Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Helena mengalami demam panas saat tengah malam hingga subuh. Untung saat akan menggambil air putih di dapur, Sandra menyempatkan untuk mengecek keadaan Helena. Gadis itu badannya panas
"Helena, kamu panas sayang" ucap Sandra mencoba tenang, namun nadanya terdengar sedikit panik.
"Mama.. ma Helena pusing, dingin ma" ucap Helena lemah, Badannya mengigil. Selimut yang ia pakai cukup tebal tidak mampu mengurangi dingin suhu badannya.
Sandra kenaikan suhu AC, agar Helena tidak kedinginan. Temperatur anak itu 41 begitu tinggi. Dia memanggil-manggil mamanya, giginya bergetar. Sandra memakaikan kaus kaki.
Helena begitu lemah, membawanya kerumah sakit agak kerepotan. karena tidak ada yanng membantu memapah Helena ke bawah, Sandra tidaklah sekuat itu. Mungkin ia bisa menghubungi pak satpam dan tetangga. Tapi ini masih jam 1 subuh, mungkin semua orang terlelap.
Pak satpam yang berjaga, rasanya terlalu jauh untuk berjalan kesana malam-malam begini. Dia memutuskan untuk menghubungi ibunya Dila, beliau juga tidak angkat, menggedor rumah Dila juga tidak dibuka. Maklum karena memang jam segini semua orang terlelap.
Edgar yang mendengar suara seorang perempuan yang menggedor rumah tetangganya di jam 1 malam, dia tersadar dan bergegas ke balkon.
"Apa yang terjadi, apa mungkin itu orang rumah itu, hm coba saya samperin aja barangkali terdesak" Gumam Edgar
Edgar menuruni tangga ke lantai satu. bersegera membuka pintu dan menuju wanita yang suaranya masih memanggil Dila, dimalam yang senyap
Dari arah belakang, Edgar menepuk bahu wanita itu,.
"permisi mba, ada apa tengah malam begini. maksud saya ini masih jam 1 subuh" tanyanya.
wanita itu membalikkan tubuhnya,
"Anak saya.. sa.. " Sandra dibawah remang lampu depan rumah Dila seperti mimpi. Lalu dia menepuk pipinya
"aw.. " sakit yang ia rasakan
"Edgar, kamu..? " ucap Sandra sambil menutup mulutnya tak percaya bahwa orang yang baru saja menghampirinya adalah pria yang ia sakitii di masa lalu, jujur dia bingung harus berbuat apa. Apakah meminta tolong atau memberikan penjelasaan tentang apa yang terjadi di masa lalu dan meminta maaf.
"Sadra, ada apa? " ucap Edgar dingin.
"Sandra.. " menyadarkan Sandra dari lamunannya karena keterkejutan.
"Aku.. anakku sedang sakit. Aku perlu bantuan untuk mengangkat.. Aku ingin segera membawanya ke rumaah sakit. Aku mohon tolong aku malam ini.. aku mohon" ucap nya tersedu sambil menangis, takut Edgar menolak memberi bantuan karena luka di masa lalu
"dimana rumahmu" tanya Edgar, dia masih waras untuk membantu sesama manusia, rasa empati yang dimiliki ketika menghadapi situasi seperti ini. Anaknya sakit. Anak itu.. Buru- buru ia mengusir pikiran masa lalu
"Nomor 3, kemarilah ikut aku" Sandra menuntunnya untuk masuk menuju rumahnya. lalu naik ke lantai dua. Rumah Sandra bernuansa biru laut, ada lukisan pantai dan mutiara, Bunga putih dan hiasan dinding dari laut. Sandra sangat menyukai pantai dan laut. Itu membuatnya bernostalgia dengan masa lalu
Sandra membuka kamar dan penampakan yang menjawab pertanyaan nya selama ini, alasan kenapa Helena begitu mirip dengan Sandra mantan kekasihnya. Helena adalah anak Sandra, sebentar tapi Helena sudah berumur 20 an, Sandra seumuran dengannya, setidaknya anaknya mesti umur belasan paling tidak.
Edgar masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu.
Edgar membantu menggendong Helena ke mobil Sandra, Edgar menyetir sementara Sandra menemani Helena di belakang mobil. Tangannya Helena dingin, Sandra menggenggam erat tangan nya.
Diperjalanan, di perempatan jalan hampir saja mereka menabrak sebuah mobil yang melaju dari arah sebelah kiri, saat mereka berbelok kanan mobil itu tanpa membunyikan klakson. Sudah bisa ditebak pengemudinya mabuk atau entahlah. Edgar tersentak tak lama kemudian dia menghentikan mobil tiba-tiba
"kalian gak papa" tanya Edgar menoleh ke arah Sandra.
"Edgar, Helena makin panas. Kita harus segera ke rumah sakit" Sandra tak merespon pertanyaan Edgar, Kondisi Helena sudah cukup menguras perhatiannya.
Edgar terdiam sebentar, lalu menjalankan mobil dengan kecepatan lebih kencang dari sebelumnya agar segera sampai
Depan lobi rumah sakit, tempat Edgar memberhentikan mobilnya. Membantu menggendong Helena ke UGD. Perawat segera menghampiri, dan memasang Infus. Sandra menemani Helena, sementara Edgar memarkirkan Mobilnya yang tadi di depan lobi ke area parkiran mobil.
Selang beberapa waktu setelah diberikan obat dan di infus Helena dipindahkan ke ruang rawat inap cempaka. Ruangan rawat inap untuk pasien umum. Ada 4 tempat tidur pasien, kini Helena salah satunya. Beberapa keluarga pasien terlihat ramah, menanyakan keadaan Helena.
Pasien di ruangan itu Ada 4 sesuai jumlah tempat tidur yang tersedia. Ada pasien seorang nenek yang keracunan makanan, akhinya muntaber. Ditemani oleh suami dan cucunya. Kasian nenek itu, tertatih-tatih jika sudah mulai terasa mulas di perut. Ada seorang ibu, ditemani adik dan iparnya. Terkena serangan sesak nafas karena suaminya diketahui selingkuh dengan saudaranya sendiri, sungguh miris. Ada seorang anak gadis SMP yang baru masuk sekolah tiga hari, lalu demam panas. Dan terakhir, seorang bapak kisaran awal 40 an, katanya dia pasien terlama di ruangan itu. Sudah 5 hari, perutnya sakit setiap kali disuntikan obat, diare dan sulit mengeluarkan urin. Sehat itu mahal,
Nyatanya mereka tidak jadi ke rumah sakit yang besar, melainkan puskesmas. Iya.. puskesmas karena Helena yang mengigil dan panasnya makin tinggi. Jadilah sekarang mereka berada di ruangan itu.
"udah jam 2, apa sebaiknya anak kamu dibawa ke rumah sakit yang lebih besar? " tanya Edgar
"aku maunya begitu, tapi lihatlah Helena akhirnya bisa tidur nyenyak" jawab Sandra tertegun melihat anaknya yang tertidur nyenyak setelah beberapa waktu mengalami demam tinggi dan mengigil.
"Boleh kamu temani Helena sebentar, saya mau ambil sleeping bag di mobil" jelas Sandra. Edgar membalasanya dengan anggukan. Sandra meninggalkan ruangan itu. Kini Edgar memperhatikan Helena
"Mama... " Helena mengigau, tak sengaja tangan Edgar berada disamping Helena dan Helena menggenggamnya sebentar. sebelum akhirnya melepaskan karena masih dibawah alam sadar, mungkin dia sudah mimpi yang lain.
Sandra mengecek bagasi mobilnya.Sayangnya Sleeping bag yang Ada di bagasi Sandra hanya satu. Dia menuju ruangan.
"Maaf, sleeping bag cuma satu" ucap Sandra tidak enak hati
"saya tidur di mobil aja" jawab Edgar.
"Makasih banyak ya udh bantuin aku bawa Helena ke sini" ucapan terimakasih dari Sandra
"no problem Sandra. itu udh keharusan saya sebagai tetangga" jawab Edgar.
"Ya.. sebagai tetangga" ucap Sandra mengulangi ucapan Edgar.
Ingin rasanya berharap bahwa Edgar melakukan ini karena masih peduli pada Sandra, masih mengharap dekat dengan Sandra. Masih ingin seperti dulu. Nyatanya jawaban pria itu, memutus harapannya.
"Apa kamu sebegitu benci nya sama aku" sandra dalam hati
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat