NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam telah larut, meninggalkan sisa-sisa kesibukan acara bakti sosial yang melelahkan. Di taman belakang bangunan komunitas **Muslimah Till Jannah**, angin malam berembus pelan, mengayunkan daun-daun pohon peneduh. Wulan sudah mulai bisa berdiri dan berjalan perlahan, meskipun langkahnya masih tampak ringkih. Hasna, dengan kesetiaan seorang kakak, berjalan di sampingnya, menuntunnya menuju sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke taman bunga.

Mereka duduk bersisian dalam keheningan malam yang sunyi, ditemani pendar cahaya lampu taman yang kekuningan. Wulan menatap profil samping Hasna yang tampak tenang, lalu sebuah pertanyaan yang sejak lama mengusik benaknya mengalir begitu saja.

"Kak Hasna... mengapa Kakak tidak menikah lagi?" tanya Wulan dengan suara rendah, hampir berbisik. "Apakah... karena trauma masa lalu itu?"

Hasna terdiam sejenak. Matanya menerawang menatap gelapnya malam. "Trauma... dulu sempat ada, Wulan. Rasa takut itu begitu mencengkeram sampai aku merasa tidak ada lagi laki-laki baik di dunia ini." Hasna menarik napas panjang, tersenyum di balik cadarnya. "Namun, karena sering mendengarkan ceramah Ustadz Fatih, hatiku perlahan melunak. Dia memberiku motivasi untuk bangkit. Bahkan, sejujurnya... aku sempat mengharapkan sosok suami seperti beliau. Namun, mungkin kami memang tidak berjodoh."

Wulan menoleh, dadanya mendadak berdesir aneh. "Maksud Kak Hasna...?"

"Dulu, ketika aku mengalami trauma berat akibat KDRT dan keguguran, Umi—ibunya Ustadz Fatih—selalu menghiburku dan merawatku di rumahnya. Beliau begitu baik, bahkan sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Puncaknya, Umi pernah meminta Ustadz Fatih untuk menikahiku, menjadikanku istrinya agar ada yang melindungiku," cerita Hasna tanpa beban.

Jantung Wulan seolah berhenti berdetak. "Lalu... apa jawaban Ustadz Fatih, Kak?"

"Dia menolak dengan sangat halus," Hasna terkekeh kecil, mengenang masa lalu. "Ustadz beralasan bahwa dia tidak bisa menerima wanita lain karena dia sedang menunggu kepastian dari seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya di Tasikmalaya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap setia sampai takdir mempertemukan mereka kembali."

***Deg.***

Hati Wulan seketika berguncang hebat. Gumpalan es batu yang selama seminggu ini membeku di dalam dadanya perlahan terkikis oleh rasa hangat yang menyakitkan. “Tasikmalaya... Pria itu... Kang Abbas-ku... dia menungguku? Dia menolak wanita sebaik Kak Hasna demi menanti diriku yang tidak jelas keberadaannya?” batin Wulan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tapi takdir memang lucu, Wulan," lanjut Hasna, membuyarkan lamunan Wulan. "Beberapa waktu lalu, kudengar dari Umi, Ustadz akhirnya menikah karena terpaksa oleh keadaan. Menikahi seorang gadis bernama Bella untuk menyelamatkan kehormatannya. Dan hari ini, kamu lihat sendiri kan? Ustadz Fatih datang ke baksos kita dengan wajah yang begitu kuyu dan frustrasi."

Wulan meremas jemarinya sendiri. "Kenapa... kenapa wajahnya sampai sehancur itu, Kak?"

"Dia sedang menderita atas kesalahpahamannya yang cukup besar," jawab Hasna dengan nada iba. "Dia menceritakan padaku dan Pak Ridwan tadi, bahwa istrinya diculik oleh oknum polisi. Ustadz mengaku bersalah... dia termakan fitnah keji karena melihat foto yang menurut zahirnya adalah bukti perselingkuhan istrinya, sehingga dia kalap dan mengusirnya malam itu. Sekarang, setelah tahu itu semua hanya jebakan untuk menghancurkan rumah tangganya, dia mengutuk dirinya sendiri setiap detik. Dia mencari istrinya seperti orang gila."

Mendengar penuturan Hasna, hati Wulan terasa seperti teriris-iris sembilu. Perih, sangat perih hingga ia harus menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah. “Jadi... kamu mengusirku bukan karena kamu tidak pernah mencintaiku, Kang? Kamu mengusirku karena kamu terluka oleh fitnah itu? Kamu mencariku sekarang karena kamu menyesal?”

Hasna menghela napas pendek, menatap langit. "Jika saja istrinya ditakdirkan tidak diketemukan... sebenarnya ego kecilku ingin sekali menikah dengannya, merawat lukanya. Tapi itu hanya sebatas harapan kosong. Aku tahu Ustadz Fatih adalah tipe pria yang sangat setia. Sekalinya dia mencintai, dia akan mengejarnya sampai mati."

Wulan mencoba menata napasnya yang sesak. Sambil menahan gejolak di dadanya, ia bertanya dengan nada getir, "Jika dia seorang ustadz yang serba tahu... kenapa dia tega mengusir istrinya? Mengapa dia tidak bisa memaafkannya saat itu? Padahal... padahal dia bisa membuat Kak Hasna bangkit kembali dari keterpurukan, tapi mengapa dia justru menghancurkan istrinya sendiri?"

Hasna menoleh, menatap mata Wulan yang berkilau oleh air mata. "Itulah namanya manusia, Wulan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Mau dia seorang ustadz, kiai, atau pangkat apa pun, dia pasti punya kelemahan. Disadari atau tidak, disengaja ataupun tidak, amarah bisa membutakan mata hati siapa saja. Dan semua ini... adalah ujian dari Allah untuk istrinya, untuk Ustadz Fatih, dan untuk kita semua agar lebih dekat dengan Sang Pencipta."

Di bawah keheningan malam, Wulan menundukkan kepalanya. Kata-kata Hasna perlahan meresap ke dalam jiwanya yang terluka. Di dalam hati kecilnya, Wulan mulai belajar untuk memaafkan Fatih. Ia mengerti sekarang bahwa suaminya hanyalah manusia biasa yang bisa goyah oleh badai fitnah yang begitu rapi. Namun, meski rasa benci itu mulai memudar, ketetapan hatinya telah bulat: ia tidak ingin lagi bertemu dengan Fatih. Ia terlanjur cacat secara batin.

Wulan menatap Hasna dengan tatapan tulus. Sebagai bentuk utang nyawanya karena telah diselamatkan dari tepi jalanan, Wulan diam-diam berdoa di dalam hatinya agar kelak Hasna bisa hidup bahagia bersama pria idolanya itu—pria yang bernama Fatih.

### **Bulan yang Sama, Rindu yang Sama**

Wulan perlahan bangkit dari bangku kayu, melangkah mendekati pembatas taman. Ia berdiri tegak, mendongakkan kepalanya menatap rembulan malam yang bersinar terang benderang di langit hitam.

Seketika, memorinya melesat mundur ke sepuluh tahun yang lalu, di tanah Tasikmalaya. Ia teringat suatu malam di bulan Ramadhan, selepas mereka pulang dari ibadah salat tarawih berjamaah. Abbas selalu berjalan beberapa langkah di belakangnya untuk menjaganya, lalu berhenti di bawah pohon rindang, menunjuk ke arah langit.

"Indah yah bulannya, Wulan... Sayangnya jauh," ucap suara Abbas di masa lalu, terngiang begitu nyata di telinga Wulan saat ini.

Saat itu, Wulan muda hanya tersenyum malu-malu di balik kain yang menutupi wajahnya. Lalu Abbas akan melanjutkan kalimatnya dengan tatapan mata yang begitu hangat:

"Namun... ada yang dekat dan jauh lebih indah dari rembulan itu. Kamu, Wulan."

Air mata Wulan luruh tanpa bisa dibendung lagi, membasahi kain cadar putihnya. Di tempat yang berbeda, di teras kamar pesantrennya, seorang pria dengan pakaian koko yang kusut juga sedang berdiri diam. Fatih menatap rembulan yang sama. Bulan yang selama sepuluh tahun ini selalu ia rindukan, bulan yang selalu mengingatkannya pada gadis Tasikmalaya-nya.

Namun malam ini, rasa rindu itu bercampur dengan rasa bersalah yang mencekik lehernya. Pria itu tidak pernah tahu, bahwa rembulan yang ia rindukan di masa lalu dan istri terusir yang ia cari di masa kini, sedang menatap langit yang sama, meratapi nasib mereka yang terpisah oleh dinding kesalahpahaman.

### **Dua Tragedi di Satu Waktu**

"Wulan, ayo kita masuk. Angin malam semakin dingin, tidak baik untuk pemulihanmu," ajak Hasna sambil bangkit dari bangkunya.

Wulan menghapus air matanya dengan cepat, berbalik menatap Hasna. "Iya, Kak."

Namun, baru saja Wulan melangkah dua kali mengikuti Hasna menuju pintu belakang bangunan, kepalanya mendadak terasa dihantam oleh godam yang sangat berat. Pandangannya berputar seketika. Rasa pusing yang teramat sangat menyerang saraf-saraf kepalanya, membuat seluruh tenaganya menguap dalam sekejap.

"Kak Hasna... kepala—"

Bruk!

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Wulan ambruk ke atas rumput taman, jatuh pingsan untuk yang kedua kalinya dalam hari itu. Kesadarannya hilang total akibat tekanan psikologis dan kelelahan batin yang bertubi-tubi.

"Wulan! Ya Allah, Wulan! Tolong! Siapa saja di dalam, tolong!" teriak Hasna histeris, berlutut mencoba menahan tubuh Wulan yang terkulai lemas.

Di waktu yang bersamaan, beberapa kilometer dari tempat itu, suasana di dalam rumah Abi Ahmad begitu sunyi. Fatih yang dari tadi menatap bulan purnama dijendela kamarnya, keluar dari kamarnya dengan langkah frustrasi. Pikirannya buntu, jiwanya lelah setelah seharian mencari Bella tanpa hasil di lapangan baksos tadi.

Ia berjalan menuju tangga tengah untuk turun ke lantai bawah, hendak mengambil air minum guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan panas. Saat berada di pertengahan tangga, matanya tidak sengaja melihat ke arah ruang tengah. Di sana, di bawah remang lampu, tampak Umi sedang duduk melamun seorang diri dengan tasbih yang diam di tangannya—wujud kesedihan seorang ibu yang kehilangan menantu kesayangannya.

Melihat ibunya yang seperti itu, rasa bersalah di hati Fatih semakin memuncak, memecah konsentrasinya. Langkah kakinya menjadi tidak sinkron dengan pikirannya yang kacau.

Tepat di anak tangga ketiga dari bawah, kaki Fatih terpeleset pada tepian kayu yang licin. Tubuhnya kehilangan keseimbangan sepenuhnya.

"Aaah...!" Fatih berteriak spontan.

Gubrak!

Tubuh Fatih jatuh terjerembap dengan keras, berguling menghantam lantai ubin bawah tangga. Sentuhan keras itu menimbulkan suara dentuman yang memecah kesunyian malam pesantren. Fatih mengerang kesakitan, memegangi kakinya yang terasa nyeri luar biasa, sementara Umi tersentak kaget dari lamunannya dan langsung berdiri dengan wajah pucat.

Malam itu, takdir seolah sedang mempermainkan mereka dengan cara yang paling tragis. Di satu sudut kota, sang istri tumbang dalam pelukan takdir yang menyakitkan, sementara di sudut lain, sang suami terjatuh dalam jurang penyesalan yang tak berdasar. Rembulan di atas sana tetap bersinar, membisu menyaksikan dua jiwa yang saling merindukan namun terus berjalan di arah yang saling memunggungi.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!