NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Regan menarik napas panjang, tatapannya mendalam menatap Arin yang masih berdiri kaku di hadapannya. Kesunyian malam di dalam mess itu mendadak terasa makin intens, hanya menyisakan suara deru halus kipas angin dan napas teratur Zayyan yang tertidur lelap.

"Arin..." panggil Regan, suaranya memberat, kehilangan nada serak canggung yang tadi sempat ada.

Ia mengambil satu langkah mendekat, membuat Arin refleks sedikit menegang, meski tidak mundur.

"Sampai kapan kita harus kayak gini?" tanya Regan pelan, menyuarakan ganjalan yang selama ini mengendap di dadanya.

"Aku datang cuma bisa bertamu, jemput Zayyan sembunyi-sembunyi, dan harus pergi tiap kali malam makin larut karena takut omongan orang."

"Regan, kita udah bahas ini...."

"Aku tahu," potong Regan lembut. Matanya menatap Arin tanpa berpaling sedikit pun.

"Tapi aku nggak bisa begini terus, Arin. Aku bukan cuma mau jadi orang asing yang mampir sesekali, atau tamu yang harus buru-buru kamu usir tiap jam sepuluh malam."

Regan jeda sejenak, tenggorokannya terasa tercekat sebelum kembali melanjutkan. "Aku juga nggak mau terus-terusan dipanggil Om sama anak aku sendiri, Arin... Aku juga pengen dipanggil Ayah sama Zayyan."

Kalimat itu melayang di udara, menghantam dada Arin hingga napasnya tertahan.

"Aku mau perbaiki semuanya," lanjut Regan, tatapannya menyiratkan rasa bersalah sekaligus harapan yang besar.

"Tapi gimana aku bisa perbaiki semuanya kalau kamu selalu nutup diri? Sampai sekarang... aku bahkan belum tahu apa penyebab kamu pergi nggalain aku dulu."

Mendengar pertanyaan itu, Arin mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Masa lalu ya masa lalu, Regan," sahut Arin dingin, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia memalingkan wajah, menolak menatap mata Regan yang penuh penyesalan.

"Nggak ada gunanya dibahas lagi sekarang."

"Arin, aku perlu tahu...."

"Kurang apa lagi, Regan?" potong Arin cepat, menatap pria itu kembali dengan pandangan tajam yang penuh lukanya sendiri.

"Aku udah izinin kamu masuk ke kehidupan Zayyan. Aku biarin kamu ketemu dia, main sama dia, bahkan jemput dia sekolah. Aku nggak pernah halangin kamu buat jadi figur penting buat dia. Kurang apa lagi buat kamu?"

Suara Arin terdengar tercekat di ujung kalimatnya, menahan emosi yang nyaris tumpah di depan anak mereka yang sedang tertidur lelap.

Regan tidak mundur. Pria itu justru mengikis jarak di antara mereka, menghentikan langkahnya persis di hadapan Arin. Pandangannya mengunci mata Arin, rapat dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Aku maunya kamu, Rin..." bisik Regan pelan, namun begitu dalam hingga menusuk ke dasar hati Arin.

"Zayyan itu anak kita, tapi bukan cuma soal Zayyan aku ada di sini," lanjut Regan dengan napas tertahan.

"Aku butuh kamu. Aku mau kamu balik sama aku, Arin."

Dada Arin naik-turun menahan emosi yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan rapat-rapat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh di hadapan pria itu.

"Nggak bisa, Regan!" bisik Arin tegas, suaranya gemetar menahan getaran kepedihan.

"Kamu lupa siapa kamu dan siapa aku?"

Regan hendak menyela, tapi Arin menghentikannya dengan gelengan kepala.

"Lihat diri aku, Regan! Aku ini cuma anak nggak jelas... anak dari panti asuhan yang nggak punya latar belakang apa-apa," ujar Arin lirih, menunjuk dirinya sendiri.

"Sedangkan kamu? Lihat diri kamu! Kamu anak orang terpandang, anak orang kaya. Dulu kita nikah aja orang tua kamu nggak tahu, kan?"

"Waktu itu kita nikah diam-diam karena aku tahu posisi aku!" lanjut Arin, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi.

"Sekarang kamu mau ajak aku balik lagi? Lihat nanti apa kata orang jika saya bersanding sama orang seperti kamu? Nggak cuma orang luar, Regan... ibu kamu sendiri juga nggak akan pernah terima anak panti kayak aku buat bersanding sama putranya."

Regan menatap bulir air mata yang menetes di pipi Arin. Dada pria itu terasa sesak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Ia sadar, ketakutan yang Arin rasakan bukanlah tanpa alasan—ia sendiri yang pernah membiarkan wanita itu menghadapi semuanya sendirian di masa lalu.

Tanpa peduli pada jarak dan batasan yang sejak tadi Arin bangun, Regan melangkah maju dan meraih kedua bahu Arin. Genggamannya hangat, sedikit bergetar, namun penuh ketegasan.

"Aku nggak peduli kata orang, Arin," bisik Regan, menundukkan kepalanya agar bisa menatap tepat ke dalam manik mata Arin yang basah.

"Dulu aku penakut. Aku sembunyi di balik nama besar keluarga aku dan nyembunyiin pernikahan kita karena aku bodoh. Tapi aku yang sekarang beda, Rin."

"Regan, lepas..."

"Dengerin aku dulu!" potong Regan dengan suara berat bergetar.

"Aku nggak peduli status kamu dari mana. Buat aku, kamu itu Arin. Wanita yang aku cintai, ibu dari anak aku. Kalau perlu, aku lepasin semua harta dan nama besar keluarga aku cuma buat bersanding sama kamu secara terang-terangan!"

Arin terpaku, napasnya tertahan mendengar ucapan nekat pria di hadapannya itu.

"Dulu aku gagal jagain kamu dari omongan orang dan tekanan keluarga aku," lanjut Regan, matanya menatap Arin penuh keputusasaan sekaligus kesungguhan yang mendalam.

"Tapi kasih aku kesempatan buat nebus itu semua. Jangan hukum aku terus-menerus pakai masa lalu, Arin..."

Secara perlahan, Arin menepis tangan Regan dari bahunya. Ia mundur selangkah, kembali menciptakan jarak.

"Gampang buat kamu ngomong gitu sekarang, Regan," ucap Arin dengan suara parau. Ia memalingkan wajah, mengusap kasar sisa air mata di pipinya.

"Kamu pikir ngelepasin nama besar keluarga itu gampang? Kamu pikir ibumu bakal diam aja kalau tahu kamu diam-diam kembali nyari perempuan panti ini? Apalagi kalau dia tahu ada Zayyan..."

"Aku udah nggak peduli sama apa yang bakal mereka lakuin, Rin. Aku bukan Regan yang dulu," desak Regan.

"Tolong, Regan..." bisik Arin, suaranya kini terdengar begitu lelah, nyaris seperti permohonan putus asa.

"Jangan kasih aku harapan palsu lagi. Udah cukup sakitnya. Kalau kamu benar-benar peduli, biarin aku sama Zayyan hidup tenang. Cukup jadi Om-nya. Jangan paksa aku buat ngubah apa pun."

"Tapi aku ayah kandungnya, Arin!" balas Regan cepat, nyaris kelepasan nada suaranya, sebelum ia buru-buru menoleh cemas ke arah ranjang tempat Zayyan terlelap.

Pria itu memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk mengontrol emosinya. Saat ia kembali membuka mata dan menatap Arin.

"Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah bisa cuma jadi sekadar Om buat darah dagingku sendiri," bisik Regan.

"Arin..." panggil Regan lembut, melangkah satu kali lagi hingga ia berada tepat di hadapan Arin.

"Mama sama Papa udah tahu soal kamu, Rin. Kalo itu yang kamu ragukan"

"Yakin kamu mereka bisa nerima aku sama Zayyan?" Arin tersenyum sumbang, senyum kepedihan yang sarat akan rasa skeptis.

"Nggak salah kamu, Regan? Kamu tahu betul gimana tatapan mama kamu waktu lihat orang kayak aku. Kamu pikir cuma dengan tahu keberadaan kita, mereka bakal buka tangan lebar-lebar?"

"Aku yakin, Rin!" sela Regan cepat, memegang kedua bahu Arin dengan cengkeraman mantap. "Aku nggak asal bicara. Aku yang hadapi mereka sendiri, Rin. Kali ini aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kamu atau Zayyan lagi, termasuk keluarga aku sendiri. Kamu harus percaya sama aku....."

"Om... mau pulang ya?"

Suara serak khas anak kecil yang baru terbangun itu mendadak memotong perdebatan panas di antara mereka.

Arin dan Regan seketika menegang. Arin dengan cepat mengusap sisa air mata di pipinya dan menoleh ke arah tempat tidur. Di sana, Zayyan sudah duduk sambil mengucek matanya yang masih sembab, menatap ke arah mereka berdua dengan polos.

"Om mau pulang ya? Udah jam berapa, Om?" gumam anak kecil itu lagi.

"Eh, Zayyan kok bangun?" ucap Arin panik, berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar habis menangis. "Udah jam sepuluh ini, Sayang."

Melihat putra kecilnya terbangun, Regan langsung mendekat ke tepi ranjang. Amaranya seketika menguap, digantikan oleh kelembutan yang hangat saat menatap buah hatinya.

"Om mau pulang ya?" ucap bocah itu lagi, mengusap matanya dengan mata yang masih setengah terbuka.

Regan berlutut di samping ranjang agar posisinya sejajar dengan Zayyan. Ia tersenyum lembut sambil mengusap kepala anak itu penuh kasih sayang.

"Iya, Om mau pulang ini..." bisik Regan halus, membenarkan letak selimut Zayyan. "Lanjut tidur ya. Om pulang dulu."

Zayyan mengangguk pelan dalam kantuknya yang berat, lalu kembali membaringkan tubuh kecilnya di atas kasur dan memejamkan mata. Dalam hitungan detik, napas bocah itu kembali teratur, hanyut lagi ke dalam tidur lelapnya.

1
Anonim
ANJING DEMI TUHAN ... INGIN BUNUH REGAN
Anonim
ANJING REGAN GOBLOK... DEMI TUHAN INGIN GUE BUNUH
Anonim
MENDING BUNUH DIRI .... BUNUH DIRI MU RIN... BUNUH ANAKMU JUGA ....
Anonim
GOBLOK SUMPAH DEMI TUHAN INGIN MEMBUNUH SI REGAN
sunaryati jarum
Kamu sebenarnya masih cinta pada Regai,tapi apa yang membuatmu kecewa dan membenci Regan.
sunaryati jarum
Cepat diungkap dong, penyebab mereka berpisah.Kok mereka sudah sah berpisah apa sudah resmi bercerai. Kasihan Regan pria yang begitu setia tidak bersatu dengan orang yang dicintainya
Anonim
ah ternyata masih masokis
Anonim
ah masokis sekali
Anonim
owalah si arin fiks punya penyakit mental
sunaryati jarum
Kenapa menyiksa diri dan lamban mencari penyebab perginya Ari sembilan laludan Regan bilang aku yg salah tapi dia sendiri tidak tahu alasan Arin pergi.
sunaryati jarum
Penyebab perginya Arin demi keselamatan diri dan kandungannya kok belum terungkap
Ucie
kyaknya bapaknya regan deh...🙏
sunaryati jarum
Arin selesaikan dulu masalahmu.dengan Regan, kemarin sudah ketemu ibunya dan ayah Regan.Benarkah sembilan tahun lalu mereka yang mengancam mu atau kemarin yang menelpon kamu untuk menjauhi Regan lagi.Jangan membuat teka- teki yang jawabnya masih samar,pada emak
sunaryati jarum
Kok belum terungkap orang yang menyebabkan Arin.pergi sembilan tahun yang lalu
May Satibi Satibi
terlalu s Arin mh kan bisa ngmng biasa aja🤦
Fitri Yah
sebenarnya siapa sih yg mengancam arin suruh pergi jauh2.... bertanya dgn nada halus???
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Penasaran wanita paruh baya yang mengancam Arin , semoga Ny Farah dan Papa Gani benar - benar tulus menerima Arin dan Zayyan
sunaryati jarum
Akhirnya Arin bersedia ke rumah orang tua Regan ,semoga masalah jadi selesai
sunaryati jarum
Semoga kesalahpahaman Arin pada orang tua Regan terurai,pada ada orang yang suka Regan,ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!