NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Keana memiliki 2 kakak angkat. Namun diantara keduanya, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

"Ada satu cara agar Paman tidak akan pernah bisa menyentuh atau mengambil Keana dari rumah ini secara hukum"

"Maksudmu apa? Jalur hukum apa lagi yang kita punya?"

"Nikahkan dia denganku."

Apa tanggapan orang tua mereka setelahya? baca ceritanya SEKARANG!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nayla

"I-iya, Kak..." jawab Keana terbata-bata. Tangannya yang masih gemetar terburu-buru menerima piring kaca itu, memeluknya erat-erat seolah-olah piring itu adalah penyeimbang tubuhnya yang mendadak hilang kendali.

Tanpa berani menatap wajah Elvan lebih lama lagi, Keana berbalik dan langsung melangkah cepat keluar dari dapur. Langkah kakinya yang tergesa-gesa menaiki anak tangga menimbulkan suara ketukan halus di lantai kayu, memecah keheningan rumah yang mencekam.

Elvan berdiri menyandar pada meja dapur, memperhatikan punggung mungil Keana yang perlahan menghilang di balik kegelapan lantai dua. Jemarinya mengusap pelan sisa kehangatan kulit Keana yang masih tertinggal di telapak tangannya. Mengembus napas berat, Elvan memejamkan mata sejenak, memaki dirinya sendiri dalam hati karena hampir saja kehilangan kendali atas dorongan gelap yang kian sulit ia bendung.

Sementara itu, di lantai atas, Keana dengan cepat mendorong pintu kamarnya dan menutupnya rapat-rapat.

Cklek

Ia memutar kunci pintunya dua kali. Suara besi kunci yang menyatu membuat Keana sedikit bernapas lega. Ia berjalan gontai menuju tepi tempat tidur, membiarkan dirinya jatuh terduduk di atas kasur dengan piring buah yang kini ditarik ke dalam pangkuannya.

Keana menatap potongan buah yang terpotong rapi sempurna itu dengan dada yang masih bergemuruh.

"Kenapa... kak Elvan berubah jadi seperti itu?" batin Keana cemas sambil meremas pinggiran sprei tempat tidurnya.

...----------------...

Pagi hari

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca ruang makan, memantulkan cahaya hangat di atas meja kayu panjang. Di sana, Mama Soraya sibuk menyusun piring sarapan, sementara Papa Arland sudah rapi dengan kemejanya.

Keana turun dari tangga dengan pelan, lalu di susul Gavin.

"Pagi, Kea, Gavin. Sini makan dulu, Sayang," sapa Mama Soraya hangat.

Keana tersenyum tipis dan menarik kursi. Namun, langkahnya mendadak kaku saat Elvan keluar dari area dapur. Pria itu sudah tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja soft blue dengan aroma eucalyptus yang dingin menguar darinya.

Elvan berjalan mendekat, seolah tak terjadi apa-apa semalam. Dengan gerakan yang sangat alami namun sarat perhatian, ia mengambilkan segelas susu hangat dan meletakkannya tepat di samping piring Keana.

"Diminum susunya. Habiskan sarapanmu, Kea," ucap Elvan. Suaranya tenang, dalam, dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.

Mereka kemudian menikmati sarapan dengan tenang hingga habis.

"Elvan, Papa, dan Mama berangkat pakai satu mobil ke rumah sakit utama. Ada rapat direksi jam delapan pagi. Gavin, pastikan adikmu sampai di depan gerbang sekolah dengan aman."

"Siap, Pa!" balas Gavin mantap.

"Yuk, Kea! Buruan, nanti makin macet jalanan," seru Gavin sambil memutar-mutar kunci mobil di jarinya.

Kea pun berdiri dan menyusul Gavin.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, mobil yang dikendarai Gavin perlahan berhenti di tepi jalan. Suara bising kendaraan dan hilir mudik siswa berseragam putih-abu mengisi udara pagi.

Sebelum benar-benar membuka pintu mobil, Keana tidak langsung turun. Perasaan cemas yang mengganjal dadanya sejak beberapa hari terakhir mendadak kambuh. Secara refleks, matanya bergerilya meneliti area sekitar luar sekolah. Pandangannya menyisir satu per satu sudut jalan.

Keana mencari sosok itu, Paman Imran. Pria yang mengaku memiliki ikatan darah dengannya, yang beberapa hari ini selalu berdiri di sana bagai bayangan gelap. Keana mencari keberadaan mobil hitam yang biasa digunakan sang paman, atau figur pria paruh baya bertatapan tajam yang selalu memperhatikannya dengan lekat dari kejauhan.

Ada rasa takut yang dingin merayap di tengkuknya setiap kali mengingat cara pamannya menatapnya, sebuah tatapan yang seolah ingin merebutnya dari keluarga Hardian. Ia meremas tali tas sekolahnya erat-erat, menahan napas sambil terus memindai area gerbang.

"Kea? Kok melamun? Nggak turun?" suara Gavin memecah konsentrasinya.

Gavin menatap adiknya dengan alis berkerut heran, menyadari kegelisahan di wajah Keana.

Keana tersentak pelan. Setelah memastikan sosok Paman Imran benar-benar tidak terlihat di sekitar gerbang pagi ini, ia membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ada sedikit lega, meski rasa waswas itu tidak sepenuhnya hilang.

"Eh... iya, Kak Gav. Ini mau turun kok," sahut Keana cepat, berusaha mengukir senyum agar Gavin tidak curiga. "Kea masuk dulu ya, kak. Hati-hati di jalan!"

Keana keluar dari mobil dan melangkah melewati gerbang sekolah. Meski langkahnya terasa lebih ringan karena tak ada tatapan mengintimidasi dari sang paman pagi ini, jauh di dalam hatinya Keana tahu... ketenangan ini mungkin hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sebenarnya datang.

Gavin memandangi punggung adiknya yang perlahan menghilang di balik pintu gerbang sekolah. Alisnya bertaut, ia menyadari ada yang berbeda dari gelagat Keana yang tampak gelisah dan celingukan mencari sesuatu tadi. Namun, enggan memikirkan hal buruk terlalu jauh, ia menginjak pedal gas dan memacu mobilnya membelah kemacetan pagi menuju kampus.

****

Suasana Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) pagi itu tampak begitu hidup. Mahasiswa lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Ada yang duduk bergerombol di selasar sambil berdiskusi, ada yang membawa tabung gambar besar, dan bau cat serta kayu hangat khas bengkel karya menguar di sepanjang koridor.

Gavin berjalan santai menelusuri koridor lantai dua menuju ruang kelasnya. Tangannya merogoh saku celana jins, sementara matanya sesekali menatap jadwal kuliah di layar ponsel.

Brak!

Tiba-tiba, dari belokan koridor dekat studio kriya, seorang mahasiswi yang berjalan terburu-buru tak sengaja menabrak dada bidang Gavin.

"Aah!"

Berbagai lembaran kertas sketsa, potongan bahan kain, hingga maket miniatur berbahan anyaman bambu yang dibawa gadis itu terlepas dan berserakan di atas lantai. Gavin refleks memegang kedua bahu gadis itu agar tidak terjatuh.

"Eh, maaf, maaf! Aku nggak lihat jalan tadi," ucap gadis itu panik, buru-buru berlutut untuk memunguti barang-barangnya yang berserakan.

Gavin ikut berjongkok. Saat jemarinya membantu merapikan beberapa sketsa detail kriya tekstil yang rumit, ia mendongak dan menatap wajah gadis berhijab pastel di hadapannya.

"Nayla?" bisik Gavin heran.

Gadis itu, Nayla, mahasiswi Kriya yang memang sudah lama menyimpan rasa kagum secara diam-diam pada sosok Gavin yang cerdas dan berkarisma, sontak membeku. Wajahnya merona merah. Ia sangat panik bukan hanya karena tugas dari dosennya hampir rusak, tetapi juga karena jantungnya berdegup luar biasa kencang berhadapan sedekat ini dengan pria yang diam-diam sering ia perhatikan dari jauh.

"G-Gavin... maaf banget, aku beneran nggak sengaja. Ini tugas Kriya buat Dosen Penguji ku pagi ini, aku keliru lihat jam jadi panik dan aku udah sedikit telat," cicit Syafiya canggung, berusaha keras menguasai diri sambil merapikan jilbabnya.

Gavin menatap tugas-tugas Syafiya dengan rasa kagum.

"Detail anyaman sama konsep tekstil kamu ini keren banget, Nay," ujar Gavin tulus seraya mengumpulkan lembaran sketsa itu dan menyerahkannya pada Syafiya. Senyum tipis mengembang di wajah tampannya. "Rugi banget kalau sampai rusak cuma gara-gara kamu keburu-buru."

Nayla mendongak, matanya beradu pandang dengan Gavin. Rasa kagum yang selama ini ia pendam kian membesar melihat betapa baik dan ramahnya Gavin, jauh dari kesan angkuh.

"M-makasih ya, Vin..." balas Nayla malu-malu, menerima gulungan kertas itu dengan tangan yang sedikit bergetar.

Melihat Nayla yang tampak kerepotan memegang maket dan berkas yang begitu banyak, Gavin berdiri lalu mengambil alih sebagian bawaan Nayla tanpa diminta.

"Yuk, aku bantu bawain sampai depan ruangan dosenmu. Kelas aku masih setengah jam lagi kok," kata Gavin santai.

"Makasih ya"

1
Andy1234
makasihhhh thor up nyaaa tp jujur kurangggg😭🙏terlaluuu seruu thor/Drool//Smirk//Smirk/
Andy1234
maaciww banyakkk thor huhuhu semangattt upnyaaaa😍😍
Andy1234
thorrr kuranggg thorr cepetttt bangettt baca tau tau dh habiss🤣🤣🤣
Mamahnya Dewi
lanjut dong kk
Andy1234
thorrr sedih amattt😭😭😭jangann bikin kea amnesia yaa thor🙏😭
Andy1234
Ceritanyaaa bagusss bangetttttt
Yaya M.R: Terharu...😘🥰
total 1 replies
Andy1234
semangatttt thor kawal sampai elvan kea baikkan🤭💪
Andy1234
lagiii thor kuranggg banyak upnya huhuhuhu😍
Yaya M.R: Hihihi.....akan selalu Ku usahakan ya...
total 1 replies
Andy1234
semangatttt thor lanjuttttttt💪
Yaya M.R: Terima kasih ya..... semoga suka ceritanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!