Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 28
Elsa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dan wangi. Wanita muda itu melenggang santai mendekati sofa, tempat di mana dia meletakkan beberapa kantong belanjaannya tadi. Karena belum memilih pakaian, di tubuhnya kini hanya melekat jubah mandi longgar berbahan tebal milik Tama yang ukurannya kebesaran di raga mungilnya.
"Uhuk...!"
Suara dehaman batuk yang sengaja dibuat-buat itu seketika mengejutkan Elsa. Dia menoleh ke arah ranjang dan mendapati Tama sudah mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang.
"Eh, Juragan sudah bangun ya...?" ucap Elsa mencoba bersikap santai, menutupi keterkejutannya.
"Kamu habis dari mana?" tanya Tama menyelidik, sepasang mata elangnya menatap Elsa lurus-lurus dengan pandangan penasaran.
Elsa tidak langsung menjawab. Dia lebih memilih meraih selembar handuk kecil, lalu mengeringkan rambutnya yang basah dengan gerakan perlahan.
"Kayanya ada yang beda dari kamu..." ucap Tama lagi. Pandangannya kini bergerak lambat, memperhatikan setiap inci perubahan pada tubuh Elsa, mulai dari kulitnya yang tampak lebih cerah bersinar hingga aroma wangi bunga yang menguar kuat dari tubuh sang istri muda.
"Ya memang beda! Aku habis dari salon, perawatan," sahut Elsa acuh tak acuh.
Wanita itu lantas membuka salah satu kantong belanjaannya, mengambil selembar baju tidur baru yang baru dia beli—sebuah dress malam pendek berbahan satin halus dengan model satu tali berwarna hitam pekat. Tanpa memedulikan tatapan Tama yang makin menggelap, Elsa membawa baju itu kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tak butuh waktu lama, Elsa berjalan keluar dari kamar mandi. Gaun tidur minimalis itu melekat sempurna di tubuhnya. Potongan dada yang rendah membuat gundukan kembarnya yang sekel terdorong naik dan terekspos dengan begitu sempurna. Penampilannya malam itu benar-benar terlihat sangat seksi dan menawan.
"Gimana, Juragan? Cantik enggak...?" tanya Elsa penuh percaya diri, sengaja berputar kecil di depan suaminya demi mendapatkan penilaian.
Tama tanpa sadar meneguk ludahnya berat. Pria itu mengelus dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, mencoba menyembunyikan keterpukauan yang mendera benaknya. 'Kamu makin cantik, El, pakai baju itu...' aku Tama dalam hati, mengagumi transformasi drastis istri mudanya.
Namun, demi menjaga wibawanya, Tama justru memasang ekspresi datar. "Enggak usah pakai baju pendek begitu. Kurang bahan. Nanti kamu masuk angin," ucap Tama memberi komentar dingin.
"Ih, Juragan ini! Mengatur-atur saja... Suka-suka sayalah mau pakai baju apa!" ucap Elsa sewot, mendengus jengkel karena respons yang dia dapat tidak sesuai ekspektasi.
Tama hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kedongkolan Elsa. Pria itu lantas bangkit dari ranjang, merapikan pakaiannya, lalu melenggang berjalan keluar kamar begitu saja. Entah mengapa, di tengah atmosfer intim yang mulai terbangun bersama Elsa, pikiran Tama tiba-tiba terlempar pada sosok Andini. Istri pertamanya itu sedang apa sekarang?
"Eh, loh, Juragan...! Mau ke mana? Kembali! Juragan belum kasih penilaian yang jujur buat aku loh!" seru Elsa kesal, melangkah beberapa langkah mencoba mengejar. Namun, Tama tetap berjalan lurus ke depan, seolah tidak memedulikan gerutuan istrinya.
Tama membawa langkah kaki besarnya mendekati kamar utama yang ditempati oleh istri pertamanya. Begitu pintu terbuka sedikit, dia melihat Andini yang sedang duduk tenang di tepi ranjang sembari menyulam pakaian bayi.
"Sayang," panggil Tama lembut.
Andini yang tengah fokus dengan jarum sulamnya tersentak kaget. Wanita itu lantas menoleh, dan senyum manis langsung terbit di wajah ayunya. "Eh, Mas... sudah pulang? Katanya mau ke luar kota?" sapanya lembut, langsung meletakkan hasil sulamannya ke samping.
"Iya, enggak jadi pergi ke luar kota. Pak Toni telepon tadi, katanya dia sedang ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal," jelas Tama sembari melangkah mendekat. Pria itu menundukkan tubuhnya, mengecup perlahan pucuk kepala Andini dengan penuh kasih sayang yang tulus.
"Gimana anak kita? Dia baik-baik saja di dalam, kan?" tanya Tama hangat, tangannya terulur mengelus perut Andini yang kini mulai tampak menyembul sedikit di balik daster longgarnya.
"Dia baik, Mas... Oh iya, aku senang banget. Pagi tadi aku sudah mulai bisa merasakan goyangannya yang halus di dalam sini," kata Andini dengan binar mata bahagia seorang calon ibu.
"Oh ya? Mas mau merasakan juga dong," ucap Tama bersemangat.
Andini tertawa kecil, menepis lembut tangan suaminya. "Kalau sekarang Mas belum bisa merasakan jelas. Nanti kalau kandunganku sudah jalan lima bulan lebih, dia baru mulai menendang keras."
Wajar saja, sebab usia kehamilan Andini saat ini memang baru menginjak bulan keempat.
"Oke, Mas bakal sabar nungguin," ucap Tama menyerah. Pria besar itu lantas mengambil posisi nyaman, merebahkan kepalanya tepat di atas pangkuan Andini, lalu menduselkan wajahnya dengan manja pada perut sang istri yang sedang mengandung darah dagingnya.
Andini mengusap rambut hitam Tama dengan penuh kemenangan. Matanya melirik ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari pantulan cermin, dia tahu ada seseorang yang sedang berdiri di sana.
'Kamu lihat sendiri kan, El... Suamiku jauh lebih sayang dan butuh aku daripada kamu. Jadi, bertingkahlah semau kamu, pada akhirnya dia akan tetap kembali ke pelukanku,' batin Andini berkata penuh keangkuhan, merasa posisinya sebagai istri pertama tak akan pernah tergantikan.
Sementara itu, di balik celah pintu yang terbuka sedikit, Elsa berdiri mematung. Wanita muda itu mengintip seluruh adegan manis dan harmonis yang tersaji di depan matanya. Menyaksikan bagaimana Tama memperlakukan Andini dengan begitu lembut dan penuh cinta, tiba-tiba ada sesuatu yang berdenyut nyeri di dalam dadanya. Rasa sesak yang asing mendadak menghimpit rongga pernapasannya.
Elsa meremas dadanya sendiri dengan bingung. 'Apa-apaan sih ini...? Nggak, gue gak boleh suka sama dia! Gue cuma mau memoroti uangnya! Tapi... kenapa rasanya sakit banget melihat ini...?' tanyanya pada diri sendiri, meratapi ego Hana yang perlahan mulai terkikis oleh perasaan cemburu yang nyata.
Tak tahan lagi melihat keintiman pasangan suami istri itu, Elsa mundur selangkah demi selangkah dengan perasaan campur aduk, lalu dengan cepat berlari kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri demi menyembunyikan rasa sakit yang tak berdarah itu.