Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau cemburu?
Pesta ulang tahun sang raja serakah itu sekilas terlihat meriah. Namun Azura tahu di balik semuanya mereka sedang bersiap dan menunggu waktu yang tepat. Pasti setelah mendapatkan Peta palsu yang di kira asli itu, ayahnya akan memerintahkan orang menangkap Xavier. Tidak, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Apa kau sedang memikirkan ayah dari anakmu? Apa laki-laki itu berada di dalam sini juga? Kau ingin melarikan diri dengannya?"
Bisik Xavier karena sejak tadi ia melihat Azura terus menatap ke orang-orang di dalam aula ini, seperti sedang mencari seseorang dengan begitu serius. Azura menatapnya cukup lama, dan balas berbisik.
"Kenapa, apa kau cemburu, pangeran?" ia tersenyum percaya diri.
Xavier mendengus.
"Cemburu? Apa pembohong sepertimu layak aku cemburui?" sahutnya ketus, namun matanya tak lepas menatap wajah wanita itu, seolah berusaha menembus apa yang tersembunyi di balik tatapan tenang itu.
Azura tersenyum makin lebar, senyum tipis yang entah kenapa membuat dada Xavier terasa berdesir aneh.
"Siapa yang tahu? Bukankah sejak tadi kau terus mengawasiku, menuduhku ini-itu, dan bahkan tak membiarkan siapa pun mendekatiku? Kalau itu bukan cemburu, lalu apa namanya?"
Xavier mengertakkan gigi, ingin membantah keras namun kata-kata seolah tersangkut di tenggorokannya. Ia memang tak bisa memungkiri, setiap kali melihat Azura menatap orang lain, siapa pun itu, hatinya selalu terbakar rasa curiga dan amarah yang sulit dikendalikan.
"Jangan mimpi," desisnya pelan.
"Aku hanya memastikan kau tidak melakukan kebohongan baru atau merencanakan sesuatu yang merugikanku. Ingat, kau masih dalam pengawasanku. Dan jangan berpikir kau bisa bermain licik di sini. Segala gerak-gerikmu akan kulihat."
Azura hanya tertawa pelan, lalu kembali menatap ke arah singgasana, tatapannya kembali tajam dan serius. Saat sang raja menatapnya, ia tahu apa artinya. Tapi dirinya juga pandai mengulur waktu. Lelaki itu bisa licik dari jaman ibu kandungnya masih hidup. Sekarang, dia juga bisa licik, untuk menyelamatkan orang-orang yang ingin dia selamatkan.
Pandangannya lalu berpindah ke arah pangeran Wessel yang ia tahu sejak tadi sedang menatap ke arahnya. Azura tersenyum miring. Huh! Pria tidak berguna itu. Padahal sudah dia racuni, tapi rupanya laki-laki tetap mengabaikan ucapannya menjaga putranya. Seharusnya pangeran tidak berguna itu memberinya kabar dan tidak membiarkan putranya di siksa. Tapi alih-alih melakukan itu, ia lebih memilih tersiksa dengan racun yang ada dalam tubuhnya itu rupanya.
Baik. Wessel mungkin tidak percaya dengan kata-katanya tentang racun itu. Mungkin saja dia ingin menunggu waktu dan membuktikan sendiri. Membuktikan dia berbohong atau tidak. Kalau begitu, Azura akan membuat pria itu tersiksa dan memohon-mohon padanya.
"Pangeran, mau berdansa denganku?" Tiba-tiba Liora, saudari tirinya yang sombong dan sok berkuasa itu datang. Wajahnya sok manis sekali. Azura mendengus dalam hati.
Awalnya Xavier ingin langsung menolak mentah-mentah, tapi akhirnya dia mengangguk setuju, sengaja ingin melihat reaksi Azura. Azura diam saja, wajahnya tetap datar tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, seolah apa yang baru saja terjadi tidak ada artinya baginya sama sekali.
Padahal jauh di lubuk hatinya, ada kesal, namun ia berhasil menutupinya rapat-rapat. Ia tahu Xavier melakukan ini semata-mata untuk mengujinya, untuk melihat apakah ia akan cemburu, marah, atau kecewa. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri takkan memberi kepuasan itu pada lelaki itu.
Liora tersenyum penuh kemenangan, menautkan lengannya dengan bangga ke lengan kekar Xavier sambil melirik Azura dengan pandangan menyindir seolah berkata, Lihatlah, dia lebih memilih aku daripada kau.
"Terima kasih, Pangeran. Kau sungguh gagah sekali," ucap Liora dengan suara merdu dibuat-buat, lalu mereka berjalan menuju tengah aula tempat pasangan-pasangan lain sudah mulai bergerak mengikuti irama musik yang lembut namun megah.
Azura tetap berdiri di tempatnya, menuangkan sedikit anggur ke dalam gelas kristal di hadapannya, lalu menyesapnya perlahan dengan tenang. Matanya sesekali melirik ke arah dua sosok itu yang kini bergerak berputar mengikuti alunan nada. Xavier menari dengan gerakan anggun dan berwibawa, sementara Liora terlihat begitu bangga, menempelkan tubuhnya terlalu rapat, berusaha berbisik atau menggodanya.
Namun, yang membuat Azura tersenyum sinis diam-diam adalah tatapan Xavier. Meski wajahnya terlihat tenang, matanya yang tajam itu sama sekali tak menatap wajah Liora. Pandangannya terus berulang kali melirik ke arah Azura, menunggu, menuntut reaksi yang tak kunjung datang. Semakin lama ia menari, semakin terlihat jelas ketidaksukaannya, gerakannya kaku dan dingin, berbeda jauh saat ia membantu Azura berjalan atau sekadar berdiri berdampingan.
Di sudut lain, pangeran Wessel masih menatapnya lekat-lekat, wajahnya terlihat semakin pucat dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Rasa sakit akibat racun yang ditanamkan Azura mulai terasa menyerang sendi-sendi tubuhnya, rasa nyeri yang menjalar perlahan, mengingatkan dia pada peringatan wanita itu dulu.
Setiap kali kau mengabaikan kata-kataku, rasa sakit ini akan bertambah hebat. Hanya aku yang tahu penawarnya. Senyum miring kembali terukir di bibir Azura. Biarkan saja dia menderita. Itu adalah hukuman karena membiarkan Orion tersiksa.
"Putri, mau berdansa?"
Seorang laki-laki muncul tepat di depannya. Tampan dan gagah, wajah dan perawakannya tak kalah dari Xavier. Tapi Azura tidak mengenalnya. Tidak pernah melihatnya di manapun. Ia menatap sekali lagi ke Xavier, lalu mengangguk sopan pada laki-laki gagah yang mengajaknya berdansa.
Dari tempatnya, Xavier yang melihat mereka langsung meradang. Melihat langsung wanita itu di genggam oleh laki-laki lain di pinggangnya, membuatnya kesal setengah mati. Bahkan tidak sengaja ia menginjak kaki putri Liora, menyebabkan wanita itu kesakitan luar biasa.
"Auww!" Pekik Liora. Tapi Xavier sama sekali tidak peduli bahkan minta maaf. Ia justru melepaskan tangan wanita yang masih ingin berdansa dengan itu dengan kasar tanpa menatapnya. Lalu pergi dari sana. Liora cepat-cepat menahan tangannya.
"Mau ke mana, pangeran?"
Xavier menatap perempuan genit itu tajam.
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku." suaranya dingin sekali gak malaikat pencabut nyawa yang membuat Liora langsung ciut seketika. Begitu ia melepas, Xavier segera kembali ke tempat duduknya dan meneguk minuman keras di gelas dalam sekali teguk. Matanya tak lepas dari Azura yang masih sibuk berdansa dengan laki-laki lain.
Rasanya Xavier ingin menarik perempuan itu dari sana, tapi dia masih sadar.
jgan kasih Xavier lolos dengan mudah 🫣🤣🤣
😁😜🤭
orion telah tubuh jadi anak remaja yg gagah dan berani seperti pangeran xavier...
sabar xavier berjuanglah terus sampai meluluhkan hati azura... azura tidak akan mudah memaafkanmu, masih marah dan dendam dulu menyakiti azura....
Jangan mudah luluh dengan segala godaan Xavier... kasih pelajaran biar tobat....👍👍
padahal xavier telah banyak berubah selama berpisah sama azura, sekarang lebih manja dan cari perhatian azura...
azura masih mempertahankan sifatnya dingin dan datar, galak dan ketus, tapi didepan anak-anaknya pura2 baikan...
berjuanglah pangeran xavier meluluhkan hati azura, karena dulu banyak sakit hatinya...itu hukuman buat xavier dulu salahpaham terus dan gak percaya sama xavier....