NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Makan Malam Berdua

Setelah malam di parkiran itu, hubungan Nara dan Damar berubah secara perlahan.

Bukan perubahan besar yang langsung terlihat semua orang.

Bukan pula perubahan yang bisa dijelaskan dengan mudah.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang membuat mereka tidak lagi sekaku dulu.

Dan itu justru membuat Nara semakin gugup.

---

Pagi hari di kantor berjalan seperti biasa.

Siska datang dengan energi berlebihan.

Raka datang dengan kopi.

Dan Damar datang tepat waktu seperti mesin yang diprogram khusus untuk bekerja.

Namun saat rapat pagi berlangsung, Nara beberapa kali menangkap tatapan Damar mengarah kepadanya.

Hanya sesaat.

Lalu kembali fokus.

Namun tetap saja.

Nara menyadarinya.

Dan itu cukup membuat konsentrasinya berantakan.

---

"Nara."

Siska tiba-tiba menyenggol bahunya saat jam makan siang.

"Hm?"

"Kamu dan Damar kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Kalian lebih aneh daripada biasanya."

Nara memutar bola mata.

"Kamu terlalu banyak berpikir."

Siska tertawa.

"Kalau begitu kenapa wajahmu merah?"

Refleks Nara langsung menyentuh pipinya.

Siska tertawa semakin keras.

"Aku cuma bercanda."

Nara ingin melempar sendok ke arah sahabatnya.

---

Menjelang sore.

Damar memanggil Nara ke ruang kerjanya.

Kali ini bukan karena kesalahan laporan.

Bukan karena revisi.

Dan bukan karena rapat.

Ada proyek baru yang harus dipresentasikan kepada calon klien minggu depan.

Mereka perlu menyusun konsep dari awal.

Artinya...

Mereka harus bekerja lembur.

Lagi.

"Baik."

jawab Nara.

"Mulai malam ini?"

Damar mengangguk.

"Semakin cepat selesai, semakin baik."

Jawaban khas Damar.

Tidak mengejutkan sama sekali.

---

Pukul tujuh malam.

Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Lampu-lampu di banyak meja mulai dimatikan.

Namun ruang proyek masih terang.

Nara sibuk menyusun strategi pemasaran.

Sementara Damar memeriksa data dan anggaran.

Suasana tenang.

Hanya suara ketikan keyboard yang terdengar.

Sesekali mereka berdiskusi.

Sesekali berdebat kecil.

Dan entah sejak kapan, hal-hal seperti itu terasa normal.

---

Pukul delapan malam.

Perut Nara mulai protes.

Ia berusaha mengabaikannya.

Namun suara keroncongan yang cukup jelas akhirnya terdengar.

Damar mengangkat kepala.

Nara langsung memejamkan mata.

Malu.

Sangat malu.

"Kamu belum makan?"

tanya Damar.

Nara menghela napas.

"Belum sempat."

Pria itu melihat jam.

Lalu menutup laptopnya.

"Ayo."

"Hah?"

"Makan."

Nara berkedip.

"Sekarang?"

"Iya."

"Tapi pekerjaan—"

"Tidak akan hilang dalam tiga puluh menit."

jawab Damar.

Dan anehnya...

Nara tidak bisa membantah.

---

Lima belas menit kemudian.

Mereka berada di sebuah restoran kecil yang nyaman.

Bukan restoran mewah.

Bukan tempat mahal.

Namun suasananya hangat.

Dan cukup sepi.

Nara melihat sekeliling.

"Lagi-lagi tempat sederhana."

ucapnya.

Damar mengangkat alis.

"Itu masalah?"

"Tidak."

Nara tersenyum.

"Hanya tidak sesuai dengan bayanganku tentang pewaris perusahaan."

Damar tertawa pelan.

"Aku bosan dengan restoran mahal."

Kalimat itu terdengar jujur.

Dan untuk pertama kalinya, Nara mulai melihat sisi lain kehidupan pria tersebut.

---

Makanan datang.

Untuk beberapa menit mereka fokus makan.

Sampai akhirnya Nara bertanya,

"Capek?"

Damar menatapnya.

"Apa?"

"Menjadi pewaris perusahaan."

Keheningan muncul.

Biasanya Damar tidak suka membicarakan dirinya sendiri.

Namun malam itu berbeda.

Mungkin karena suasana.

Mungkin karena orang yang ada di depannya.

Atau mungkin karena alasan lain.

"Kadang."

jawab Damar akhirnya.

---

Nara menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Damar melanjutkan ceritanya sendiri.

"Orang hanya melihat hasil."

ucapnya pelan.

"Mereka melihat jabatan, uang, dan perusahaan."

Tatapannya turun ke cangkir kopi di depannya.

"Tapi tidak melihat tekanan di balik semuanya."

Nara diam mendengarkan.

"Sejak kecil aku selalu diberitahu bahwa suatu hari perusahaan ini akan menjadi tanggung jawabku."

Damar tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak mencapai matanya.

"Aku tidak pernah benar-benar punya pilihan."

Untuk pertama kalinya...

Nara melihat kesepian dalam diri pria tersebut.

Kesepian yang selama ini disembunyikan dengan kesibukan dan kesempurnaan.

---

"Aku iri padamu."

ucap Damar tiba-tiba.

Nara hampir tersedak minumannya.

"Apa?"

"Aku serius."

"Iri apa?"

"Kamu bisa memilih."

Nara membeku.

Damar melanjutkan.

"Kamu memilih jalan hidupmu sendiri."

"Kamu berani melawan."

"Kamu melakukan apa yang menurutmu benar."

Pria itu menatapnya langsung.

"Aku selalu mengagumi orang seperti itu."

Jantung Nara berdetak lebih cepat.

Sangat cepat.

Karena untuk pertama kalinya...

Damar berbicara begitu terbuka.

---

"Aku tidak sehebat itu."

ucap Nara pelan.

"Kamu salah."

jawab Damar.

Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.

Dan entah kenapa...

Pujian itu terasa lebih tulus dibanding semua pujian yang pernah diterimanya.

---

Malam semakin larut.

Percakapan mereka mulai berpindah ke topik lain.

Tentang masa sekolah.

Tentang keluarga.

Tentang impian yang pernah mereka miliki.

Nara bahkan menceritakan beberapa kejadian lucu saat kecil.

Sesuatu yang jarang ia ceritakan kepada orang lain.

Dan yang paling mengejutkan...

Damar benar-benar tertawa.

Bukan senyum tipis.

Melainkan tawa yang hangat.

Membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda.

Jauh lebih manusiawi.

Dan jauh lebih berbahaya bagi jantung Nara.

---

Saat mereka keluar dari restoran, waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.

Udara malam terasa sejuk.

Jalanan tidak terlalu ramai.

Untuk beberapa saat mereka berjalan berdampingan menuju parkiran.

Tanpa bicara.

Namun suasananya tidak canggung.

Justru nyaman.

Terlalu nyaman.

---

"Nara."

panggil Damar.

"Hm?"

Pria itu berhenti berjalan.

Nara ikut berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk sesaat, dunia seolah menjadi lebih sunyi.

"Aku senang malam ini."

ucap Damar.

Jantung Nara langsung kehilangan ritmenya.

Kalimat itu sederhana.

Sangat sederhana.

Namun cara Damar mengatakannya membuat semuanya terasa berbeda.

"Aku juga."

jawab Nara jujur.

Senyum tipis muncul di wajah Damar.

Senyum yang hanya muncul untuk sesaat.

Namun cukup untuk membuat hati Nara berdebar sepanjang perjalanan pulang.

---

Di sisi lain kota.

Seseorang sedang menatap foto yang baru saja diterimanya melalui ponsel.

Foto Damar dan Nara yang keluar bersama dari restoran.

Wajah Bianca langsung mengeras.

Lalu perlahan ia menghubungi seseorang.

"Mulai sekarang."

ucapnya dingin.

"Aku ingin tahu semua tentang Nara."

Panggilan terputus.

Dan untuk pertama kalinya...

Permainan yang selama ini hanya berupa sindiran dan gosip mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!