NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIK HATI DI UJUNG MALAM

Sementara itu di seberang jalan raya yang mulai lengang, sebuah mobil sedan hitam melaju pelan membelah keheningan malam. Di dalam kabin mobil yang hangat, seorang wanita anggun berbalut jilbab syar'i tampak duduk di kursi belakang. Itu Halwa. Pandangan matanya yang semula menatap kosong ke luar jendela kaca mobil mendadak terkunci pada dua sosok manusia yang berdiri di bawah temaram lampu trotoar.

Mata Halwa menyipit lekat. Di sana, di seberang jalan, ia melihat Fatih sedang berdiri menuntun sepeda motornya di samping seorang wanita berhijab yang tak lain adalah Maira—teman kerja Aisyah di kafe yang tadi beberapa hari lalu ia temui.

Melihat kedekatan dan raut perhatian Fatih pada Maira, entah kenapa ada letupan perasaan tidak suka yang tiba-tiba menyengat ulu hati Halwa. Rasa cemburu yang teramat asing mendadak merayap naik, membuat dadanya terasa sesak seketika.

Halwa meremas ujung kain hijab pashminanya dengan jemari yang bergetar pelan. Sebagai seorang wanita salehah yang dibesarkan di lingkungan pesantren, Halwa merasa sangat bersalah atas gejolak emosi liar yang baru saja merintangi hatinya. Selama ini, ia selalu dikenal sebagai sosok yang tenang dan pandai menjaga prasangka. Namun malam ini, melihat pria yang sempat dijodohkan dengannya berjalan bersisian dengan wanita lain di larut malam, pertahanan batinnya sedikit goyah.

“Sedang apa Mas Fatih berjalan malam-malam bersama teman Aisyah?” batin Halwa kecamuk, menatap lekat ke arah Maira dari balik kaca mobil yang gelap.

Halwa menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan kobar cemburu yang tak berhak ia miliki. Pikirannya berusaha keras untuk berprasangka baik demi menjaga kesucian hatinya.

"istighfar Halwa mungkin mereka ada perlu,atau tidak sengaja berpapasan".gumam halwa menepis pikiran buruknya.

Seiring berlalunya embusan angin malam, mobil yang ditumpangi Halwa pun melaju semakin kencang, meninggalkan dua sejoli itu yang kian menjauh ditelan kegelapan jalan.

Di sisi jalan yang lain, Fatih yang tidak menyadari keberadaan mobil Halwa kembali menoleh ke arah Maira. Ia bisa melihat bahu wanita di sampingnya itu masih sedikit bergetar.

“Sudah, ayo Maira... kita jalan lagi sebelum makin kemalaman,” ajak Fatih dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.

Maira tersentak dari lamunannya. Ia buru-buru menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan bajunya, berusaha keras agar raut kesedihan dan tangisnya tidak terlihat semakin menyedihkan di depan Fatih.

“Iya, Fatih...” sahut Maira pelan dengan suara yang agak serak.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju arah rumah Maira. Namun kali ini, perjalanan dilanjutkan dalam hening. Tidak ada lagi obrolan dalam atau perdebatan seperti tadi. Hanya ada suara gesekan sepatu di atas aspal dan deru halus mesin motor Fatih yang dituntun pelan. Maira sibuk mencerna setiap nasihat bijak Fatih tentang keikhlasan dan memaafkan, sementara Fatih fokus menjaga keamanan Maira dari jarak yang aman.

Langkah kaki mereka akhirnya tiba di sebuah pertigaan gang yang agak terang, beberapa puluh meter dari pekarangan rumah Maira. Maira menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan menghadap Fatih.

“Fatih... makasih banyak ya udah mau repot-repot nemenin gue jalan kaki malam-malam gini. Jadi ngerepotin Lo banget... sampai sini aja, nggak apa-apa,” ucap Maira sopan, berusaha memangkas jarak agar Fatih tidak perlu melangkah lebih jauh.

Fatih mengulas senyuman tipis yang teramat tulus di balik temaram lampu gang. “Sama sekali tidak mengerepotkan, Maira. Ya sudah, sok kamu duluan jalan ke rumah.”

“Oh iya... gue duluan ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”

Maira melanjutkan langkah kakinya menyusuri gang hingga tiba di depan pintu rumah sederhananya. Di ujung pertigaan, Fatih tetap mematung berdiri di samping motornya. Ia sengaja tidak langsung pergi, memandangi punggung Maira hingga wanita itu merogoh kunci, membuka pintu depan, dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan selamat.

Begitu mendengar suara selot pintu rumah Maira dikunci rapat dari dalam, Fatih mengembuskan napas lega.

“Wanita yang sangat malang... tapi juga teramat kuat,” batin Fatih dalam hati.

Tatapan mata Fatih menerawang ke arah pintu rumah yang kini tertutup rapat. Sebersit rasa ketertarikan dan kepedulian yang mendalam—sebuah perasaan hangat yang sama sekali tidak pernah ia rasakan atau temukan saat dijodohkan dengan Ning Halwa—kini mendadak bertumbuh semakin lebat dan mengakar kuat di dalam dada Fatih.

Setelah memastikan situasi di sekitar lingkungan Maira benar-benar aman, Fatih akhirnya naik ke atas sepeda motornya, memutar arah, dan melaju pulang membelah keheningan malam.

Sesampainya di rumah, Fatih membersihkan diri dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Setelah menunaikan salat sunah dua rakaat di penghujung malam, Fatih duduk bertafakur di atas sajadahnya. Keheningan kamar membuat pikirannya kembali melayang pada peristiwa demi peristiwa yang ia lalui bersama Maira.

Fatih memegangi dadanya yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Perasaan aneh apa ini ya Allah...” batin Fatih lirih, menatap lurus ke arah dinding kamarnya yang dingin.

Fatih menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas, mengadukan pergolakan batin yang mulai tak bisa ia kendalikan lagi kepada Sang Pemilik Hati.

“Ya Allah... Apakah mungkin hamba-Mu ini sedang menaruh rasa suka pada salah satu hamba-Mu? Apakah setiap pertemuan yang tak disengaja di antara kami selama ini adalah jalan takdir yang memang sengaja Engkau rencanakan?jika benar,hamba mohon tuntunlah hamba untuk segera memilikinya dalam ridhomu,dan jika tidak maka hilangkanlah perasaan ini ya Allah,engkau sebaik-baiknya pemilik Hati dan masa depan” ucap Fatih berbisik dalam doanya.

Bayangan wajah Maira malam ini terus berputar-putar di kepala Fatih. Namun, yang paling berbekas dan enggan hilang dari ingatannya adalah bayangan senyuman Maira saat pertama kali wanita itu memutuskan untuk belajar memakai hijab—sebuah senyuman lugu penuh ketulusan yang sanggup meluruhkan keteguhan hati seorang Fatih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!