Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tenggelam Bersama Kewarasan
Sore itu, udara di zona pembuangan terasa lebih berat, menggantung tebal oleh kabut polusi dan bau solar. Arka sedang mendorong drum kesembilan. Setiap ruas tulang punggungnya terasa seperti ditarik paksa hingga nyaris putus, tapi matanya—mata yang kini terbiasa berburu celah—terkunci pada kolong gelap di bawah sasis truk pengangkut.
Ia menelan ludah yang terasa seperti pasir. Jantungnya berdegup brutal menghantam tulang rusuk. Lima detik lagi penjaga itu akan membuang puntung rokoknya, batin Arka.
Zzzzt!
Sengatan dingin menghajar pangkal tengkoraknya. Arka memejamkan mata, menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan erangan. Ia tidak boleh menghitung. Ia harus bergerak murni menggunakan insting.
Sekarang!
Arka sengaja melepaskan pegangannya. Drum logam itu tergelincir, menghantam tumpukan besi tua dengan bunyi DENTANG! yang memekakkan telinga. Saat dua penjaga itu menoleh refleks ke sumber suara, Arka merendahkan tubuhnya, bersiap meluncur ke bawah bak truk.
Namun, sebelum lututnya menyentuh aspal basah, sebuah tangan raksasa mencengkeram kerah belakang kemejanya. Pakaiannya terkoyak, mencekik lehernya saat tubuh kurusnya diangkat ke udara dengan mudah, seolah ia hanyalah bangkai tikus.
Napas yang berbau tembakau basi dan daging busuk menerpa wajah Arka. Gulo.
"Kau terlalu sering menatap kolong trukku, Sampah," suara berat Gulo menggelegar, meresonansi hingga ke dada Arka.
Arka meronta, kakinya menendang-nendang udara kosong. "Aku... aku tersandung, Bos! Tanganku kram!" bantahnya dengan suara tercekik.
Gulo menyipitkan matanya yang penuh codet, menatap lurus menembus kepalsuan Arka. "Kau bukan kuli biasa. Cara matamu bergerak... kau selalu mencari celah. Dan orang yang terlalu banyak melihat di Sektor Utara..." Gulo meludah ke tanah, "...biasanya kehilangan matanya."
Gulo tidak menunggu hari esok. Di dunia bawah tanah, ancaman dieksekusi saat itu juga. Ia melemparkan Arka ke arah dua preman bertubuh gempal yang membawa tongkat besi.
"Seret bajingan ini ke Zona Limbah Cair. Buang dia ke palung terdalam. Biarkan asam korosif melarutkan tulangnya malam ini juga," perintah Gulo tanpa emosi, sebelum berbalik kembali ke arah truknya.
"TIDAK! Lepaskan aku!" Arka menjerit parau saat kedua preman itu mencengkeram lengannya, menyeret tubuhnya secara kasar di atas aspal berbatu.
Batu-batu tajam merobek kulit lutut dan sikunya, meninggalkan jejak darah kotor, tapi Arka tidak menangisi rasa sakit fisiknya. Ketakutan yang jauh lebih purba meledak di otaknya. Matanya membelalak ngeri menatap ke arah lorong selokan gelap tempat persembunyiannya berada.
Jam delapan malam. Kapalnya berangkat jam delapan. Hasan... Bram...
"BRAM! LARI, BRAM!" jeritan Arka pecah, suaranya melengking penuh keputusasaan, bergema memantul di dinding-dinding beton Sektor Utara. "BAWA HASAN PERGI! MEREKA TAHU! BRAM!!!"
Arka meronta dengan kekuatan hewan yang terpojok. Kuku-kuku jarinya menggaruk aspal hingga patah dan berdarah, mencoba menggapai udara kosong menuju arah selokan. Ia menangis histeris, air mata bercampur debu mengotori wajahnya. Ia tidak bisa meninggalkan teman-temannya. Ia tidak bisa membiarkan mereka kelaparan di sana.
Kedua preman yang menyeretnya saling bertatapan, bulu kuduk mereka meremang melihat kegilaan itu.
"Dia ngomong sama siapa, bangsat?" gerutu salah satu preman, menendang rusuk Arka agar diam. "Kuli gila. Tidak ada siapa-siapa di gorong-gorong itu selain tikus dan jamur."
Arka tidak peduli. Realitasnya telah lama hancur. Di matanya, ia sedang ditarik paksa menjauh dari keluarganya.
Preman itu menyeretnya hingga ke ujung terowongan pembuangan, tempat sebuah lubang raksasa menganga. Di bawahnya, aliran limbah cair berwarna hitam pekat bergejolak ganas, mengeluarkan asap tipis berbau amonia dan belerang yang mencekik paru-paru.
Tanpa basa-basi, mereka mengayunkan tubuh Arka dan melemparnya ke dalam jurang kegelapan itu.
Angin menderu di telinga Arka. Lalu, rasa dingin yang membekukan disusul panas yang menguliti.
BYUUR!
Arka tenggelam ke dalam lumpur beracun. Cairan pekat itu masuk ke hidung dan telinganya, membakar membran mukosanya seperti disiram air raksa panas. Ia meronta, menendang secara membabi buta menuju permukaan. Kulitnya terasa melepuh di sekujur tubuh. Paru-parunya menjerit menuntut oksigen.
Saat kepalanya berhasil menembus permukaan, Arka terbatuk hebat, memuntahkan cairan hitam yang memuakkan. Ia mencoba berenang melawan arus kental yang menyeretnya ke kedalaman gorong-gorong, tapi tenaganya sudah habis. Kegelapan mutlak mengelilinginya. Ini adalah akhir. Ia akan mati di sini, menjadi cairan.
Tiba-tiba, tangannya yang menggelepar liar menghantam sesuatu yang keras.
Bukan dinding beton. Bukan batu.
Teksturnya kasar, tetapi licin. Arka mencengkeramnya dengan putus asa. Ia merabanya dalam kegelapan yang membutakan. Itu adalah plastik tebal industrial—terpal yang membungkus sebuah peti kayu raksasa. Peti itu mengapung dengan daya apung yang sangat berat, bergerak lambat mengikuti arus sungai limbah cair ini.
Lalu, sebuah peti lain membentur bahunya. Dan satu lagi di depannya.
Melalui rasa sakit yang merobek saraf-sarafnya, mata Arka membelalak menembus kabut beracun. Arus sungai limbah cair ini tidak mengarah ke lautan lepas. Arus ini ditarik oleh pompa hisap hidrolik ke satu arah.
Ke arah lambung Kapal Andalas.
Gulo tidak menggunakan jalan darat untuk memindahkan barang ke kapal rahasia itu. Penjagaan di atas terlalu ketat. Gulo menggunakan aliran sungai limbah bawah tanah yang tak pernah diperiksa siapa pun sebagai conveyor belt (ban berjalan) untuk menyelundupkan peti-peti kargo ilegal.
Arka tidak menemukan rute pelarian ini dengan otaknya. Ia menemukannya karena ia dilempar untuk mati di sini.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Arka memeluk peti berlapis terpal basah itu, membiarkan tubuhnya yang melepuh menempel pada muatan ilegal tersebut. Ia memejamkan mata, menyerahkan nyawanya pada arus beracun yang akan membawanya membelah perut bumi, menuju kapal itu.
"Aku datang, Bram..." bisik Arka di tengah demam dan ilusi yang membakarnya. "Aku menemukan jalannya."
***
**[AUTHOR NOTE]**Inilah ganjaran dari sebuah kegagalan di Sektor 4! Arka tertangkap basah dan langsung dieksekusi ke Zona Limbah Cair. Momen saat Arka menjerit memanggil Bram dan Hasan (padahal mereka hanyalah jamur dan udara kosong) menunjukkan betapa parahnya mental Arka sudah hancur. Tapi, ironisnya, hukuman mati ini justru mengungkap rute penyelundupan Gulo yang sesungguhnya! Apakah Arka bisa bertahan hidup berendam di air korosif itu sampai peti tersebut ditarik ke dalam kapal?
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼