Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ditemani malam yang sunyi dan tenang. Dewa masih setia duduk dihalaman belakang rumah seraya menikmati kopi yang dibuat oleh sang asisten rumah tangganya. Sambil terus menatap keatas dan menikmati pemandangan bintang-bintang yang berkelap kelip dimalam ini. Dengan pelan Dewa kembali mencicipi kopi tersebut.
Drttttt... Drttttt.... Drttttt.... Dewa melirik sekilas saat handphone miliknya bergetar diatas meja.
"Untuk apa Renata menelfonku malam-malam begini? Ternyata dirinya masih ingat kalau masih punya suami." Ucap Dewa sambil membiarkan ponselnya bergetar tanpa menjawab. Hatinya masih sangat marah saat mengetahui jika Renata tidak jujur pada dirinya. "Maaf Re, jika ini akan melukaimu. Tapi, aku tidak bisa menolak pernikahan ini Re jika seandainya kamu mau mengandung benihku." Kembali Dewa berucap seraya menghabiskan kopi yang berada ditangannya.
Setelah cukup sekian lama Dewa duduk terdiam merenung sambil memikirkan bagaimana akan menjelaskan semuanya pada Acha dan juga pada Renata. Menjelaskan bahwa dirinyalah penyebab kedua orang tua Acha meninggal dan menjelaskan bahwa Dewa sudah menikah kembali kepada Renata.
"Lebih baik aku kembali kekamar saja, Acha pasti mencariku." Dewa beranjak pergi dari halaman belakang dan meninggalkan gelas yang berisi kopi tersebut.
Saat akan memasuki lift tiba tiba Bi Rani menghampiri Dewa. "Aden mau kembali ke kamar? Mau bibi bawakan cemilan atau minuman hangat untuk Mba Acha, Den?." Ucap Sang Bibi.
"Tidak usah Bi, mungkin Acha sudah tidur sepertinya. Melihat jam sudah sangat malam. Tolong perhatikan Acha disini ya Bi. Saya mungkin akan jarang berada dirumah utama. Bibi tolong temani Acha jika Acha nanti merasa kesepian ya Bi. Dan satu lagi, tolong rahasiakan pernikahan ini dari Renata, saya tidak mau terjadi apa-apa pada Acha. Tolong Bibi beritahu juga pada yang lain. Jika sampai ada yang melanggar, siap-siap saja menerima konsekuensi dari keluarga Karta Wijaya." Ucap Dewa dengan tegas. Iya, walaupun pernikahan ini terpaksa tapi naluri Dewa sebagai laki laki, tidak tega jika mengingat kembali akan kemalangan yang menimpa Acha.
Tring.....
Pintu lift terbuka dan dengan segera Dewa berjalan munuju kamarnya. "Semoga Acha sudah tidur." Monolog Dewa saat akan membuka pintu kamar miliknya.
Ceklek...
Dewa masuk kedalam kamar dengan pelan dan hati-hati agar tidak membuat gaduh. Betapa kagetnya Dewa saat melihat Acha yang tengah tertidur diatas sofa sambil memegang sebuah ponsel yang berada ditangannya.
"Bisa-bisanya dia tidur dengan ceroboh seperti ini, menyusahkan sekali." Gerutu Dewa saat akan mengangkat tubuh Acha untuk di taruh di atas tempat tidur.
Dengan pelan dan hati-hati. Dewa mencoba mengangkat Acha untuk dipindahkan keatas tempat tidur. "Maafkan Saya Cha. Maaf jika kamu harus masuk kedalam kehidupan saya yang rumit ini." Ucap Dewa saat sudah menaruh Acha diatas tempat tidur.
Dewa kembali meletakan ponsel milik Acha yang sedari tadi dia pegang di atas meja rias . Dewa berjalan menuju sofa untuk merebahkan diri sebentar karena dirinya merasa lelah seharian ini.
Seraya memijit pelipisnya Dewa mencoba memejamkan matanya. Namun, alih-alih memejamkan mata. Dewa masih teringat wajah teduh nan cantik milik Acha. Iya, wajah cantik alami yang Acha punya ternyata mampu menghipnotis Dewa. "Tidak tidak, lebih cantikan Renata, Wa. Renata model papan atas sedangkan Acha hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir." Monolog Dewa sambil terus meyakinkan bahwasannya dirinya tidak boleh mencintai Acha.
******
"Sial bisa-bisanya Dewa mengabaikan panggilan dariku. Kita lihat saja Wa. Apa kamu mampu mengabaikanku berhari-hari sepertini ini." Dengan seringaian yang tercetak jelas diwajahnya.
Renata saat ini berada dikediaman miliknya dan juga Dewa. Iya, Renata tiba-tiba saja kembali pulang kerumah setelah pertengkarannya dengan Keenan sang kekasih gelapnya. Setibanya dirumah, Renata semakin dibuat jengkel. Bagaimana tidak, Tidak ada Dewa dirumah tersebut. Dan dirinya diberitahu oleh salah satu asisten Rumah Tangga, bahwa Dewa berada dikediaman utama saat ini. Menyebalkan bukan?.
Iya, Renata tidak akan bisa menginjakan kaki dikediaman utama tanpa didampingi oleh Dewa. Bagaimana tidak, keluarga besar Karta Wijaya sangatlah membenci dirinya. Tidak masalah baginya dibenci oleh keluarga Karta Wijaya, asalkan Dewa masih masih mencintai dirinya semua akan begitu aman.
"Lebih baik aku tidur saja, besok pagi sekali aku harus datang kekantor Dewa untuk bertemu dengannya. Jangan sampai semua fasilitas yang Dewa berikan dicabut olehnya. Tidak, itu tidak boleh sampai terjadi." Ucap Renata yang saat ini sudah merebahkan diri dikasur kebesarannya bersama Dewa.
****
Keenan masih setia berada didalam club malam milik salah satu temannya saat ini. Seraya menikmati minuman kesukaannya Keenan masih setia menatap ponsel miliknya, iya berkali-kali pula Renata menghubunginya tapi tidak digubris oleh Keenan.
"Maaf Re, aku memang mencintaimu. Tapi, jika kamu menutupi ini semua, lambat laun Dewa pasti akan mengetahui yang sebenarnya. Aku tidak bisa menjamin semuanya akan aman Re." Ucap Keenan sambil memijit pelipisnya yang sudah mulai terasa nyeri.
Hampir seharian ini Keenan tidak berusaha menghubungi Renata maupun kembali ke apartement miliknya. Keenan sedang malas berdebat dengan Renata yang sangat keras kepala untuk diberitahu. Keenan khawatir jikalau Dewa sampai mengetahui bahwa Renata tidak akan pernah bisa hamil karena dirinya sudah tidak punya rahim. Keenan tau betul siapa Dewa sebenarnya dan siapa keluarga Karta Wijaya. Maka dari itu Keenan berusaha keras membujuk Renata untuk jujur kepada Dewa, dengan demikian Dewa pasti tidak akan terlalu marah kepada Renata.
Tapi, Renata tetap Renata. Perempuan arogan dan keras kepala yang ingin menang sendiri. Sudah berulang kali Keenan menasehati tetap saja hasilnya sama. Walaupun dirinya juga turut andil dalam kebohongan ini tapi Keenan sadar kalau dirinya pun bersalah. Bersalah karena sudah bermain api dengan Renata.
Jangan salahkan Keenan jika dirinya selalu berada di Renata, dengan kesibukan Dewa yang luar biasa padatnya. Membuat Renata merasa kesepian sebagai seorang Istri dan melampiaskannya pada sang Manager yaitu Keenan.
"Lo engga balik? Cukup sudah minumnya. Bukannya lo bawa mobil?." Ucap Rafli yang saat ini duduk disamping Keenan.
"Santai Bro, gue belum terlalu mabok ko. Masih bisa kalau masalah nyetir doang."
"Gue cuma mau bilang, sudahi hubungan lo dengan Renata, Kee. Gue engga mau lo kenapa-napa ditangan Dewa. Kita semua disini tau siapa Dewa sebenarnya Kee." Kembali Rafli berucap.
"Gue engga bisa Raf, Renata segalanya buat gue. Dia cinta pertama gue Raf, setelah sekian lama gue dan dia engga ada komunikasi dan sekarang dipertemukan kembali, gue tetep engga bisa lupain dia. Gue tau gue salah Raf, gue akan terima konsekuensi apapun termasuk kehidupan gue yang akan hancur kedepannya." Monolog Keenan
"Gue sebagai sahabat lo, cuman ngingetin aja Kee. Kalau ada apa-apa lo bisa langsung hubungin gue." Ucap Rafli sambil menepuk pundak Keenan.
Bersambung.....