"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sosok dari Pasar Suci
"Siapa di sana?!" seru Anna dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram erat Jarum Emas di depan dada sebagai pelindung diri.
Permukaan cermin tua di sudut gudang itu benar-benar telah berubah menjadi riakan seperti air. Alih-alih memantulkan bayangan gudang bawah tanah yang kumuh, kaca itu kini menampilkan siluet samar seorang 'pria misterius' yang mengenakan jubah beludru gelap dengan tudung yang menutupi setengah wajahnya. Latar belakang di sekeliling pria itu tampak megah namun pencahayaannya remang-remang, penuh dengan tumpukan gulungan perkamen dan artefak kuno.
Pria di balik cermin itu tampak tertegun selama beberapa saat. Sepasang mata birunya yang tajam menembus batas dimensi, menatap lurus ke arah Anna.
"Fluktuasi Mana kuno yang begitu murni ... dan jarum penenun takdir itu telah bangkit kembali," sebuah suara bariton yang berat dan bergaung pelan terdengar dari balik permukaan cermin. Pria itu menyipitkan mata, mencoba mencermati sosok Anna. Namun, karena Anna masih mengenakan penutup kepala kain kelabunya dan berdiri di sudut yang minim cahaya lilin, pria misterius itu sama sekali tidak bisa melihat wajah ataupun warna rambut merah anggurnya dengan jelas.
"Siapa Anda? Kenapa Anda bisa muncul di dalam cermin rumah ini?" tuntut Anna, berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan nada bicara yang tegas.
Pria itu terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar berbahaya namun penuh ketertarikan. "Pertanyaan yang bagus, Gadis kecil. Perkenalkan saya adalah Valen, agen informasi dan penghubung pasar suci lintas kerajaan. Cermin yang Anda miliki itu adalah cermin transmisi rahasia yang terhubung langsung dengan jaringan kami. Saya tidak menyangka, setelah puluhan tahun mati, cermin di pinggiran Solmara ini mendadak aktif kembali karena dipicu oleh sihir legendaris yang luar biasa murni."
Anna mengernyitkan dahi. Sihir legendaris? Ia segera menyadari bahwa pria ini mengira dirinya adalah seorang penyihir hebat dari masa lalu yang sedang bersembunyi dari kejaran kekaisaran.
"Saya bukan penyihir hebat yang Anda maksud. Saya hanya penjahit miskin yang sedang ditekan dan diperas oleh Guild Borjuis Solmara yang korup," ketus Anna, kelepasan melepas sebagian keluh kesah dan kekesalannya yang terpendam akibat kejadian sore tadi.
"Guild Borjuis?" Valen mendengus meremehkan dari balik cermin.
"Sekumpulan lintah darat serakah yang hanya tahu cara memajaki pedagang kecil. Jika Anda benar-benar hanya 'penjahit miskin', kain perca di tangan Anda tidak akan bertransformasi menjadi serat sutra premium hanya dengan sekali sentuh. Nona, Anda memegang bakat yang bisa mengguncang industri tekstil kekaisaran."
Anna terdiam, menatap kain perca lusuh di tangannya yang kini memang telah berubah menjadi selembar kain yang luar biasa halus dan berkilau bak sutra.
Valen memajukan tubuhnya, membuat siluetnya di balik riakan air tampak lebih jelas. "Bagaimana kalau kita melakukan sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan? Sebuah jalur bisnis rahasia. Jika Anda bisa menyuplai pakaian, jubah, atau syal yang ditenun dengan sihir yang kau miliki, pasar suci kami akan membelinya dengan harga ratusan koin emas secara tunai."
"Ra–Ratusan koin emas?" Anna terperangah, jantungnya bertalu cepat mendengar angka fantastis itu.
"Benar. Tanpa potongan pajak, tanpa perlu melewati jalur izin Guild yang korup, dan identitas Anda akan dijaga ketat di bawah sumpah sihir pasar suci kami," tawar Valen dengan nada persuasif. "Bagaimana, Nona? Anda bisa mendapatkan bahan dari mana saja, menyulapnya menjadi mahakarya, dan kami yang akan mendistribusikannya ke kalangan atas yang membutuhkan proteksi rahasia."
Anna berpikir keras. Ini adalah kesempatan emas untuk keluar dari jebakan denda 50 koin emas yang dijatuhkan Guild Borjuis. Dengan memurnikan kain sampah menjadi barang mewah, ia tidak perlu modal besar.
"Baik, saya menerima kontrak kerja sama ini," jawab Anna dengan nada mantap. "Namun, saya tidak akan menggunakan nama asli saya dalam transaksi apa pun."
"Tentu saja. Privasi klien adalah aturan utama kami," sahut Valen dengan senyum yang samar terlihat. "Lalu, nama apa yang ingin Anda gunakan sebagai identitas rahasia Anda di pasar suci?"
Anna menatap keluar jendela gudang kecilnya yang memperlihatkan bulan purnama yang bersinar indah dan lembut di langit malam Solmara. "Panggil saya ... Ruby Rose". Anna mendadak teringan namanya sendiri yang tak bisa dia pakai sembarangan lagi sekarang.
"Nama yang cantik untuk seorang gadis kecil sepertimu. Sampai jumpa minggu depan di jam yang sama, Nona Ruby," ucap Valen sebelum riakan air di cermin itu perlahan membeku kembali, mengembalikan fungsi cermin tua itu menjadi kaca berdebu seperti semula.
Sementara itu, di waktu yang sama, keheningan yang berbeda menyelimuti kastil militer Solmara.
Di dalam ruang kerja bertembok batu yang luas, Panglima Tertinggi Aethan Cassian Solaris sedang duduk sendirian di balik mejanya. Penerangan di ruangan itu hanya berasal dari perapian yang menyala hangat. Namun, alih-alih memeriksa tumpukan dokumen militer atau laporan perbatasan, perhatian Aethan tersita sepenuhnya oleh selembar kain katun putih di tangannya.
Itu adalah saputangan mawar pertama milik Anna yang tertinggal di meja interogasi sore tadi.
Aethan mendekatkan kain itu ke hidungnya, menghirup aroma mawar segar yang menenangkan. Anehnya, meski pelayannya sudah mencuci kain itu berkali-kali dengan sabun pembersih yang kuat atas perintahnya, aroma mawar itu tetap melekat kuat, sama sekali tidak memudar. Bahkan, setitik noda darah kering di tengah sulaman itu tetap memancarkan riakan energi hangat yang terasa sangat familier di kulitnya.
Setiap kali Aethan menyentuh kain itu, kutukan darah hitam yang biasanya menyiksa detak jantungnya mendadak mereda dengan drastis, memberikan rasa damai yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Aethan menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata saat memori sore itu berputar kembali di kepalanya. Ia teringat bagaimana tubuh mungil gadis berkain itu terasa pas dan hangat di dalam dekapannya. Ia teringat wangi tubuhnya, ketakutannya, dan yang paling penting, kilatan rambut merah anggur (red wine) yang sempat menyembul dari balik lilitan kain linennya. Warna rambut langka yang hanya dimiliki oleh garis keturunan penyihir terlarang yang dikabarkan telah punah.
"Siapa kau sebenarnya, Tikus Kecil. Kenapa darahmu bisa menenangkan kutukanku?" gumam Aethan dengan suara rendah yang serak, matanya mendadak terbuka, memancarkan kilatan elang yang tajam dan posesif.
TOK! TOK! TOK!
Pintu ruang kerja diketuk, dan seorang ajudan militer berpangkat kapten melangkah masuk, membungkuk hormat. "Melapor, Panglima. Ada hal yang perlu Anda instruksikan untuk patroli bazar minggu depan?"
Aethan meletakkan saputangan mawar itu di atas mejanya, lalu menatap sang ajudan dengan dingin. "Cari tahu siapa gadis penjual saputangan berkain kepang yang berjualan di gang buntu bazar Solmara. Selidiki latar belakang keluarganya, jalurnya, dan di mana dia tinggal."
Ajudan itu tertegun sejenak, namun segera menundukkan kepala. "Siap, Panglima! Apakah kami harus menangkapnya atas tuduhan penjualan barang magis ilegal jika menemukannya?"
"Tidak," perintah Aethan dengan nada datar yang tidak bisa dibantah. "Jangan sentuh dia dengan kasar. Cukup awasi, dan begitu dia muncul lagi, bawa dia langsung menghadapku secara pribadi."
lanjut yaaaaa