Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
Kemewahan seolah telah menjadi candu baru yang menghapus seluruh kewaspadaan dari kepala Ardi. Baginya, peringatan dari utusan PT Cahaya Abadi Investama tempo hari tak lebih dari sekadar formalitas bisnis yang remeh. Di tengah kepulan asap cerutu dan gemerlap lampu ibu kota, ketakutannya menguap total, berganti dengan rasa percaya diri yang meluap-luap. Toh, meminta kelonggaran adalah hal lumrah bagi pengusaha besar seperti dirinya.
Bagian keuangan PT Reksa Tama memang sempat panik saat Ardi memerintahkan sisa kas dikuras, namun dengan satu lambaian tangan sombong, Ardi meredamnya lewat janji manis bahwa proyek Jakarta akan segera mencairkan dana segar.
Malam itu, di dalam penthouse mewah yang baru dibelinya, aroma parfum mahal dan denting gelas kaca memenuhi ruangan. Tyas, dengan gaun sutra merah yang melekat pas di tubuhnya, menggelayut manja di lengan Ardi.
"Mas, sofa beludru yang kita pesan dari Italia sudah sampai siang tadi," bisik Tyas manis, mengecup pipi Ardi sekilas. "Bagus banget di sudut ruang tengah. Tapi, mas... aku rasa lampu gantung di ruang makan kurang cocok. Di katalog baru yang aku lihat tadi siang, ada lampu kristal edisi terbatas. Harganya cuma seratus lima puluh juta. Gak mahal kan buat pengusaha hebat kayak kamu?"
Ardi tersenyum lebar, dadanya membusung seraya meneguk wine di gelasnya. Di tempat ini, bersama Tyas, dia merasa seperti raja. Sangat berbeda dengan saat dia bersama Sarah, di mana setiap pengeluarannya selalu dipertanyakan dan diawasi.
"Apa sih yang enggak untuk kamu, sayang?" jawab Ardi sombong, mengusap rambut Tyas. "Pesan saja. Besok aku suruh sekretarisku transfer. Uang segitu kecil bagi Reksa Tama."
Tyas memekik gembira, memeluk Ardi dengan erat. "Kamu memang suami terbaik, Mas. Aku gak sabar nunggu kita resmi menikah setelah perempuan dasteran itu kamu ceraikan."
Ardi terkekeh, meski dalam hati ada sedikit ganjalan. Urusan perceraian belum dia urus karena Sarah sama sekali belum muncul. Namun bagi Ardi, tanpa Sarah pun, bisnisnya terbukti tetap berjalan lancar. Dia merasa dialah otak asli di balik kesuksesan Reksa Tama selama ini, bukan Sarah.
Dia tidak pernah tahu, di bawah meja kerjanya yang megah di kantor, bom waktu sedang berdetak cepat.
Keesokan paginya, tepat di ambang batas akhir penundaan, Ardi melangkah masuk ke kantor pusat PT Reksa Tama dengan kepala tegak. Namun, suasana di dalam ruangan kubikel terasa berbeda. Para staf menatapnya dengan pandangan cemas dan saling berbisik.
Belum sempat Ardi duduk di kursi kebesarannya, pintu ruangan kerjanya diketuk dengan kasar. Kepala Bagian Keuangan Reksa Tama, seorang pria paruh baya bernama Dodi, masuk dengan wajah pucat pasi dan keringat bercucuran.
"Pak... Pak Ardi," suara Dodi bergetar hebat, tangannya memegang sebundel dokumen.
"Ada apa, Dodi? Kurang sopan sekali kamu masuk tidak menunggu izin saya," tegur Ardi ketus, merasa wibawanya diusik.
"Ini gawat, Pak! Ini tentang denda PT Cahaya Abadi Investama!" Dodi meletakkan dokumen itu di meja Ardi dengan tangan gemetar. "Saya baru saja menerima salinan rincian denda keterlambatan termin pertama yang kita tunda beberapa hari lalu."
Ardi mendengus meremehkan. "Hanya denda keterlambatan seminggu. Paling berapa? Sepuluh atau dua puluh juta? Potong saja dari kas operasional minggu depan."
"Bukan, Pak! Anda salah! Anda harus lihat ini sendiri!" seru Dodi, nyaris frustrasi. Ardi mengerutkan dahi, merasa kesal karena stafnya terlalu berlebihan. Dia menarik dokumen tersebut dan mulai membaca baris demi baris. Detik berikutnya, warna darah langsung surut dari wajah Ardi. Matanya membelalak lebar, hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Di lembar kertas itu tertera angka denda yang tidak masuk akal. Bukan sepuluh juta, bukan pula seratus juta.Denda keterlambatan: Hari ke-1 (100% dari nilai termin), Hari ke-2 (Melipatgandakan akumulasi hari pertama), Hari ke-3...
"Ini... ini salah cetak! Ini penipuan!" teriak Ardi, suaranya melengking panik. Tangannya mulai gemetar hebat hingga kertas di genggamannya berkerisik.
"Bagaimana bisa denda tiga miliar membengkak jadi tiga puluh miliar?!""Itu ada di pasal empat ayat dua, Pak!" Dodi menjelaskan dengan suara hampir menangis.
"Sistem denda progresif eksponensial. Anda menandatanganinya di atas meterai tiga minggu lalu. Jika besok hari ketujuh kita tidak melunasi total tiga puluh tiga miliar rupiah, demi hukum, seluruh saham Reksa Tama dan seluruh aset pribadi yang Anda agunkan akan disita secara otomatis tanpa melalui pengadilan!".
Napas Ardi mendadak tercekat. Paru-parunya terasa menyempit dan kepalanya berputar hebat. Surat perjanjian yang tiga minggu lalu dia anggap sebagai dewa penolong, kini menjelma menjadi tali gantungan yang sudah melilit lehernya rapat-rapat. Besok adalah hari ketujuh. Hari terakhirnya. Dan Ardi baru saja menyadari bahwa dia tidak memiliki uang sebanyak itu, bahkan jika dia harus menjual seluruh isi penthouse baru milik Tyas.
.
.
.
.
.
. "Mumpung Ardi lagi tinggi-tingginya berdelusi, yuk siap-siap lihat dia jatuh terempas di bab depan! 🤭💥 Berikan VOTE dan KOMEN kalian jika kalian gak sabar nunggu bom waktu Sarah meledak!"