Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EmpatBelas—Pria Narsistik, Zhao Yuchen!
Pagi di Kediaman Gu terasa kian dingin. Selir Lin tiba-tiba dikabarkan melakukan aksi mogok makan, dengan alasan ingin berdoa dengan tulus demi kelancaran pernikahan Gu Lian. Meski demikian, Gu Mingyue tahu betul bahwa itu hanyalah akal-akalan murahan untuk menarik simpati dan belas kasih dari Jenderal Besar Gu.
Gu Mingyue sendiri masih duduk tenang di depan cermin perunggunya yang buram. Jendela kamar sengaja dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan embusan angin musim semi masuk bersama kilauan sinar fajar yang jatuh di atas lantai kayu yang berderit pelan.
"Nona, Tuan Muda Zhao ingin menemui Anda," lapor Fan Li'er hati-hati.
Dari pantulan cermin, Gu Mingyue mengernyit lembut. Gerakan tangannya yang hendak menusukkan konde merah ke sanggulnya seketika terhenti. "Ada apa?"
"Hamba kurang tahu, Nona. Saat ini dia sudah menunggu di ruang tamu."
Gu Mingyue menoleh ke arah Fan Li'er, seulas senyuman dingin terbit di wajahnya. "Siapkan teh dan kue terbaik. Kita harus menjamu 'tamu agung' kita dengan sangat baik," lirihnya penuh arti.
Gu Mingyue menusukkan konde merahnya dengan sekali gerakan yang mantap. Hanfu merahnya berdesik pelan saat ia bangkit berdiri. Ia mulai memoleskan riasan tipis di wajahnya, menampilkan senyum terbaik sebelum akhirnya melangkah keluar dari paviliunnya.
Langkah kakinya pelan mengetuk permukaan batu di depan pintu paviliun. Angin musim semi masih berdesing pelan, menyebabkan rambutnya yang setengah terurai berkibar selaras dengan kain hanfu-nya. Manik gelapnya yang lembut menatap lurus ke arah Zhao Yuchen.
Pria itu tampak duduk di tempat penerimaan tamu, dekat taman bunga yang dahulu dibuat oleh Gu Mingyue. Zhao Yuchen yang biasanya terlihat rupawan, kali ini justru dipenuhi lebih banyak gurat cemas. Beberapa anak rambutnya mencuat berantakan, lengkap dengan lingkaran bawah mata yang menggelap.
Gu Mingyue yang pernah menikah dengan pria itu di kehidupan lalunya, bahkan belum pernah melihatnya sekacau sekarang.
"Tuan Zhao, Anda datang terlalu pagi," ucap Gu Mingyue setelah sampai di bawah gazebo kecil.
"Mingyue, akhirnya kau mau menemuiku," pria itu berkata lega. Ia segera berdiri dan refleks bergerak hampir memegang tangan Mingyue, yang langsung ditolak halus oleh gerakan menghindar dari sang gadis.
"Kapan saya pernah menolak menemui Anda?"
"Mingyue..." Zhao Yuchen kehilangan kalimatnya sesaat.
Pelayan datang mendekat, meletakkan teko teh melati yang mengepulkan uap hangat ketika dituang ke dalam cangkir. Kue manis yang masih mengepul hangat pun tersaji di hadapan mereka.
"Tuan, minumlah dahulu," ucap Gu Mingyue tenang.
Zhao Yuchen menyesap teh melati itu perlahan, berusaha menenangkan debar cemas di dadanya. "Mingyue, aku sedang memikirkan masa depan kita."
Dahi gadis itu berkerut lembut, kedua alisnya bertaut samar. "Apa maksud Anda, Tuan Muda Zhao?"
Zhao Yuchen menatap Gu Mingyue cukup lama. Ia mencoba mencari sisa rasa percaya diri dalam dirinya bahwa Mingyue masih menyukainya dan selalu luluh kepadanya, sama seperti dulu.
"Aku ingin kau menjadi istri pendamping yang masuk ke kediamanku bersama dengan Gu Lian."
"Tuan Muda Zhao, sepertinya Anda sedang meracau," sahut Gu Mingyue dingin. Gadis itu sudah hampir bangkit berdiri ketika sentakan tangan Zhao Yuchen yang mendadak menahan lengannya memaksa Mingyue untuk kembali duduk.
"Mingyue, dengarkan aku!"
"Tuan, Anda akan menikah dengan adik tiri saya," ucap Gu Mingyue mengingatkan, menatap tajam tangan pria itu yang masih mencengkeram lengannya.
"Mingyue, kejadian malam itu adalah kecelakaan dan salah paham! Kami... kami... kami sama-sama mabuk saat itu!"
Gu Mingyue menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum sinis. "Tapi kalian berdua menikmatinya. Adik saya telah Anda nodai, Tuan."
Zhao Yuchen makin panik, kepalanya menggeleng dengan cepat sementara bibirnya bergetar hebat. "Mingyue, aku berjanji akan tetap menikahimu dan menjadikanmu sebagai istri utama setelah keadaan di luar sana stabil."
"Saya rasa Anda terlalu banyak terkena embusan angin malam."
"Mingyue! Aku melakukan ini hanya karena memikirkan masa depan kita bersama!"
"Masa depan yang bagaimana, Tuan Zhao?" pancing Gu Mingyue dengan nada meremehkan.
"Kau bisa masuk ke dalam Keluarga Zhao tepat bersamaan dengan Gu Lian sebagai istri pendamping. Lalu, setelah semua kekacauan ini mereda dan keadaan stabil, kau akan segera kuangkat menjadi istri utama. Percayalah padaku, Gu Mingyue, di dalam hatiku ini hanya ada dirimu seorang!"
Gu Mingyue tertawa pelan. "Lalu?"
"Tapi, kau harus membawa seluruh harta mas kawin mendiang Nyonya Besar Gu bersamamu agar kau tidak diremehkan di sana," desak Zhao Yuchen dengan mata berbinar serakah yang tak mampu ia sembunyikan lagi. "Harta itu akan sangat membantu proses adaptasimu dan kita. Begitu keadaan kita stabil dan aku berhasil mendapatkan posisi yang jauh lebih baik di pemerintahan, aku akan segera menjadikanmu istri utama yang memegang penuh seluruh aturan rumah tangga."
Mendengar bait demi bait kalimat tak tahu malu yang keluar dari lisan pria narsistik di hadapannya, Gu Mingyue terkekeh semakin kencang. Ia tertawa cukup lama hingga wajahnya sedikit memerah akibat rasa geli yang luar biasa.
"Maaf, Tuan Zhao, tawaran itu sama sekali tidak menguntungkanku," tandas Gu Mingyue tajam seraya menepis kasar cengkeraman tangan pria itu dari lengannya. Ia berdiri tegak, menatap rendah ke arah Zhao Yuchen. "Aku adalah putri sah dari Kediaman Utama Jenderal Besar Gu. Menikah hanya untuk menjadi seorang istri pendamping di rumahmu, sama saja dengan merendahkan status dan harga diriku sendiri."
"Hanya sementara!" desak Zhao Yuchen, matanya berkilat memohon sekaligus memaksa.
Tatapan mata Gu Mingyue seketika berubah tajam, penuh dengan kilat amarah yang dingin. "Tuan, saya rasa lebih baik saya tidak menikah sama sekali seumur hidup, daripada harus berakhir bersamamu!"
Zhao Yuchen kian tak mampu menahan amarahnya lagi. Tekanan besar dari keluarganya yang saat ini sedang terkepung akibat skandal korupsi pamannya, kian memojokkan posisinya. Ia sangat membutuhkan aliran dana segar dan cepat demi menyelamatkan stabilitas kedudukannya, dan memperdaya Gu Mingyue adalah pilihan paling tepat yang ia miliki saat ini.
Tangan pria itu terkepal erat di atas meja kayu. Sejurus kemudian, ia menggebrak permukaan meja dengan sekali hentakan keras, membuat cangkir-cangkir dan teko teh di atasnya berguncang lalu jatuh berhamburan ke atas tanah.
"Kurang ajar!" bentak Zhao Yuchen meradang, topeng kelembutannya runtuh sepenuhnya. "Pria mana lagi yang bersedia menikahimu di ibu kota ini selain aku?! Keluargamu sekarang sudah terseret ke dalam skandal yang begitu kotor!"
Gu Mingyue menatap reruntuhan keramik di bawahnya dengan ekspresi datar, lalu kembali menatap Zhao Yuchen dengan sorot mata meremehkan.
"Itu skandal Anda dan adik saya, Tuan. Bukan saya."
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya