Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jarum jam tepat menunjukkan pukul delapan pagi.
Suasana di dalam kantor tempat Liana bekerja yang awalnya riuh oleh suara papan ketik dan obrolan pagi mendadak hening seketika.
Atmosfer ruangan berubah total saat pintu kaca utama terbuka.
Kenzo melangkah masuk dengan setelan kemeja putih rapi yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Pria itu memancarkan aura karismatik yang luar biasa, namun di saat yang sama juga membawa dominasi yang pekat.
Di sampingnya, ia menggandeng erat tangan Liana—bukan sekadar menggandeng, melainkan mengunci jemari wanita itu dengan begitu posesif.
Liana sendiri hanya bisa berjalan pasrah dengan wajah yang tampak pucat dan tertekan.
Rista, sahabat Liana, beserta rekan kantor lainnya langsung menghentikan aktivitas mereka.
Mata mereka melekat pada sosok Kenzo, mulai berbisik-bisik heboh.
"Tampan sekali dia..." gumam Rista dalam hati dengan mata berbinar, sama sekali tidak tahu bahwa pria yang tampak seperti model papan atas itu adalah monster kejam yang sedang menyandera sahabatnya.
Keheningan itu pecah saat Pak Hendra, kepala cabang kantor, keluar dari ruangannya.
Begitu matanya menangkap sosok pria berpakaian putih itu, wajah Pak Hendra langsung berubah terkejut.
Ia bergegas menghampiri mereka dan langsung menjabat tangan Kenzo dengan penuh rasa hormat.
"Dokter Kenzo? Suatu kehormatan besar!" ucap Pak Hendra dengan suara agak bergetar karena takjub.
"Dulu Anda yang menolong istri saya saat persalinan kritis di rumah sakit utama. Ada perlu apa Dokter datang ke kantor kami yang kecil ini?"
Kenzo tersenyum tenang, sebuah senyuman ramah khas seorang dokter profesional yang sangat berwibawa.
Ia lalu menjawab dengan lugas, "Saya ke sini untuk meminta dan mengurus surat pengunduran diri Liana secara resmi. Dia calon istri saya, karena—"
Mendengar arah pembicaraan Kenzo yang mulai berbahaya, jantung Liana mencelos.
Takut pria gila ini akan membongkar masalah kehamilan di luar nikah atau hal memalukan lainnya di depan semua orang, Liana yang panik langsung menghentakkan kaki dan menginjak kuat-kuat punggung kaki Kenzo dengan tumit sepatu hak tingginya.
Bugh!
Liana menahan napas, berharap pria itu meringis. Namun, Kenzo hanya menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kesakitan, seolah injakan bertenaga penuh dari Liana hanyalah gigitan semut.
Sebaliknya, Kenzo justru sengaja menarik tubuh Liana mendekat, merangkul pinggang ramping itu dengan jauh lebih posesif hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Kenzo terkekeh rendah, lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda sembari menatap tajam ke arah Liana, "—karena saya sangat mencintai wanita imut yang sedikit galak ini. Saya tidak ingin dia kelelahan karena bekerja."
"APA?!"
Pak Hendra, Rista, dan seluruh staf kantor yang sejak tadi memasang telinga lebar-lebar spontan melotot syok.
Kasak-kusuk langsung pecah di setiap kubik kantor.
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Liana, gadis yatim piatu yang selama ini dikenal sangat polos dan berpenampilan sederhana, bisa memikat seorang dokter spesialis tampan, kaya raya, dan berasal dari kelas atas seperti Kenzo.
Rista bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatap Liana dengan pandangan tidak percaya sekaligus iri, sementara Liana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh sandiwara manis sang monster.
Pak Hendra yang masih dilingkupi rasa terkejut akhirnya menganggukkan kepalanya dengan kaku.
Di hadapan Dokter Kenzo yang memiliki pengaruh besar, ia tidak memiliki alasan untuk menolak.
Dengan cepat, Pak Hendra mengurus dan menandatangani surat pernyataan bahwa Liana resmi tidak bekerja lagi di perusahaan tersebut.
Setelah menerima dokumen penting itu, Kenzo dan Liana berpamitan untuk keluar dari ruangan kerja.
Di koridor luar, Rista berjalan menghampiri dengan raut wajah yang dipenuhi rasa iri yang amat kentara.
Ia menyodorkan sebuah kunci dengan kasar ke telapak tangan sahabatnya.
"Ini kunci motormu yang kemarin tertinggal di parkiran," ketus Rista.
Liana yang merasa tidak enak hanya bisa tersenyum tipis.
"Rista, terima kasih ya..."
"Iya," jawab Rista pendek dan dingin, sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Liana begitu saja untuk kembali ke kubikelnya.
Sahabatnya itu benar-benar mengira Liana telah mendapat durian runtuh.
Setelah mendapatkan surat pengunduran diri itu di tangannya, Kenzo tidak membuang waktu.
Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Liana dan menariknya dengan paksa keluar dari gedung kantor, membelah lobi menuju area parkir tempat mobil SUV hitam mewah miliknya terparkir gagah.
Tujuan mereka berikutnya sudah jelas: Rumah Sakit Medika, tempat Kenzo berkuasa sebagai dokter spesialis kandungan pilihan utama yang sangat disegani.
Melihat motor matic miliknya terparkir tidak jauh dari sana, Liana mencoba menahan langkahnya.
"Aku bawa motor ini saja, Kenzo! Biar aku berkendara sendiri di belakangmu!" seru Liana mencoba bernegosiasi.
Kenzo menghentikan langkahnya, menatap Liana dengan pandangan datar yang dingin.
"Mana kunci motormu?" pintanya.
Liana yang mengira Kenzo akan mengizinkannya, langsung menyerahkan kunci itu dengan polos.
Pip-pip!
Kenzo menekan tombol remote untuk membuka kunci mobil SUV-nya sendiri.
Tepat saat itu, seorang petugas Office Boy (OB) kantor sedang berjalan melintas di dekat mereka membawa kantong sampah.
Kenzo langsung mencegat pria paruh baya itu dan melemparkan kunci motor Liana ke arahnya.
"Pak, ini motor di sebelah sana untuk kamu saja. Ambil dan bawa pulang," ucap Kenzo dengan nada santai seperti sedang membagikan permen.
Petugas OB itu melotot syok, menangkap kunci tersebut dengan tangan gemetar.
"E-eh? Serius, Dokter? Ini... ini buat saya?!"
"Kenzo!! Kamu gila!!" terik Liana histeris, matanya membelalak horor menatap motornya yang kini berpindah tangan.
Ia berusaha merebut kembali kunci itu, namun Kenzo sudah lebih dulu merangkul pinggangnya dengan erat dan mendorongnya masuk ke dalam kursi penumpang.
"Kenzo, kembalikan! Itu motor hasil aku menabung bertahun-tahun dengan uang gajiku sendiri! Kamu benar-benar keterlaluan!!" amuk Liana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, sementara Kenzo hanya menutup pintu mobil dengan debuman keras, mengabaikan seluruh protes wanitanya.
Liana memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobil, mengerucutkan bibirnya rapat-rapat dengan dada yang naik-turun menahan amarah yang membuncah.
Air mata kekesalan akhirnya menetes juga di pipinya.
"Itu motor aku, Kenzo. Kamu tidak punya hak untuk membuangnya begitu saja," gumam Liana dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Itu satu-satunya barang berharga yang kupunya dari hasil keringatku sendiri."
Kenzo menghidupkan mesin SUV mewah itu, lalu perlahan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai padat.
Mendengar keluhan Liana, ia hanya melirik sekilas tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Nanti aku belikan yang baru. Berapa pun harganya, tinggal sebut saja," jawab Kenzo santai, seolah uang bisa menyelesaikan segala kekacauan yang ia buat.
"Aku tidak butuh yang baru!" potong Liana sengit, menatap Kenzo dengan pandangan benci.
"Aku hanya ingin barangku sendiri! Kamu benar-benar sosiopat yang egois!"
Kenzo mendadak menghentikan mobilnya di lampu merah.
Ia memutar tubuhnya menghadap Liana, menatap wanita itu dengan pandangan yang tiba-tiba menggelap dan dingin, melenyapkan semua nada santai dari suaranya.
"Liana, diam..." desis Kenzo dengan nada baritonnya yang rendah namun sarat akan peringatan mutlak.
Ia mengulurkan tangan kekarnya, mengusap perut rata Liana dengan perlahan, membuat bulu kuduk Liana berdiri.
"Kamu sedang hamil anakku. Aku tidak akan membiarkan calon ibu dari ahli warisku keluyuran di jalanan dengan motor usang dan membahayakan nyawanya sendiri serta bayiku. Paham?"
Ancaman terselubung itu seketika membungkam Liana.
Ia hanya bisa merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, memeluk tas kanvasnya erat-erat sembari menatap jalanan di luar dengan perasaan campur aduk antara benci, takut, dan tak berdaya.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak