Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
Keheningan malam di Hutan Kematian pecah berkeping-keping. Detik ketika Rock Lee menghilang dari pandangan mata telanjang, yang tertinggal di area terbuka itu hanyalah deru angin yang menderu kencang, mirip sebilah pisau raksasa yang menyayat atmosfer. Pasir-pasir di bawah kaki Gaara mendadak terlempar ke udara, berputar-putar tanpa arah yang jelas karena kehilangan orientasi terhadap targetnya.
BUM!
Sebuah hantaman keras terdengar dari sisi kanan Gaara. Dinding pasir pelindung otomatisnya bangkit, namun bentuknya tidak lagi sempurna rapi seperti sebelumnya. Benteng pertahanan itu meledak menjadi serpihan debu halus tepat saat kepalan tangan Lee mendarat di sana. Sebelum butiran pasir yang hancur itu sempat jatuh kembali ke tanah, sebuah hantaman lain sudah terdengar dari arah yang berlawanan.
BUM! BUM! BUM!
"Di-dari mana datangnya serangan itu?!" Kankuro berteriak histeris, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sangat panik dari atas dahan pohon. Matanya berusaha keras menangkap siluet hijau, namun yang dia dapati hanyalah kilatan-kilatan angin dan suara hantaman bertubi-tubi yang mengguncang udara. "Aku tidak bisa melihatnya! Temari, apa kamu bisa melihat gerakan bajingan itu?!"
Temari tidak menjawab. Mulutnya setengah terbuka, dan matanya yang besar menatap lurus ke bawah dengan tatapan horizontal yang kosong. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, melewati pipinya yang mendadak pucat. "Tidak... ini tidak masuk akal. Gerakannya... gerakannya melampaui batas kecepatan reflek manusia. Dia tidak hanya berlari, Kankuro. Dia... dia memantul di antara molekul udara!"
Di tengah hamparan pasir, Gaara berdiri terpaku. Kepalanya tersentak ke kiri, lalu ke kanan, mengikuti arah hantaman yang menembus pertahanan pasirnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup bocah berambut merah itu, pelindung otomatisnya mulai tertinggal selangkah di belakang. Pasir yang biasanya selalu siap sedia membungkus tubuhnya kini bergerak dengan sangat kacau, memutar dan meninggi dengan ritme yang frustrasi.
"Kenapa... kenapa tidak bisa kena?!" Gaara mendesis, giginya bergeletuk rapat hingga mengeluarkan suara gesekan yang ngilu. Matanya yang melotot kini dipenuhi oleh urat-urat merah yang semakin menonjol. Kegilaan di dalam dirinya mulai bercampur dengan rasa tidak aman yang belum pernah dia rasakan sejak masa kecilnya yang kelam. "Ibu! Hancurkan dia! Tangkap kakinya! Seret dia ke dalam tanah!"
Syuuwt—
Sesosok bayangan hijau mendadak muncul tepat satu jengkal di depan wajah Gaara. Itu adalah Lee. Ekspresi wajah Lee tampak begitu dingin, matanya fokus, dan tidak ada setetes pun keraguan di sana. Reymond yang mengendalikan tubuh ini tahu betul bahwa momen ini adalah puncak dari perhitungan taktis yang dia susun sejak menginjakkan kaki di dunia ini.
"Sudah kubilang, Gaara," Lee berbisik, suaranya terdengar sangat jelas di antara deru angin pasir. "Pasirmu terlalu lambat untuk mengimbangi masa mudaku!"
DUAAARRR!
Sebuah pukulan lurus bertitik tumpu pada kekuatan bahu dilayangkan oleh Lee. Dinding pasir Gaara memang sempat bangkit di detik-detik terakhir, namun ketebalannya tidak lagi cukup untuk meredam energi kinetik murni dari pukulan tanpa beban tersebut. Tangan Lee menembus lapisan pasir, dan ujung kepalan tangannya yang dibalut perban putih keras menghantam pipi kiri Gaara dengan telak.
Sreeettt!
Tubuh Gaara terlempar ke belakang, berguling-guling di atas hamparan pasir sejauh sepuluh meter sebelum akhirnya berhenti dengan posisi berlutut. Dari sudut bibirnya yang pucat, setetes darah segar berwarna merah tua mengalir keluar, kontras dengan warna kulitnya yang menyerupai mayat.
"Gaara... terluka?!" Temari mencengkeram kipas raksasanya begitu keras hingga struktur kayu kipas itu mengeluarkan suara derit yang kritis. Wajahnya dipenuhi horor yang teramat sangat. "Pertahanan mutlak... pelindung pasir yang tidak pernah bisa ditembus oleh siapa pun sejak dia lahir... hari ini hancur oleh sebuah pukulan mentah?!"
Neji Hyuga yang menyaksikan hal itu dari jarak yang cukup aman hanya bisa mengepalkan tangannya di samping tubuh. Byakugan miliknya merekam segalanya dengan detail yang menyakitkan. Dia melihat bagaimana Lee memanfaatkan momentum berat tubuhnya yang hilang untuk menciptakan daya dorong seketika. "Dia tidak menggunakan ninjutsu... dia juga tidak menggunakan genjutsu. Dia hanya memaksimalkan potensi tubuh fana hingga ke titik tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang manusia. Rock Lee... makhluk macam apa kamu sebenarnya sekarang?"
Tenten di samping Neji menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata kecemasan hampir menetes dari sudut matanya. "Lee... dia benar-benar melakukannya. Dia memukul monster itu."
Di tengah lapangan, Gaara perlahan mengangkat kepalanya. Dia menyentuh pipi kirinya yang kini terasa panas dan berdenyut dengan ujung jarinya. Dia melihat warna merah yang menempel di kulit jarinya—darah miliknya sendiri. Pandangan matanya mendadak berubah dari kegilaan menjadi sebuah kekosongan yang sangat mengerikan.
"Ini... darahku?" Gaara berbisik, suaranya bergetar hebat. Tubuhnya mulai gemetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena sebuah gelombang emosi asing yang meluap-luap dari dasar jiwanya. Rasa sakit... sesuatu yang tidak pernah dia pahami sebelumnya, kini menjalar dari pipinya menuju ke seluruh pusat sarafnya. "Ibu... rasanya... rasanya sangat sakit... Hahaha... Hahahahaha!"
Gaara mendadak tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa melengking yang tidak memiliki nada kebahagiaan sedikit pun di dalamnya. Tawa itu terdengar seperti suara jeritan jiwa yang tersiksa di dalam kegelapan lubang terdalam. "Rasa sakit ini... eksistensiku... aku bisa merasakannya! Jiwamu... aku benar-benar harus menelan jiwamu, Rock Lee!"
Pasir di sekeliling Gaara mendadak bergulung membentuk pusaran raksasa yang membubung tinggi ke langit, menciptakan badai pasir lokal yang mulai menumbangkan pohon-pohon mati di sekitarnya. Pertarungan ini telah bergeser dari sekadar ujian sekunder menjadi sebuah duel hidup dan mati yang sesungguhnya.