NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Cahaya di Salju Hitam

Pedang putih-hitam itu muncul di tangan Aelora.

Bilahnya terlalu besar untuk tubuh anak berusia tujuh tahun. Ujungnya hampir menyentuh lantai, tetapi jemari Aelora menutup pada gagang dengan tepat, seolah tangannya pernah memegang senjata itu ratusan kali.

Sisi putih pedang terasa sedingin es.

Sisi hitamnya bergerak seperti bayangan hidup.

Varion tertawa dari dalam mural.

“Tubuh mengingat lebih baik daripada pikiran.”

Aelora mencoba melepaskan gagang.

Jari-jarinya tidak mau terbuka.

Rantai cahaya yang melilit pergelangan kakinya menarik semakin kuat. Kulitnya terbakar putih. Wajah Varion membesar di dinding, menutupi gambaran perang tiga dunia.

Mata emasnya memantulkan Aelora yang lebih tua—gadis bersayap hitam-putih yang berdiri di depan jasad Kael.

Benturan keras menghantam pintu menara.

“Aelora!”

Suara Kael terdengar dari luar.

“Ayah!”

Bayangan hitam menyusup melalui retakan pada rune. Bentuknya menjalar di lantai menuju kaki Aelora, tetapi cahaya dari mural menyambar dan memotongnya.

Kael mengerang di balik pintu.

Aelora merasakan rasa sakit itu melalui ikatan Vesperion di pergelangan tangannya. Hanya sebentar, seperti luka bakar yang bukan miliknya, tetapi cukup membuat napasnya tersendat.

Varion tersenyum.

“Dia selalu datang ketika kau memanggil.”

“Jangan sentuh dia.”

“Aku tidak perlu menyentuhnya.”

Lelaki di mural memiringkan kepala.

“Kau akan melakukannya untukku.”

Pedang di tangan Aelora bergerak.

Ujungnya perlahan berbalik menuju pintu.

Menuju Kael.

Aelora mencengkeram gagang dengan kedua tangan dan menarik sekuat tenaga. Bahunya gemetar. Sayap putih di punggungnya membuka karena tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Tidak.”

“Kau pernah mengatakan itu.”

“Aku tidak akan membunuh Ayah.”

“Kau juga pernah mengatakan itu.”

Mural-mural di sekeliling menara berubah.

Pada dinding pertama, Aelora melihat dirinya menusukkan pedang ke dada Kael.

Pada dinding kedua, Kael menahan serangan yang sama sambil tubuhnya terbakar cahaya.

Pada dinding ketiga, Aelora kecil berdiri di depan jasad ayahnya dengan kedua tangan berlumuran darah.

Semua jalan menunjukkan akhir yang sama.

Aelora menutup mata.

“Itu bukan pilihanku.”

“Pilihan?” Varion tertawa pelan. “Anak-anak selalu percaya hidup mereka ditentukan oleh pilihan. Padahal cukup berikan kehilangan yang tepat, maka mereka akan membuka pintu mana pun.”

Pintu menara dihantam kembali.

“Mundur dari pintu!” teriak Kael.

Ledakan Umbra mengguncang seluruh ruangan. Rune mahkota pada lapisan luar pecah. Debu hitam berjatuhan dari langit-langit.

Varion menoleh dengan tertarik.

“Dia menjadi lebih kuat ketika takut kehilanganmu.”

Aelora menggigit bibir.

“Dan kau,” lanjut Varion, “menjadi lebih mudah dikendalikan ketika takut kehilangan dia.”

Pedang bergerak lagi.

Ujungnya menyala putih.

Aelora mengingat Kael yang duduk di lantai kamarnya sambil berusaha mengepang rambutnya. Kepangannya buruk, miring, dan terlalu longgar. Namun lelaki itu menghabiskan hampir satu jam untuk mencoba.

Ia mengingat tangan Kael terbakar ketika menariknya dari gerbang.

Mengingat suaranya saat berkata Aelora bukan tugas.

Bukan utang.

Ia anaknya.

“Aku takut kehilangan dia,” kata Aelora.

Varion mengangkat alis.

“Tapi aku tidak akan membiarkan rasa takut memilih untukku.”

Cahaya pada pedang bergetar.

Bayangan pada sisi hitam bilah berhenti bergerak menuju pintu.

Senyum Varion menghilang.

“Apa yang kau lakukan?”

Aelora memusatkan pikirannya pada jejak ritual keluarga.

Ikatan itu tidak terasa seperti rantai. Lebih mirip sebuah jalan sempit yang menghubungkan bayangannya dengan Kael. Tidak utuh. Tidak cukup kuat untuk memanggilnya masuk.

Namun cukup untuk membuat sihir mereka saling mengenali.

Aelora menyebut namanya sendiri dalam hati.

Aelora Arvand Vesperion.

Bayangan kecil keluar dari bawah kakinya.

Bukan menuju rantai.

Bukan menuju pintu.

Bayangan itu masuk ke dalam pedang.

Sisi hitam bilah menyala ungu.

Varion mengangkat tangan.

“Hentikan.”

Rantai di pergelangan kaki Aelora mengencang. Bau kulit terbakar memenuhi udara.

Ia menjerit, tetapi tidak melepaskan sihirnya.

Retakan muncul pada bilah pedang.

Varion menatapnya tidak percaya.

“Senjata itu ditempa untuk darahmu.”

“Bukan berarti aku harus memakainya.”

“Takdir tidak membutuhkan persetujuan.”

“Kalau begitu aku akan merusaknya.”

Aelora mengangkat pedang dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Lalu membantingnya ke lantai.

Bilah putih-hitam menghantam batu.

Ledakan cahaya dan bayangan memenuhi menara.

Rantai di kaki Aelora pecah. Mural-mural menjerit bersamaan. Semua gambar masa depan yang menunjukkan kematian Kael retak dari tengah, seperti kaca besar yang dihantam batu.

Aelora terlempar.

Sayap putihnya terbentur lantai.

Rasa sakit menusuk sampai kepalanya. Ia tidak mampu menahan jeritan.

Varion mengulurkan tangan dari mural. Jari-jari cahaya memanjang menuju leher Aelora.

Milo menerjang dari samping.

Tubuh kecilnya berubah menjadi serigala bayangan bersayap, meskipun bentuk itu hanya bertahan setengah utuh. Ia menggigit tangan cahaya Varion.

Asap hitam keluar dari punggungnya.

“Sekarang, Aelora!”

Aelora memaksa dirinya bangkit dan berlari menuju pintu.

Namun mural di lantai terbuka.

Bukan retakan.

Sebuah lubang yang dipenuhi salju hitam.

Butiran dingin menyembur ke seluruh ruangan. Setiap serpih membawa gambar kecil: pohon-pohon mati, darah, tapak sepatu, dan pasukan berjubah putih.

Aelora terpeleset.

Begitu tangannya menyentuh salju, dunia menara menghilang.

Ia berdiri di tengah hutan.

Bukan dengan tubuhnya.

Hanya kesadarannya.

Salju hitam turun di antara pohon-pohon tanpa daun. Kabut menggantung rendah, membawa bau pinus, besi, dan sihir suci.

Jejak cahaya keemasan membentang di atas tanah.

Jejak itu berasal dari Hutan Hitam, melewati sungai beku, lalu mengarah ke wilayah utara Nocthara.

Jejak Aelora.

Setiap kali ia memakai Aether, sisa sihirnya tertinggal seperti aroma bagi pemburu.

Di kejauhan terdengar derap kuda.

Belasan penunggang muncul dari balik kabut. Mereka mengenakan jubah Gereja Fajar dan topeng perak. Busur cahaya tergantung di punggung, sedangkan tabung anak panah mereka mengeluarkan kilau pucat.

Pemimpin mereka berkuda di depan.

Lelaki tinggi berambut kelabu. Separuh wajahnya tertutup topeng matahari. Bekas luka berbentuk salib pada tangan kirinya menyala tanpa henti.

Darah Aelora menjadi dingin.

Ia mengenal lelaki itu.

Dalam kehidupan lamanya, laki-laki tersebut berdiri di atas panggung eksekusi.

Tangannya memegang pedang suci.

Suaranya tenang ketika membaca tuduhan.

Anak kutukan.

Pengkhianat cahaya.

Pembawa kehancuran.

Kemudian pedang itu menembus dada Aelora.

Bukan Kael yang pertama kali membunuhnya.

Bukan perang yang mengakhiri kehidupan pertamanya.

Lelaki inilah pelakunya.

Pendeta Agung Lucien Valerius.

Lucien menghentikan kudanya.

Matanya terangkat.

Seolah dapat melihat Aelora di dalam penglihatan.

“Jejaknya semakin kuat,” katanya.

Seorang pemburu turun dari kuda dan menyentuh salju. Cahaya emas merayap di sarung tangannya.

“Anak itu sudah memakai sayap pertama.”

“Bagus.”

Pemburu itu menoleh. “Bukankah itu membuatnya semakin berbahaya?”

Lucien tersenyum.

“Sayap muda mudah dipatahkan.”

Aelora menyentuh punggungnya tanpa sadar.

Rasa sakit dari sayap putih kembali terasa, bahkan di dalam penglihatan.

Lucien mengangkat tangan. Cahaya berkumpul di antara jari-jarinya dan membentuk gambaran Istana Bulan Merah. Di salah satu menara, titik kecil berdenyut.

Aelora.

“Kita tidak perlu menyerang istana,” katanya. “Anak itu akan keluar sendiri.”

“Kenapa?”

“Karena ia membutuhkan Embun Luminara.”

Pemburu lain mendekat. “Altar di Kuil Sayap Patah sudah disiapkan.”

“Dan tahanan?”

“Masih hidup.”

Napas Aelora tercekat.

Seraphiel.

Lucien memandang jejak cahaya di salju.

“Pastikan dia tetap sadar. Ketika anak itu datang, kita akan membuatnya memilih.”

“Antara apa?”

“Obat untuk dirinya dan nyawa ayah kandungnya.”

Lucien menengadah ke langit.

Salju hitam berhenti jatuh di sekeliling tubuhnya.

“Anak-anak selalu mudah dikendalikan ketika pengorbanan disebut cinta.”

Kalimat itu terasa akrab.

Gereja Fajar sering menggunakannya.

Rasa sakit adalah bentuk kasih.

Ketaatan adalah bukti cinta.

Pengorbanan seorang anak dibutuhkan demi keselamatan banyak orang.

Sesuatu dalam dada Aelora bergerak marah.

Lucien tiba-tiba menoleh langsung kepadanya.

Mata di balik topeng menyala.

“Kau melihatku, bukan?”

Aelora mundur.

Penglihatan seharusnya hanya menunjukkan kejadian.

Tidak seharusnya mampu melihat balik.

Lucien turun dari kuda.

Langkahnya mendekat, meskipun mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu.

“Aelora Arvand.”

Aelora tidak menjawab.

“Anak kutukan.”

Cahaya terbentuk menjadi pedang di tangannya.

Pedang yang sama.

Bilah yang pernah masuk ke dada Aelora saat usianya belum genap tujuh belas.

Ingatan menghantamnya.

Rantai suci melilit pergelangan.

Batu panggung terasa dingin di bawah lutut.

Rakyat berteriak meminta kematiannya.

Lucien membungkuk dan berbisik bahwa seorang anak kutukan seharusnya bersyukur dibunuh oleh cahaya.

“Aku tidak akan menangis kali ini,” kata Aelora.

Lucien berhenti.

“Menarik.”

Aelora meremas ujung jubahnya.

“Kau ingat?”

“Aku mengingat cukup banyak.”

Hutan bergetar. Penglihatan mulai retak pada bagian tepi.

Lucien mengangkat pedangnya.

“Kau bukan satu-satunya yang mendapat kesempatan kedua.”

Aelora berhenti bernapas.

Masa depan lama bukan hanya tersimpan di dalam kepalanya.

Lucien juga kembali.

Atau seseorang menanamkan ingatan kepadanya.

“Siapa yang mengirimmu?”

Pendeta itu tersenyum.

“Orang yang sama yang memberimu kesempatan untuk mengulang kesalahanmu.”

“Varion.”

Senyum Lucien melebar.

Sebelum Aelora sempat bertanya lagi, pedangnya ditebaskan.

Penglihatan terbelah.

Aelora kembali ke Menara Rune.

Tubuhnya jatuh di antara salju hitam yang menutupi lantai. Dadanya terasa seperti baru ditusuk, meskipun tidak ada luka.

Pintu menara meledak.

Tujuh lapisan rune hancur sekaligus.

Kael masuk bersama gelombang bayangan.

Wajah dan tangannya dipenuhi luka cahaya. Beberapa bagian jubahnya terbakar. Retakan hitam di pelipisnya semakin panjang.

Namun tatapannya hanya mencari satu orang.

“Aelora!”

Ia melintasi ruangan.

Varion mengirim tombak cahaya dari mural. Kael menebasnya dengan tangan kosong. Telapak tangannya terbakar, tetapi ia tidak berhenti sampai berlutut di samping Aelora.

“Apakah kau terluka?”

“Tidak.”

“Sayapmu berdarah.”

Aelora menoleh.

Beberapa bulu putih memang dipenuhi garis merah. Salah satunya patah dan menempel pada kain gaunnya.

“Aku melihat mereka.”

“Siapa?”

“Pemburu Gereja Fajar.”

Milo jatuh dari udara di dekat mereka, kembali ke bentuk kucing kecil. Kael menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh batu dan menyelipkannya dalam lipatan mantel.

Aelora mencengkeram kerah Kael.

“Mereka mengikuti jejak cahayaku.”

Kael melihat salju hitam di lantai.

“Di mana?”

“Perbatasan utara. Menuju Kuil Sayap Patah.”

“Jumlah?”

“Aku hanya melihat belasan. Tapi pasti ada lebih banyak.”

Kael mengangkat Aelora. Tubuhnya terasa ringan sekali di pelukan lelaki itu.

Mural Varion mulai terbakar dari dalam, tetapi suaranya masih terdengar di seluruh menara.

“Kau tidak dapat menyembunyikannya selamanya, Raja Iblis.”

Kael menoleh kepada wajah Varion.

“Perhatikan aku mencoba.”

Bayangannya menghantam dinding.

Mural itu hancur.

Seluruh menara berguncang. Tangga-tangga yang menyimpan kemungkinan masa depan runtuh satu per satu. Salju hitam berubah menjadi abu yang berputar di udara.

Kael membawa Aelora menuju pintu.

Aelora menarik bahunya.

“Ayah, tunggu.”

“Kita keluar.”

“Pemimpin pemburu itu mengingat kehidupan sebelumnya.”

Langkah Kael berhenti.

“Apa?”

“Namanya Lucien Valerius.”

Ekspresi Kael berubah.

Ia mengenal nama itu.

“Pendeta yang memimpin Pengadilan Cahaya.”

“Dia yang membunuhku.”

Bayangan di belakang Kael meledak.

Batu-batu runtuh dari langit-langit. Kael memeluk Aelora lebih erat, menutupi kepala dan sayapnya.

“Dia menyentuhmu?”

“Dalam penglihatan.”

“Berbicara kepadamu?”

“Dia bilang aku bukan satu-satunya yang mendapat kesempatan kedua.”

Kael berjalan semakin cepat keluar dari menara.

“Kita tutup perbatasan.”

“Tidak cukup.”

“Aku akan mengirim pasukan.”

“Mereka memegang Seraphiel.”

Kael berhenti di ambang pintu.

“Mereka menyiapkan altar di Kuil Sayap Patah,” lanjut Aelora. “Mereka tahu aku membutuhkan Embun Luminara. Mereka ingin membuatku memilih antara obat dan nyawa Seraphiel.”

“Kau tidak pergi.”

“Kalau aku tidak datang, Seraphiel mati.”

“Kita belum tahu penglihatan itu benar.”

“Benar.”

“Aelora.”

“Aku mengenali Lucien.”

Tubuh kecilnya mulai gemetar.

Bukan karena demam.

Ingatan tentang pedang di panggung eksekusi kembali terlalu jelas. Dingin logam yang masuk ke dada. Rasa darah di mulut. Suara orang-orang bersorak ketika seorang anak mati.

Kael melihat ketakutannya.

“Aku tidak akan membiarkannya mendekatimu.”

“Dia sudah mendekat.”

Aelora memandang kedua tangannya.

“Dia ingat cara membunuhku.”

Kael berlutut di lorong, tetap memeluknya.

“Lihat aku.”

Aelora mengangkat wajah.

“Ini bukan kehidupan itu.”

“Orang-orangnya sama.”

“Kau tidak sama.”

“Aku masih takut.”

“Takut tidak berarti kau kembali menjadi anak yang tidak punya pilihan.”

Aelora menggenggam jubahnya.

“Kalau dia membunuhku lagi?”

Kael menempelkan dahinya pada dahi Aelora.

“Untuk mencapai jantungmu, dia harus melewati seluruh Nocthara.”

Lonceng perbatasan berbunyi.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Teriakan prajurit terdengar dari lantai bawah.

“Jejak cahaya ditemukan di salju hitam!”

“Pasukan Gereja Fajar melewati batas utara!”

Kael mengangkat kepala.

Semua bayangan di lorong berubah menjadi pedang.

Aelora melihat sesuatu melalui jendela menara.

Jauh di atas pegunungan utara, seberkas cahaya putih menembus langit. Cahaya itu membentuk lambang matahari Gereja Fajar.

Kemudian suara Lucien terdengar melalui sihir perbatasan.

Jernih.

Tenang.

Seolah ia berdiri tepat di luar istana.

“Putri kecil Nocthara.”

Aelora membeku.

Lucien tertawa pelan.

“Datanglah ke Kuil Sayap Patah sebelum bulan ketiga terbit.”

Cahaya di langit berubah menjadi gambaran seorang lelaki bersayap yang berlutut dalam rantai.

Rambut putihnya kotor oleh darah.

Enam sayapnya terikat.

Seraphiel mengangkat wajah penuh luka.

“Jika terlambat,” lanjut Lucien, “kau akan kehilangan ayahmu sebelum sempat mengenalnya.”

Kael menutup mata Aelora.

Namun terlambat.

Ia sudah melihat Lucien meletakkan pedang di leher Seraphiel.

Di bawah kaki sang pendeta, salju hitam mulai berubah merah.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!