Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Kehebohan Lyra, Amel, Minda dan Rian di Kantin
Suasana kantin SMA Bangsa pada jam istirahat kedua benar-benar menyerupai lautan manusia.
Aroma soto ayam yang gurih, gorengan yang baru diangkat dari wajan, dan es jeruk yang segar beradu di udara, menciptakan atmosfer yang selalu dinantikan oleh para siswa setelah lelah dihantam materi pelajaran sejak pagi.
Di salah satu meja panjang di pojok dekat stan minuman, empat orang sahabat berkumpul.
Mereka adalah Minda, Lyra, Rian, dan Amel.
Minda, dengan tingkat energi yang tidak pernah menyentuh angka nol, sudah duduk di bangkunya sambil memegang segelas es jeruk.
Di sebelahnya, Lyra, yang terkenal anggun dan tenang, sedang merapikan helai rambutnya sambil mendengarkan dengan sabar.
Di seberang mereka, Rian sedang asyik mengunyah tahu isi, sementara Amel sibuk menusuk-nusuk sedotan ke dalam kotak susu cokelatnya.
kriuk-kriuk... (Suara mengunyah gorengan tahu)
"Kalian semua harus dengerin ini! Ini adalah sebuah penggalan sejarah paling epik, paling tragis, sekaligus paling memalukan dalam bab hidup seorang Minda!" seru Minda membuka percakapan.
Suaranya yang menggelegar langsung memotong obrolan Rian dan Amel, bahkan beberapa anak dari kelas sebelah yang duduk di meja terdekat sampai refleks menengok.
Amel meletakkan susu kotaknya dan langsung bertopang dagu, matanya berbinar penasaran.
"Wah, apa lagi ini? Biasanya kalau Minda sudah buka omongan pakai kata 'tragedi epik', isinya pasti rekayasa komedi tingkat tinggi. Cerita dong, Min! Jangan bikin penasaran!"
Rian menelan potongan tahu isinya secepat kilat, lalu ikut condong ke depan.
"Jangan bilang kamu habis dihukum lari keliling lapangan gara-gara salah pakai kaos kaki lagi?"
"Bukan, Rian! Ini jauh lebih dahsyat dari sekadar kaos kaki!"
Brak!
Minda menggebrak meja pelan dengan telapak tangannya, membuat es jeruknya sedikit bergoyang.
"Ini tentang perjuangan bertahan hidup di Warung Seblak 'Jebred Dewa' hari Sabtu kemarin setelah aku pusing ngerjain maket biologi!"
Lyra yang duduk di samping Minda langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan tawa yang sudah mulai menggelitik dadanya. Iya, Lyra sudah tahu cerita dari Minda, karena Minda sudah menceritakan kejadian memalukan itu duluan kepadanya.
Ia tahu persis ke mana arah cerita ini akan bermuara.
"Aduh, Minda... kamu beneran mau ceritain itu di sini?"
"Harus, Lyra! Ini adalah bentuk edukasi publik supaya kalian tidak mengalami hal yang sama!"
Minda menarik napas dalam-dalam, bersiap memulai monolog panjangnya dengan gaya teatrikal yang sangat ekspresif.
Tangannya mulai bergerak aktif di udara, memperagakan setiap detail kejadian.
"Jadi begini ceritanya, Amel, Rian... Kemarin itu, setelah tiga jam otak aku diperas sampai kering buat mikirin sel hewan dan organel-organelnya, perut aku resmi berdemo. Aku ajaklah Lila, teman sekelas dan sekelompokku ke warung seblak legendaris itu. Tanpa rasa takut, sebagai hamba amatir yang sok tahu, aku langsung pesan Seblak Level Mahaguru! Mang Ujang bilang cabainya dua puluh biji. Dalam hati aku, 'Halah, cuma dua puluh cabai, kecil!'" Minda tertawa mengejek dirinya sendiri dengan dramatis.
Amel langsung membelalakkan matanya. "Dua puluh cabai, Minda?! Kamu gila ya? Itu mah bukan seblak, itu racun tikus bermerek!"
"Nah, itu dia masalahnya!" Minda melanjutkan, suaranya naik satu oktav.
"Begitu mangkoknya datang, warnanya itu bukan merah lagi, Mel, Yan. Warnanya itu merah tua pekat mengkilap, kayak lava Gunung Merapi yang siap memusnahkan peradaban! Tapi karena gengsi di depan Lila, aku langsung sendok itu kuah. Slurp! Satu suapan penuh!"
Minda memejamkan mata, memegangi lehernya sendiri, lalu melakukan gerakan megap-megap menirukan dirinya yang kehabisan oksigen kemarin.
"Demi apa pun, detik itu juga aku langsung merasa roh aku keluar dari tubuh setengah senti! Tenggorokan aku kayak dilewatin kawat berduri yang membara. Air mata mengalir deras kayak air terjun, telinga aku berdenging, dan seluruh saraf di otak aku langsung korsleting!"
Rian tertawa terbahak-bahak sampai tersedak remah-remah gorengan.
"Hahaha! Terus, terus? Kamu pingsan?"
"Hampir!" jerit Minda heboh.
"Dalam kondisi setengah buta karena air mata dan otak yang sudah lumpuh total akibat sensor pedas, tangan aku langsung meraba-raba meja. Aku cari benda apa pun yang dingin. Begitu jemari aku menyentuh segelas es teh manis yang penuh embun dingin, tanpa mikir panjang, langsung aku sambar itu gelas! Glug... glug... glug... glug! Setengah isi gelas langsung amblas dalam lima detik!" Minda memperagakan gaya meminum es teh dengan sangat rakus, membuat Amel dan Rian ikut menelan ludah saking menghayatinya cerita tersebut.
"Ahhh... segar banget rasanya saat itu," lanjut Minda, mendadak menurunkan volume suaranya menjadi bisikan misterius.
"Tapi... tiba-tiba kantin—maksud aku warung seblak itu mendadak hening seketika. Suara sutil Mang Ujang nggak kedengaran. Aku buka mata, aku lap air mata aku, dan hal pertama yang aku lihat adalah mukanya Lila yang sudah pucat pasi kayak habis melihat hantu penunggu sekolah."
Amel memotong cepat, "Kenapa? Es tehnya ternyata dicampur racun?"
"Bukan!" Minda berteriak lagi, memajukan wajahnya ke tengah meja.
"Ternyata, gelas es teh manis punya aku yang asli itu masih berdiri tegak, utuh, belum disentuh sama sekali di sebelah kiri aku! Dan gelas yang baru saja aku minum secara brutal sampai tinggal setengah itu... adalah milik cowok jangkung berseragam SMA Garuda yang duduk di meja sebelah!"
"Hahahaha! Demi apa?!" Rian meledak dalam tawa yang sangat keras hingga memukul-mukul permukaan meja kantin.
Beberapa siswa dari meja lain kembali menoleh, namun mereka mengabaikannya karena sudah terbiasa dengan kehebohan meja tersebut.
Amel ikut tertawa sampai memegangi perutnya yang kaku.
"Ya ampun, Minda! Kamu meminum es teh orang asing?! Cowok lagi?! Terus reaksi cowoknya gimana?!"
"Itu dia yang bikin aku mau menghilang dari muka bumi!" Minda menepuk dahinya sendiri dengan frustrasi.
"Pas aku nengok ke kanan, itu cowok lagi megang sedotan plastik yang menggantung bebas di udara. Mukanya itu antara bingung, syok, sama mau ketawa. Dia ngelihatin gelasnya yang tinggal setengah, terus ngelihatin muka aku yang sudah kayak kepiting rebus! Teman-temannya di sebelah sudah pada ngakak sampai sujud-sujud di meja!"
Lyra akhirnya ikut bersuara, sambil menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa.
"Pasti sangat lucu, aku bayangkan kalau mukanya Minda pas sadar saat itu bener-bener tak ternilai harganya. Dia langsung naruh gelasnya patah-patah kayak robot rusak, terus minta maafnya cepat banget pasti itu kayak rapper lagi nge-rap."
"Iya! Aku langsung bilang, 'Maaf Kak, demi apa pun aku nggak sengaja, mata aku burem gara-gara cabai dua puluh biji! Aku bukan pencuri es teh!'" Minda menirukan suaranya yang mencicit panik kemarin, yang langsung disambut tawa geli oleh Amel.
"Terus cowoknya marah nggak, Min?" tanya Amel di sela-sela tawanya.
"Nggak marah sama sekali! Itu dia yang aneh," kata Minda sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dia malah ketawa santai terus bilang, 'Nggak apa-apa, santai aja. Kayaknya lu lebih butuh es teh itu daripada gua. Kalau telat sedetik lagi, mungkin mulut lu sudah keluar asap.' Coba bayangin betapa malunya aku! Aku langsung tarik tangan Lila, bayar seblak, terus lari terbirit-birit keluar dari warung itu."
Rian menggeleng-gelengkan kepalanya, menyeka sisa air mata di sudut matanya.
"Minda, Minda... rekor kelakuan ajaib kamu bertambah lagi satu minggu ini. Tapi ceritanya selesai di situ kan?"
Minda mendadak tersenyum penuh arti, bertukar pandang dengan Lyra yang hanya bisa menghela napas pasrah.
"Nah, ini dia plot twist terbesar dari cerita ini, teman-teman sekalian. Kalian pikir cerita ini selesai di warung seblak? Jawabannya adalah: Tidak!" Amel dan Rian serempak menaikkan alis mereka.
"Maksudnya?"
"Tadi pagi!" Minda berdiri sedikit dari kursinya untuk memberikan efek dramatis.
"Pas aku lagi mengeluh tentang lambung aku ke Lila di kelas X-5 sebelum bel masuk, tiba-tiba ada suara cowok di depan pintu. Pas aku nengok... jeng jeng! Itu cowok pemilik es teh kemarin berdiri di depan pintu kelasku!"
"Hah?! Serius?!" Amel hampir tersedak susu cokelatnya sendiri.
"Dia nyamperin kamu ke kelas?! Mau minta ganti rugi es teh?!"
"Bukan, Amel sayang," sahut Lyra, mengambil alih cerita sejenak dengan senyum jenaka.
"Kata Rio, teman kelompok Minda berkata: Minda kemarin pas lari ketakutan itu menjatuhkan gantungan kunci akrilik anime kesayangannya di meja. Dan cowok itu—yang ternyata namanya Devon, anak kelas sebelas SMA Garuda seberang—datang jauh-jauh ke kelas Minda cuma buat mengembalikan gantungan kunci itu ke Minda."
Rian langsung bersiul heboh, menggoda Minda yang pipinya mendadak merona merah muda.
"Ciyee, Minda! Ini mah bukan tragedi memalukan lagi, ini namanya pembukaan cerita fiksi remaja di aplikasi baca online! Berawal dari salah minum es teh, berakhir di depan pintu kelas!"
"Iya, bener banget! Romantis banget tahu nggak!" timpal Amel sambil menggoyang-goyang bahu Minda dengan gemas.
"Terus dia ngomong apa lagi pas mengembalikan gantungannya?"
Minda kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menyembunyikan senyum malunya yang jarang sekali terlihat.
"Dia... dia cuma bilang, lain kali kalau makan seblak di sana bilang dia aja. Nanti dia pesenin es teh manis dua gelas langsung, biar aku nggak perlu salah minum punya dia lagi. Terus dia ngedipin mata sebelum pergi! Seisi kelas X-5 langsung cie-ciein aku, dan aku rasanya ingin melebur jadi debu saat itu juga!"
Kantin SMA Bangsa siang itu seolah menjadi saksi betapa cerianya persahabatan mereka berempat.
Di antara riuhnya suara dentingan mangkok dan obrolan siswa lain, tawa lepas dari meja pojok itu terdengar paling renyah.
Minda dengan segala kehebohannya, Lyra dengan ketenangannya, serta Rian dan Amel yang selalu siap menjadi penonton setia, berhasil mengubah sebuah insiden memalukan menjadi cerita yang penuh kehangatan dan warna di masa SMA mereka.
Bersambung~~~
Hayy gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~