Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Runtuh
Pak Adi tiba kembali di lembaga pemasyarakatan ketika matahari mulai condong ke barat. Udara sore terasa sedikit lebih sejuk dibandingkan siang tadi, sementara aktivitas di area workshop masih berlangsung. Dari kejauhan sudah terdengar suara gergaji yang bergesekan dengan kayu, dentingan palu, serta percakapan para narapidana yang sedang menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Namun perhatian Pak Adi langsung tertuju pada satu sudut ruangan yang dikerumuni cukup banyak orang.
"Ada apa lagi ini?" tanya Pak Adi. Ia mempercepat langkah. Sesampainya di sana, ternyata beberapa sipir dan para tahanan sedang mengelilingi meja kerja Faris. Bahkan salah seorang petugas administrasi lapas ikut memperhatikan hasil karya pemuda itu dengan wajah takjub.
Di atas meja bukan hanya terdapat sebuah kursi atau lemari seperti sebelumnya. Kini berjajar berbagai perabot dengan desain yang sama sekali berbeda dari model standar yang biasa dibuat di workshop. Ada rak buku yang dapat dilipat menjadi meja belajar, bangku kecil yang bagian dalamnya dapat digunakan sebagai kotak penyimpanan, hingga meja kerja yang dapat dibongkar pasang tanpa menggunakan paku tambahan.
Pak Adi mengangkat salah satu bangku tersebut dan membaliknya beberapa kali. "Ini... bagaimana kamu mendapat ide seperti ini?"
Faris menggaruk pipinya sambil tersenyum canggung.."Saya cuma berpikir, Pak. Kalau satu barang bisa punya dua fungsi, bukankah orang jadi lebih hemat tempat?"
Pak Adi hanya mengangguk pelan. Jawaban itu terdengar sederhana..Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya semakin kagum.
Seorang sipir lain mencoba melipat meja buatan Faris.
"Hah? Cepat sekali."
"Kalau begini enak dibawa."
"Ringan juga."
Beberapa tahanan mulai bertepuk tangan kecil.
"Hei, Faris!"
"Nanti ajari kami juga!"
"Iya, jangan pelit ilmu."
Faris tertawa kecil. "Kalau saya sudah paham cara menjelaskannya, pasti saya ajari."
Pak Adi memperhatikan pemuda itu beberapa saat. Semakin lama dilihat, semakin sulit baginya mempercayai bahwa anak ini adalah seorang pengedar narkoba.
'Andai dia bebas... Workshop milikku benar-benar membutuhkan orang seperti ini.'
Pak Adi memang memiliki usaha furnitur kecil di luar pekerjaannya sebagai instruktur lapas. Selama bertahun-tahun usahanya berjalan biasa-biasa saja karena desain yang diproduksi selalu mengikuti model lama. Namun melihat kreativitas Faris, dia membayangkan kemungkinan yang berbeda.
'Kalau dia bekerja bersamaku... Mungkin usaha itu bisa berkembang jauh lebih besar.'
Sementara itu, Faris sama sekali tidak mengetahui isi pikiran pria paruh baya tersebut. Fokusnya justru tertuju pada layar biru yang terus melayang di sudut penglihatannya.
Ding!
[Proyek selesai.]
[Poin +8.]
[Poin +6.]
[Poin +9.]
Deretan angka terus bermunculan. Poin Faris kini sudah melewati seratus tiga puluh. Jumlah itu memang jauh lebih besar dibanding beberapa hari sebelumnya. Namun semakin dihitung, wajahnya justru semakin muram.
"Aduh..."
Pak Adi yang kebetulan berada di dekatnya menoleh. "Kenapa?"
"Eh? Tidak apa-apa, Pak."
"Kelihatannya malah seperti sedang pusing."
Faris cepat-cepat menggeleng. "Cuma capek sedikit."
Pak Adi mengangguk tanpa curiga. Setelah semua orang kembali bekerja, Faris segera memanggil sistem dalam hati.
"Sistem!"
[Ya, pengguna.]
"Poinku sekarang berapa?"
[136 poin.]
Faris menghela napas. "Masih sedikit."
[Benar.]
"Kamu tidak perlu selalu membenarkan hal yang menyakitkan."
[Sistem hanya menyampaikan fakta.]
Faris memijat dahinya. "Kalau begini, kapan aku bisa membeli kemampuan yang mahal?"
[Perkiraan: sangat lama.]
"Sangat lama itu berapa?"
[Jika pengguna tetap membuat bangku kecil seperti hari ini, estimasi sekitar tiga puluh dua tahun.]
Faris hampir tersedak ludahnya sendiri. "Tiga puluh dua tahun?!"
Beberapa tahanan langsung menoleh.
"Ada apa?"
Faris buru-buru tersenyum. "Tidak... saya cuma salah menghitung."
Para tahanan kembali bekerja. Sementara Faris menggertakkan giginya pelan.
"Kamu sengaja membuatku stres?"
[Tidak.]
[Sistem hanya ahli menghitung.]
"Kalau begitu beri solusi!"
Beberapa detik berlalu. Lalu layar kembali berkedip.
[Saran.]
[Buat inovasi dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.]
"Masalahnya workshop ini cuma punya kayu."
[Benar.]
"Aku tidak mungkin tiba-tiba membangun gedung pencakar langit di penjara."
[Pengguna akhirnya memahami keterbatasan lokasi.]
"Aku sudah tahu dari tadi!"
Faris mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mengenal sistem, ia merasa benar-benar mentok. Seluruh furnitur sederhana yang terpikirkan sudah dirinya buat. Semuanya sudah dimodifikasi semaksimal mungkin. Kalaupun masih ada ide baru, hadiahnya kemungkinan tidak akan jauh berbeda. Ia membutuhkan tantangan yang jauh lebih besar.
Namun tantangan seperti apa yang bisa ditemukan di dalam penjara?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga waktu kerja sore hampir selesai. Para tahanan mulai membereskan peralatan. Sebagian menyapu serbuk kayu. Sebagian lagi mengangkat hasil pekerjaan ke gudang penyimpanan.
Faris ikut membantu mengangkat beberapa meja. Saat itulah, tanpa peringatan sedikit pun, lantai di bawah kakinya tiba-tiba bergetar. Semua orang langsung berhenti bergerak.
"Hah?"
"Apa itu?"
Getaran pertama berlangsung singkat. Namun beberapa detik kemudian guncangan kedua datang jauh lebih kuat.
GRRRAAAKKK!!
Seluruh workshop bergoyang. Papan-papan kayu yang disusun di rak mulai berjatuhan. Beberapa palu menggelinding dari meja. Lampu gantung berayun keras.
"GEMPA!"
Salah seorang sipir langsung berteriak.
"Semua keluar!"
Para tahanan spontan berlarian menuju halaman terbuka. Suasana mendadak kacau. Ada yang tersandung. Ada yang saling bertabrakan.
Suara benda-benda yang berjatuhan bercampur dengan teriakan panik dari berbagai arah. Faris ikut berlari bersama yang lain. Namun sebelum mencapai pintu, matanya menangkap sesuatu.
Di sisi kanan workshop berdiri bangunan kantor sipir yang sudah cukup tua. Bangunan itu memang terlihat kokoh dari luar. Tetapi sejak pertama kali melihatnya, Faris selalu merasa ada sesuatu yang aneh pada struktur dindingnya.
Kini, di tengah guncangan gempa, keanehan itu mulai terlihat jelas. Retakan panjang muncul dari salah satu sudut pondasi. Retakan itu menjalar cepat menuju pilar utama. Mata Faris langsung membelalak.
"Itu..."
Layar sistem tiba-tiba muncul.
DING!
[Peringatan!]
[Analisis struktur aktif.]
Dalam sekejap, bangunan itu dipenuhi garis-garis transparan berwarna merah yang hanya bisa dilihat Faris. Beberapa titik bahkan berkedip cepat.
[Pilar Utama A mengalami kegagalan struktur.]
[Distribusi beban tidak seimbang.]
[Probabilitas keruntuhan: 94%.]
Napas Faris tertahan. "Apa?!"
Belum sempat dia berkata apa-apa...
KRAAAKKK!!
Suara mengerikan menggema. Pilar bagian depan patah. Atap kantor sipir langsung miring.
"Demi Tuhan!"
"Bangunannya roboh!"
Beberapa sipir yang berada di halaman hanya bisa memandang dengan wajah pucat. Bangunan itu memang tidak ambruk seluruhnya. Namun bagian depan kantor runtuh begitu saja, menghancurkan teras, meja administrasi, serta sebagian ruang arsip. Debu tebal langsung membumbung ke udara. Orang-orang yang berada di sekitar lokasi buru-buru mundur.
Beruntung gempa tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian getaran berhenti. Suasana berubah sunyi. Yang terdengar hanya suara batuk orang-orang akibat debu.
Pak Adi memandang kantor yang roboh dengan wajah tidak percaya. "Bagaimana bisa..."
Gempa tadi sebenarnya tidak terlalu besar. Bangunan lain di dalam lapas hanya mengalami retakan kecil. Namun kantor sipir justru roboh hampir separuh.
Faris masih berdiri memandangi bangunan tersebut. Semakin lama diperhatikan, semakin jelas kesimpulan yang muncul di kepalanya.
"Bukan karena gempanya... Bangunan itu memang bermasalah sejak awal."
Layar sistem kembali berkedip.
DING!
[Misi Baru Terdeteksi.]
[Misi Insinyur Darurat.]
[Temukan penyebab keruntuhan bangunan.]
[Rancang solusi perbaikan yang lebih aman.]
[Hadiah dasar: 100.000 poin.]
[Hadiah tambahan menyesuaikan kualitas rancangan.]
Mata Faris langsung membelalak.
"Seratus ribu poin?"
Jantungnya berdegup jauh lebih cepat. Ini adalah hadiah terbesar yang pernah ia lihat sejak memperoleh sistem. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah masam.
"Aku lupa... Aku masih narapidana. Mana mungkin ada yang mau mendengar pendapat seorang tahanan?"
[Analisis.]
[Itulah tantangan pengguna.]
Faris mendengus pelan. "Aku tahu."
"Lagi-lagi kamu membuat hidupku sulit."
[Koreksi.]
[Sistem hanya memberikan kesempatan.]
Faris memandangi kantor yang setengah roboh itu cukup lama.