Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
No more Bryan but Dean
-
-
" Apa ini?" tanya Dean saat Rivana memberikan sebuah kertas undangan berpita merah muda. Melihat warna itu Dean jadi mengingat Bulan dan bibirnya tak sengaja tersenyum begitu saja
" Ini acara Fashion showku di Paris. Aku harap kamu datang dan melihatku. " saut Rivana tak henti menggelayuti lengan Dean, sesekali bibir itu juga berlabuh pada pipi Dean
" Apa yang mengadakannya Tuan Albert?"
" Kamu mengenalnya?"
" Dia salah satu partner bisnisku dan dia juga mengundangku ke acaranya. " saut Dean tak henti memandang undangan itu
" Kalau begitu aku akan mengambilnya kembali dan kuberikan pada Stevy. " Dean tak membiarkan Rivana mengambil undangan itu kembali, ia memegangnya dengan erat
" Kamu kan sudah punya dari Tuan Albert."
Dean hanya terdiam membolak balik ondangan itu, raut wajahnya terlihat kebingungan
" Jangan bilang kamu akan mengajaknya. "
" Aku tidak mungkin membiarkannya di rumah sendirian. " saut Dean gusar dan Rivana dapat melihat itu
" Kau sepertinya sangat perduli pada gadis itu?" tanya wanita itu menatap penuh selidik
" Aku sudah berjanji pada Tuan Ken untuk menjaganya. "
" Baiklah kamu boleh membawa gadis itu. Aku juga ingin sekali berkenalan dengannya. " ucap Rivana tersenyum licik, kedua tangannya kini terulur memeluk pinggang Dean.
Rivana bermanja menyandarkan kepalanya pada sang pemilik bahu kekar dan satu tangan itu kini beralih pada dada bidang Dean, membelai dada yang masih tertutupi kemeja hitam
" Iva. " Dean menegur dan mencekal tangan nakal Rivana
" Kenapa? kau tergoda aku melakukan itu."
" Kita tidak seharusnya seperti ini. Pulanglah."
" Kamu terus menyuruhku pulang, memangnya kamu tidak merindukanku?" tanya wanita itu manja menarik tangannya yang di cekal Dean. Tangan itu kembali pada dada dan turun kebawah, semakin turun pada resleting celana Dean
Dean hanya menggeram kesal, ia tak mengerti kenapa Rivana jadi murahan seperti ini. Dean memejamkan matanya dalam, ia mencoba menahan diri untuk tidak tergoda dengan tangan nakal wanita itu yang kini perlahan menyusup ke balik celannaya
" Tuan. " Suara panggilan Joe diambang pintu menyelamatkan Dean, Rivana segera menarik kembali tangannya dan berangsur menjauh memberi jarak antara tubuhnya dan Dean
Dean berdehem pelan, ia menaikan kembali resleting celananya lalu bangkit dan berjalan menghampiri Joe yang berdiri dibelakang kursi dengan wajah masam melihat Rivana. Entah kenapa Joe merasa kesal Dean masih berhubungan dengan wanita itu padahal Dean sudah menikah. Dean langsung menggandeng Joe keluar dari ruangannya untuk menghindari Rivana
Joe merasa heran Dean menggandeng dirinya dan masuk keruangan Joe yang sama sekali tak pernah Dean injak selama pria itu bekerja disana bahkan pria itu langsung duduk saja di kursinya
" Ada apa Joe?" tanya Dean
" Aku hanya mau menyerahkan laporan ini. " saut Joe memberikan file hasil pekerjaan bawahan mereka
Dean mengambilnya, ia membacanya dengan teliti dan terus membacanya hingga berulang. Dean benar-benar ingin menghindari Rivana, ia menghabiskan waktunya disana dengan terus mengulang membaca apapun yang berada dimeja kerja Joe membuat Joe semakin heran
" Bagaimana dengan non Bulan?" tanya Joe tiba-tiba membuat tatapan Dean beralih padanya
" Dia istri Tuan-"
" Ya dia istriku. Istri sahku secara hukum dan agama. " jawab Dean memotong ucapan Joe
" Tapi kenapa masih berhubungan dengan non Rivana?" Joe benar-benar penasaran terhadap Dean hingga pria itu berani bertanya hal pribadi
" Aku sudah memutuskannya saat Bulan datang kesini. " saut Dean lalu mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas dimeja Joe
" Dia tidak menerima semuanya Joe. Aku juga bingung dan merasa kasihan padanya. " gumam Dean sendu
Dean bahkan menghabiskan waktu bekerjanya di ruangan Joe. Menjelang malam, barulah Dean kembali ke ruangannya. Dean terkejut ternyata Rivana masih saja betah disana
" Iva kenapa kamu tidak pulang?"
" Kamu tidak mau mengantarku?" tanyanya dengan senyum menggoda
" Ini sudah malam, aku juga sudah terlambat untuk pulang. " saut Dean beralasan, Dean memundurkan langkahnya saat Rivana mendekat. Kenapa Dean jadi ketakutan seperti Bulan saat didekati Rivana? sungguh aneh! umpat Dean dalam hatinya
" Bukankah kita searah?"
" Baiklah, ayo kita pulang. " Dean akhirnya mengalah dan memaksakan dirinya untuk pulang bersama Rivana. Dean sebenarnya tidak masalah, hanya saja Rivana kini berbeda, perempuan itu jadi murahan dan Dean takut tidak bisa menahan diri dan membuat masalah
Rivana tak henti menggelayuti lengannya saat mereka berjalan. Wanita itu seakan tiada takut meskipun Dean membawa mobilnya dengan kecepatan maksimal. Jika Bulan mungkin gadis itu sudah menjerit ketakutan, dan Dean kembali tersenyum mengingat Bulan
Dean berhenti tepat di depan gedung Apartement Rivana
" Pulanglah." perintah Dean
" Kamu tidak mampir, kita bisa menghabiskan waktu malam ini. " goda Rivana
Dean membungkam malas meladeni tingkah Rivana yang ia rasa semakin murahan
" Ini bukan dirimu Iva. " ucap Dean tanpa mau menatap Rivana
" Ini aku, aku yang tidak mau kehilanganmu. " saut Rivana sendu melepaskan tangannya begitu saja dan keluar dari mobil Dean
Dean menghela nafasnya lalu melajukan mobilnya kembali untuk pulang ke Apartementnya
Dean memasuki tempat singgahnya, semua lampu ruangan mati, Dean menyalakannya satu persatu lalu ia masuk kedalam kamarnya . Disana Bulan sudah meringkuk di balik selimut, Dean mendekat dan duduk disisi ranjang. Memperhatikan wajah tenang Bulan saat tertidur, sekali lagi Dean tak sengaja memuji wanita itu dalam hatinya
Dean mengulurkan jemarinya untuk mengusap pipi Bulan dengan begitu lembut, sedikit membuat wanita itu terusik dalam tidurnya hingga berbalik membelakangi Dean. Dean tersenyum sesaat lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
Ia merangkak naik ke atas kasur setelah setelan piyama membalut tubuhnya. Dean berbaring disamping Bulan, berhadapan dengan gadis itu. Ia ingin sekali memeluk Bulan, namun ia juga merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi, ia tiba-tiba marah pada Bulan hanya karena gadis itu bertanya padanya. Dean terus menatap Bulan sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap pipinya
" Shut up Dean!" gumamnya membuat Dean tersenyum, kini bukan Bryan lagi yang di umpat gadis itu melainkan dirinya. Dan entah kenapa Dean menyukainya. Dean tak memalingkan pandangan dan memindahkan tangannya dari pipi Bulan sampai pria itu ikut terlelap
" Bersembunyilah. "
" Aku tidak mau, aku tidak mau meninggalkan Mama. " tangis Dean kecil
Wanita yang selalu lembut untuk Dean itu memaksa Dean untu masuk kedalam lemari pakaian dan mengunci Dean kecil dari luar
Dean kecil menahan tangisnya, ia dapat mendengar dengan jelas suara pukulan-pukulan benda keras dibarengi jeritan tangis sang Mama. Tubuh Dean bergetar, ia ingin menghentikan itu namun lemari itu terkunci. Dean ingin berteriak tapi ia juga terlalu takut. tubuh itu masih menyisakan luka dan rasa sakit. Apa Dean kecil sanggup mendapatkannya lagi?
" Mama .. " Dean hanya bisa menggumam dan menangis merasakan kesakitan sang Mama
" Mama .. "
" Mama maafkan Dean. " isaknya
" Mama .. " Dean ingin berteriak tapi tenggorokonnya terasa tercekat
" Dean. " suara lembut itu memanggil Dean
" Dean. "
Dean membuka mata, hal yang pertama ia lihat adalah Bulan, Dean langsung menghambur memeluk Bulan hingga Bulan tidur terlantang dengan Dean berada diatas tubuhnya, Dean memeluknya begitu erat
" Mama. " gumamnya sendu
Bulan dapat merasakan tubuh Dean yang bergetar, nafas pria itu juga terengah seperti habis lari maraton dan keringat membasahi seluruh tubuh Dean hingga pakaian tidur itu basah
Kedua tangan Bulan terulur untuk mengusap rambut Dean dengan lembut, memberikan ketenangan pada Dean, tatapan Bulan sendu, ia merasa iba. Sepertinya Dean pernah mengalami kejadian yang mengerikan, jika saja Dean mau menceritakannya, mungkin Bulan bisa membantu meskipun ia bukan seorang psikiater namun ia cukup tahu dengan hal seperti ini
-
-