NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kopi yang Salah Antar

Suasana di ruang administrasi terasa sibuk pagi itu. Suara ketikan keyboard, gesekan kertas, dan obrolan singkat antar staf memenuhi ruangan.

Jam menunjukkan pukul 09.45, hanya tersisa 15 menit sebelum rapat persiapan proyek kerjasama baru dimulai.

Rapat ini sangat penting, dihadiri oleh kepala divisi keuangan, pemasaran, operasional, dan tentu saja Andre sebagai pemimpin utama.

Rima sedang duduk di mejanya, memeriksa kembali berkas rancangan desain yang harus dibawa masuk ke ruang rapat.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri hari ini akan bekerja sangat teliti, tidak ada kesalahan sedikit pun, tidak ada salah ambil barang, tidak ada lupa nama.

"Rima," panggil Bu Tia sambil berjalan mendekat dengan nampan di tangan. "Tolong bantu antar minuman ke ruang rapat sekarang ya. Waktunya sudah mepet."

Rima segera berdiri tegap. "Siap Bu Tia! Saya antar sekarang juga."

Bu Tia meletakkan nampan itu di meja. Di atasnya ada dua cangkir kopi panas yang mengepul. "Rima, cangkir kaca tinggi polos tanpa motif itu adalah kopi hitam pahit, tanpa gula sama sekali. Itu untuk Pak Andre. Beliau tidak suka rasa manis di kopinya."

Ia menunjuk cangkir kedua yang lebih kecil, terbuat dari keramik dengan motif bunga matahari kecil di sisinya.

"Yang ini kopi susu manis dengan sedikit krimer. Ini untuk Pak Budi, wakil kepala keuangan. Jangan sampai tertukar ya, mereka punya selera yang sangat berbeda."

"Paham Bu! Cangkir tinggi untuk Pak Andre, cangkir bunga untuk Pak Budi. Aman di tangan saya," jawab Rima sambil tersenyum percaya diri. Ia segera memeriksa kedua cangkir itu sekilas, lalu berniat mengangkat nampan.

Namun saat itu telepon meja di sebelahnya berdering nyaring. Bu Tia mengambilnya sebentar, lalu menoleh cepat. "Rima, itu tambahan berkas revisi poin ketiga, harus dibawa masuk juga sekarang. Taruh di samping berkas utama Pak Andre ya."

"Baik Bu!" Rima mengambil lembaran berkas tebal itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengangkat nampan berisi kopi.

Karena berkasnya cukup besar, ia menyelipkannya di bawah ketiak, berusaha menyeimbangkan beban di kedua tangannya.

Saking fokusnya menjaga agar berkas tidak terjatuh dan kopi tidak tumpah, ia lupa memeriksa kembali bentuk cangkir seperti yang diingatkan tadi.

Ia berjalan cepat menuju ruang rapat lantai atas. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena ingin menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.

 Sesampainya di depan pintu ruang rapat, ia mengatur napas sebentar, lalu mengetuk pelan.

"Masuk," suara Andre terdengar dari dalam.

Rima mendorong pintu perlahan. Ruangan sudah penuh. Semua peserta rapat duduk di kursi masing-masing, berkas terbuka di depan mereka, dan layar proyektor menampilkan bagan proyek.

Andre duduk penuh wibawa di kursi utama di ujung meja panjang, wajahnya serius menatap catatan di tangannya.

Rima berjalan hati-hati di sela-sela kursi. Matanya sesekali melirik berkas yang diselipkan di ketiaknya, takut melorot.

Saat sampai di sebelah kursi Andre, ia meletakkan cangkir yang ada di sebelah kanannya, yang ternyata cangkir bermotif bunga matahari, lalu menyusul meletakkan cangkir tinggi di depan Pak Budi yang duduk tak jauh dari sana.

Ia kemudian menyelipkan berkas tambahan di sudut meja Andre dengan gerakan cepat.

"Permisi Pak, ini kopi dan berkas tambahannya," bisiknya pelan sopan.

Andre hanya mengangguk singkat tanpa mendongak. Rima pun mundur perlahan, lalu duduk di kursi kosong di pojok belakang ruangan untuk mengamati jalannya rapat sekaligus berjaga jika ada yang dibutuhkan.

Rapat pun dimulai. Andre menjelaskan latar belakang proyek dengan bahasa yang tegas, jelas, dan teratur.

Semua orang mendengarkan dengan saksama. Rima ikut memperhatikan layar, sesekali mencatat poin penting di buku kecilnya.

Sekitar dua puluh menit berlalu, tenggorokan Rima terasa kering. Ia berniat minum air, tapi saat mendongak, pandangannya tertuju pada meja depan. Matanya melotot lebar seketika.

Di depan Andre berdiri cangkir bermotif bunga matahari, yang seharusnya untuk Pak Budi. Sedangkan Pak Budi sedang memegang cangkir tinggi polos itu dan menyesapnya pelan tanpa curiga sedikit pun.

"Aduh ya ampun..." Rima menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya seketika memerah padam.

"Waduh!! Kok aku bisa salah. Aku salah meletakkan cangkirnya. Gimana ini. Mana cangkir Pak Andre sudah diminum Pak Budi!"

Panik mulai menyerangnya. Ia ingin segera berdiri, meminta maaf, dan menukar cangkir itu sekarang juga.

Tapi saat ia bergerak sedikit, Andre tiba-tiba meletakkan catatannya, lalu meraih gagang cangkir bunga itu perlahan.

Rima menahan napas. Tubuhnya kaku menunggu reaksi.

Andre mendekatkan cangkir ke bibirnya, menyesap kopi itu satu tegukan cukup panjang.

Ia berkedip pelan, menelan kopi itu, lalu menatap cangkir itu sebentar seolah terkejut dengan rasanya.

Rima siap mendengar teguran keras. Ia bahkan sudah membuka mulut untuk meminta maaf duluan.

Namun Andre tidak berteriak, tidak menaruh cangkir dengan kasar, dan tidak menatapnya dengan wajah marah.

Ia hanya menaruh cangkir itu kembali di meja dengan tenang, lalu melanjutkan kalimat yang terputus tadi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Jadi untuk tahap pertama, kita harus memastikan persetujuan izin lokasi selesai minggu depan," ucapnya datar, matanya kembali menatap peserta rapat.

Rima menghela napas panjang sekali, tapi rasa khawatirnya belum hilang sepenuhnya. Sepanjang sisa rapat, matanya tak lepas dari cangkir itu.

Ia membayangkan wajah Andre yang menahan rasa mual karena terlalu banyak gula, atau sakit gigi nanti sore. Ia merasa sangat bersalah.

Satu jam kemudian rapat selesai. Semua orang mulai membereskan barang dan berjalan keluar sambil berdiskusi. Rima bergegas maju saat melihat Andre masih duduk merapikan berkas terakhir.

"Pak Andre..." panggilnya pelan dengan wajah cemas.

Andre menoleh, menatapnya sebentar. "Ada apa? Ada yang kurang berkasnya?"

"Bukan Pak," Rima menunduk, tangannya meremas ujung seragam.

"Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya. Tadi saya salah meletakkan kopi. Yang manis ini seharusnya untuk Pak Budi, dan yang pahit untuk Bapak. Saya terlalu sibuk menjaga berkas tambahan jadi tidak teliti lagi. Pasti rasanya sangat aneh dan tidak cocok buat Bapak ya Pak?"

Andre menatap cangkir yang masih berisi sisa kopi setengah gelas itu, lalu kembali menatap wajah Rima yang tampak sungguh-sungguh menyesal.

"Tidak apa-apa," jawabnya tenang. "Rasanya cukup baik. Tidak terlalu manis seperti yang aku kira."

"Tapi Bapak kan biasa minum kopi pahit tanpa gula sama sekali Pak," Rima masih merasa bersalah. "Kalau Bapak sakit perut atau tidak nyaman nanti, saya yang bertanggung jawab Pak."

Andre tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang dilihat orang lain. "Saya tidak sakit kok. Lagipula, sesekali merasakan hal yang berbeda itu tidak buruk. Kadang kita terlalu kaku pada kebiasaan sampai lupa ada rasa lain yang ternyata juga enak."

Ia berdiri sambil memegang tas kerjanya. "Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Kerjaan lain tadi sudah selesai dengan baik. Terima kasih bantuannya."

"Ba... baik Pak! Terima kasih sudah memaklumi kesalahan saya," Rima tersenyum lega, hatinya terasa ringan seketika.

Andre berjalan keluar ruangan, menyusul staf lain. Di lorong, Dino sudah menunggu dengan berkas di tangan. Saat berjalan menjauh dari ruang rapat, Dino bertanya pelan.

"Pak, apa benar Bapak tidak apa-apa minum kopi manis. Padahal Bapak pernah bilang kopi manis itu rasanya seperti air gula, tidak layak diminum. Apa Bapak baik-baik saja?"

Andre melirik sekilas ke arah ruang rapat yang pintunya baru saja ditutup Rima.

"Entah mengapa," jawabnya pelan sambil terus berjalan, "kalau yang menyajikannya dia, rasanya jadi tidak seburuk itu. Bahkan mungkin... aku mulai tidak keberatan mencicipinya lagi nanti."

Dino terbelalak matanya dan menahan senyum lebar sambil menggeleng pelan. Siapa sangka perubahan sikap Pak Andre yang dingin dan kaku dimulai dari secangkir kopi susu yang salah antar?

1
RahmaYesi
Semoga nanti keluarga pak Andre terutama mama pak Andre bisa menerima Rima ya. Kalau pun mama pak Andre tidak begitu suka sama Rima, jangan biarkan Rima berjuang sendirian
RahmaYesi
Lampu hijau dong ya pak Andre
RahmaYesi
Pak Andre memang lelaki matang dan mapan, lanjutkan pak Andre, sekalian melamar juga boleh
🌺⃟ SasMaya
dihhh pak dino ngintipin ya.. 😂
🌺⃟ SasMaya
ckckck... Andre sudah tidak tertolong .. udah terpesona akut dia
🌺⃟ SasMaya
ya .. iya pak, sendirian.. emng kamu mau temenin ... udah makin bucin ya, Andre
🌺⃟ SasMaya
modus doank kah ini Andre 🤭
Europa.
selotip penutup itu dalam kata medis namanya plester gulung ya kak/Slight//Slight/
Europa.
jangan ditutup woi. jadi tambah nyama—ehm—pengap disini suasananya 😡😡
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲
Dino begitu peka ya
Europa.
cuma segores luka, eh atasan malah nyuruh ambil sekotak²nya. woo atasan sableng 😡😡😡
Europa.
woy. lu ngintilin gue ya? dimana² ada elu, Ndre😂😂
Europa.
bentar. jendela diperbaiki... bukannya malah di bongkar ya bingkainya? kok ini malah pengap thor?🤔
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
meleleh aku bang
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jelas lah pak
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
malah jujur gimana sih pak🤣🤣🤣
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku kok puas banget ya. jahat enggak sih aku🤣🤣
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus lah Rima, cukup aku saja yang patah hati 🤧
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Rimaaa🤧🤧🤧🤧
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
hu hu hu aku patah hati tor🤧🤧🤧
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: 😄😄 jangaaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!