lihat dia ngobrol selama ini sama perempuan."
Angela ikut melirik Raymond.
"Serius?"
Raymond hanya menjawab pendek.
"Nggak penting."
Angela langsung menyenggol pelan lengan Raymond.
"Eh."
"Apa?"
"Orang lagi ngobrol."
"Hm."
"Jawabnya yang panjang dikit, napa."
Kevin spontan menepuk meja.
"Nah! Itu dia yang dari dulu pengen saya bilang."
Maya tertawa hingga bahunya berguncang.
"Kevin, berani juga lo."
Kevin langsung mengangkat kedua tangan.
"Kan yang ngomong Angela."
Raymond mengembuskan napas pelan.
Tatapannya beralih ke Angela.
"Kamu maunya sepanjang apa?" Angela pura-pura berpikir.
"Hmm." Ia mengangkat telunjuk.
"Minimal sepuluh kata." Raymond mengangguk pelan seolah menerima tantangan.
"Oke." Angela menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Raymond akhirnya berkata dengan wajah datar,
"Besok... aku... akan... bicara... lebih... dari... sepuluh... kata... mungkin."
Sesaat suasana hening, Lalu,
"Hahaha!" Angela langsung tertawa sampai memegang perutnya.
"Ya ampun! Lo ternyata bisa bercanda juga!"
Maya ikut terpingkal-pingkal. Kevin bahkan sampai menepuk-nepuk meja.
"Sumpah, Bos baru aja bikin jokes!"
Raymond hanya memandang mereka satu per satu dengan wajah tanpa dosa.
"Apa yang lucu?" Kalimat itu justru membuat tawa mereka semakin pecah.
Di tengah gelak tawa itu, hanya Clarissa yang tetap diam. Ia memandangi Raymond tanpa berkedip, tawa mereka perlahan mereda.
Angela masih mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
"Astaga..." katanya sambil menggeleng. "Gue baru tahu ternyata lo bisa ngelucu." Raymond menatapnya datar.
"Aku nggak bercanda."
"Nah, itu!" Angela kembali terkekeh. "Justru itu yang lucu." Kevin sampai memukul pelan meja.
"Bos, saya nyerah."
"Kenapa?"
"Sense of humor Bos aneh." Raymond mengangkat sebelah alis.
"Emang harus sama?" Kevin langsung bungkam.
"Nggak juga, sih." Maya menahan tawa sambil menepuk bahu Kevin.
"Udah, Kev. Jangan cari gara-gara."
Raymond menutup buku yang ada di depannya, lalu merapikan pensil dan catatan Angela. Gerakannya rapi, nyaris seperti kebiasaan. Angela yang melihat itu langsung mengernyit.
"Lho?"
"Hm?"
"Itu catatan gue."
"Iya."
"Kok lo yang beresin?"
"Biar cepat." Angela buru-buru mengambil bukunya.
"Gue bisa sendiri."
Raymond melepaskan pegangannya tanpa protes.
"Oke." Angela malah jadi serba salah.
"Kok dilepas?"
"Tadi katanya bisa sendiri."
"Iya sih." Angela menggaruk pipinya yang mendadak terasa panas. "Tapi jangan langsung dilepas juga."
Kevin yang mendengar langsung menutup mulut, menahan tawa. Maya menyenggol lengannya pelan.
"Ketawa aja."
"Nggak kuat." Kevin akhirnya terkekeh pelan.
"Bos sama Angela tuh lucu." Angela menoleh.
"Lucu apanya?"
"Kalian berdua kayak nggak sadar lagi ngobrol kayak orang yang udah kenal lama."
Angela langsung membantah.
"Mana ada."
"Iya ada."
"Nggak." Kevin menunjuk Raymond.
"Coba lihat." Angela refleks menoleh.
Raymond ternyata sudah kembali merapikan lembar catatannya yang tadi sempat berantakan. Tanpa diminta, tanpa banyak bicara, seolah itu hal yang biasa.
Angela memandangi tangan Raymond beberapa detik. Lalu tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahnya.
"Ray."
"Hm?"
"Lo emang begini sama semua orang?"
Raymond berhenti merapikan buku.
"Nggak."
"Terus?"
"Cuma kalau lagi pengin." Angela mendecakkan lidah.
"Jawaban lo selalu bikin orang penasaran."
Raymond menatapnya tenang.
"Memangnya kamu penasaran?" Angela refleks menjawab,
"Iya." Begitu kata itu keluar, Angela langsung membekap mulutnya sendiri. Maya langsung membulatkan mata, Kevin sampai menahan napas. Angela buru-buru menggeleng.
"Maksud gue... penasaran sama sifat lo."
Raymond mengangguk pelan.
"Oh."
"Cuma gitu?"
"Iya." Angela mengembuskan napas lega.
"Huft... kirain lo bakal ngeledekin."
"Nggak."
Raymond berdiri sambil membawa tasnya.
"Ayo."
"Mau ke mana lagi?"
"Makan."
Angela mengangkat kotak bekalnya.
"Gue udah bawa bekal."
"Makan tetap makan."
Angela tertawa kecil.
"Iya juga."
Saat mereka hendak meninggalkan meja, petugas perpustakaan menghampiri.
"Maaf."
Keempatnya serentak menoleh.
Petugas itu tersenyum ramah.
"Kalian boleh ngobrol, tapi pelan-pelan ya. Ini perpustakaan."
Angela langsung menutup mulutnya.
"Waduh... maaf, Bu."
"Iya, tadi ketawanya lumayan kedengeran sampai meja depan."
Pipi Angela langsung memerah.
Ia buru-buru menunduk.
"Aduh... malu banget."
Kevin ikut menggaruk kepala.
"Maaf, Bu. Tadi kebawa suasana."
Petugas itu tersenyum maklum.
"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang pelan."
"Iya, Bu."
Setelah petugas pergi, Angela langsung memukul pelan lengan Kevin.
"Nih, gara-gara lo."
Kevin melotot.
"Lho? Yang ketawa paling kenceng siapa?"
Angela menunjuk dirinya sendiri sambil nyengir.
"...Gue."
"Makanya."
Maya kembali tertawa kecil.
"Kita keluar aja, deh. Nanti diusir beneran."
Raymond mengambil tas Angela yang berada di sandaran kursi.
Refleks, Angela langsung mengulurkan tangan.
"Eh, biar gue aja."
Raymond menggeleng pelan.
"Nggak."
"Ray..."
"Ayo."
Ia sudah lebih dulu melangkah menuju pintu.
Angela hanya bisa mengembuskan napas panjang sebelum mengejar langkahnya.
"Ya ampun..."
Ia menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Lo tuh kalau udah mutusin sesuatu, susah banget dibantah."
Raymond melirik sekilas.
"Kamu juga."
Angela mengerutkan dahi.
"Hah?"
"Sama."
"Lah, kok gue ikut-ikutan keras kepala?"
Raymond menatapnya beberapa saat, lalu menjawab singkat,
"Soalnya..."
Ia berhenti sejenak, membuat Angela tanpa sadar menunggu kelanjutan ucapannya.
"...kamu selalu berhasil bikin aku ngalah."
Langkah Angela langsung terhenti.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia hanya menatap punggung Raymond yang kembali berjalan santai menuju pintu perpustakaan.
Sementara di belakang mereka, Kevin dan Maya saling berpandangan.
Kevin menyenggol pelan bahu Maya.
"May..."
"Hm?"
"Menurut lo..."
Kevin menghela napas pelan.
"...Bos sadar nggak sih kalau barusan dia bikin jantung orang deg-degan?"
Maya tersenyum tipis sambil melihat Angela yang masih berdiri mematung.
"Kayaknya..."Ia terkekeh pelan.
"...yang paling nggak sadar justru Raymond sendiri."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y