NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Pegasus Dari Planet Diamond

"Moana Nixie," Nerissa Marine mengulang penyebutan nama fungsional putrinya dengan nada intonasi yang kian meninggi menekan udara ruangan. "Kenapa kau justru nekat tidak mendengarkan kata-kata larangan Ibu untuk menjauhi tengah laut lepas?!"

Suara wanita itu tidak meledak menyentak, namun memendam desakan gelombang energi lautan yang sanggup membuat nyali gadis kecil di atas sofa itu terpojok tanpa barier pertahanan.

Nerissa Marine sebenarnya tidak sedang membutuhkan untaian kalimat pembelaan diri yang naif; dia hanya teramat ingin tahu apa motif fundamental yang berkecamuk di dalam kepala Moana sampai anak perempuan itu berani nekat melanggar batasan hukum klan Mermaid daratan.

"Mohon jangan meluapkan amarah atau menyalahkan dirinya, Bibi Nerissa. Putri Anda sama sekali tidak memendam kesalahan sedikit pun di dalam tragedi ini! Justru akulah entitas mahluk yang wajib bertanggung jawab dan meminta maaf kepada Anda," potong Alan tegas.

Anak berambut putih itu langsung menggeser posisinya, berlutut kaku dan menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lantai papan, tepat di hadapan poros kaki Nerissa Marine.

"Mereka bertiga... Moana, Justin, dan Helios nekat melompat ke air hanya karena didorong oleh niat murni ingin menolong nyawaku yang jatuh dari angkasa. Akulah faktor tunggal yang menyebabkan tubuh mereka terhempas keras ke daratan pantai, saat tubuhku secara refleks melepaskan barier kekuatan elemen murni untuk melindungi diri dari kepungan mahluk-mahluk mengerikan di bawah air—mahluk yang wujud fisiknya setengah ikan buruk rupa dengan deretan rahang gigi runcing. Aku... aku tidak sengaja membinasakan mereka semua hingga menjadi tumpukan abu di dalam laut."

Alan tetap mempertahankan posisi bersimpuh kakunya di lantai dengan postur tegak. Visual kaos oblong putih kebesarannya yang tampak kotor oleh noda lumpur laut dan robek compang-camping di berbagai sudut membuat untaian kalimat pengakuannya terdengar teramat mustahil, fiktif, dan absurd di dalam indra pendengaran Nerissa Marine.

Namun, sorot binar tatapan sepasang mata ungunya yang teramat jujur, bersih, dan tajam membuat insting wanita Mermaid itu mendadak didera keraguan yang besar.

Nerissa Marine tertegun membeku di tempatnya berdiri. Dia menatap lekat bocah berambut putih yang penampilannya tampak teramat berantakan tanpa mengenakan sepotong celana panjang tersebut dengan pandangan mata sangsi.

Namun, berdasarkan indikator deskripsi ciri fisik mahluk yang disebut oleh Alan, otak wanitanya langsung bisa mengidentifikasi secara akurat: mahluk itu pastilah kawanan faksi Siren liar.

"Apa maksud dari untaian kalimat fantasi yang kau lontarkan itu, Bocah? Jangan pernah coba-coba berbicara omong kosong atau membual di dalam kediaman rumahku, Nak!" sahut Nerissa Marine dengan nada suara tajam menuntut.

"Tidak akan pernah ada satu pun hukum logika yang mengizinkan seorang anak kecil seusiamu bisa selamat hidup-hidup dari kepungan palung karang, apalagi mengklaim diri sanggup membantai seluruh kawanan Siren ganas sendirian! Jangan pernah mencoba memproduksi kebohongan di depanku!"

Alan menghela napas panjang yang sarat akan rasa kelelahan psikologis, mendongakkan kepalanya menatap lurus ke dalam manik mata biru safir Nerissa Marine dengan ekspresi yang sangat serius. "Aku sama sekali tidak sedang memendam niat untuk memproduksi kebohongan atau drama palsu di hadapan Anda, Bibi Nerissa."

"Apa yang diucapkan oleh anak berambut putih ini adalah 100% kebenaran murni, Ibu! Aku, Justin, dan Helios adalah saksi mata hidup yang melihat rentetan kejadiannya dari balik air!" tambah Moana meyakinkan ibunya, tangannya mencengkeram ujung baju Nerissa.

"Dia bertarung melawan kepungan para Siren itu dengan pengerahan kuantitas kekuatan elemen yang teramat besar dan masif, Ibu! Bahkan menurut analisis mataku, kekuatannya mungkin berada di tingkat yang melampaui kapasitas sihir milik Ayah Roland Nixie! Dia memiliki kemampuan adaptasi biologis untuk merubah wujud kakinya menjadi sebilah ekor Mermaid emas yang indah di bawah air, tetapi di sisi lain dia juga memendam sepasang sayap putih megah di punggungnya dan sanggup terbang membelah angkasa langit!"

Nerissa Marine seketika itu juga tercengang hebat, jiwanya didera keterkejutan yang luar biasa masif di dalam dada. Apakah... apakah anak kecil berambut putih yang bersimpuh di lantanku saat ini merupakan hasil dari sebuah proses persilangan genetika ras supranatural tingkat tinggi di Bumi? pikirnya di dalam benak.

Namun, sepanjang ingatan hidup ratusan tahunnya mengelola takhta sekunder, dia belum pernah sekali pun mendengar ada catatan sejarah mengenai terjadinya pernikahan sakral antar-ras yang memendam karakteristik anatomi sejauh itu.

"Apakah... apakah kau sebenarnya merupakan seorang anak hasil persilangan genetika ras antara klan Mermaid lautan dengan klan Demon sayap kegerlapan?" tanya Nerissa Marine, mencoba memvalidasi dugaan teoritisnya di dalam kepala, meskipun di dalam hatinya dia tahu asumsi tersebut terdengar teramat mustahil dan konyol.

Alan tampak didera kebingungan massal di dalam otaknya; dia bahkan sama sekali tidak mengerti atau mengantongi kosakata terminologi mengenai apa itu definisi makhluk Mermaid ataupun apa itu ras Demon Bumi. Melihat sahabatnya buntu bahasa, Justin menghela napas panjang, melangkah maju mengambil alih kendali penjelasan taktis.

"Dia sama sekali bukan merupakan anak hasil persilangan ras supernatural mana pun di Bumi ini, Bibi Nerissa. Dia juga tidak memendam hubungan darah dengan klan Mermaid lautan ataupun klan Demon kegelapan," jelas Justin dengan nada suara bariton manusianya yang mantap.

"Identitas aslinya... dia adalah seorang pangeran dari ras klan Pegasus yang berasal dari sebuah tempat nun jauh di luar angkasa bernama Planet Diamond. Seluruh peradaban planet asalnya saat ini telah hancur lebur, lumat dikuasai oleh amukan monster legenda Typhon, itulah alasan fundamental mengapa tubuh kecilnya bisa sampai terdampar terlempar ke Bumi setelah melintasi robekan dimensi ruang dan waktu."

Mendengar rangkaian penjelasan ilmiah dari mulut Justin, seluruh persendian di tubuh Nerissa Marine seketika itu juga membeku total laksana terkena sihir es. Wanita Mermaid abadi itu terdiam seribu bahasa di tengah ruangan tengah. Istilah-istilah kosmologi modern seperti kata 'Planet', 'Galaksi', dan frasa 'Dimensi ruang dan waktu' terdengar laksana sebaris bahasa asing kuno yang teramat rumit dan berada di luar jangkauan struktur kognitifnya.

Dia melayangkan kembali fokus tatapan matanya, menilai Alan dari ujung helaian rambut putihnya hingga ke ujung jari kaki yang coreng-moreng oleh pasir, mencoba mencari benang merah kemiripan visual dengan mahluk mitos kuda bersayap Pegasus dalam lembar legenda tua daratan, namun yang berhasil direkam oleh retinanya hanyalah sesosok bocah laki-laki kecil fana yang penampilannya tampak sedang didera kelelahan magis yang luar biasa ekstrem.

Sedangkan kombinasi kosakata 'Planet Diamond' terdengar laksana sebaris dongeng gila berlevel absurd yang belum pernah sekali pun melintasi memori otaknya selama ratusan tahun menetap menjalani kehidupan domestik di desa pesisir Blue Waves ini. Dia menatap lurus ke arah Justin dengan sepasang mata biru safir yang membelalak lebar.

"Planet... Diamond? Sebuah wilayah di galaksi lain?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!