NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaga Malam dan Kopi Dingin

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 02.15 WIB. Hujan di luar telah berubah menjadi gerimis halus yang menenangkan, menciptakan irama alam yang konstan. Di dalam rumah, keheningan hanya dipecah oleh suara dengungan AC yang pelan dan sesekali suara langkah kaki Zidan yang berhati-hati saat ia keluar dari kamar Rani untuk mengambil air minum.

Zidan duduk di sofa ruang tamu dengan laptop terbuka di pangkuannya. Layarnya menampilkan blueprint desain gedung perkantoran baru, namun matanya tidak benar-benar fokus pada garis-garis teknis itu. Setiap lima belas menit, ia akan berdiri, berjalan pelan ke kamar ibunya, mengintip sekilas untuk memastikan Rani masih tidur nyenyak, lalu kembali ke posisinya.

Di lantai atas, Viona terbangun. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena rasa haus yang mencekam. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Teringat janji Zidan tadi sore, ia ragu sejenak. Apakah harus turun? Atau mengambil air mineral di meja samping tempat tidurnya saja?

Namun, rasa penasaran—dan mungkin keinginan tersembunyi untuk melihat apakah Zidan benar-benar terjaga—membuatnya bangkit. Ia mengenakan cardigan tebal, lalu melangkah keluar kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Saat mencapai ujung tangga, ia melihat cahaya redup dari layar laptop Zidan menerangi wajah pria itu. Zidan tampak lelah. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, dan secangkir kopi yang sudah dingin tersisa di meja kopi. Posturnya sedikit membungkuk, tanda kelelahan fisik yang ia tutupi dengan sikap tegapnya.

Viona turun perlahan, kakinya tidak bersuara di atas karpet tangga. Saat ia mencapai lantai dasar, Zidan langsung menoleh. Instingnya tajam, bahkan dalam keadaan setengah tertidur.

"Kenapa belum tidur?" tanya Zidan, suaranya serak khas orang yang baru bangun atau kurang tidur. Ia segera menutup laptopnya separuh.

Viona tersenyum kecil, berjalan mendekat. "Haus. Dan... aku khawatir Kakak kedinginan kalau tidur di sofa."

"Aku tidak tidur," bantah Zidan singkat. "Aku bekerja. Dan memantau Ibu."

Viona duduk di sisi sofa yang berlawanan, menarik kakinya ke dada.

"Kopi Kakak sudah dingin. Mau aku buatkan yang baru?"

Zidan menggeleng. "Tidak perlu. Kafein jam segini malah bikin susah tidur nanti pagi. Aku cuma butuh air putih."

Viona bangkit lagi, kali ini menuju dapur. Ia mengambil dua gelas air putih, menambahkan es batu secukupnya, lalu kembali ke ruang tamu. Ia menyerahkan satu gelas pada Zidan.

"Minum. Biar segar sedikit," perintah Viona lembut.

Zidan menerima gelas itu, jemarinya bersentuhan sebentar dengan jari Viona. Sentuhan singkat itu mengirimkan aliran listrik halus yang membuat keduanya terdiam sejenak. Zidan meneguk airnya, sementara Viona memperhatikannya.

"Kakak nggak bisa bohong soal capek," ucap Viona tiba-tiba. "Mata Kakak udah kayak panda."

Zidan mendengus pelan, hampir seperti tertawa. "Dan kamu masih punya energi untuk berkomentar? Seharusnya kamu sudah tidur nyenyak."

"Aku nggak bisa tidur tenang kalau tahu Kakak begadang sendirian di bawah sini," jawab Viona jujur. Ia menatap Zidan lekat-lekat. "Kita kan sudah sepakat buat saling jaga. Jadi, izinkan aku nemenin Kakak sebentar. Nggak lama. Cuma sampai aku ngantuk lagi."

Zidan menatap Viona. Logikanya berkata bahwa membiarkan Viona tetap bangun adalah ide buruk karena ia butuh istirahat. Tapi hatinya—sisi manusiawi yang mulai tumbuh berkat kehadiran gadis ini—merasa hangat dengan penawaran itu. Kesendirian malam hari memang berat, apalagi dengan beban pikiran tentang kesehatan ibunya.

"Duduklah," kata Zidan akhirnya, menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi ruang lebih. "Tapi jangan bicara banyak. Otakmu butuh diam."

Viona tersenyum puas. Ia duduk di sebelah Zidan, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Zidan kembali membuka laptopnya, melanjutkan pekerjaannya, sementara Viona memandangi hujan di luar jendela melalui celah tirai.

Beberapa menit berlalu. Viona mulai merasa kantuk menyerang. Kepalanya terasa berat. Tanpa sadar, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Zidan.

Zidan kaku sejenak. Tubuhnya menegang. Namun, ia tidak mendorong Viona pergi. Sebaliknya, ia perlahan-lahan merilekskan otot-ototnya, membiarkan gadis itu bersandar padanya. Ia bahkan secara insting mengangkat tangan kirinya, meletakkannya dengan hati-hati di punggung Viona, memberikan kehangatan dan rasa aman.

Detik-detik berikutnya terasa lambat dan magis. Detak jantung Zidan yang awalnya cepat karena kejutan, perlahan menjadi teratur. Aroma rambut Viona yang wangi seperti sampo buah-buahan tercium samar. Bagi Zidan, yang selalu hidup dalam dunia angka, struktur, dan logika keras, momen ini adalah anomali yang indah. Sebuah variabel tak terduga yang justru memberikan ketenangan paling mendalam dalam hidupnya.

Viona sudah hampir tertidur ketika ia bergumam pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Kak Zidan..."

"Hm?" jawab Zidan pelan, takut suaranya yang normal akan membangunkan tidur Viona.

"Jangan pergi ya..."

Zidan menunduk, menatap puncak kepala Viona. Ekspresinya melunak total, semua pertahanan dinginnya runtuh.

"Aku di sini, Vion," bisiknya. "Aku nggak akan pergi ke mana-mana."

Ia tidak bergerak sedikit pun, meski bahunya mulai pegal karena ditindih kepala Viona. Ia rela menahan rasa tidak nyaman fisik itu demi menjaga kenyamanan emosional gadis yang sedang tertidur di bahunya.

Di luar, gerimis terus turun, membasahi bumi. Di dalam, dua jiwa yang berbeda—satu penuh emosi, satu penuh logika—menemukan titik temu dalam keheningan malam. Batas antara kakak tiri dan sesuatu yang lebih dalam semakin kabur, digantikan oleh ikatan kepercayaan yang murni dan tak tergoyahkan.

Pukul 04.00 pagi, Zidan akhirnya menutup laptopnya. Ia memandang Viona yang sudah tertidur pulas, napasnya teratur dan damai. Dengan sangat hati-hati, ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Viona dan tangan lainnya di punggungnya, lalu mengangkat tubuh gadis itu.

Viona mengerang pelan dalam tidurnya, tapi tidak bangun. Ia instinctively memeluk leher Zidan lebih erat.

Zidan membawanya naik ke kamar Viona di lantai atas. Ia membaringkan Viona di tempat tidur, menarik selimut hingga ke dagunya, dan memastikan bantalnya nyaman. Sebelum berbalik pergi, ia sempat berhenti, menatap wajah Viona yang polos dalam tidur.

Dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tak terlihat, Zidan menyentuh pipi Viona dengan ujung jarinya. Sentuhan terakhir sebelum ia meninggalkan ruangan.

"Tidur nyenyak, Vion," bisiknya.

Zidan keluar dari kamar, menutup pintu perlahan, lalu kembali turun ke lantai bawah. Ia tidak kembali ke sofa. Kali ini, ia masuk ke kamar ibunya, duduk di kursi samping ranjang Rani, dan akhirnya memejamkan matanya untuk tidur sejenak sebelum matahari terbit.

Karena sekarang, ada dua orang yang ia jaga. Dan keduanya adalah dunianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!