Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Riuh GOR dan Tatapan yang Berbeda
Esok sorenya, Doni berdiri di depan GOR kampus dengan perasaan campur aduk. Dia akhirnya memilih datang tanpa memberi tahu Marcella, dengan dalih di benaknya: "Cuma nemenin adik pacar sebentar, lagian lokasinya dekat." Namun, jauh di lubuk hatinya, ada debaran bersalah yang tidak bisa dia bohongi.
Suara decit sol sepatu yang bergesekan kasar dengan lantai lapangan langsung menyambut Doni begitu dia melangkah melewati pintu masuk GOR. Atmosfer di dalam ruangan besar ini terasa pengap, dipenuhi aroma keringat, dan sisa-sisa antusiasme penonton dari pertandingan sebelumnya. Riuh rendah sorak-sorai dari tribun membuat dada Doni bergetar aneh.
Dia berdiri terpaku di dekat papan skor elektronik, mendadak merasa asing dengan dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya sedang kulakukan di sini? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Doni sengaja memakai jaket hoodie gelap dan memilih duduk di deretan tribun penonton paling atas, agar tidak terlalu mencolok. Dia tidak ingin ada mahasiswa dari jurusannya, atau bahkan lebih buruk lagi, teman-teman Marcella, melihatnya berada di sini.
Secara logika, tidak ada yang salah dengan seorang pria yang datang menonton pertandingan basket adik kekasihnya sendiri. Itu bisa disebut sebagai bentuk dukungan keluarga yang baik. Namun, rasa bersalah yang menyelubungi hatinya sejak melangkah masuk ke dalam GOR ini adalah bukti nyata bahwa niat Doni tidaklah semurni itu. Dia datang bukan sebagai calon kakak ipar yang berbaik hati. Dia datang karena dia penasaran. Dia datang karena dia ingin melihat gadis itu lagi.
"Oke, semuanya! Fokus! Pertahanan rapat, jangan kasih ruang!"
Suara lantang yang terdengar tak asing itu memecah lamunan Doni. Pandangannya langsung tersedot ke tengah lapangan.
Di sana, di bawah sorot lampu GOR yang terang benderang, Olivia sedang berdiri di tengah lingkaran timnya. Rambut hitam panjangnya kini diikat kuncir kuda yang tinggi, bergoyang dinamis setiap kali dia menggerakkan kepala. Dia mengenakan jersey basket berwarna hitam-merah dengan nomor punggung 07. Sisa-sisa bedak atau kosmetik yang biasa dipakai remaja perempuan sama sekali tidak terlihat di wajahnya. Kulitnya yang kuning langsat tampak berkilat karena peluh, dan sepasang matanya memancarkan fokus yang begitu tajam.
Doni tertegun. Penampilan Olivia saat ini benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda dari sosok gadis serampangan dengan tampang baru bangun tidur yang dia temui di ruang tamu tempo hari. Di lapangan ini, Olivia terlihat begitu berkuasa. Dia memancarkan energi liar yang bebas, meledak-ledak, dan sangat hidup.
Secara tidak sadar, Doni mulai membandingkan pemandangan ini dengan Marcella. Marcella adalah definisi wanita yang sempurna dan teratur. Marcella selalu tampil anggun, wangi parfum mahalnya konsisten, jalannya tenang, dan dia membenci tempat-tempat panas yang membuatnya berkeringat. Bersama Marcella, hidup Doni seperti berjalan di dalam ruangan ber-AC yang nyaman namun sunyi. Sementara di sini, menatap Olivia di tengah riuh rendah GOR, Doni merasa seperti dilemparkan ke tengah badai yang bising namun entah mengapa terasa sangat membebaskan.
“Priiitt…!”, Peluit wasit melengking nyaring, menandakan babak pertama dimulai.
Olivia langsung membuktikan bahwa ucapan percaya dirinya di pesan singkat semalam bukanlah bualan belaka. Begitu bola dilemparkan ke udara, dia bergerak secepat kilat. Di lapangan itu, Olivia menjadi motor serangan utama timnya. Jari-jarinya yang lentik begitu lihai memantulkan bola ke lantai, melewati hadangan dua pemain lawan dengan gerakan dribble yang menipu, sebelum kemudian melepaskan umpan akurat tanpa melihat ke arah rekannya.
"Bagus, Oliv!", teriak pelatih dari pinggir lapangan.
Doni tanpa sadar mencondongkan badannya ke depan, kedua tangannya mencengkeram erat besi pembatas tribun. Matanya sama sekali tidak bisa lepas dari nomor punggung 07. Setiap kali Olivia melompat, berlari, bahkan saat dia dengan berani menubrukkan badannya ke pemain lawan demi mempertahankan bola, jantung Doni ikut berdegup kencang berkejaran dengan waktu di papan skor. Ada debaran aneh yang sudah sangat lama tidak Doni rasakan dalam hubungan asmaranya yang hambar. Ini adalah rasa kagum yang murni, bercampur dengan sensasi mendebarkan yang berbahaya.
Pertandingan berjalan sengit hingga memasuki kuarter ketiga. Skor kedua tim saling kejar-kejaran. Ketegangan di dalam GOR semakin memuncak ketika tim lawan berhasil menyamakan kedudukan lewat tembakan bebas.
Dalam posisi tertekan itu, bola kembali berada di tangan Olivia. Dia menggiringnya perlahan melewati garis tengah, matanya membaca pergerakan pertahanan lawan dengan tenang. Waktu menyisakan sepuluh detik lagi sebelum kuarter berakhir. Suporter kedua tim di tribun semakin mengeraskan teriakan dukungan mereka.
“5… 4…”, Waktu terasa berjalan lambat. Olivia yang melihat ke papan penunjuk waktu, tiba-tiba melakukan rem mendadak di luar garis tiga angka. Pemain lawan yang mengawalnya terkecoh, mengira Olivia akan melakukan penetrasi ke dalam. Dengan ruang tembak yang terbuka sempit, Olivia menekuk lututnya, melompat tinggi ke udara dengan postur yang sangat elegan, dan melepaskan bola dari ujung jari-jarinya.
Bola meluncur membentuk kurva parabola yang sempurna di udara, membelah keheningan sesaat di dalam GOR.
Swoosh!
Bola masuk tanpa menyentuh ring sama sekali. Jaring gawang berdesir indah.
Peluit kuarter ketiga berbunyi bersamaan dengan gemuruh sorak-sorai penonton yang meledak memenuhi langit-langit GOR. Tim Olivia kembali memimpin.
Doni spontan berdiri dari kursinya, ikut bertepuk tangan dengan wajah yang dipenuhi senyuman lebar. Dia benar-benar terpesona.
Di tengah keriuhan rekan-rekan timnya yang berlari mengerumuni dan memeluknya, Olivia melepaskan diri sejenak. Dia berniat melakukan selebrasi kecil, menyapu pandangannya ke arah deretan tribun penonton yang ramai dengan maksud memberikan rasa terima kasihnya kepada suporter yang tampak tidak kenal lelah mendukung tim-nya. Namun saat itu, mata coklat Olivia yang berbinar-binar itu langsung berhenti tepat di titik tempat Doni berdiri di tribun atas.
Mata mereka bertemu di antara jarak dan riuhnya ratusan kepala manusia.
Wajah Olivia langsung cerah. Senyumnya semakin merekah lebar. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, sambil melambaikan tangannya untuk menyapa Doni.
Doni terpaku di tempatnya berdiri, tangannya yang sedang bertepuk tangan perlahan turun. Jantungnya berdegup begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya. Tatapan mata Olivia dari kejauhan itu terasa seperti sengatan listrik yang langsung meruntuhkan benteng pertahanan moral yang dia bangun sejak pagi. Ada rasa manis yang memabukkan, sekaligus rasa takut yang teramat sangat. Doni sadar, batas itu kini sudah resmi dia langgar.
Pertandingan akhirnya ditutup dengan kemenangan manis tim Olivia.
Begitu peluit panjang berbunyi, keriuhan penonton mulai terurai menuju pintu keluar. Doni segera menarik napas dalam-dalam, buru-buru menarik tudung jaket hoodie-nya lebih rendah untuk menutupi wajah. Jantungnya masih berdegup terlalu kencang setelah kontak mata tadi. Dia tahu dia harus pergi sekarang juga. Sensasi manis yang merayapi hatinya harus segera dipangkas sebelum semuanya terlambat. Doni membalikkan badan, membaur di antara kerumunan penonton yang bergerak turun menuju tangga keluar. Aku harus pulang. Aku harus melupakan sore ini, batinnya menegaskan.
"Kak Doni! Kak Doni yang pake hoodie hitam!"
Lengkingan suara cempreng yang sangat familiar itu menggema di langit-langit GOR yang mulai melengang.
Langkah kaki Doni mendadak terkunci. Tubuhnya kaku seketika. Beberapa mahasiswa di sekitar Doni refleks menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara di lapangan bawah, lalu beralih menatap Doni dengan dahi berkerut.
Pelan, dengan rasa panik yang mendesak di dada, Doni memutar tubuhnya. Di bawah sana, di pinggir lapangan, Olivia sedang berdiri sambil melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi dengan heboh. Dia tidak memedulikan tatapan heran orang-orang sekitarnya. Wajahnya yang penuh peluh tampak bersinar terang saat melihat Doni akhirnya menoleh.
Olivia memberikan gestur tangan, memintanya untuk turun ke pembatas tribun bawah. Karena rasa malu dilihat oleh sebagian besar penonton, tidak ada pilihan lain. Dengan langkah berat yang diseret oleh rasa bersalah, Doni berjalan menuruni anak tangga tribun, mendekat ke arah pagar besi pembatas lapangan.
“Aku kira Kak Doni nggak bakal dateng! Soalnya tadi pas pemanasan aku cari-cari di tribun bawah nggak ada", ucap Olivia riang begitu Doni sudah berdiri di balik pagar pembatas yang memisahkan tribun dan lapangan. Olivia mengelap leher dan wajahnya yang basah dengan handuk kecil. Napasnya masih naik turun terengah-engah, tetapi auranya masih memancarkan kepuasan yang luar biasa karena tim-nya berhasil menang.
Doni tersenyum canggung, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku jaket. "Sengaja duduk di atas, biar bisa lihat lapangannya lebih jelas", Doni berdehem sedikit untuk menetralkan suaranya yang mendadak serak. "Tembakan tiga angka yang terakhir tadi... keren banget, lho! Nggak nyangka kamu bisa ngelakuin itu. Udah kayak pemain pro!"
Olivia tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang mirip dengan pertemuan pertama mereka. "Ya iya, lah! Kan aku udah bilang semalam. Piala-piala di rumah itu asli hasil keringat sendiriku, lho, Kak. Bukan beli di Pasar Pagi!", Dia melangkah selangkah lebih dekat, membuat Doni bisa mencium aroma samar keringat dan sabun mandi yang menguap dari tubuh gadis itu. "Makasih ya, Kak, udah mau sempetin datang sendirian ke sini. Buat nontonin aku yang jago ini. Hahaha", canda Olivia menyombongkan diri.
Tepat saat Doni hendak membalas ucapan itu, sebuah getaran panjang yang intens terasa di paha kirinya. Ponsel di dalam saku celananya berbunyi.
Doni merengkuh ponselnya keluar. Begitu melihat layar yang menyala di kegelapan saku jaketnya, napas Doni rasanya tersedat di tenggorokan.
Sebuah foto profil wanita anggun berambut pendek muncul di sana, diiringi nama kontak yang membuat seluruh tubuh Doni mendadak kaku: 'Marcella ❤︎'
Doni membeku. Panggilan telepon itu seperti sebuah alarm darurat yang menariknya kembali ke realitas yang kejam. Di depannya, Olivia sedang menatapnya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, menunggu kelanjutan obrolan mereka. Sementara di tangannya, ponsel itu terus bergetar hebat, menuntut jawaban dari sebuah kesetiaan yang perlahan mulai terkikis oleh rahasia diam-diam yang kini dia sembunyikan.