Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Pukul empat sore matahari masih menggantung di ufuk barat, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di dinding-dinding gedung pencakar langit. Menjadi penanda bahwa kesibukan babak kedua telah dimulai, dimana sebagian besar para pejuang nafkah telah berakhir jam kerjanya.
Jalanan dipenuhi deru mesin kendaraan yang mulai berjejal. Klakson bersahutan memecah udara, sementara trotoar dipadati para pekerja yang bergegas untuk mengejar transportasi umum.
Diantara hiruk pikuk itu, sepasang paruh baya turun dari taksi di depan lobby apartemen yang menjulang megah. Keduanya berdiri sejenak di tepi pelataran, menengadah menatap deretan balkon dan jendela yang berbaris rapi.
"Alhamdulillah kita enggak kejebak macet pa." Halimah mengembuskan napas leganya.
Rusdan menganggukkan kepala. "Iya, telat sedikit kita pasti kejebak macet, makanya papa paling malas kalau ke sini jam-jam bubar kerja sama pagi-pagi." Sahutnya kemudian meraih koper kecil yang berisi pakaian gantinya dan sang istri. "Ayo ma, masuk sekarang!" Ajaknya sembari menyeret koper yang ditumpangi paperbag berisi beberapa oleh-oleh khas Bandung kesukaan sang putra.
"Sebentar! Mama mau telepon Abi dulu." Halimah merogoh tas nya mengambil ponsel hendak menghubungi Abimanyu.
"Nanti saja di dalam, capek berdiri terus."
"Ya sudah." Keduanya melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.
Di tempat yang berbeda, Abimanyu baru saja memasukkan laptop pribadinya ke dalam tas. Raut lelah terpancar jelas diwajahnya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang menguras pikiran dan konsentrasi, namun kesibukan itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya yang tengah kacau karena "kesialannya" yang terjadi kemarin dan sebentar lagi akan mengubah hidupnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, bersamaan dengan itu ponselnya yang berada di atas meja berdering. Nama sang mama terpampang jelas di layar benda pintar tersebut, membuat jemarinya segera menggeser layarnya.
"Hal..."
[Bi, masih di kantor? Mama sama papa sudah di lobby apartemen mu] Ucap Halimah cepat mendahului Abimanyu yang baru membuka suara.
"Iya... Tunggu sebentar ma, ini baru mau keluar kantor." Ucapnya setengah malas. Bukan tak rindu atau tidak senang di datangi kedua orangtuanya seperti waktu-waktu sebelumnya, namun kali ini berbeda sebab kedatangan orang tuanya itu pasti ada campur tangan dan kabar yang sudah diciptakan oleh Sonia. Namun tak urung ia segera memeriksa meja kerja, memastikan barang-barang pribadinya tidak ada yang tertinggal.
--
Pintu lobby apartemen terbuka otomatis ketika Abimanyu melangkah masuk, setelan kerja yang masih melekat di tubuhnya tampak sedikit kusut setelah seharian bergelut dengan kesibukan. Ia langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang tuanya, tatapannya berhenti pada dua sosok yang begitu di kenalnya meski kedua sosok itu masih memunggunginya dengan sebuah koper di sisi kaki mereka.
Abimanyu mengembuskan napas lega, kemudian melangkah lebih cepat. Meski sebenarnya ada rasa malas dengan hal yang akan di bahas sang mama nanti, namun rasa rindunya lebih besar dari itu hingga ia pun langsung melebarkan langkahnya memeluk perempuan berjilbab itu dari belakang.
"Mama..." Panggilnya pelan tanpa memedulikan beberapa pasang mata yang sekilas menoleh padanya.
Halimah dan Rusdan seketika menoleh, lelah di wajah kedua paruh baya tersebut seketika hilang berganti raut sumringah. "Ah syukurlah, akhirnya kamu pulang juga. Mama sama papa teh sudah pegel dari tadi nungguin kamu." Cerocos Halimah dengan logat khasnya. Paruh baya itu berdiri memeluk putra sulungnya, begitupun dengan Rusdan suaminya.
Tanpa banyak berbincang ketiganya melangkah menuju lift dengan Abimanyu yang menyeret koper.
Setelah pintu lift tertutup, Halimah seketika membuka suara. Ia menatap lekat wajah tampan Abimanyu dengan raut berseri-seri. "Bi, beneran mama teh kayak mimpi... Ya Allah, ternyata anak mama yang ganteng ini diam-diam punya pacar!" Cerocosnya penuh bangga. "Memang usia anak sambungnya nak Sonia berapa tahun?" lanjutnya lagi dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ma... Nanti saja lah bahas itunya." Ucap Abimanyu malas.
"Habisnya mama penasaran, kok bisa sih kamu naksir anak sahabatmu sendiri... Kan mama ngebayanginnya juga jadi gemas!" Halimah menautkan kedua jemarinya di depan dada, entah apa yang dibayangkannya sehingga bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Mama plis deh, sebenarnya aku sama Amara enggak ada hubungan apa-apa. Kami kena fit..."
"Ssst!" Halimah menempelkan telunjuknya di bibir Abimanyu, kemudian menggelengkan kepala bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
--
Jarum jam baru menunjuk angka delapan. Namun suasana terasa hening, seolah waktu telah mencapai tengah malam saat ketegangan di antara ibu dan anak mulai mencekam.
Abimanyu menghela napas dalam-dalam. "Mama juga enggak percaya sama aku?" Ia menatap sang mama dengan lekat, setelah panjang lebar ia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Namun raut mamanya itu tidak berubah sama sekali.
"Ma, aku bukan anak remaja yang baru merasakan puber sehingga enggak tahu tempat. Umurku sudah empat puluh, mana mungkin aku tertarik sama anak remaja dan melakukan hal-hal yang tidak pantas ditempat terbuka."
"Terus, kalau bukan anak remaja dan bukan ditempat terbuka kamu akan melakukan hal yang enggak benar?" tohok Halimah, ia menatap lekat putranya kemudian menarik napas. "Bi, mama sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mama yakin dalam hal ini ada tujuan tertentu, tapi yang mama pikirkan bukan hal itu. Mama kasihan sama Amara, dia enggak tahu apa-apa tapi harus terombang ambing dihantui rasa takut." Tuturnya terjeda, rautnya yang tadi berseri seketika berubah sendu.
"Ma, aku tidak berbuat apa-apa yang bikin anak itu trauma!" Elak Abimanyu dengan suara yang sedikit naik. "Lagian rumah tangga macam apa kalau antara kami enggak memiliki rasa, aku pengen nikah dengan perempuan dewasa yang bisa membuatku nyaman bukan remaja yang masih labil dan ujung-ujungnya malah bikin otak ruwet."
"Terus kapan? Siapa orangnya? Dari dulu kamu selalu seperti itu... Bi, sampai kapan kamu mau membujang? Sampai mama sama papa menutup mata selamanya?"
"Ma..."
"Nikahi Amara! Dia yatim piatu dan akan jadi ladang pahala buat kamu Bi, asal kamu tulus menyayanginya juga bisa membimbing dan mengarahkannya ke jalan yang benar."
"Terserah mama!" Ucap Abimanyu pasrah. Bukan... Bukan pasrah, ia hanya akan membuktikan pada Sonia yang telah berani merusak persahabatannya. Ia akan membuat perempuan itu menyesal karena lebih mempercayai orang asing daripada dirinya.
"Nah gitu dong..." Halimah menepuk bahu Abimanyu dengan bangga, kemudian paruh baya itu menoleh pada suaminya. "Pa, telepon pak Adam biar beliau urus semuanya malam ini dan besok sore harus sudah selesai. Nak Sonia kan minta akadnya besok malam."
"Ngurus apa ma? Enggak perlu ada yang diurus, kami nikah agama saja." Ucap Abimanyu, menolak mentah-mentah keinginan mamanya.
"Enggak bisa! Itu namanya merugikan perempuan, dan mama enggak mau saat kamu punya anak nanti harus ribet ngurus ini itu buat bikin akta kelahiran."
"Astaga maaa! Kenapa sejauh itu!"
"Ya harus, mama ini seorang perempuan sama seperti calon istrimu."
"TERSERAH!"
"Abi! Jaga suaramu! Apa yang dikatakan mama itu benar, kenapa kamu harus sewot toh kami yang urus semua." Tegur Rusdan tak suka melihat Abimanyu bersuara tinggi saat berbicara dengan mamanya.
"Maaf."