NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Arga baru melangkah beberapa puluh meter meninggalkan lembah ketika suara tergesa-gesa langkah kaki terdengar dari arah belakangnya.

"Hei! Tunggu!"

Arga menoleh dan mendapati Nara sedang berlari kecil ke arahnya sambil mendekap busur panah. Napas gadis itu sedikit tersengal-sengal.

"Kau mau pergi begitu saja tanpa pamit, ya?" protes Nara sambil berkacak pinggang.

Arga tersenyum canggung sekaligus tidak enak hati. "Aku... kupikir kau sudah bersiap untuk pulang ke Desa Pinus."

Nara mendengus pelan, membuang muka. "Awalnya aku memang berniat pulang ke desa."

"Lalu?"

"Lalu aku menyadarinya..." Nara menjeda kalimatnya, menatap bentangan hutan luas yang mulai diselimuti kesunyian. "Desa Pinus terlalu kecil untukku. Aku juga ingin keluar dan melihat seberapa luas dunia ini."

Arga terdiam, menatap Nara dengan pandangan takjub.

Merasa diperhatikan, Nara mendadak salah tingkah dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. "J-jangan salah paham, ya! Aku ikut bersamamu bukan karena ingin menjadi pelindungmu atau semacamnya. Aku cuma... kebetulan saja tujuan perjalanan kita searah!"

Di dalam liontin, Guru Tian terkekeh geli menyaksikan tingkah mereka. "Ah, anak muda zaman sekarang memang selalu pandai mencari-cari alasan."

Arga pura-pura tidak mendengar godaan sang guru. Ia menatap Nara hangat lalu mengangguk. "Kalau begitu... selamat bergabung dalam perjalanan ini."

Nara tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Bagus! Mulai sekarang, kita adalah teman seperjalanan!"

Mereka berdua mulai melangkah beriringan, menyusuri jalan setapak tanah yang membentang ke arah timur. Di sepanjang perjalanan, Nara tidak henti-hentinya bercerita tentang seluk-beluk Hutan Kabut Hitam, jenis-jenis binatang buas yang pernah ia buru, hingga kisah desa-desa di sekitarnya.

Arga lebih banyak memosisikan diri sebagai pendengar yang baik. Sesekali, gurauan Nara memicu tawa renyah di antara mereka. Untuk pertama kalinya sejak Kota Awan Biru hancur lebur, Arga akhirnya bisa merasakan sebuah perjalanan yang tidak melulu dicekam oleh rasa takut.

Menjelang sore hari, langkah mereka membawa mereka tiba di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung. Asap putih tampak mengepul damai dari corong dapur rumah-rumah penduduk, dan sayup-sayup terlihat beberapa anak kecil sedang asyik bermain di halaman. Suasana desa itu terasa sangat tenteram.

"Mari kita bermalam di desa ini saja," usul Nara yang mulai kelelahan.

Arga mengangguk setuju. Namun, tepat ketika kaki mereka baru saja melewati gerbang masuk desa, suara Guru Tian mendadak mengalun dengan nada tajam di benak Arga.

"Arga, ada yang tidak beres dengan tempat ini."

Arga tersentak. "Apa maksud Anda, Senior?"

"Suasananya terlalu sepi... Perhatikan sekelilingmu."

Arga menajamkan pandangannya dan seketika menyadari keganjilan yang dimaksud. Anak-anak yang tadinya bermain riang di halaman mendadak menghilang entah ke mana. Pintu-pintu rumah kayu kini tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Tidak ada satu pun penduduk yang berlalu-lalang atau saling berbicara; mereka semua hanya berani mengintip dengan tatapan penuh ketakutan dari balik celah tirai jendela.

Tiba-tiba, seorang kakek tua berpakaian lusuh berlari setengah membungkuk menghampiri mereka dari balik bayangan rumah.

"Kalian berdua... kalian bukan penduduk asli sini, kan?" tanya kakek itu dengan suara gemetar.

"Bukan, Kek. Kami hanya pengembara yang lewat," jawab Nara, ikut merasa tegang.

"Wah, celaka... Benar-benar celaka!" Wajah kakek itu seketika dipenuhi kepanikan yang mendalam. "Pergilah dari sini sekarang juga! Angkat kaki kalian sebelum kegelapan malam benar-benar turun!"

"Memangnya ada apa, Kek? Kenapa desa ini ketakutan seperti ini?" tanya Arga penasaran.

Kakek itu menoleh dengan waswas ke arah pegunungan tinggi yang berdiri angkuh di belakang desa. Setelah memastikan tidak ada mata-mata atau hal mencurigakan di sekitarnya, ia berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Setiap malam... ada sesuatu yang mengerikan turun dari atas gunung itu. Makhluk itu selalu mengambil paksa satu orang penduduk desa. Dan jika ia turun namun tidak menemukan siapa pun untuk dibawa..." Kakek itu menelan ludah dengan susah payah, "...ia akan mengamuk dan membantai siapa saja yang ditemuinya."

Arga dan Nara saling berpandangan dengan raut wajah serius. Arga kemudian bertanya pelan, "Apakah yang Anda maksud itu adalah sejenis binatang buas, Kek?"

Kakek itu menggelengkan kepalanya dengan kuat, matanya membelalak ngeri. "Bukan! Sama sekali bukan binatang buas! Dia... dia adalah seorang manusia!"

Belum sempat Arga mengorek informasi lebih jauh...

Gong! Gong! Gong!

Suara lonceng besi desa tiba-tiba berdentang keras sebanyak tiga kali, memecah kesunyian sore.

Seketika itu juga, jeritan panik bersahutan dari dalam rumah-rumah penduduk. "Cepat masuk rumah! Kunci pintunya! Dia datang! Makhluk itu datang!"

Guru Tian langsung berujar dengan nada yang sangat serius di dalam alam kesadaran Arga. "Arga... sepertinya rencana perjalananmu menuju Kota Bintang terpaksa harus ditunda sebentar."

Sementara itu, jauh di atas puncak gunung yang diselimuti kabut hitam pekat, sesosok misterius berjubah hitam tampak berdiri tegak, menatap dingin ke arah desa di bawahnya.

Di belakang sosok tersebut, belasan mayat manusia berjalan terseok-seok dengan pandangan mata yang kosong melongpong. Kulit mereka pucat pasi dan dipenuhi urat-urat hitam. Mereka bukan lagi manusia yang bernyawa, mereka adalah boneka-boneka mayat hidup yang dikendalikan sepenuhnya oleh aliran Qi hitam yang pekat dan terkutuk.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!